Agar Asramaku Sedikit Lebih Eksis (bagian 1)


Saya mau cerita dikit tentang asrama saya…

Sebuah asrama bagaikan universitas kecil kehidupan yang berisi berbagai macam makhluk dengan latar belakang, karakter, gaya hidup, paradigma, obsesi, kelemahan, dan bakat yang berbeda. Asrama tidak bisa disamakan dengan sebuah kos-kosan, apartemen, atau rumah kontrakan karena kekeluargaan di dalamnya unik, mengikat dan sekaligus memaksa. Haha, seperti sifat hukum di negeri ini saja. Sedikit kejam memang, tapi sama sekali tidak seburuk yang Anda bayangkan. Mengikat karena sebagai penghuni kami harus bersedia menanggung konsekuensi untuk menghadiri acara-acara di asrama macam wisudaan tiga kali setahun, pengajian, buka bersama, musyawarah kerja , dan lain-lain. Juga mengerjakan tugas-tugas seperti piket mingguan, membuat mading, membersihkan kulkas, dan sebagainya.

img_1942-copy.jpg
Memaksa karena misalnya, kita tidak mungkin membiarkan teman sekamar kita menangis kelaparan, terisak kesakitan, atau tertawa sendirian, sementara kita sedang tidur-tiduran di kamar yang sama. Atau suatu saat, bel berbunyi nyaring di tengah malam yang sunyi karena ada penghuni yang baru pulang dari kegiatan unit, mengerjakan TA, nglembur di himpunan…dan (sialnya) jika kita mendengar bunyi bel itu, baik dalam keadaan tertidur pulas maupun masih terpekur di depan komputer mengerjakan tugas, maka kita harus siap membukakan pintu. Dalam hal ini, kita belajar menjadi pendengar yang baik, sahabat yang menyenangkan, pahlawan yang rela berkorban, dan sebagainya, kecuali kita tidak punya hati atau hati kita sudah membatu. Semua itu demi kenyamanan bersama dan keakraban seluruh penghuni.

Sama-sama membayar kontrak memang, tapi kewajiban dan hak di dalam sebuah asrama tetap berbeda dengan kos-kosan. Saya pun, sebagai anak asrama, sering mendengar cerita dari teman-teman yang ngekos, di kos mereka cenderung individual. Bahkan tak jarang tidak semua penghuni kos mereka kenal. Tapi tanyakan pada anak asrama yang seluruhnya berjumlah 95 orang berapa penghuni yang mereka kenal, saya jamin tidak sedikit yang bisa mengenal semuanya. Sedikit banyak, hal ini juga merupakan dampak dari banyaknya acara yang diselenggarakan di asrama. Bahkan, kepengurusan tahun 2007-2008 ini, di asrama saya, Asrama Mahasiswa Putri ITB satu-satunya, sudah ada 12 acara yang tertulis dalam proker divisi event organizer.

Begitulah kurang lebih asrama kami…cerita di atas akan menjadi demikian panjang seandainya saya teruskan. Hehe…Nah, sekarang coba Anda simak kisah penghuninya yang aneh-aneh…

Seperti yang sudah diceritakan di atas, penghuni asrama Kanayakan yang tidak kurang dari 90 orang tentu saja memiliki beragam profil kepribadian yang berbeda-beda. Oya, sampai hari ini, asrama kami dihuni orang-orang Jawa Timur yang ceplas-ceplos, orang-orang Jawa Tengah yang lembut, orang-orang Padang yang menggebu-gebu, orang-orang Batak yang suaranya masyaAllah, orang-orang Sunda yang ramah, orang-orang Riau yang rajin belajar, orang-orang Jakarta yang fashionable, orang-orang Jogja yang cinta mati dengan kota mereka, sampai orang-orang yang tidak memiliki teman sedaerah dan bingung menentukan kampung halaman mereka yang mana. Semua campur aduk jadi satu seperti rujak (bukan jus buah karena sekedar berasimilasi) di asrama. Rugi memang kalo sekeluarnya kami dari sini kami tidak menguasai bahasa daerah lain, minimal satu. Hehehe…Nah, berbicara soal penghuninya, inilah beberapa sampelnya…

Di asrama kami, ada banyak penghuni yang memiliki fobia tingkat menengah ke atas terhadap makhluk-makhluk, yang seperti sudah ditakdirkan Tuhan, justru hidup dengan makmur sampai beranak-pinak di lingkungan asrama. Contohnya, saya, seorang Kediri, seorang Kuningan, dan seorang Jakarta mengalami ketakutan, kejijikan, kegelian, serta kebencian yang mendalam kalau bertemu, melihat, didekati, dikejar, sama……..kucing! Sayangnya, makhluk menyebalkan bagi kami ini, terutama yang betina, banyak sekali penggemarnya di luar sana. Bukan masalah sebenarnya kalau saja mereka tidak semakin menjadi melakukan perbuatan binalnya sehingga anak-anak kucing tidak bertambah banyak seperti sekarang, 8 ekor! Sebelumnya bahkan 13 ekor tapi ‘komunitas kami’ berhasil membuangnya (^.~’). Kemudian, ada seorang Surabaya yang melihat kupu-kupu seperti melihat hantu. Kalau fobianya kambuh, semua orang akan menjadi sasaran dampratan akibat tidak berhasil mengusir atau menangkap makhluk yang terbang cepat dan tidak terduga itu. Tentu saja ‘kelainan’ ini jauh lebih merepotkan daripada penyakit sebelumnya…

Asrama kami juga dihuni pemeluk agama yang berbeda-beda. Ada Islam, Kristen, Katolik, Budha, bahkan konon ada yang sedang tidak beragama alias masih dalam tahap pencarian kebenaran (cailah…). Syukurlah kami hidup rukun dan damai. Perbedaan itu malah sering melahirkan cerita-cerita tak terlupakan. Pernah pada suatu hari yang cerah, di tengah-tengah rapat yang khusyuk, seorang penghuni, penganut Gautama taat, memecah keheningan rapat dengan pertanyaan dan ekspresi yang sangat mengejutkan, “Ini makanan apa?!”. Sontak semua yang hadir di rapat kaget. Tapi, berhubung ketika itu kami sedang serius, pertanyaannya kami acuhkan. Seusai rapat, teman kami itu mendatangi saya, menceritakan bahwa ketika konsumsi rapat sedang diedarkan, dia mengambilnya, memakannya, lalu bertanya pada seseorang di sebelahnya, apa bahan makanan yang terasa aneh di lidahnya itu. Lalu, ia terkejut setengah mati ketika mendapat jawaban “dari daging sapi”. Tahukah Anda kenapa? Ya, karena sapi adalah binatang suci yang diharamkan dalam agamanya dan pantang sekali bagi seorang Budha menyantapnya. Wajah teman saya, orang Hokian asli itu, baru menunjukkan tanda-tanda ketenangan sesaat setelah saya jelaskan bahwa makanan yang dia makan tadi bukan dari sapi, tapi dari kelapa dan singkong…srondeng (kelapa parut digoreng diberi bumbu bawang putih dan garam) memang masih asing bagi sebagian orang.

Hmm, sayang sekali, karena keterbatasan waktu, kisah tentang kehidupan di asrama insyaAllah akan saya lanjutkan di lain waktu…So, don’t miss it, yach!

Leave a comment

2 Comments

  1. “Contohnya, saya, seorang Kediri, seorang Kuningan, dan seorang Jakarta mengalami ketakutan, kejijikan, kegelian, serta kebencian yang mendalam kalau bertemu, melihat, didekati, dikejar, sama……..kucing”

    kok ada seorang kuningan?? are u thinking what i am thinking?
    apa “cew kuningan” itu juga takut kucing? Masya Allah.. Sunnah Rosul kan suka kucing hehehe :p

    Reply
  2. Umm…kadang-kadang ‘ketidakwarasan’ membuat manusia lupa dengan ajaran teladannya ;P
    Iya…dia yang di sebelah kamarku ;D

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: