Mati Lampu Kok Jadi Tradisi


Sekarang kita sebagai bangsa Indonesia harus siap menghadapi kejadian tak terduga yang sering terulang dan akan terus berulang (konon) sampai akhir tahun 2009, yaitu…jreng-jreng…MATI LISTRIK atau biasa juga di-sinekdoke totem pro parte-kan menjadi MATI LAMPU. Tadi malam kenyenyakan tidur saya terusik oleh suara dengungan nyamuk yang berisik sekali. Ketika saya membuka mata, saya lihat sekeliling saya gelap. Oh, No! Mati lampu lagi. Rupanya nggak cuma banjir sekarang yang jadi tradisi, mati lampu juga.

Fiuh…saya termasuk orang yang paling benci nih dengan fenomena ini. Karena pada saat mati lampu, dua hal yang lumayan saya takuti muncul: kegelapan dan api. Waa…sebalnya. Aslinya sih saya sangat menghindari kesepian (kalo sudah dalam keadaan ini saya harus menciptakan suara, entah dengan menggerakkan sesuatu, ngobrol, nyanyi, ato baca doa :P). Pasalnya, kegelapan tuh identik dengan sunyi, sepi, sendiri, ketiadaan…halah. Andaikan Thomas Alva Edison, sang penemu bohlam lampu tentunya bukan anak Fisika ITB angkatan 2005 yang juara olimpiade Fisika itu, masih hidup, saya pengen banget deh ketemu dan ngucapin “terima kasih banyak” atas penemuannya. Sikap pantang menyerah kang Edison (caila Kang…) yang sampai melakukan ratusan kali percobaan buat nemuin lampu patut banget loh kita teladani. Mungkin banyak orang yang punya mimpi sama dengannya, tapi nggak ada yang segigih dia sehingga hanya dialah yang kemudian namanya dikenang dunia sebagai penemu lampu. Kang Edison pun berhasil ‘menyamai’ predikat Rasulullah SAW, tokoh paling berpengaruh sedunia versi Michael Hart nomor satu, yaitu sebagai “pembawa manusia dari kegelapan menuju cahaya”. Bedanya, kalo kegelapannya Edison dalam arti denotasi, Rasulullah dalam arti konotasinya. Hehehe, maksa pisan. Nah, kalo api, kan pasti dibutuhkan tuh saat mati lampu buat nyalain lilin atau lampu teplok (bahasa Indonesianya kalau nggak salah lampu minyak). Padahal saya ini agak trauma dengan api gara-gara dulu pernah liat kebakaran. Jadi, menggesekkan korek api dan menyalakan lilin adalah saat-saat paling menegangkan buat saya. Hahaha.

Eh, dari mati lampu jadi panjang banget yak ceritanya..hihi. Nggak apa-apa deh, biar kalo ada ‘pihak berwajib’ yang baca tulisan ini jadi tahu betapa banyaknya orang yang dirugikan dari sebuah pemadaman listrik. Saya nggak habis pikir kenapa krisis listrik bisa sampai terjadi. Pembangkit listrik kita katanya nggak mampu memenuhi pasokan listrik yang dibutuhkan masyarakat. Uh, lemah…‘banci’ kalo anak IF bilang😀 Idealnya, semakin tinggi permintaan maka semakin tinggi pula pendapatan Perusahaan Listrik Negara. Sayangnya, infrastruktur listrik yang dikelola PLN rupanya belum mampu menanggung beban permintaan yang semangkit meningkat tadi. Defisit listrik kita tahun lalu sebesar 1440 MWatt. Ironis sekali mengingat kita sebenarnya kaya akan sumber daya energi tapi malah banyak dikonsumsi bangsa lain. Sumber daya manusia kita yang bisa diberdayakan di bidang ketenagalistrikan juga nggak kurang-kurang. Wong mahasiswa dan sarjana Teknik Elektro bisa kita lihat ‘berkeliaran’ di mana-mana kok😛 Terus, apa donk yang salah? Nggak perlu juga sih kita mencari kambing hitam. Saat ini, memang sepertinya tidak ada lagi yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi krisis listrik selain dengan pemadaman listrik (ditambah kata “bergilir” biasanya). Mau menaikkan biaya listrik, ntar rakyat ngamuk lagi. BBM belum lama naik kan. Mau memperbaiki infrastruktur, biaya operasionalnya dari mana, bos…nggak punya atuh pemerintah. Sedih saya. Korupsi juga berperan sangat penting dalam menyebabkan krisis listrik. Yakin deh…apa sih yang nggak dirugikan dari tindak pidana satu ini. Ketidakberdayaan di mana-mana, ekonomi lah…pendidikan lah…politik lah…sosial lah…semua tak luput dari masalah korupsi. Saya nggak tahu pasti sih dalam kasus pemadaman listrik ini korupsi di bagian mana yang ikut berpengaruh, tapi saya pikir pasti ada. Nah, saatnya kita bergerak, kawan! Ada beberapa tips yang pengen saya kasih nih…

Pertama
Kita musti senantiasa melakukan kontrol sosial terhadap kinerja pemerintah dan aparaturnya biar bisa saling mengingatkan kalau ada yang nggak beres. Jangan-jangan ada koruptor di sekitar kita…kalau beneran ketemu, langsung laporin aja ke polisi yang terpercaya.
Kedua
Kita musti hemat listrik juga donk, biar beban permintaan listrik nggak semakin berat…caranya tentu saja dengan mematikan listrik setiap kali udah nggak dipake lagi.

  • Cabut steker dari stopkontak kalo udah nggak dipake walaupun nggak dinyalain (kalau pake roll atau extended)
  • Jangan biarkan charger HP nancep ke listrik tanpa digunakan buat nge-charge
  • Jangan biarkan komputer stand by berlama-lama dalam kondisi tersambung ke listrik, kurangi pemakaian pada pukul 17.00 sampai 22.00. Pada jam-jam ini beban puncak terjadi…masih ingat kan sama iklan 17-22 yang dibintangi si Rieke Dyah Pitaloka?
  • Siang-siang nggak udah nyalain lampu deh kalo nggak butuh banget, buka aja jendela lebar-lebar
  • AC nggak perlu dinyalain kalo udara nggak gerah

dan tentu saja banyak cara penghematan listrik lainnya.

Ketiga
Teman-teman mahasiswa yang punya bekal pengetahuan di bidang ketenagalistrikan atau di bidang apa pun yang dapat membantu permasalahan krisis listrik ini hendaknya mulai memikirkan solusi, mungkin dengan memikirkan inovasi-inovasi baru membangkitkan listrik, memperbaiki infrastuktur, dan sebagainya. Berkontribusilah untuk Tuhan, bangsa, dan almamater! Merdeka! (hlo, kok jadi salam Ganesha)

Keempat

Ikutin terus berita-berita mengenai realita bangsa semacam ini. Pastikan sumber yang akurat, tajam, dan terpercaya. Lakukan analisis yang mendalam sampai benar-benar memahami pokok permasalahan. Setelah itu, kita sosialisasikan kepada orang lain agar semakin banyak orang yang tahu apa yang sedang terjadi dan ikut berbuat sesuatu.

Kelima
Berdoa kali ye…biar kondisi Indonesia ini bisa pulih kembali. Hehehe, udah habis ide nih…nulisnya sambil disertai emosi sesaat karena habis mati lampu sih😛. Yang jelas, ingat postingan saya sebelumnya, lakukan ide kecil Anda dari sekarang, demi Indonesia yang lebih baik.

Akhir kata, saya sebagai manusia biasa hanya berharap keadaan bisa seperti dulu lagi…jarang mati lampu, harga bensin seliter 4500 aja, terus rumah saya nggak kebanjiran lagi. Huuhuuhuu.

Leave a comment

7 Comments

  1. setuju!

    tapi susah menghemat listrik buat ngurusin server😀

    Reply
  2. wah, nyebut2 mahasiswa ele*ro, aku tersinggung ki …😀
    Menurutku berhemat bukanlah suatu solusi (Masak gak boleh internettan jam 17-22) namun satu mental yang harus ditanamkan, Ingat, sebenarnya Indonesia bukanlah termasuk daftar negara pemakai energi terbanyak di dunia.
    Jadi, pembangkit baru energi listrik mutlak diperlukan.
    – Kalo mbangun PLTU, PLTG brarti nunggu bom waktu sumber itu habis
    – mbangun PLTA/Angin, ini bagus, ramah lingkungan, tapi keterbatasan daya, pemakaiannya cocok untuk skala pedesaan dan kota kecil
    – Kalo mo jadi negara industri, bangun PLTN, murah dan efisien
    Di Prancis, 78% kebutuhan energi dipenuhi oleh nuklir, bahkan energinya surplus hingga diekspor ke negara lain. (nirun wikipedia)
    Kita harus berpikir maju, isu bahaya nuklir ato lingkungan jangan jadi penghambat kemajuan dan bisa kita atasi (banyak kan insinyur lingkungan?).
    TErakhir, kembali lagi ke mental manusianya, kalo mbangun PLTN, tender disuap dapat kontraktor nakal, reaktornya beli dari pasar klithikan, bisa jadi sekuel Insiden Chernobyl itu😀
    lhah.. sori panjang lebar gini😀

    Reply
  3. Kok nyebut2 Teknik El***ro?👿
    Kalo subjur Telkom gak bisa ngurusi listrik listrikan…:mrgreen:

    Setuju, kita harus berhemat! Setuju juga ama Petra, kalo menghemat listrik untuk server bisa2 malah tekor dan banyak sekeman menuju ke kita, hehehe….😀

    Reply
  4. Terasa Bete !!!!
    Bosan !!!
    Pokoknya !!@@##
    Aaargrr….
    Tak bisa di ungkapkan dengan kata2
    Yang di karenakan kejadian mati lampu
    Don’t worry mungkin lagu nih bisa temenin kamu buat hilangin bete.
    So download aja di

    http://www.ziddu.com/download/1696804/MatiLampu.mp3.html

    atau

    http://www.myspace.com/mixerband

    Jangan lupa kasih comment ya
    saran dan kritik dari kamu
    sangat berarti buat kami
    salam kenal aja
    tq

    mix3rband@yahoo.com

    Reply
  5. Lha emang gtu tradisinya…

    Reply
  1. 4500, 6000, 5500, 5000, lalu 4500 lagi… « cReAtiVegA’s dayEri…
  2. Mati Listrik, DI, dan PLN « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: