Gado-gado Tengku Angkasa


Berawal dari kuliah Rekayasa Genetika Perangkat Lunak hari Kamis lalu, sampailah saya di rumah makan ini :

poto002.jpg

Lho, apa hubungannya kuliah RPL sama gado-gado? Oho, jelas ada donk…ketika itu, dosen saya, Bu Christine Suryadi, sedang menjelaskan tentang Data Flow Architecture (salah satu jenis Architectural Styles dalam Software Engineering). Nah, dalam arsitektur aliran data ini, cara pengolahan data terbagi menjadi dua macam pola, yaitu pipes and filter dan batch sequential. Sesaat sebelum menjelaskan perbedaan keduanya, bu Christine tiba-tiba nyeletuk, “Wah, kalo membahas hal ini entah kenapa saya langsung ingatnya sama gado-gado Tengku Angkasa.”

Batch sequential dianalogikan bu Christine dengan cara mencampur bahan-bahan dalam sepiring gado-gado secara bertahap namun sekaligus. Dalam “batch sequential ala menjual gado-gado”, bahan-bahan seperti lontong, tahu, kentang, telur, sayuran, dan sebagainya ditaruh secara bertahap pada piring pesanan. Misalnya, semua piring diisi lontong dulu, kemudian (masih untuk semua piring) tahu dimasukkan, diikuti kentang, bawang goreng, dan bahan-bahan lainnya. Jadi, banyak pesanan dapat diselesaikan sekaligus dalam satu waktu. Sedangkan pada pipes and lines-nya penjualan gado-gado, satu pesanan gado-gado diselesaikan dulu baru mengerjakan pesanan yang lain.

*kembali ke kuliah RPL*


Gado-gado Tengku Angkasa. Saya menangkap frase itu baik-baik. Pikiran saya mulai beralih ke gado-gado. Seperti sebuah kebetulan, seminggu terakhir ini saya memang lagi pengen beli gado-gado. Sudah dua kali gagal beli gado-gado. Pertama, ketika hari Senin, saya berencana makan gado-gado di kantin GKU barat, eh..ternyata pas mau beli sudah habis. Dua hari kemudian saya ke kantin Salman, niat mau beli gado-gado juga. Sampai di sana, kembali saya menelan kekecewaan yang sangat mendalam. Hehe. Taunya di hari Kamis, datanglah bu Christine yang kembali mengingatkan saya pada sepiring gado-gado lezat..Hmm…Saya harus cari tahu, perintah otak saya waktu itu. Saya cari teman asli Bandung yang duduk paling dekat dengan saya. Akhirnya saya menemukan Ochi di sebelah kanan saya. Haha. Pasalnya, saya sama sekali belum pernah dengar jalan yang namanya “Tengku Angkasa”. Sedikit keterangan Ochi akhirnya memuskan saya : Tengku Angkasa di sekitar Dipati Ukur. Hmm, sepertinya tidak terlalu sulit untuk dicari. Pasti satu di antara jalan-jalan kecil dengan nama-nama tokoh penting itu, pikir saya lagi. Cuma kok saya nggak tahu ya Tengku Angkasa tuh tokoh apa…padahal nilai sejarah saya nggak buruk-buruk amat. Hehe.

Hari Jumat, tanpa direncanakan sebelumnya, sepulang dari jalan Pahlawan, saya mendadak ingin pergi ke Tengku Angkasa demi memburu gado-gado. Setelah bertanya pada kurang lebih tiga orang dan muter-muter di jalan-jalan tokoh penting itu (karena begitu banyak belokan dan perempatan), saya berhasil menemukannya! Pesan moral pertama yang dapat diambil : kejarlah cita-citamu sampai dapat walaupun banyak rintangan menghadang. Pesan moral kedua : bertanyalah jika kamu memang tidak tahu, jangan sok tahu, apalagi sampai menghabiskan banyak tenaga dan biaya untuk mengejar sesuatu yang tidak kamu ketahui secara pasti itu. Caila, bijaksana sekali saya ya…

Di dompet saya hanya tinggal lima belas ribu rupiah. Estimasi saya, paling mahal harga gado-gadonya 7000 lah. Orang cuma sayur ama tahu tempe doank, masa sih lebih dari segitu, batin saya. Lalu, saya tanya deh si ibu penjual berapa harga satu porsinya. Walah…ternyata lebih mahal 2000 rupiah dari perkiraan harga termahal saya! Yaah…saya langsung membesarkan hati. Habis, udah kepengen banget. Sembari menunggu dilayani, saya mencoba menganalisis mengapa harga gado-gado tersebut mahal sekali (baca:untuk ukuran saya).

Hmm..mungkin karena udah punya nama, Ga! Harga sebuah kepopuleran itu kan memang mahal…pelanggan juga nggak bakal lari kalau udah suka.

Hmm..mungkin aja isinya yang istimewa, Ga! Nggak seperti gado-gado kebanyakan. Ini pasti lain daripada yang lain…

Hmm..mungkin aja karena porsinya besar, Ga! Satu porsi bisa dimakan dua kali kayanya…

Hmm..mungkin penjualnya emang pengen untung banyak, Ga! Kan orang jualan bebas mau ngasih harga berapa aja buat dagangannya….

Saya sempat intip-intip sedikit apa saja yang dimasukkan ke gado-gado itu, rasanya tidak ada yang aneh. Semuanya STD. Standar. Saya langsung ngeh, pasti yang bikin enak bumbunya. Nggak mungkin kalau bumbunya nggak enak gado-gado ini bisa terkenal dan laris. Saya pun pulang dengan riang. Sampai di rumah, saya buka itu gado-gado. Ini penampakannya :

poto007.jpg

Awalnya saya geleng-geleng, ya ampun…isinya cuma kaya gini toh. Tapi waktu mencicipi bumbu kacangnya, mmm..yummy! Mak nyos tenan… Rupanya ini yang bikin gado-gado Tengku Angkasa agak luar biasa harganya. Resep rahasia. Ya, resep rahasia yang tentu tidak mudah untuk dicontek orang lain.

Sekian kalinya saya dibuat kagum oleh bisnis kuliner. Banyak sekali cerita orang yang mampu mereguk sukses besar dalam usaha ini berkat kretivitasnya. Mulai dari kreativitas meracik bumbu, memvariasikan menu, membuat tren masakan baru, sampai membangun rumah makan yang membuat pelanggan betah di dalamnya. Kalau Anda suka menyaksikan tayangan TV “Wisata Kuliner”, Anda mungkin juga akan sering dibuat kagum atau bahkan ingin memulai bisnis kuliner sendiri, seperti halnya saya ketika menonton acara itu. Hehehe.

Terima kasih bu Christine…walaupun hari ini budget makan saya agak membengkak gara-gara beli gado-gado, saya mendapat sedikit pelajaran berharga, dan yang paling penting, keinginan saya untuk makan gado-gado tercapai😉

Leave a comment

12 Comments

  1. Kenapa ada kata Genetika? Segitu berpengaruhnya ya kata-kata Madam CS. Ckckck…

    Reply
  2. Ho.. Kabur dari makan eskrim.. ternyata makan gado2 ndirian.. weleh.. :p

    bagus juga buat referensi “kuliner akhir minggu” bersama aski & tuti hehe..

    Reply
  3. pesan moral yang ketiga : kalau makan bagi-bagi donk..🙂
    pesan moral yang ke-empat: Gado-gado BOPLO di Jakarta ternyata tidak enak.

    Reply
  4. wew, ada juga orang yang dengerin bu CS….

    Reply
  5. jalan tengku angkasa itu dimana ya
    pengen nyoba juga nih

    Reply
  6. tak kira mau njelasin tentang RPL…

    Reply
  7. Nyam, nyam… halah ra penting😀

    Reply
  8. bisa dengerin yah ? hebat-hebat..

    Reply
  9. Kang Wed

     /  September 17, 2011

    kebetulan lagi kabita makan gado-gado
    maturnuwun mbak rekomendasinya
    segera meluncur ke TKP..

    wed

    Reply
    • enak bgt loh, dijamin ga nyesel (sluuurrp, yah jadi pengen)

      Reply
      • Kang Wed

         /  September 18, 2011

        bener enak banget.. apalagi porsinya itu loh, cocok banget buat yang abis kelar nyangkul, dengan harga 13.500 worth it banget sih, sebenernya lebih pas kalo dimakan berdua
        Dan about the sambel, emang termasuk paling enak diantara gado-gado yang lain.
        Nuhun mbak rekomendasinya🙂

        Reply
  1. Wisata Kuliner Liburan II: Lotek Baciro Jogja « cReAtiVegA’s dayEri…

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: