500 Meter untuk Seember Minyak


Siapa sangka, di balik pengeboran minyak yang makin modern di berbagai belahan dunia saat ini, di desa Wonocolo, kecamatan Kedanan, kabupaten Bojonegoro, masih ada penambangan minyak secara tradisional dengan tenaga manusia. Di sana, ada sumur minyak bumi peninggalan Belanda yang masih produktif. Menarik sekali bila kita melihat proses pengambilan minyak dari perut bumi ke permukaan tanah secara manual itu. Kita akan mudah berdecak kagum…

Secara umum, caranya sama seperti menimba air di sumur. Bedanya, ini ‘menimba’ minyak yang kedalamannya kurang lebih 24 meter di bawah tanah. Embernya adalah sebuah pipa besar dengan tuas di bagian bawahnya. Tuas ini tajam, berfungsi sebagai penambat ke dasar sumur ketika minyak sedang diambil sekaligus sebagai penyumbat ketika pipa diangkat ke permukaan tanah. Cara mengangkat minyak ke permukaan tanah inilah yang fantastis. Tali yang sangat panjang, yang berfungsi seperti tampar pada sumur air, ditarik oleh lima orang sejauh 500 meter! Setelah sampai di permukaan tanah, ada pekerja yang bertugas mengangkat wadah berisi minyak yang sudah sampai di permukaan tadi ke tempat penampungan minyak. Tempat penampungan minyak ini juga tidak selalu dekat dengan sumur karena ada banyak sumur di sana, sementara tempat penampungan hanya ada satu.

Selain penambangan, di sana juga ada tempat penyulingan minyak bumi menjadi solar secara tradisional. Anda mungkin bertanya mengapa penambangan minyak bumi di sana dilakukan secara manual. Sebenarnya cara seperti ini beralasan karena seandainya dilakukan dengan mesin akan memakan biaya operasional yang tidak sedikit. Hasil yang didapat tidak akan sebanding dengan biaya operasional seperti halnya penambangan di sumber-sumber lain yang lebih besar. Sekali ambil, minyak langsung habis. Sementara jika dilakukan dengan cara manual, minyak yang terambil sedikit demi sedikit dan jeda waktu antara pengangkatan satu dengan yang lain akan memungkinkan minyak untuk terkumpul dulu. Begitu seterusnya sampai minyak dari sumur habis. Tentu saja butuh kesabaran ekstra untuk melakukannya.

Minyak hasil penambangan tradisional ini sebenarnya sudah boleh dipakai oleh penduduk (para penambang rata-rata adalah penduduk desa sekitar sumber minyak). Namun, tetap saja, karena masih minyak mentah, mereka harus meminta bantuan Pertamina juga untuk mengolahnya sehingga bisa mereka gunakan. Tidak jauh dari tempat penambangan tradisional ini, ada sumur minyak lain yang besar dan ditambang dengan alat yang “sesungguhnya” oleh Pertamina. Jadi, jika Anda berkunjung ke sini, Anda akan mendapatkan dua pengalaman sekaligus, yaitu melihat penambangan minyak tradisional dan modern. Asyik kan?Bergotong-royong menarik minyak

Leave a comment

4 Comments

  1. skrip's

     /  December 11, 2007

    wow……menarik sekali, saya br tau klo ada orang di luar sana yang menambangnya secara manual, bahkan saya br tau klo bisa dilakukan manual…yah, setidaknya wawasan saya bertambah karena kebetulan saya mahasiswa jurusan teknik gas petrokimia di slh satu ptn di jakarta

    Reply
  2. eeem!!!
    menarik sekali membaca tulisan ini, tulisan ini ketika saya baca serasa saya bercerita tentang aktivitas masyarakat sekitas desa saya sehari-hari.
    kalo boleh jujur, berawal dari minyak tersebutlah saya dikasi kesempatan sama Allah mengenyam bangku kuliah.
    sebenarnya alasannya sederhana, kalo penduduk setempat menggunakan peralatan yang serba manual, mulai dari nambangnya hingga menjadi minyak solar,
    karena mereka ingin lahan tersebut membuka lapangan pekerjaan buat masyarakat sekitar bukan krn mahalnya biaya operasional.
    krn kalo dikelola secara modern hal tersebut sangat mencekik warga sekitar, karena otomatis di kuasai yang mengelola mesin(pemborong ato pertamina)
    masyarakat setempat sudah pernah merasakan bagaimana rumitnya menjalani hidup ketika hasil dari sumur tsb di kuasai oleh KUD.

    terima kasih…..

    Reply
    • agussalim

       /  August 3, 2012

      dari semua cerita saya ikut setuju,karena kalau tambang minyak di kuasai pertamina itu sangat membuat warga tercekik,warga kehilangan mata pencaharian pertamina membeli minyak mentah dengan harga jauh di bawah rata2 yang pasti dari tambang itulah saya bisa menjadi seperti sekarang&bisa menyekolahkan adek2adek saya

      Reply
  3. @rien zumaroh->waaah, senangnya ada ‘saksi mata’ cerita di atas yang nyasar ke blog ini😀 hiks, saya sendiri sebenarnya nggak pernah ke sana langsung karena waktu itu ga bisa ikutan, cuma diceritain Papa aja…kapan-kapan deh, terus kita janjian ketemu…kan asyik tuh🙂 makasih juga info tambahannya ya…

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: