Berkumpul dengan Para Kunang-kunang di FIM VI


Setelah membulatkan hati untuk berangkat ke Cibubur di sela-sela tugas kuliah yang masih sejuta banyaknya,saya akhirnya dipertemukan dengan pemuda/i hebat dari seluruh nusantara di Forum Indonesia Muda angkatan VI (FIM VI).Mereka semua kritis,enerjik,percaya diri,berwawasan luas,dan mencirikan calon-calon pemimpin masa depan.Semua meyakinkan saya bahwa bangsa ini bisa bangkit suatu hari nanti:)

…[to be continued]…

[ Tulisan dilajutkan sembilan hari pasca berakhirnya FIM. Kesibukan mengerjakan tugas selalu sukses membuat acara nge-blog saya ter-pending untuk sekian lama. Hehehe. ]
ini name tag Dioni
Walaupun sudah <agak> basi, saya mau melanjutkan cerita saya nih di FIM kemarin. Siapa tahu bisa jadi inspirasi dan ada hikmah yang dapat Anda ambil dari pengalaman saya. Caila…

Saya dan rombongan ITB datang di lokasi Kamis malam, kurang lebih pukul 23.00. Perjalanan dari Bandung ke Cibubur kami tempuh menggunakan travel melalui tol Padalarang selama dua jam. Sampai di sana, kami langsung digiring ke asrama yang sudah disiapkan panitia dan…tidur! Padahal niat awalnya mau buka laptop dulu karena kepikiran sama tugas yang harus dikumpulkan minggu depannya. Hehehe. Sebelum tidur, saya sempat merasakan tanda-tanda badan mau kena flu. Duh…

Esoknya, keributan di asrama tempat saya menginap mulai terjadi. Peserta-peserta dari luar Jabodetabek ternyata sudah banyak yang datang sejak Kamis siang. Bahkan, rombongan dari UGM sudah tiba di lokasi pada Kamis subuh. Sementara rangkaian kegiatan training FIM baru dimulai pada Jumat pagi. Sampai-sampai mereka harus menelpon panitia yang jelas-jelas belum ada di sana seorang pun. Entah bocah-bocah UGM itu sengaja pengen jalan-jalan dulu atau memang salah jadwal😛 (piss, dab!). Nggak lucunya, mereka dapat penghargaan khusus di akhir acara sebagai assabiqunal awwalun eh, bukan, sebagai peserta yang paling awal datangnya. Nggak penting kan? Hehehe.

Training dimulai dengan wejangan dari pak Bukhori Nasution yang menyampaikan tujuh unsur kepemimpinan, yaitu mengenal, komunikasi, organisasi, pengambilan keputusan, peran, dan dua lagi saya lupa😛. Ketujuh unsur inilah yang dibawa dalam materi-materi training kami di FIM. Setiap unsur menjiwai satu materi sehingga implementasi dari tiap unsur <seharusnya sih> terasa lebih nyata.

Awal-awal training, kami sudah disuguhi keanehan-keanehan peserta dan panitia. Salah satunya, saat sesi intermezzo, sang pembicara, Suparlan, ketua tranining FIM VI, menanyakan pada peserta apa tujuan ikut FIM. Seorang delegasi dari sebuah universitas di Jogja angkat bicara kemudian mengatakan, “Saya minta teman-teman berdiri semua…(peserta berdiri)…saya ingin mendengarkan teriakan ‘SEMANGAT’ terbaik dari teman-teman semua! Satu dua tiga…”. Peserta dengan lantang menjawab, “SEMANGAAAAAT!!!”. Si delegasi dari sebuah universitas di Jogja mengulangi sekali lagi perintahnya dan tampak puas lalu mengatakan, “Itulah yang ingin saya dapat di sini! Semangat dari teman-teman sesama pemuda untuk bal..bla..bla ” (saya lupa kata-katanya dan saya nggak mau ngarang sendiri di sini). Tak dinyana, sang pembicara menyahut, “Oke, kalau begitu Anda sudah boleh pulang sekarang karena tujuan Anda sudah tercapai!”. Terus, muka di delegasi langsung bete gitu. Hahaha, ada-ada aja.

Skip..skip..skip..

Ada juga materi mengenai pengenalan diri. Judulnya keren, “Feel Free To Be You”. Yang ngisi juga keren sekali, ibu (atau nenek?hehe) Elly Risman, psikolog yang sering mondar-mandir tampil di TV dan radio. Elly Risman ini top banget dah, sudah sepuh tapi enerjik dan gaul pisan. Tipe nenek-nenek idaman lah. Hihihi. Beliau menyampaikan bahwa mengenal diri salah satunya berkaitan erat dengan kebiasaan yang dibentuk oleh orang tua dalam keluarga. Kebiasaan buruk orang tua dalam memperlakukan putra-putrinya rupanya dapat mengganggu kemampuan anak mengenali dirinya. Mudah saja mencari apa saja kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, tonton saja sinetron-sinetron Indonesia. Menyalahkan, memvonis, membandingkan, menipu, dan sebagainya ada contohnya semua tuh. Hehehe. Elly Risman mencontohkan kebiasaan-kebiasaan tersebut dalam monolog singkat yang ngena banget sama kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, ada seorang anak kecil jatuh dari tangga, beberapa kasus kebiasaan orang tua adalah seperti ini:

Menyalahkan –> “Tuh kan, Mama bilang juga apa! Jangan mainan di tangga! Kamu sih bandel!”
Memvonis –> “Tuh, bener kan jatuh! Kamu pasti nggak dengerin kata-kata Mama ya! Kamu pasti nggak hati-hati!”
Membandingkan –> “Tuh kan dibilangin juga apa. Mama bilang jangan mainan di tangga! Kamu sih anaknya bandel, nggak kaya kakakmu itu…udah rajin, sopan, nurut lagi sama Mama!”
Menipu –> “Eleuh..eleuh..anak Mama kasian! Cup,cup, udah gapapa, bentar lagi juga sembuh”
(padahal kenyataannya sangat pahit, kaki sang anak patah tulang misalnya, yang tentu saja butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, tapi dibilang bentar lagi sembuh…)

dan lain-lain.

Seingat saya, Kira-kira ada sepuluh kebiasaan buruk yang harus kita hindari ketika berhadapan dengan anak kita kelak🙂 Elly Risman juga berpesan bahwa sebelum mempersiapkan diri menjadi apa yang kita cita-citakan, entah itu presiden, menteri, atau dokter, seharusnya justru terlebih dahulu kita mempersiapkan diri menjadi istri atau suami yang baik. Karena dari orang tua yang baik, akan lahirlah generasi yang mulia. Hmm, so sweet…

Skip..skip..skip..

Saya ini orang yang jarang banget minum kopi. Dalam setahun saja mungkin nggak sampai dua belas kali minum kopi. Tapi, di FIM VI, saya jadi coffeeholic sementara. Sehari tiga kali coffeebreak (minum kopi,teh panas dan snack berat), saya jadi ketagihan minum kopi. Habis, aromanya itu lho…nggak nahan. Menggoda sekali. Ditambah lagi, kopi cukup ampuh mempertahankan kesadaran saya yang sering ngantuk saat sesi materi karena pengaruh obat flu yang saya minum waktu itu. Makasih ya panitia…perut kami benar-benar terjamin selama training kemarin🙂

Skip..skip..skip..

Setelah ditempa materi bertubi-tubi mengenai leadership, nasionalisme, realitas bangsa, life skill, pornografi, dan topik-topik ‘berat’ lainnya, kami akhirnya diberikan kesempatan untuk berekspresi melalui presentasi kelompok dan persembahan kelompok. Dalam presentasi kelompok, kami benar-benar ditantang untuk berpikir cepat dan percaya diri. Materi presentasi ditentukan secara acak dan kami hanya memiliki waktu untuk mempersiapkan presentasi selama sepuluh menit. Presentasinya sendiri sih tidak dibatasi mau berapa menit. Nah lho…saya pikir bakal pada ngaco gitu presentasinya. Tapi dugaan saya salah! Saya lupa kalau orang-orang yang ikut FIM ini adalah orang-orang yang udah biasa ‘tampil’ di kampus masing-masing. Beberapa presenter tampil memukau penonton dan membuat kelompoknya di atas angin. Presenter yang paling keren adalah *duh, saya lupa namanya*, satu-satunya delegasi dari ITS. Gayanya presentasi sudah seperti trainer handal saja. Isi materinya berbobot, disertai dengan data-data yang valid, seperti realita-relaita yang sedang terjadi dan hukum (undang-undang/PP tertentu lengkap dengan pasal dan ayatnya). Wih…

Akhirnya, malam itu, Bunda Amelia Naim menutup sesi presentasi dengan jurus-jurus presentasi ampuh dari beliau yang memang sudah termasuk kamu ‘brahmana’ dalam hal presentasi. Beliau yang sekarang menjabat sebagai ketua divisi humas ASA (Aliansi Selamatkan Anak) Indonesia ini tampaknya banyak mendapat ilmu presentasi dari pengalamannya tinggal di negeri orang. Hoho, makasih, Bunda…

Skip..skip..skip..

Tibalah sesi persembahan kelompok. Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar “persembahan kelompok” yang dipersiapkan dalam waktu singkat dalam suatu kegiatan training, pembinaan, perkemahan, dan sebagainya? Garing, jayus, basi, boring, dan nggak jauh-jauh dari itu pasti. Iya nggak? Kalau flashback acara api ekspresi (padahal nggak ada apinya:P) di FIM kemarin, memang ada benarnya. Biasa lah…dengan waktu, alat, dan persiapan seadanya wajar kalau semua kelompok ingin menampilkan sesuatu yang sesederhana mungkin namun tapi semenarik mungkin. Beberapa kelompok tampil benar-benar apa adanya, beberapa yang lain bermain habis-habisan. Sebagian besar kelompok menampilkan drama yang diselipi puisi di dalamnya. Ssst, katanya sih ini karena salah satu juri penilainya adalah orang film yang sedang mencari bakat untuk main di film Ketika Cinta Bertasbih. Huuu, entah benar atau tidak. Yang jelas, dua pemain di kelompok saya dinilai “layak jual” dan dipuji habis-habisan oleh si juri. Wah, wah…sayang bukan saya orangnya😀

Skip..skip..skip..

Hari Ahad pagi, training Leadership dan Life Skill Forum Indonesia Muda VI mencapai klimaksnya. Acara hari itu cuma satu: outbond! Berbeda dari yang selama ini saya jalani, kalau biasanya keluar dari kehirukpikukan kota mendaki gunung lewati lembah (hlo, Ninja Hatori), kali ini saya outbond di arena khusus outbond yang dilengkapi sarana dan prasarana khas outboun. Pematerinya Pak Esnoe Sanusi, dosen Fakultas Olahraga UNJ mata kuliah outbond dan permainan. saya baru tahu ada mata kuliah seperti itu. Enak banget kali ya, isinya main-main terus…Hehe. Wah, saya senang bisa nyobain flying fox di sini. Sebelum naik, saya pikir saya bakal jerit-jerit pas meluncur ke bawah, tapi ternyata adem ayem aja pas udah benar-benar menjalani. wush…lepaskan semua beban dan meluncuuuuuuuuuuuur. Paling menegangkan memang pas udah sampai di puncak pohonnya yang tinggi, tempat pemberangkatan si flyer. Ini foto-foto saya di arena flying fox:
habis meluncur

Permainan paling gokil juga saya alami di sini, yaitu menara air. Prosedurnya adalah anggota tim harus bekerja sama mengeluarkan bola dari dalam sebuah “menara” yang terbuat dari tabung kayu panjang dan besar (tinggi 2m, diameter 15-20cm) dengan menggunakan air. Sebenarnya bukan masalah besar jika saja tabungnya tidak berlubang! Masalahnya, ada banyak lubang di tabung tersebut yang harus ditutup agar air yang diisikan ke dalam tabung tidak keluar sehingga memperlambat keluarnya bola. Kelompok saya yang kebetulan pesertanya paling sedikit, cuma delapan prajurit, tentu saja harus bekerja ekstra keras untuk menjalani permainan ini. Diburu waktu, kami pun langsung bekerja cepat mengeluarkan bola dari dalam menara air. Teman saya yang bagian mengisikan air ke dalam tabung dengan semangat berusaha memenuhi tabung dengan air agar bola tersundul keluar. Lubang-lubang sialan itu cukup sukses menghambat cita-cita kami. Dengan segala daya dan upaya, anggota kelompok lainnya bahu-membahu menutup lubang. Pada mulanya, kesepuluh jari kami cukup untuk menahan keluarnya air. Lama-lama, kaki kami (baca: paha, karena tabungnya dipangku miring) juga digunakan untuk menutup lubang. Semakin lama aliran air semakin deras sehingga tangan dan kaki enam orang saja tidak cukup untuk menutup lubang-lubang yang lumayan banyak itu. Lama-lama, dagu dan pipi kami pun terpkasa dikorbankan untuk menutup lubang. Belum berhasil mengeluarkan lima bola dari dalam tabung, sang penjaga pos bercerita bahwa kelompok sebelumnya (laki-laki) ada yang sampai menggunakan lidahnya demi tertutupnya semua lubang. Yaiks…saya nggak akan melakukannya! Pikir saya waktu itu. Bayangkan saja, air yang digunakan untuk mengisi menara air itu adalah air kolam yang mungkin saja kan tercampur bakteri-bakteri jahat atau malah air kencing manusia. Hiii…Akan tetapi, keadaan yang semakin mendesak rupanya mendorong teman di sebelah saya untuk mengikuti jejak si peserta yang menggunakan lidahnya tadi! Tidaaakk…saya tidak tega melihatnya tapi cuma bisa diam. Akhirnya, dengan perjuangan yang tidak mengenal malu itu, dua ronde permainan berhasil kami selesaikan. Kami mengakhiri outbond siang itu dengan basah kuyup, sampai ke ‘dalam-dalam’. Hahaha. Gokilnya lagi, entah ide siapa, kelompok saya rame-rame nyebur sekalian ke itu kolam dan………..foto-fotoan! Ck..ck..ck..ketua kelompoknya rada nggak beres memang😛

Yeah, begitulah pemirsa…pengalaman saya berkumpul dengan para kunang-kunang (istilah untuk menyebut anak-anak FIM) di FIM VI. Semoga cahaya besar yang kita kumpulkan dari cahaya-cahaya kecil kita ini dapat menerangi semesta tempat kita hidup, kawan! Selamanya…:)

Previous Post
Leave a comment

12 Comments

  1. Woro-woro, weblog saya pindah rumah (sekali lagi). Update link di blogmu ke http://yohang.web.id dan Semangka!🙂

    Reply
  2. wow keren…

    ada ga Forum Indonesia Tua? mo ikutan dong😀

    hem… ternyata aktifis ya kamu? woooo… pantes ngilang beberapa minggu ini😀

    Reply
  3. .Semua meyakinkan saya bahwa bangsa ini bisa bangkit suatu hari nanti🙂

    weiss.. bahasanya.. aktivis banget😀
    kita tunggu 2-3 hari lagi untuk “pemulihan” pasca FIM hehehe..

    Reply
  4. ghe2

     /  May 6, 2008

    ciecie, si ega…
    yup, musti yakin dari awal. Kalo udah pesimis, kapan trwujud?? (apaan coba? hehe..)

    Reply
  5. Subhanallah,,, asalkan masih ada yang bermimpi seperti itu,, suatu saat Indonesia pasti bangkit😉

    Reply
  6. dafitawon

     /  May 7, 2008

    Semangat ya Ga. Ega itu punya banyak potensi, salah satu yang sudah terbukti waktu jadi Juri komunal terbaik festival film indie, masuk kompas lagi…

    o, ya ni firman.
    jangan lupa add blogku di blogroll mu ya:

    http://www.dafitawon.co.cc

    Reply
  7. ridwansyahyusufachmad

     /  May 7, 2008

    hehehe

    ega jadi yah masuk FIM…

    kk gak jadi nih… kayaknya asik yuph ???

    but, UKM lebih oke kayaknya

    hahaha

    Reply
  8. quoting orang nyebelin :
    dari sekian banyak kunang-kunang,
    ada satu yang cahanyanya indah😀

    Reply
  9. uni ketawa2 baca postingan Ega..
    tambahan:
    – Peserta dari UGM yang minta “Semangat” jadi peserta terheboh dalam FIM VI Award, namanya Ola. Pantes, sampai sekarang dia jadi musuh babuyutan suhu Parlan.
    -Peserta [satu-satunya] dari ITS yang menjadi presenter terbaik namanya Ya’Asurandi [Andi].
    -Kok sesi SaKuKu [Sahabat Kunang-Kunang] tidak disebut2…
    -Sesi berbagi kearifan oleh Zainal C Airlangga yang dipandu Aji ITB[yang datang malam pulang pagi] juga gak disebut. Padahal Ega ngasih comment kan di sesi itu…

    Tapi bagaimana pun juga FIM VI dan FIM sebelumnya memang menjadi momen tak terlupakan buat manusia2 yang mengikutinya…

    Reply
  10. @YoHang : Wis ngekek’i komenne pertama, ora ngomentari artikele malah majang pengumuman! Bocah..bocah…
    @inoex135 : Oh, udah ngerasa “tua” ya dirimu? Makanya cepetan cari pendamping hidup! Apa perlu aku bantuin nyari? Haha, piss ah…
    @aisar : Ya dukung lah…jangan malah meragukan gitu (-,-‘)
    @fitrasani : Pasti!!!
    @dafitawon : Wah, kaget aku tiba-tiba dirimu muncul! Di blog ini lagi…Hee, makasih pujiannya. Alhamdulillah.
    @ridwansyahyusufachmad : Yakin UKM lebih oke? keknya enggak deh😛
    @restya : Orang nyebelin yang mana ya?😀
    @Uni Molly : Makasih tambahannya..iya nih, belum ketulis semua memang. Bisa jadi satu novel sendiri kalo semua ditulis. Hehe. Lagipula, masih nyari2 fotonya nih, biar lebih nendang bacanya🙂

    Reply
  11. Echirman Amir Muhamad

     /  August 1, 2009

    Apakah Ini Amelia TI ITB 83?

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: