Keturunan Pemain Tambur


Halal-bihalal, sebagai sebuah moment yang paling bisa ‘memaksa’ orang banyak untuk meluangkan waktu mereka demi berkumpul dengan keluarga, selalu membawa cerita tak terlupakan. Kenapa saya mendefinisikan halal-bihalal dengan kalimat sepanjang itu? Karena memang begitulah adanya. Halal-bihalal bisa mempertemukan kita dengan sanak saudara yang hubungannya jauuh banget sama kita (seperti iklan kartu HSBC itu lho..hehe) atau yang udah lamaa banget nggak ketemu. Iya nggak?

Nah, hari ini saya juga membawa cerita kejutan dari acara halal-bihalal keluarga besar saya di Ponorogo. FYI, nenek moyang saya emang asalnya dari sini. Kalo dirunut, asal mulanya kehidupan keluarga saya juga dimulai dari tanah ini. Eits..jangan bilang nenek moyang saya reog ya! Haha..pasti pikirannya pada ke sana dech!

Ceritanya, saya mendapatkan fakta bahwa nenek saya dulu adalah seorang penabuh senar drum! It’s a big surprise for me karena selama ini yang saya tahu cuma kami, para cucu dan cicitnya ini, yang memilih ‘berkarir’ di jalur permarchingbandan. Ternyata semua itu ada unsur keturunannya. Jadi kalo kita menelusuri perjalanan keluarga saya di jalur marching band, kita akan menemukan kurang lebih seperti ini :

Nenek saya (71 tahun)

Seorang penabuh senar drum di SMPnya. Waktu itu, kata nenek, istilahnya masih “bermain tambur” dan zaman segitu masih jarang banget sekolah yang punya grup tambur. Alatnya terbuat dari kayu, cara bawanya sama kaya zaman sekarang. Lagunya?Hm,jangan ditanya! Ga pake lagu-laguan…pokoknya berirama…Hehe. Trus, hebatnya, nenek saya itu adalah satu dari dua orang cewek pemain tambur di sekolahnya (kata nenek, partner cewek satu-satunya itu sudah meninggal). Nah, di halal-bihalal tadi, ponakan neneklah yang mengingatkan akan cerita itu, karena dulunya beliau suka liat aksi panggung nenek saya. Sampe sekarang, ada saudara nenek saya yang lain yang suka ngejek beliau gini, “Wah, tukang nambur ternyata sekarang cucunya buanyak ya!” ;P

Cucu ke-2(kepala 3),3(kepala 3),4(kepala 2)
Saya nggak tahu pasti saudara-saudara sepupu saya yang sekarang udah pada berkeluarga ini megang apa aja, tapi yang jelas mereka aktif main marching band di tingkat SD-SMA.
Cucu ke-7(ga tau umurnya)
Sepupu sebaya saya ini dulu pernah jadi mayoret di TKnya.
Cucu ke-17(18 tahun),18(14 tahun),19(11 tahun)
Saya, cucu ke-17, dulu pernah jadi field commander(gitapati/dirijen) marching band SMP(Gita Puspita Aji) dan pemain baritone di kampus(Waditra Ganesha). Adik pertama saya, cucu ke-18, sempat bergonta-ganti profesi jadi pemain simbal dan marching bell di SMP yang sama dengan saya. Adik kedua saya, cucu ke-19, sejak TK sampai SD dipercaya menjadi penabuh bass drum. Zaman adik kedua saya ini memang mulai maju, banyak TK dan SD yang sudah punya grup marching band. Biasanya kami main di karnaval kemerdekaan atau ikut acara-acara di kabupaten gitu…
Cucu ke-23(13 tahun),24(9 tahun),25(6 tahun)
Cucu ke-23 main di marching band SMP sebagai peniup terompet. Cucu ke-24 jadi colorguard alias pembawa bendera di marching band TK-nya dulu. Cucu ke-25 baru saja melepas statusnya sebagai penabuh bass drum di TK.
Cicit pertama dan kedua
Cicit pertama nenek saya dulu pegang senar drum di TK. Lalu adiknya (ponakan saya yang paling cantik..hehe) juga baru saja melepas status sebagai mayoret di marching band TKnya.

Yup, jadilah saya menyadari sejarah keluarga yang aneh ini (^.~’)
Main marching band kok seperti melestarikan budaya saja…Hehehe…

Salam marching band,
Ega Dioni Putri

Previous Post
Leave a comment

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: