Setuju!Mahasiswa Nggak Boleh Ngamen.


Sepertinya sudah jadi rahasia umum kalo mahasiswa zaman sekarang punya cara baru untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dengan mudah demi sebuah pengadaaan acara organisasi atau komunitas mereka: ngamen. Ngamen in this case dalam arti yang sebenarnya tentu, saya spesifikkan lagi bahwa yang saya maksud ‘ngamen’ di sini adalah nyanyi-nyanyi dan genjrang-genjreng di jalan lalu meminta uang ‘tanda jasa’ ke pengguna jalan yang sedang lewat atau berhenti di lampu merah. Yeah, that is. Oya, ada lagi ciri yang membedakan mereka dengan pencari nafkah jalanan lainnya, yaitu biasanya mereka nongol dalam jumlah personil yang besar, bawa kardus bertuliskan judul acara yang sedang mereka perjuangkan, dan pake dresscode tertentu. Ada juga sih yang niat banget sampai bawa alat-alat musik yang nggak ‘jalanan’, nampilin atraksi tertentu, ngasih suvenir ke para dermawan, jualan barang…macem-macem lah. Yang jelas, saya baru lihat fenomena seperti itu di Bandung ini. And it’s hard for me to say kalo sebagian dari mereka yang saya lihat adalah rekan-rekan kampus saya sendiri.
ngamen

Maraknya kegiatan mahasiswa turun ke jalan-jalan buat ngamen dengan alasan “nyari dana” ini rupanya ketahuan juga sama pihak rektorat (baca:rektorat kampus saya). Beberapa waktu yang lalu, keluarlah surat peringatan yang sebagian isinya dikutipkan teman saya di milis sebagai berikut:

Mengacu pada Surat Keputusan Senat Akademik ITB Nomor: 02/SK/K01-SA/2008 tentang
Kebijakan Pembinaan Kemahasiswaan, disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
oleh Himpunan Mahasiswa/Kabinet Mahasiswa/Unit Kegiatan Mahasiswa harus memperhatikan
norma-norma yang bertumpu pada nilai-nilai inti ITB BHMN yaitu antara lain: memperhatikan
kemartabatan.

Penggalangan dana untuk kegiatan kemahasiswaan dengan cara meminta-minta kepada
masyarakat di jalan-jalan merupakan bentuk penyimpangan dari nilai-nilai inti ITB BHMN.
Diminta organisasi kemahasiswaan memperhatikan untuk tidak menyimpang dari nilai-nilai
inti ITB BHMN.
___________________________________________________________________________________
Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani oleh Kepala Biro Kemahasiswaan, Drs. Djadji
S. Satira M.Si, atas nama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB.

Nah, pertanyaan Anda sekarang mungkin apakah kata “meminta-minta kepada masyarakat di jalan” secara implisit menyatakan bahwa ngamen termasuk di dalamnya? Saya pribadi menilai sih iya. Taruhlah mereka punya dalih “Kami bukan meminta-minta kok, tapi jual suara”, hmm…coba kita tanya sama hati kita masing-masing, apa iya hanya sampai di situ usaha yang dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa yang katanya putra-putri terbaik bangsa? apa iya nggak ada cara lain yang lebih terhormat daripada sekedar menyanyi yang kadang-kadang lagunya nggak jelas kaya “Mobilnya bagus, mobilnya bagus,dst”* ? masa sih mahasiswa setega itu sama anak-anak jalanan yang mungkin saja bakal kehilangan ruang usahanya karena kegiatan mereka? apalagi kalo acaranya bakti sosial tapi dananya didapetin dengan cara kaya gitu…wuih ironis aja ngeliatnya. Makanya, saya dukung banget tuh surat himbauan dari pihak rektorat tersebut. Memang, kata “memperhatikan kemartabatan” itu ada benarnya juga. Saya rasa juga, orang tua mana sih yang rela melihat anaknya jadi pengamen atau peminta-minta di jalan…walopun dalam konteks mencari dana.

Saya masih ingat setahun yang lalu saya sempat mengalami sedikit ‘clash’ dengan teman-teman satu kepanitiaan gara-gara di antara para panitia inti dan ketua divisi acara yang akan kami adakan, cuma saya satu-satunya manusia yang nggak mau ikut ngamen di jalan dan nggak ngejanjiin anak buah saya bisa ikut juga. Hehe. Sampai sekarang saya belum bayar dendanya tuh dan sepertinya memang nggak ada yang berani nagih karena waktu itu saya menjelaskan keberatan saya secara gamblang di depan mereka. Hihihi…peace,ah😛. Saya bilang waktu itu bahwa saya nggak suka dengan cara mengumpulkan uang dengan ngamen. Saya usulkan ke teman-teman gimana kalo kita jualan saja. Jualan makanan, jualan merchandise, jualan bunga pun–yang sekarang juga lagi ngetren…cape deh–nggak apa-apa kalo memang terpaksa, daripada harus ngamen. Syukurlah mereka bisa ngerti, meskipun pada akhirnya tetap ngamen juga (-,-‘) Hm, jangan salah kira kalo saya nggak mau ikut ngamen karena suara saya jelek atau gengsi ya. Gini-gini dulu saya bolak-balik manggung di parade band yang penontonnya pada ‘tripping’ semua lho😀

Begitulah, tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman saya sesama mahasiswa, baik yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini karena pernah melakukan ‘kegiatan tertera di atas’ (hehe) maupun yang sependapat dengan saya…ya tolonglah, kita ini kan sudah banyak merepotkan masyarakat dan belum bisa banyak memberi ke masyarakat…ada baiknya kita mulai memikirkan cara mencari dana yang lebih cerdas daripada sekedar ngamen. Kita sudah diberi potensi yang begitu besar lho sama Tuhan dan itu biar kita bisa melakukan effort yang jauh-jauh lebih besar ketimbang bercapek-capek nyanyi di jalanan. Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan, misalnya ngerjain proyek, jualan kaos, jualan makanan, jualan barang kerajinan sendiri, ikutan lomba (baca:dan menang), nyumbangin sebagain pendapatan kita…plus ‘ritual-ritual’ yang wajib seperti ngajuin proposal ke perusahaan atau fakultas, nyari sponsorship, kerjasama dengan media atau pihak lain yang berkaitan dengan acara kita, dan masih buanyak lagi. Banyak jalan menuju Roma, kan. Banyak jalan menuju duit.

*lirik ini saya dapat dari komentar teman saya di milis, mungkin banyak yang pernah dengar lebih ‘sampah’ dari itu😀

Leave a comment

12 Comments

  1. Hmm,.
    Permasalahan serupa dapat ditemukan di kasus, mengapa lebih banyak orang memilih menjadi pengemis ketimbang pekerjaan lain,.🙂

    Reply
  2. gya.. jadi maluw, awa dulu pernah ikut ngamen, eh malah jadi koordinatornya😀

    maklum masih TPB + dapet ‘ide gila’ dari para senior dgn embel2 ‘untuk menguji kekompakan angkatan’ halah

    tapi saiki aq rodo spendapat dgn postingan di atas,
    dengan sedikit tambahan :

    ada 2 jenis pengamen : pengemis dan entertainer
    klo pengemis meraup rejeki dari “ketidakenakan” orang, klo entertainer dari “kepuasan” orang. pengemis bersuara sekenanya, entertainer bernyanyi dari hatinya. pengemis ga butuh latian, entertainer butuh effort khusus sebelum perform.
    mahasiswa sah-sah aja c ngamen, asal jadi entertainer, bukan pengemis..
    kelasnya sama lah kyk jualan, menurutku..🙂

    gimana egadioniputri?

    Reply
  3. setuju !!

    Reply
  4. Gini-gini dulu saya bolak-balik manggung di parade band yang penontonnya pada ‘tripping’ semua lho😀

    ampun lah….😛

    tapi dari dulu saya emang paling setuju yang namanya gak perlu ngamen turun ke jalan. gak mencerminkan anak ITB banget.

    Reply
  5. heeh..
    setuju soal ngamen ngga bole. soalny kok ya lama2 gw ngeliatnya yang pelajar yang ngamen tu malah brutal,, mobilnya dikepunglah ampe ga bisa maju,, itu mah namanya bukan jual suara,, tapi malak,, hehee

    Reply
  6. ioharris

     /  November 11, 2008

    hahaha

    ngaco…
    ngamen dalam mengekspresikan seni, ga berharap imbalan… cuma pengen ngehibur org2 dijalan, ngelepas stress.. apa salahnya??????????

    tapi yang jelas ga perlu bawa simbol2 kampus….
    sekarang kalo musik kita ga da yang denger, gmn caranya???
    kalo ga da temen yg sevisi bwt ngeband gmn caranya???

    NGAMENLAH!!!

    banyak loh mahasiswa yang sengaja ngamen cuma buat “eksperimen”, bahkan hasilnya diperuntukkan bwt pengamen2 asli jalanannya. Yang jelas mahasiswa yg suka hura, step out, dsb itu yang ga mencerminkan mahasiswa sebagai agen perubahan,,, mahasiswa itb sekarang suka-hura2?ga punya empati sama masyarakat??ga prihatin?? jalan kaki dari cisitu aja ogah-ogahan?alasannya waktu?? itulah generasi hitam mahasiswa ITB kita!gmn mw jadi pemimpin bangsa, kalo generasinya kayak gini???

    Reply
  7. Gini-gini dulu saya bolak-balik manggung di parade band yang penontonnya pada ‘tripping’ semua lho😀

    Ngeri euy…!! Kalo diajak ngeband lagi masih mau gak ya? Gini2 aku dulu juga sering ngeband dan pernah juara festival plus manggung di pensi sekolah…😀

    Masalah ngamen, dari SMP aku udah pernah ngamen, waktu itu aku dengan teman2ku ngamen untuk bener2 cari duit, dari situ duitnya untuk nyewa studio (latian ngeband), hehehe…

    Yah menurutku ngamen gapapa, asal emang ngamen yang sebenar-benarnya, bukan rombongan turun ke jalan rame2 macem mau demo dengan membawa-bawa nama kegiatannya (mana yang ngamen suaranya pada fals, hihi). Kalo emang beberapa orang dari panitia punya bakat seni, dia rela ngamen (entah ngamen di cafe atau di jalan) dan hasilnya disumbangin untuk kegiatan itu, why not? Catatan asal emang dia bisa “Ngamen” , bukan asal dan bukan rombongan rame2 gak jelas kek kebanyakan mahasiswa akhir2 ini, ngamen rame2 udah kek mau malakin orang2 di jalan… -_-“

    Reply
  8. ata

     /  November 13, 2008

    sepakat…
    organisasi seharusnya membentuk mahasiswa untuk lebih kreatif…bukan mengambil jalan pintas…apalagi menjual almamaternya dijalanan…

    saya masih ingat sekali ketika masih berstatus maba(mahasiswa baru), saya diajarkan untuk membuat strategi proposal untuk sampai ke perusahaan…n diterima tentunya…mulai dari ranah teknis seperti performa sampul proposal hingga meningkatkan “harga jual” kegiatan kami yg pada nantinya akan tertulis dalam lembar MOU sangat menguras otak kami…strategi a sampai z pun diusahakan dan difikirkan..but sekarang…ngambil jalan pintas…ngamen…ketika saya SMP saya anak Band…n bagi saya “ngamen”, ada tempatnya…apakah itu pntas dilakukan oleh mahasiswa…mahsiswa PTN…tidak lebih dari 2%…dari total penduduk indonesia…harusnya kita berfikir lebih cerdas…

    Reply
  9. dwinanto->nah itu dia, berarti etos kerja masyarakat kita masih rendah..jiwa struggle-nya masih minim, lebih senang cara instan walaupun sebenarnya mampu untuk tidak instan

    aisar->apa pun sebutannya lah, mau entertainer ato apa,tetap saja menurut saja kurang pantas ngeliat mahasiswa (baca:yang bawa2 nama almamater dan seperti contoh kasus yang saya seritakan di atas) ngamen di jalan-jalan…malu atuh sama status

    fajar->asik, kita temen berarti:D

    petra->temen juga kita:D

    ernest->iya, begitulah, Nest..gw juga pernah liat yang kek gitu

    ioharris->oe, mas…tolong dibaca batasan masalah saya apa..saya kan emang ngebahasnya buat yang minta imbalan, kalo mo eksperimen dgn cara yang baik n ga ngarep imbalan mah sah-sah aja

    angga->wah aku udah ngundurin diri dari dunia entertainment, jadi kalo disuruh nge-band lagi ga tau deh masih mau pa gak:P

    ata->setuju!!! oke banget lah ceritamu…

    Reply
  10. SETUJU Ga.

    Bbrp minggu yg lalu Q jg liat d sekitar kampus Qt. Da orang2 yg lg ngamen. Tp kok rame2. Tak liat2 kok style-nya mahasiswa. Eh twnya emg bener mahasiswa. Q wkt tu berharap moga2 g org2 kampusQ. Lha gmn g berharap kyk gt, lha wong mereka tu nyeg

    Reply
  11. Terusannya…(td salah pencet)

    nyegat mobil yg lewat. Kyk apa wae. Ngeri & mbuat jengkel toh. Lha wong yg pengamen beneran aja jarang Q liat yg nyegat2 gt kok. Mestinya mahasiswa klo nggalang dana mbok rada elegan dikit gt lho. Tunjukin klo Qt emg bener2 mahasiswa. Y rada kreatif lah. Banyak ide yg laen. Di atas dh banyak bgt contone.
    Q setuju m Ata (yg di atas tu). Seenggaknya senior ngajarin yunior donk gmn caranya bikin proposal yg OK. Ato cari2 tw lah cara bikin proposal yg bgs. Mahasiswa dh biasa kn cr2 bahan pelajaran, jd kenapa masalah yg ini g bs jg?? Secara teori di atas kertas Q yakin mereka mampu kok. Tinggal sekarang kembali k mereka lg. MAU ENGGAK??

    Reply
  12. Seribu aja
    Seribu aja
    Seribu aja

    Bah, ga bakal udahan kalo ga ngasih…
    Kalo dikasihnya kurang dia ngeluh…
    “Yah cuma segini”
    Dulu gw ngamen masih lebih oke…

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: