Jogja-Traveler’s Tale (2) – Menikmati Malam Malioboro
February 6, 2009
Filed under JaLan-JaLan, Rek!
Tags: Food Fezt, Jogja, Malioboro, Sekaten, Taman Pintar, Tamansari, Yogyakarta
Warning: Cerita berikut adalah lanjutan dari cerita ini.
Pulang dari Food Fezt, saya sebenarnya capek banget. Tapi Mom yang nyusul ke Jogja bareng sodara ternyata sampai di Jogja nggak lama kemudian dan langsung mengabarkan rencana jalan-jalan di Malioboro malamnya. Hah, yang benar saja, ke Malioboro malam-malam sama dengan melewatkan kesempatan bertemu dengan banyak pedagang kaki lima di sana.
Akhirnya, malam itu saya dan adik saya diboyong ke hotel. Hotel yang kami tempati ternyata lokasinya tidak jauh dari SMA saya. Konon, waktu itu susah banget nyari hotel karena hotel-hotel di Jogja udah pada penuh. Jogja sepertinya memang masih jadi tujuan wisata favorit turis lokal dan mancanegara. Enam kamar yang kami dapat di hotel itu aja adalah kamar-kamar terakhir yang masih kosong.
Saat kami bersiap-siap akan berangkat ke Malioboro, sekonyong-konyong kami kaget melihat sebuah bis pariwisata yang ukurannya super gede nangkring di parkiran hotel. Dengan suksesnya dia menutup celah kendaraan apa pun yang diparkir sebelumnya untuk keluar dari area parkir, termasuk dua mobil rombongan keluarga saya. Sebagai informasi, lebar area parkir adalah selebar body bis dan dengan adanya bis tersebut, area tersebut langsung penuh dengan posisi bokong bis menyentuh pagar hotel sehingga seandainya ada tamu hotel berikutnya yang mau parkir, maaf saja…tidak ada space lagi untuknya. Huah…cape de. Akhirnya beberapa perwakilan dari keluarga saya pun bernegosiasi ke pihak hotel memperjuangkan keadilan. Tak disangka, entah bagaimana kronologisnya, yang jelas pihak hotel tidak bersedia mengupayakan bagaimana agar dua mobil kami dan mobil tamu lainnya bisa keluar. Saya heran. Tidak bisakah mereka memanggil sopir bis kemudian menyuruhnya mengeluarkan bisnya sebentar? Apakah setiap hari keadaannya memang seperti itu? Kenapa mereka nggak perkiraan luas lahan parkir mereka sehingga membuat kebijakan yang adil bagi seluruh tamunya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjejali pikiran saya tanpa ada jawabannya.
Akhirnya (lagi) diputuskanlah bahwa kami naik becak ke Malioboro. Ibu saya menyebut sikap ‘mengalah’ kami itu sebagai sebuah bentuk “berbagi rezeki dengan tukang becak”. Oke, ide bagus. Itu pertama kalinya saya naik becak malam-malam di Jogja. Asyik juga. Apalagi saat itu, rute yang harus kami lewati adalah kompleks keraton, alun-alun kota, dan sekitarnya.
asyik terpukau lalu lalang orang di jalan
ramai sepeda beriringan
senyum menawan wajah ramah memberi salam
hati terhanyut damai tentram
…
-Jogja Tanpa Akhir, Katon Bagaskara-
Kami turun di ujung jalan Malioboro bagian selatan. Saya baru tahu, Jogja rupanya sedang dalam masa perayaan Sekaten, yaitu semacam event untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bisa Anda baca detilnya di sini. Huhu, sebenarnya pengen ke sana saja, tapi ketua rombongan kami (baca: sesepuh-sesepuh keluarga yang ikut saat itu) tidak ingin mengubah rencananya jalan-jalan di Malioboro. Ya sudah. Walaupun, saya pernah dua tahun di Jogja dan ditambah beberapa kali main ke sana dalam rangka liburan, saya sebenarnya belum pernah datang ke Sekaten.

(Read More)
Jogja-Traveler’s Tale (1) : Reuni yang Tidak Direncanakan
February 4, 2009
Filed under JaLan-JaLan, Rek!
Tags: aksel Teladan, Cepu, Food Fezt, Jogja, KATY, Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta, Padmanaba, Quickseven, SMA Teladan, SMAN 1 Yogyakarta, SMAN 3 Yogyakarta, STIKE Aisyiyah Jogja, Universitas Muhammadiyah Jogja, Yogyakarta
Saatnya saya berbagi cerita tentang pengalaman liburan semester lima saya! BTW, sebenarnya sudah lama pengen di-publish, tapi nggak selesai-selesai nulisnya. Hehe. Nggak seperti liburan-liburan semester sebelumnya yang rata-rata saya habiskan dua minggu di kampung halaman, kali ini saya cuma menikmati panasnya Cepu selama lima hari.
Jumat sore saya harus berangkat ke Jogja, kampung halaman ketiga saya (haha), gara-gara ada undangan reuni mendadak dari teman sekelas saya di SMA dulu. Padahal, saya sama sekali nggak punya rencana buat ketemu sama mereka liburan ini walaupun sudah ada woro-woro sebelumnya kalau bakal ada openhouse barengan dari alumni SMA saya yang kuliah di perguruan-perguruan tinggi ternama, baik negeri maupun swasta. Kegiatan ini merupakan terobosan baru setelah JEE dirasakan gagal memuaskan hasrat para alumni dalam mempresentasikan almamaternya dan juga hasrat peserta yang ingin tahu tentang calon tempat kuliahnya.
Di acara ini sendiri, tim Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta a.k.a. KATY dari ITB hadir dengan kemasan “paling niat” (dapat tempat paling gede di aula sekolah, pake meja-microphone-LCD projector-backdrop dengan gambar gajah gede, dan para alumni duduk dengan manisnya macam pembicara-pembicara di seminar) dan mengusung tema “From Bandung with Love”. Sayangnya, saya nggak jadi ikutan presentasi karena waktu udah sampai di sekolah, saya malah heboh sendiri reunian sama mantan teman-teman sekelas saya. Haha. Sempat diprotes juga tuh sama kakak kelas saya ini, “udah nyampe sekolah kok nggak ikut presentasi!” Ampun, Kk
Bebek Goreng Borromeus
November 14, 2008
Filed under JaLan-JaLan, Rek!
Tags: bandung, bebek Borromeus, bebek Garang, bebek goreng, bebek goreng Bandung, bebek Ngarasan, wisata kuliner Bandung
Nggak tahu kenapa minggu-minggu belakangan ini saya seperti “dihantui” oleh BEBEK.
Pertama, saya lihat iklan bebek Garang dalam brosur-brosur berlapiskan plastik di ruang tamu asrama saya. Sepertinya ada ‘antek-antek’ resto itu yang nyusup ke asrama saya. Hehe. Lokasinya rupanya dekat dengan asrama saya, di seberang hotel Bukit Dago. Wah, pantes saja kaya sering liat…
Kedua, dua hari setelah melihat brosur itu, teman sekamar saya cerita tentang promo sebuah warung bebek goreng yang menawarkan diskon dengan syarat-syarat berikut:
-bawa tiga teman kamu dan pesan empat porsi
-tunjukkan kartu mahasiswa ITB
-berikan salam ganesha
kayanya ada satu syarat lagi tapi saya lupa. Dua syarat terakhir yang saya tulis memang rada rasis. Tapi katanya sih yang punya warung bebek gorengnya memang anak ITB. Penasaran, saya pinjam brosurnya ke teman saya, oh..ternyata bebek Garang juga! Ini kayanya mereka memang sedang gencar-gencarnya promosi…
Peristiwa ketiga…saat itu saya sedang mengerjakan proyek himpunan di salah satu lab. Waktu makan malam tiba. Waktu perut saya lagi krucuk-krucuk, eh tiba-tiba kak Ivan masuk lab bawa bungkusan yang aromanya menggugah selera. Katanya, “Bebek goreng Borromeus nih, enak lho, udha pernah nyoba belum?” adaapaini…bebek lagi.
Selanjutnya…Hafsah, adik angkatan saya di STEI 2008, menawari saya buletin yang konon merupakan tugas calon kru Boulevard (buletin kampus). Harganya cuma seribu. Saya beli juga akhirnya buletin itu, itung-itung mensukseskan Hafsah dkk. diterima jadi kru Boulevard. Saya baca liputannya. Astaga, yang lagi dibahas ternyata wisata kuliner : bebek Ngarasan di Tubagus. Capee deh…
Sepertinya belum berhenti di situ unggas goreng itu menghantui saya. Peristiwa terakhir yang akhirnya ‘memaksa’ saya untuk membeli bebek goreng adalah rapat MSTEI hari Selasa lalu. Waktu itu, seusai rapat, ada teman saya yang nanya, “Eh, ada yang tahu nggak bebek van Java di mana?”. Kyaa…kenapa bebek lagi(T_T’), saya jadi pengen makan bebek goreng saat itu juga.
Pucuk dicinta bebek pun tiba. Teman saya yang lain, yang konon masih punya hutang traktiran ke saya, menawarkan untuk membayar hutangnya saat itu juga. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengajukan menu bebek goreng. Ahaha. Karena yang paling dekat dengan kampus adalah bebek goreng Borromeus, kami pun pergi ke sana. Hampir saja salah warung, akhirnya sampai juga kami di warung kaki lima yang ramainya luar biasa. Saya sempat putus asa tuh bisa cepat makan melihat antrian nota pesanan yang belum terlayani sudah tinggi. Sambil menunggu pesanan jadi, kami ngobrol sana-sini sama beberapa pelanggan di situ yang kebetulan anak ITB juga. Mereka ternyata sudah sering makan di sana dan mencoba menu lain, tapi…katanya menu lain nggak seenak bebek gorengnya. Selesai makan, kami sepakat dengan orang-orang, bebek goreng Borromeus emang mak nyuz. Walaupn sepanjang perjalanan pulang kami masih belum menemukan sisi ’spesial’nya (yang bikin enak itu) di mananya…

