Pilihan Saya untuk Sembilan Juli

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sabtu lalu, sore-sore pas lagi rehat dari kerjaan rumah, iseng-iseng saya menyiapkan status pasca pilpres tanggal 9 Juli nanti. Isinya tentang alasan-alasan saya menjatuhkan pilihan ke salah satu pasang calon, dibuat santai dan nggak ilmiah, tak lebih dari pendapat pribadi yang dibumbui sedikit tanggapan terhadap hiruk-pikuk berita di luar sana. Because it would be one of big decisions in my life, I think I need to force myself to be able to clearly explain my considerations. Namun kemudian, di hari berikutnya, suasana politik yang makin memanas nampaknya memicu orang untuk melempar topik tentang pilpres. Sedikitnya dua grup WA yang saya ikuti kompakan membahasnya, padahal latar belakang anggotanya beda. Saya sempat terlibat obrolan di keduanya dan pada akhirnya keluar juga pertanyaan itu ke saya dari beberapa teman, “Ega kenapa pilih Jokowi?”. Pertanyaan ini wajar karena datang dari grup yang bisa ditebak mayoritas anggotanya akan memilih calon satunya.

Aslinya saya malas jawab karena di statemen-statemen sebelumnya secara implisit sudah saya ungkapkan, terlebih saya dicap tendensius ketika balik mengomentari calon satunya. Hehe :mrgreen:. Misalnya saat saya bilang sulit mencari ulasan tentang kiprah Prabowo dewasa ini, tim kampanyenya sibuk di posisi ofensif, jadi lebih susah membandingkan antara yang sudah kelihatan kerjanya dengan yang masih pemberi harapan. Meskipun sepertinya itu fakta, tetap aja saya dibilang tendendius, padahal sih sebagai non-incumbent, wajar kan kalo demand informasi terhadapnya lebih besar. Sayangnya sejauh ini, media justru masih didominasi oleh JKW dan JK, baik yang positif maupun negatif. Media yang saya akses aja kali ya, nggak tahu kalo orang lain. Eh, tapi kalo ada artikel soal pak PS baca juga, apalagi jaringan pertemanan saya banyak yang dukung beliau. Hanya saja kebanyakan dibuat baru-baru ini dan masih berwarna cerita masa lalu, karakter yang dipuji pendukungnya, harapan terhadap karakter itu, berita terhadap momen-momen khusus, ide-idenya, hmm.. apa lagi ya? Pokoknya faktor-faktor yang bagi saya masih sulit diukur, sedangkan saya udah mantengin JKW dan JK sejak zaman masih pada ganteng (halah.. bo’ong bingits, emang pernah ganteng? :D). Mending kunjungi sendiri lapak-lapak di bawah ini deh biar bisa bandingin sendiri kontennya.

Jokowi (CV) – JK (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Jokowi-JK-Indonesia-Hebat/1396341707314175
Facebook Page Jokowi: https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
Situs personal Jokowi: nggak ada, adanya dari para relawan http://www.jokowicenter.com/ dan http://gerakcepat.com/
Twitter Jokowi: https://twitter.com/Jokowi_do2

Prabowo (CV) – Hatta (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Prabowo-Hatta/296890447147227
Facebook Page Prabowo: https://www.facebook.com/PrabowoSubianto
Situs personal Prabowo: http://prabowosubianto.web.id
Twitter Prabowo: https://twitter.com/Prabowo08

Kembali ke topik capres pilihan :razz:

Read the full post »

Cerita Rasulullah SAW tentang Sebuah Perjalanan Malam nan Agung

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[Alquran surat Al-Isra' (Perjalanan Malam)/17 ayat 1]

Allah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui Isra’ Mi’raj, sebuah peristiwa yang tidak bisa diwujudkan oleh selain-Nya, yang menegaskan bahwa Tiada Tuhan (God) Selain-Nya dan Tiada Penguasa / Raja (Lord) Selain-Nya. Peristiwa itu adalah ketika Dia membawa seorang hamba-Nya, Muhammad, dalam keheningan malam, dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa, sebuah rumah yang disucikan di Yerusalem, tempat asal para Nabi sejak masa Ibrahim Al-Khalil (Al-Khalil = sahabat dekat, kesayangan Allah). Para Nabi dikumpulkan di sana, di Yerusalem, dan Muhammad memimpin mereka dalam hal sembahyang (prayer) di tanah kelahiran mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wa sallam adalah pemimpin paling agung di antara para Nabi. Di sekeliling tanah itu terdapat hasil-hasil pertanian dan buah-buahan yang Allah berkahi agar tampak pada Muhammad tanda-tanda kebesaran-Nya. Read the full post »

Bicaralah tentang Hal ‘Tabu’ pada Anak

Berita paling hangat dua hari ini, terutama bagi kalangan ibu-ibu, apalagi kalo bukan tentang pelecehan seksual yang terjadi pada anak TK di sekolahnya sendiri, yang notabene sekolah mentereng dan dilakukan lebih dari sekali oleh lebih dari seorang petugasnya. Ya, frase-frase yang saya bold itu menunjukkan poin di mana kita harus mengelus dada atas ketidakwajarannya. Jarang-jarang saya menulis tanggapan terhadap berita semacam ini karena tidak tega. Namun, ada satu hal penting yang mendorong saya untuk berbagi di sini, yaitu… (sejujurnya ini sangat sedih diungkapkan) saya juga pernah mengalaminya ketika usia sembilan tahun >_<

Tarik nafas dalam-dalam… hembuskan… fiuh… bismillah, mari kita mulai kupas satu per satu.

Anak TK. Cerita apa yang bisa kita harapkan dari seorang anak TK? Mungkin bisa berupa teman mainnya, pengalaman mainnya, kesan terhadap tokoh film yang ditontonnya, barang yang diinginkannya, kegiatan yang ingin dilakukannya, dan sebagainya yang lebih bersifat kongkrit alias bersifat fisik. Read the full post »

Benci tapi Rindu Pada Indonesia

Masih dalam suasana pemilu legislatif di mana belakangan ini saya mendadak jadi pengamat politik karbitan (istilah suamiku :grin:) dan merasakan adanya peningkatan adrenalin pada hal-hal nasionalisme.. halah, saya ingin coba ungkapkan keharuan terhadap negeri ini. Latar belakangnya karena hari ini saya nangis dua kali gara-gara:

  1. Nonton video tentang Indonesian Elections, yang menggambarkan betapa ribetnya penyelenggaraan pemilu secara langsung oleh rakyat di negara yang super luas dan tersebar kaya Indonesia ini. Belum lagi jumlah calon wakil rakyat yang bisa dipilih sangat banyak. (saya tulis di sini)
  2. Ending-nya acara spesial “Petisi Rakyat” di MetroTV berupa penampilan dari Project Pop dengan lagu mereka yang hampir saya lupakan, Indovers. Menyimak liriknya, saya baru ngeh itu mewakili jeritan hati anak bangsa yang lagi berada di luar Indonesia daaan.. saya.. ingat masa-masa ketika homesick di Jepang dulu. Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya saya, dulu suka pengen pulang biar nggak capek-capek masak, tapi sekarang udah di sini eeeh.. malah sering merengek minta balik ke Jepang :sad: #PetisiRakyat (saya sempat nge-tweet juga di sini)

Seriusan lu, masa cuma moments gitu aja bisa nangis? Entahlah.. terbawa euforia aja kali ya.
Read the full post »

Empat Bulan Kemudian

Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian. Read the full post »

Ayam Crispy ala KFC

Kemarin untuk ke sekian kalinya saya masak ayam crispy ala KFC  yang pakai tepung dengan efek fascinating itu.. kriuk.. kres, kres, kres! Foto ayam itu saya upload ke IG (follow me!) dan banyak kawan bertanya resepnya. Karena udah sering bikin dan fotonya nggak cuma satu, maka sekalian aja saya jadiin satu tulisan di blog ini biar pada kebayang yah :D

ayam-crispy-KFC-recipega(3)

Ayam crispy ala KFC - Udah mirip kan penampakannya? Ini kayanya yang paling berhasil rasanya karena mulai pede banyakin bumbu tabur (2014-03-07)

Ayam KFC.. dengan melihatnya saja, kalo bukan lagi diet or alasan kesehatan lainnya, siapa sih yang tidak tergoda? Dari kecil aja kita tahu kok kalo itu makanan enak, makanya kadang kalo pergi kita makannya minta di sana. Nah, ketika beranjak dewasa.. caila, karena udah mulai ngerti jajan di sana nggak baik dari berbagai faktor mulai dari ke-junk food-annya (sayurnya minimalis dan minumannya pun bersoda), tarifnya, cara memasaknya, bahan yang kita nggak tahu asal-usulnya, sampai teori konspirasi (uhukkk..), saya mulai coba-coba masak sendiri dengan berbagai resep yang saya dapat online. Read the full post »

[Diary Haji] Hari #6 – Pelajaran tentang Syukur

Sabtu, 12 Oktober 2013 (7 Dzulhijjah 1434H) Sambungan dari cerita hari ke-5: [Diary Haji] Hari #5 – Tertahan di Jalan, lalu Kehilangan

Pencarian Kantor “Lost and Found” di Masjidil Haram

Berbekal petunjuk yang dituliskan Ali semalam, pagi ini setelah salat Subuh berjamaah yang semakin berdesakan, kami mencari tahu di mana letak kantor Lost and Found berada. Dari tempat kami berada, di lantai teratas (lantai 3) yang menghadap ke rukun Yamani dan Hajar Aswad kabah hingga di lokasi sai lantai 1 masjid, tidak ada satu pun papan bertanda “Lost and Found” tampak. Heran juga, tempat sepenting itu kok nggak dipasang penunjuk arahnya. Setelah bingung sendiri, di pintu keluar lokasi sai yang kami duga dekat dengan pintu Marwah, kami bertanya pada petugas (asykar). Ohya, lupa bilang, sebelumnya saat di atas kami sempat bertanya ke asykar juga dan dijawab, “Coba ke arah baab Marwah”, artinya dia juga tidak tahu pasti lokasinya. Asykar kedua, yang kami temui di lantai 1, mengaku kurang tahu dan menyuruh kami bertanya pada temannya yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Haiyaaahhh.. kepriben iki, pihak yang udah semestinya jadi tempat bertanya malah gagal paham posisi kantor sepenting itu :| Asykar ketiga, temennya si asykar kedua, lebih aneh lagi petunjuknya. Kami disuruh jalan ke arahKing Abdul Aziz gate yang jadi pintu masuk masjid kalo kami berangkat dari maktab. Yah, Mas.. kalo jalan itu ane juga tiap hari lewat :P

Karena udah putus asa nanya ke asykar, akhirnya kami mutusin buat nyari sendiri, tapi keterangan dari asykar pertama terdengar agak masuk akal, maka sasaran kami adalah menemukan pintu (baab) Marwah. Sebagai informasi, ada 17 (sumber lain menyebut 18) buah pintu besar dan jika semua pintu dihitung ada total lebih dari 100 buah di masjid akbar ini. Bukan pekerjaan mudah buat nemuin ‘alamat’ aktualnya sekalipun udah bawa peta. Juga, meski kita tahu namanya, belum tentu orang pada ngerti kalo ditanya letaknya di mana. Sempat saya bertanya ke seorang jemaah haji Indonesia yang dengar-dengar maktabnya dari arah pintu Marwah, dijawabnya beliau nggak tahu nama pintunya, tapi ingat kalo pintu yang dimasukinya nomor 27. Memang tiap pintu selain dikasih nama juga dikasih nomor, tapi untuk pintu yang besar aja biasanya yang ditulis di peta, jadi kelihatan nggak ngurut dari 1-18.

Read the full post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers