Arti Sebuah Keluarga


Belakangan saya sering mengamati apa sih yang membuat sebuah keluarga itu retak. Kalo dipikir-pikir, keluarga itu kan ikatan yang sangat kuat. Orang-orang didalamnya dipertemukan oleh Tuhan bukan tanpa sebab, sudah ada pertimbangan menurut ukuran-Nya. Komposisinya tidak bisa digantikan oleh yang lain. Pernikahan yang menjadi awal sebuah keluarga pun selalu direalisasikan dalam perhelatan yang agung nan meriah. Akan tetapi oh akan tetapi…banyak sekali terdengar cerita perceraian atau keluarga yang ‘berantakan’ tapi belum masuk tahap perpisahan. Sangat disayangkan padahal keluarga adalah cikal bakal wajah peradaban. Baik buruknya masyarakat bisa dinilai dari profil-profil keluarga didalamnya.

Belakangan, secara kebetulan juga, kepingan demi kepingan episode hidup saya membentuk rangkaian jawaban atas kontemplasi (kalo boleh dibilang begitu) saya tersebut. Banyak hal yang menyadarkan saya dan akhirnya mengantarkan pada kesimpulan bahwa sebenarnya menjaga keharmonisan keluarga itu mudah. Wallahu’alam juga ya implementasinya karena saya sendiri belum menjalaninya dalam keluarga ‘kecil’ tapi setidaknya prinsip-prinsip tersebut bekerja pada keluarga saya yang sekarang. Intinya hanya dibutuhkan pelebaran ukuran standar kesabaran dan kesyukuran kita sampai batas kekuatan dan keyakinan kita. Seperti halnya resep serbaguna abadi seorang muslim: sabar dan syukur.

Episode 1: Membaca buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim

Pertama, saya menyorotinya dari pernikahan. Dalam Islam, ketika seseorang itu menikah, maka doa yang hendaknya dibacakan untuk pasangan pengantin baru adalah…

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair

yang artinya “Semoga berkah Allah dilimpahkan kepadamu, semoga berkah Allah dilimpahkan atasmu, serta menghimpun engkau berdua dalam keadaan yang baik (kebahagiaan)”, bukan “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Begitulah Rasulullah mengajarkan dan memberikan teladan pada umatnya. Doa tersebut sesungguhnya dahsyat sekali dan menjadi kunci keberhasilan keluarga. Sekedar membaca artinya mungkin biasa saja, tapi kalo tahu kaidah bahasa Arab, ada arti tersembunyi yang luar biasa. Disebutkan bahwa ada kata kepadamu dan atasmu. Keduanya diulang untuk berkah yang dilimpahkan bukan tanpa sebab.Dalam konteks Arab, kepadamu (laka) mengacu pada hal-hal yang baik sedangkan atasmu (‘alaika) mengacu pada hal-hal yang buruk. Jika kita gunakan asumsi manusia normal yang menyukai hal-hal baik dan tidak menyukai hal-hal buruk, maka arti doa tersebut adalah pengharapan agar barakah selalu ada dalam kehidupan rumah tangga, baik pada hal-hal yang kita suka maupun yang tidak kita suka. Jika barakah ini selalu menjadi tujuan dari tiap anggota keluarga, khususnya suami istri, maka mereka pasti akan berusaha mencapainya, misalnya mengusahakan perdamaian saat terjadi perselisihan atau menegur demi kebaikan. Dalam hal ini, bersabar menghadapi cobaan (berupa hal-hal yang tidak disukai) dan bersyukur dengan apa yang ada (berorientasi pada hal-hal yang disukai) akan menjaga keluarga dari keretakan.

Episode 2: Mengikuti workshop GEN-E ke-3

Kedua, saya menyorotinya dari sikap individu dan kultur masyarakat kita. Sebagian besar bangsa kita belum terbiasa untuk melakukan Ask (meminta). Meminta dalam hal ini tentu saja menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Meminta tidak sekedar memberikan instruksi, tapi kegiatan seperti memasarkan barang adalah meminta orang lain membeli produk kita, lalu mengkritik seseorang adalah meminta orang lain merubah sifat buruknya, dan seterusnya. Apakah hal ini sulit? tidak bagi sebagian kecil yang lainnya. Saya sendiri termasuk orang yang ceplas-ceplos, suka mengatakan orang apa adanya, dan sudah sejak kecil begitu. Mungkin terpengaruh kultur Jawa Timur (lagi-lagi) yang memang suka ‘nembak’ orang didepannya langsung daripada ngomongin orang di belakang. Ketahuilah, dulu teman-teman SMA saya terbagi dalam dua kubu, yaitu kubu yang mengagumi sikap saya dan kubu yang memprotes sikap saya ini :D Nah, padahal memang seharusnya kita perlu meminta. Perceraian atau putus cinta sering terjadi karena ketidakcocokan atau ketidaksukaan seseorang terhadap pasangannya. Yang kebanyakan terjadi, seseorang itu tidak pernah meminta kepada pasangannya untuk berubah, misalnya mengatakan ‘kamu mbok ya gini dong, aku nggak suka kamu begitu’. Ngomongnya nggak langsung ke orang yang bersangkutan sih, malah ke tetangga, teman, atau mertua. Nah lho, selain malah membuka aib pasangan sendiri, pasangan juga jadi tidak mengerti ada yang salah dengan dirinya. Sebaliknya, pasangan juga harus mendengar ‘jeritan hati’ (halah) pasangannya disertai rasa sabar dan syukur karena memiliki pasangan yang masih mau mengingatkannya :)

Episode 3: FB-walking

Ketiga, saya mencoba menyorotinya dari pemahaman. Pemahaman tiap anggota keluarga terhadap posisi masing-masing, esensi menjaga keutuhan, dan kedudukan keluarganya di hadapan Tuhan akan mengarahkan mereka pada keharmonisan. Contoh gampangnya, suami harus mengerti perjuangan istrinya dalam mengurus anak, mengelola rumah, melayaninya, dan menjalani karirnya. Dengan mengingatnya, maka suami tidak akan tega membuat istrinya tersakiti, kecewa, tidak dihargai, merasa kekurangan, dan sebagainya. Rasulullah SAW telah bersabda:

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya…”

Hukum sebaliknya juga berlaku bagi sang istri. Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya selama itu masih dalam koridor syar’i. Konon, penghuni neraka kebanyakan adalah kaum wanita karena banyak yang tergelincir dalam soal taat-mentaati ini.

“Kaum pria (para suami) adalah penanggungjawab kaum wanita (istri-istri mereka)” (Q.S. An Nisaa’: 34)

Bagaimana pun ‘bentuk’ suaminya, seorang istri harus bersabar dan bersyukur

Tentang memahami esensi menjaga keutuhan, mungkin Anda bisa merenungkan analogi keluarga = bangunan dari saudara sepupu saya ini…

PONDASI: Keluarga akan berdiri kokoh bersama pondasi agama yg kuat
PILAR: Keluarga memiliki pilar yang terbuat dari kedua insan berbeda kultur, sifat, sikap, emosi, pribadi, dan pandangan. Kedua insan harus bisa saling menopang dan menjaga demi keutuhan bersama.
TEMBOK: Kedua insan harus saling melindungi dari setiap gangguan yang merusak.
WARNA: Setiap keluarga mempunyai warna yang menjadi ciri khas. Kedua insan akan saling mewarnai satu sama lain.
HIASAN: Istri menjadi perhiasan bagi suami, begitu pun sebaliknya.

Terakhir, tentang kedudukan keluarga, kita bisa berpegang pada hukum yang kita yakini dan mengingat apa sanksi dari meremehkan hal tersebut. Minimal malu lah sama Tuhan. Iya nggak? :P

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (Q.S. At-Tahriim: 6)

Sekian hasil pengamatan saya. Sudah siap berkeluarga kan? Hehehehe…

About these ads
Leave a comment

5 Comments

  1. ayu

     /  May 24, 2010

    asssmlkm,, saya ingin bertanya bagaimana solusi agar suami yang telah salah jalan dalam arti selingkuh agar sadar akan kesalahannya.. terima kasih

    Reply
  2. There is some really great information at this site. I spent quite a bit of time reading these tidbits of knowledge and came away enlightened.

    Reply
  3. kuncinya adalah tergantung bgm amal perbuatan dari sosok seorang imam. jagalah kamu dan keluarga mu dari api neraka.

    Reply
  1. Posting Immediately: Kenapa Susah Ya? « .:: si /-|ebat ::.
  2. Posting Immediately: Kenapa Susah Ya? « .:: si /-|ebat ::.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers

%d bloggers like this: