Suatu Sore di Wyata Guna


Halaman gedung itu masih sama seperti yang dulu. Bersih dan diwarnai orang-orang yang sedang bercengkrama ‘memperhatikan’ kendaraan yang lewat. Saya memperlambat laju motor, sambil mengingat di mana letak bangunan yang akan saya tuju. Syukurlah saya masih ingat nama asrama itu. Asrama Anis. Dua orang pria yang sedang seru bercerita tiba-tiba terdiam, memperhatikan saya sejenak, kemudian tawa mereka lepas lagi tanpa mempedulikan siapa saya. Maklum, sudah sering orang asing keluar masuk ke wilayah ini tanpa birokrasi. Entah itu mahasiswa, pedagang, ustadz, atau sanak kerabat sang penghuni asrama. Setelah menelepon sebentar untuk memastikan bahwa orang yang akan saya temui ada, saya memberanikan diri untuk masuk walaupun agak segan dengan dua orang pria yang sedang ngobrol di depan asrama tadi.

Saya duduk di kursi ruang tamunya. Hmm, sama sekali tidak ada yang berubah setelah dua tahun saya tinggalkan. Deretan sofa-sofa, meja, dan lemari kayu tertata rapi di sana. Ada pula satu monitor tabung yang tak difungsikan ‘teronggok’ di atas salah satu lemari. Sambil menunggu orang yang akan saya temui, saya duduk di salah satu kursinya dan mengamati orang-orang yang lalu lalang. Perubahan yang saya kenali hanya tempelan label-label di perabotan yang ada (sepertinya baru diinventarisasi) dan beberapa wajah baru yang tidak saya kenal. Wajah-wajah baru itu berjalan santai sambil berpegangan pada dinding, keluar masuk kamar tertentu, dan setiap kali melewati ruang tamu, mereka menolehkan kepalanya sebentar, seolah menyadari bahwa sedang ada saya di sana. Satu hal yang dari dulu selalu sulit saya tahan ketika melihat mereka adalah mengasihani dan menganggap mereka ‘tidak biasa’, walaupun sebenarnya mungkin mereka lebih suka diperlakukan seperti biasa, diperhatikan tanpa harus dikasihani dengan sangat.

wyata guna bandungKisah di atas adalah realita yang saya alami sore ini saat berkunjung ke Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna di jalan Pajajaran, Bandung setelah sekian lama saya pergi tanpa pesan dari teman-teman di sana. Maklum, kesibukan kegiatan di kampus dengan cepat mengubah pola hidup saya dan membuat saya berpikir seribu kali jika harus menambah kegiatan di luar kampus. Tentang tempat ini, saya pernah menyinggungnya sedikit di artikel ini.  Saya ingin berbagi sedikit kisahnya di sini sekaligus membawa misi kecil untuk membantu penghuni di sana…

Saat itu bulan Ramadhan pertama saya di Bandung, dengan status sudah sebagai mahasiswa STEI ITB angkatan 2006. Untuk pertama kalinya pula dalam hidup saya, saya mengikuti i’tikaf di masjid. Nggak tanggung-tanggung, waktu itu saya langsung diajak ke masjid Habiburrahman yang cukup terkenal di Bandung dan punya program i’tikaf yang ‘profesional’ karena selain memfasilitasi jamaah dengan space untuk beristirahat, makanan saur, air yang mengalir lancar, kajian, bacaan ayat Alquran-nya  saat tarawih juga juz-juzan (Hee, emang gitu ya indikator profesionalnya :-D ). Ya, singkatnya, sepulang i’tikaf itu saya nebeng teman asrama saya, Intan, anak teknik Kimia ’01 (ITB pastinya karena saya tinggal di asrama putri ITB) yang konon udah nikah tapi nggak ngundang-ngundang saya. Halah. Kak Intan nggak langsung pulang ke asrama, tapi mampir dulu ke Wyata Guna ini…

Sampai sana, saya masih belum tahu apa yang akan dilakukan kak Intan. Setelah bertemu dengan seseorang bernama Dadang yang disebut kak Intan sebagai “teman”nya, barulah saya ngeh bahwa kami sedang berada di panti tuna netra. Kak Intan memperkenalkan saya pada Dadang, lalu mereka bercerita bahwa di panti tersebut ada yang namanya reader (pembaca) untuk membantu para penghuni panti dalam mengakses buku-buku-yang-tidak-ada-huruf-brailenya dan kak Intan adalah salah satunya. Sejak itu, saya ditawari untuk menjadi reader di sana juga dan saat itu mengiyakan…sebelum akhirnya vakum karena satu dan lain hal (pake istilah Titz aneh).

Banyak pengalaman manis yang saya alami selama jadi reader di sana. Saya jadi punya beberapa teman baru sesama reader juga dari kampus yang berbeda-beda. Penghuni Wyata Guna adalah pelajar dan mahasiswa juga, yang menuntut ilmu bersama orang-orang normal lainnya. Ada juga yang khusus bersekolah di SLB jenis A, namun kebanyakan mereka yang sudah berkuliah ngampus di perguruan tinggi biasa. Program studi yang mereka pilih pun disesuaikan dengan kemampuan mereka. Dadang contohnya, dia mengambil S1 Pendidikan Musik karena memang ia minati dan perkuliahan di sana feasible untuk ia ikuti. Untuk keperluan kuliah atau sekolah mereka, buku referensi yang mereka perlukan tidak semuanya tersedia versi braile-nya. Di sinilah peran seorang reader dibutuhkan.

Lalu, dari mana mereka mendapatkan reader? jangan bayangkan pengurus Wyata Guna yang menurut situs ini berjumlah 94 orang ada bagian yang bertugas mengurus penyediaan reader-reader tersebut. Mereka datang dan pergi begitu saja secara sukarela (datangnya) maupun terpaksa (biasanya perginya :-P ). Berbagai mahasiswa dari perguruan tinggi di Bandung seperti ITB, UPI, UNPAD, dan UNPAR lah yang kebanyakan menjadi reader di sana selama ini. Background mahasiswa tentunya akan lebih pas dalam berinteraksi dengan para penghuni Wyata Guna yang kebanyakan berusia remaja dan dewasa awal. Dunia perkuliahan mereka pun tidak berbeda jauh dengan dunia perkuliahan para reader. Sayangnya, menurut penuturan penghuni dan pengurusnya, jumlah reader tersebut semakin lama semakin berkurang karena satu per satu akhirnya lulus kuliah dan harus bekerja (atau menikah). Sementara proses ‘kaderisasi’ reader pun sepertinya belum merakyat di kalangan para reader, termasuk saya sendiri. Tidak seperti kak Intan, saya belum pernah berkesempatan mengajak teman saya untuk berkunjung ke sana dan kemudian menawarinya menjadi reader.  Sore ini, saat bertemu, Dadang mengungkapkan betapa sulitnya ia dan teman-temannya mencari reader yang dapat membantu mereka sekarang.

Itulah mengapa, saya berkisah melalui tulisan ini…untuk meyakinkan Anda semua bahwa mereka, para tuna netra penghuni Wyata Guna itu, butuh uluran tangan dari kita semua. Bukan materi melimpah yang mereka butuhkan, namun hanya sebuah bentuk perhatian tulus dan kesabaran yang dapat membantu mereka melawan keterbatasannya agar kemudian mereka mampu menjadi masyarakat berilmu yang sejajar dengan kita-kita ini. Buat Anda yang tertarik atau tergugah (hehe) jadi reader di sana, caranya gampang aja kok. Tinggal datang dan temui saja salah satu penghuni di sana, ngobrol-ngobrol aja, katakan maksud Anda jadi reader di sana, saya yakin mereka pasti akan senang. Lebih baik lagi kalo Anda punya link orang Wyata Guna sehingga Anda benar-benar tahu penghuni mana yang sedang butuh reader. Hm, untuk yang satu ini, Anda dapat menghubungi saya. Sejujurnya, saya sendiri berharap banyak relawan baru yang mau jadi reader di sana karena saya sendiri mungkin akan tidak bisa sering-sering lagi ke sana mengingat amanah semester depan sudah cukup banyak. Huuhu..

About these ads
Leave a comment

16 Comments

  1. Ivan

     /  January 16, 2009

    Ternyata Ega nggak apatis :-P .
    Serasa menohok, dari SMP hampir tiap hari lewat Wiyata Guna tapi belum sempat mampir untuk masuk.. :(

    Reply
  2. ivan apatis..
    hore udah ada temen di agregator hari ini.. :)
    makasi egaa..

    Reply
  3. ghe2

     /  January 17, 2009

    nur nyari aggregator-mate mulu.. :mrgreen:

    wow, ega mengharukan.
    PM sekali..

    Reply
  4. egaa…
    kalo gw mau ikutan jadi reader gimana ga?? pengen,, tapi mau ada temennya juga.. hehe…

    Reply
  5. Ega… mengingatkanku pada sesuatu :(

    Reply
  6. gw sering masuk wyata guna… shiatsu ny nampol

    Reply
  7. salam kenal…
    gw tertarik utk bantu jadi reader nih tp masih bingung…bisa bantu gw??
    thanks…

    Reply
  8. gimana si carany jadi reader?? kudu ng-daftar dulu kah k sana?? tolong info ny yaa.. gw cukup berminat ni..

    Reply
  9. krida

     /  April 29, 2009

    punya info ga siapa penghuni wiyata guna yg sedang butuh reader/ saya berminat tuh… mohon hubingi saya ya

    Reply
  10. micky

     /  May 24, 2009

    saya tertarik menjadi the reader apakah ada persyaratan khusus?

    Reply
  11. ati

     /  September 29, 2009

    Aslm, mbak mau tanya untuk reader di Wyata Guna, terkait adanya program CSR yg wajib dilakukan oleh karyawan d ktr saya, dgn siapa saya boleh konfirmasi akan melakukan CSR dengan menjadi Reader (CSR dilakukan 1/2 hari) oleh beberapa orang karyawan yg bersedia..

    Reply
    • Wa’alaykumussalam. Halo mbak Ati, sebenarnya tidak ada manajemen khusus untuk para reader di Wyata Guna oleh pihak pengurus. Mereka datang dengan sendirinya, dengar cerita dari mulut ke mulut saja. Tapi kalo mbak pengen agak formil terkait dengan tugas dari kantor (siapa tahu dapat data2 dari pengurus juga), coba saja datang ke sana, di Jln. Pajajaran, no. 52, Telp./Fax. (022) 420 5214 – 420 3148, e-mail : psbn_wyataguna@live.com, Bandung. Keterangan lengkap ada di situsnya, http://psbn-wyataguna.spaces.live.com/blog/. Terus terang saya tidak memiliki koneksi dengan karyawan di sana sampai sekarang karena selama ini saya hanya berurusan dengan penghuni asrama dan sesama reader saja. Hehe…selamat beraksi, semoga berhasil!

      Reply
  12. @ all yang pengen jadi reader juga: lihat jawaban saya di atas, kalo mau kontak ke penghuni di sana, langsung saja datang atau melalui penghuni yang saya kenal…hubungi saya lewat email: egadioniputri [at] gmail [dot] com :)

    Reply
  13. @egadioniputri,
    saya tertarik sekali justru dengan teman-teman mahasiswa yang sukarela menjadi reader di sini. saya jadi tertarik untuk mengulasnya lebih dalam. nanti saya hubungi ya. terima kasih.

    Reply
  14. halo Ega.. pernah ketemu gak ya di WG? mungkin pernahlah sesekali kalau sering ke sana..Saya titip pesan untuk teman2 yang tertarik untuk jadi reader, follow @mahati2012 di tweeter deh ya.. banyak kegiatan kami dari Mata Hati Indonesia untuk teman2 tuna netra. Salam.. dan terimakasih sudah turut membantu teman2 tuna netra ya..

    Eriko – Mata Hati Indonesia

    Reply
    • Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba ini.. kebetulan saya lagi kebingungan cari partner buat eksekusi program di WG. Nanti saya kontak lebih lanjut ya.. trims banget udah ninggalin jejak. Kayanya kita belum pernah ketemu, deh.. cuma ada dua reader lain yang saya kenal. Hehe.

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 97 other followers

%d bloggers like this: