Tulisan Yang Belum Sempat Dipublikasikan…


Ini masih tentang tulisan lama saya…walaupun udah basi…gapapa ah saya posting ke sini…biar ga mubazir ngetiknya ;P

Hidup Timnas Indonesia (baca:Timnas Sepakbola)
written: July 19,2007 @Cepu Oil City , Texas of Indonesia

Yeah, akhirnya kita harus pasrah Indonesia nggak bisa lolos ke perempat final AFC’07. Jujur, padahal saya udah berdoa sebelum dan selama pertandingan tadi malam berlangsung. Nggak tahu ya, kok kali ini–biasanya lempeng2 aja–saya pengen liat bangsa Indonesia bisa menangis bahagia dan rasa kebanggaannya terhadap negeri ini membuncah seandainya timnas mampu mengusung kemenangan. Tapi ternyata harapan tak seindah kenyataan. Terlepas dari itu, saya udah cukup amazing menyaksikan animo masyarakat yang kembali ‘meledak’ untuk mendukung timnas kita sejak partai pertama INA vs Bahrain digelar.

Contoh kongkritnya saya sendiri, biasanya saya masa bodoh sama segala hal yang berbau ‘sepakbola Indonesia’. Mau ada liga apa kek, pemainnya siapa aja kek, ada masalah apa aja kek, saya nggak pernah peduli. Bahkan sampai hal “kenapa kita nggak pernah lolos dari babak kualifikasi Piala Dunia” pun saya nggak pernah ingin mencari tahu apa penyebabnya. Ya sekedar maklum aja gitu. Udah sentimen duluan gitu. Tapi entah mengapa kali ini, sejak AFC’07 bergulir, seperti ada magnet yang memaksa saya untuk nonton. Saya pun mulai menaruh perhatian besar terhadap persepakbolaan nasional kita. Bukan karena kemenangan Indonesia di laga pertama sih, melainkan saya melihat ada perbedaan permainan timnas sekarang. Ada semangat berbeda yang ditunjukkan pemain kita. Mereka bermain dengan motivasi tinggi dan habis-habisan walaupun secara teknis masih banyak yang harus dibenahi. Terbukti dari tiga pertandingan, skor-skor yang tercipta cukup tipis. Nggak malu-maluin banget lah(^_^’)v…

Coba kita review. Pada laga pertama INA unggul 2-1 dari Bahrain. Ini start yang bagus untuk memompa semangat bertanding pada laga berikutnya. Sayangnya, saya lihat suporter banyak yang terlalu bahagia dengan kemenangan ini jadi kesannya takabur gitu. Lalu, di laga kedua, sebenarnya INA udah hebat banget bisa ngimbangin Saudi dengan skor 1-1 sampai dua menit sebelum pertandingan berakhir. Melihat postur tubuh pemain Saudi yang rata-rata lebih tinggi dari pemain kita dan track recordnya sebagai langganan wakil Asia di Piala Dunia, boleh lah kita sedikit berbangga. Meskipun justru dalam dua menit terakhir itulah gawang kita malah kebobolan lagi sehingga kita kalah, saya tetap menaruh apresiasi yang tinggi untuk perjuangan timnas kita. Nah, laga tadi malam yang rada menyebalkan. Kita nggak bisa lolos ke perempat final ‘hanya’ karena kita nggak bisa membalas SATU GOL Korsel. Cuma perlu satu! Lalu kita bisa terus mendukung timnas kita di AFC’07! Hiks..hiks..sedih jugaT_T. Tapi, kembali ke topik, saya tetap salut dengan perjuangan timnas kita. Sama seperti Saudi, Korsel juga punya pemain-pemain berpostur duapuluh senti-an di atas pemain kita, berpengalaman di Piala Dunia serta beberapa pemainnya belong to klub2 Eropa. Bisa menahan mereka 0-1 aja udah bagus! Harusnya Korsel bisa membuat gol lebih dari itu.

Oke, mungkin INA harus mengakui keunggulan lawan-lawannya di AFC kali ini. Setidaknya kepercayaan masyarakat terhadap timnas kita telah kembali saat ini. Kalo kita sering menyaksikan liputan-liputan AFC’07 kita akan dapat merasakan hal itu. Sulit lho mengembalikan kepercayaan orang yang sudah lama hilang itu. Tapi mempertahankan kepercayaan itu yang lebih sulit lagi! Hm, moga-moga timnas kita, para ‘kru’ PSSI, pelatih, dan pihak-pihak lain yang mengemban tugas mengharumkan nama INA lewat sepakbola sadar akan hal itu ya! BRAVO, GARUDA! Maju terus persepakbolaan Indonesia! Mulai sekarang aku akan mendukungmu sepenuh hati(^_~’)

Salam sepakbola,
Ega Dioni Putri
================================================================================================
Reiki,Mau?
written: August 1,2007 @Kanayakan Bawah 61 Bandung

Saya percaya alam bawah sadar kita bisa ‘bekerja’ kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaaan bagaimanapun. Saya juga menyadari bahwa saya termasuk orang yang sering ‘melakukan’ keinginan-keinginan yang belum terealisasi dalam mimpi. Saya orang yang sangat mudah bermimpi (dalam tidur), teman-teman sekolah dan kos saya dulu juga hafal itu. Dulu ketika masih ngekos setiap pagi saya ditodong teman-teman kos saya untuk menceritakan mimpi saya semalam. Sampai di sekolah pun begitu, teman-teman sekolah dengan antusias menunggu cerita mimpi saya. Pasalnya, mimpi saya rata-rata panjang durasinya (jadi seru ajah klo diceritakan^^) dan sering ‘melibatkan’ mereka yang memang saat itu mewarnai hari-hari saya.

Tapi saya belum bisa menerima ajakan ayah untuk mengikuti pelatihan Reiki yang akhir-akhir ini sedang ditekuninya walaupun saya sebenarnya tertarik untuk mendalaminya. Saya masih ingin mencari tahu lebih banyak tentang metode ini. Ayah menjelaskan bahwa meditasi Reiki sangat erat kaitannya dengan pengaktifan alam bawah sadar kita untuk membuang penyakit-penyakit yang ada dalam tubuh kita. Baik penyakit lahir maupun batin. Secara teknis, metode ini mirip dengan meditasi-meditasi lainnya. Kita memusatkan pikiran kita pada Tuhan dan tujuan yang ingin kita capai dalam suasana khidmat (standarnya sih duduk bersila dan tangan dikepalkan di lutut sambil mata terpejam gitu dech…). Trus nih, dalam posisi yang sudah dijelaskan di atas, kita buang tuh semua pikiran negatif (pesimis, iri, benci, dendam, dll) dalam diri kita setiap kali menghembuskan nafas. Fuuhh!!! Pokonya usir jauh-jauh ‘benalu-benalu’ itu. Eits, kalo menghembuskan nafas berarti sebelumnya ngirup dulu kan…nah, pas ngirup nafas itu kita mengambil energi positif dari alam, energi Sang Khalik. Jadi yang tersisa dalam tubuh kita adalah hal-hal positif. Pikiran positif, tubuh yang sehat, yeah.. seperti kata pepatah, mensana in coperosano (entahlah bagaimana penulisannya)..begitu…bagus kan?dan banyak orang sudah membuktikannya, bahwa mereka mampu menyembuhkan penyakit yang ada dalam tubuh mereka dengan memperbanyak energi positif itu.

Bukankah penyakit lahir kebanyakan datang karena batin yang ‘sakit’?
Bukankah sugesti positif dan keyakinan untuk sehat dapat menyembuhkan penyakit apapun?seberat apapun penyakit itu…
Hanya selama ini kita masih ‘tersugesti’ oleh OBAT. Dalam OBAT itulah harapan kita untuk sembuh tersimpan. Tapi tentu saja tidak baik kalo kita sering mengonsumsi obat, terutama obat buatan. Sudah saatnya kita mengikutkan peran akal dan hati kita dalam menyembuhkan penyakit, baik lahir maupun batin… Anda ingin mencobanya?tinggal pilih metode yang Anda sukai! Waskita Reiki bisa menjadi pilihan..saya tidak promosi lho! Hahaha

Salam sehat,
Ega Dioni Putri a.k.a Dioni

============================================================================================
The Power of Word
written: August 2,2007 @Kanayakan Bawah 61 Bandung

Cerita ini mungkin-agak-ga-penting-tapi-menarik-setidaknya-buat saya. Hari ini, perjalanan pulang saya dari Pasar Baru lagi-lagi tidak mulus. Setelah dulu sering banget nyasar-nyasar ga jelas dan kemudian sudah tidak lagi selama kurun waktu kurang lebih empat bulan ini, ketika saya kesana lagi untuk pertama kalinya setelah liburan panjang, saya lupa jalan pulang! Ck..ck..pengetahuan geografis saya memang agak buruk. Sulit bagi saya untuk menghafal jalan kalo tidak berkali-kali nyasar dulu. Biasanya dari nyasar itulah saya jadi ‘belajar’…Hehe.

Nah, berhubung saya nyasar, jadi saya harus menelusuri jalan Otista yang lumayan panjang. Di sepanjang jalan Otista yg tidak seharusnya saya lewati itu, ternyata sedang marak kaki lima menawarkan dagangan yang sama: jeruk dan kelengkeng. Sudah begitu harganya sama semua, lagi! Ada puluhan penjual di sana. Hmm, barangnya pun sepertinya berasal dari ‘sumber’ yang sama. Hampir semua menjual dengan harga sebagai berikut :

Jeruk >> 10ribu/kg
Kelengkeng >> 7000/kg

Tapi hampir di ujung deretan penjual buah tersebut, ada yang sedikit kreatif dengan menulis “Kelengkeng 6990/kg”…haha…apa bedanya sama 7000! Mungkin dia terinspirasi ‘gaya’ bandrol-bandrol harga di mall…hehe
BTW, walopun keliatan sepele, hal ini bisa mempengaruhi psikologis pembeli lho..halah. Iya, maksudnya gini, walopun 6990 dan 7000 sama aja dengan 7000, pikiran kita secara refleks akan menganggap 6990 lebih murah, karena masih berkepala enam. Seperti ada ‘secercah harapan’ dalam angka tersebut. Gampangnya aja kalo kita mo beli barang yang bentuk dan kualitasnya kira-kira ga jauh beda antara merek satu dan merek lain, misal merk A harganya Rp 1950,00 sementara harga merk B Rp 2100,00 , kita lebih seneng beli yang A kan! Itulah sebabnya harga-harga di mall suka nanggung banget pake akhiran angka sembilan, padahal sih nantinya juga dibuletin ke atas^^.

Salam kreatif,
Ega Dioni Putri a.k.a. Dioni

Leave a comment

2 Comments

  1. Setuju, Ga!!!
    Pil kosong terbukti mampu menyembuhkan orang…karena sugesti ajah!
    Btw, aq dadi pingin tuku buku sing judule “The Divine Message of DNA”

    “Engko nak wis tuku aku nyilih yo!”

    Reply
  2. mahbub

     /  October 15, 2008

    kok gak nulis novel wae ga daripada ditulis disini…..
    ……
    ntar aku yang pertama beli novelnya……………………………….trus tak jadiin bungkus kacang…..he2

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: