Jogja-Traveler’s Tale (1) : Reuni yang Tidak Direncanakan


Saatnya saya berbagi cerita tentang pengalaman liburan semester lima saya! BTW, sebenarnya sudah lama pengen di-publish, tapi nggak selesai-selesai nulisnya. Hehe. Nggak seperti liburan-liburan semester sebelumnya yang rata-rata saya habiskan dua minggu di kampung halaman, kali ini saya cuma menikmati panasnya Cepu selama lima hari.

sma-1-jogja

Teladan tercintaaah

Jumat sore saya harus berangkat ke Jogja, kampung halaman ketiga saya (haha), gara-gara ada undangan reuni mendadak dari teman sekelas saya di SMA dulu. Padahal, saya sama sekali nggak punya rencana buat ketemu sama mereka liburan ini walaupun sudah ada woro-woro sebelumnya kalau bakal ada openhouse barengan dari alumni SMA saya yang kuliah di perguruan-perguruan tinggi ternama, baik negeri maupun swasta. Kegiatan ini merupakan terobosan baru setelah JEE dirasakan gagal memuaskan hasrat para alumni dalam mempresentasikan almamaternya dan juga hasrat peserta yang ingin tahu tentang calon tempat kuliahnya.

Di acara ini sendiri, tim Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta a.k.a. KATY dari ITB hadir dengan kemasan “paling niat” (dapat tempat paling gede di aula sekolah, pake meja-microphoneLCD projectorbackdrop dengan gambar gajah gede, dan para alumni duduk dengan manisnya macam pembicara-pembicara di seminar) dan mengusung tema “From Bandung with Love”. Sayangnya, saya nggak jadi ikutan presentasi karena waktu udah sampai di sekolah, saya malah heboh sendiri reunian sama mantan teman-teman sekelas saya. Haha. Sempat diprotes juga tuh sama kakak kelas saya ini, “udah nyampe sekolah kok nggak ikut presentasi!” Ampun, Kk😀

*********************************************************************************************************

nidia-ega

Dioni vs Nidia

Begitu sampai Jogja, tempat tujuan pertama saya adalah kosan adik pertama saya yang sekarang sedang sekolah di sini. Amazing rasanya lihat adik saya yang dulunya anak mami banget-cengeng-minderan-sensitif-pernah pacaran secara backstreet (hyaa, kalo dia baca bisa nggak dianggap Kakak lagi saya) bisa tinggal jauh dari orang tua dan mengurus dirinya sendiri. Kamar kosnya berukuran 3×3 meter dan dia penghuni termuda di kos. Waktu lihat teman-teman kosnya, saya berharap : Semoga anak ini dapat ‘kakak-kakak cewek’ yang lebih baik dari saya. Hahaha. Dibandingkan dengan pengalaman kos saya semasa SMA dulu, adik saya bisa dibilang lebih menderita. Selain nggak punya banyak teman rantau (akibat pembatasan murid dari luar propinsi DIY tahun 2008 sebanyak 15% untuk setiap sekolah), di kosnya ada banyak jadwal piket mulai dari masak nasi, bersihin kamar mandi, nyapu lantai, nyiapin lauk, nyitrun bak air, dan lain-lain *Fiuh…sabar ya, Sis* Anyway, saya puas banget bisa ketemu sama adik saya…kalo kata Letto rasa kehilangan itu baru ada jika kita pernah merasa memilikinya, maka saya baru merasa ”memiliki’ adik saya setelah kehilangannnya…

*********************************************************************************************************

labtekbiru-gadungan

labtekbiru-gadunganLabtek biru gadungan (semua kacanya biru, lihat juga bagian miringnya)

Di kos adik saya, saya cuma numpang mandi dan tidur. Makan pun tidak, karena saya nggak tega makan jatah makanan adik saya. Malamnya saya sempat online selama dua jam dan menyapa penggemar sekenanya. Tanggal 24 Januari 2009 pagi, saya berangkat ke SMA saya yang berjarak sekitar 3 km dari kosan adik saya. Naik Trans-Jogja. Itu kedua kalinya saya naik busway, dengan catatan rekor naik busway sebelumnya sbb: ketiduran dan nyasar. Gya…untunglah kali ini tidak. Sampai di daerah Wirobrajan, saya kaget melihat bangunan biru di depan SMA saya yang dulunya gedung Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ada apa ini? Labtek biru pindah sini? Oo, ternyata cuma mirip aja. Bangunan itu sekarang jadi gedung STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) Aisyiyah. Saat mengamati gedung tersebut, pikiran saya menerawang ke masa lalu. Saya punya banyak kenangan di sana. Lari keliling lapangannya 6 kali, motret-motret dari lantai teratasnya, dan yang paling saya suka adalah warnetnya yang super murah pada masa itu, cuma 1500/jam dengan bandwidth yang oke. Bangunan ini sempat hancur di sana-sini akibat gempa bumi 5-6 SR yang mengguncang Jogja tiga tahun lalu, makanya dibangun lagi dan dialihfungsikan, ternyata nggak nyangka bangunan barunya mirip labtek biru di ITB.

*********************************************************************************************************

Memasuki gerbang SMA, saya deg-degan. Kabar terakhir yang saya terima menjelaskan bahwa ada empat teman sekelas saya yang belum pernah saya temui lagi sejak kelulusan. Lewat ruang satpam, ada wajah-wajah baru yang tidak saya kenal. Lewat taman, anak-anak yang seragamnya masih kinclong-kinclong menyapa saya dengan senyuman. Lewat ruang guru, lengang…tidak ada orang. Hmm, satu sensasi yang saya rasakan tak peduli apa pun yang berubah di dalamnya, Teladan masih menyejukkan hati seperti dulu. Kental dengan nilai-nilai Islam, menjunjung tinggi kedisiplinan, diwarnai oleh pepohonan yang rindang, dan mengedepankan kebersihan. How a nice school! Uniknya, SMA saya belum lama ini bertukar kepala sekolah dengan SMA yang justru menjadi musuh bebuyutan nomor satu kami, SMAN 3 Yogyakarta yang nama kerennya Padmanaba. Apa jadinya ya kalo dua sekolah yang saling bersaing harus saling merelakan kepala sekolahnya?

roadshow-aksel

Yang hadir: delegasi dari UGM, ITS, UI, ITB, dan IT Telkom

Hm, balik lagi ke reuni. Saya surprise betul ketemu teman-teman sekelas SMA saya dulu. Mereka bisa dibilang teman-teman terbaik sepanjang hidup saya. Poin plus mereka yang agak berbeda dengan classmates saya lainnya adalah kedekatan di antara kami dan potensi unik yang dimiliki tiap-tiap orang. Karena kami siswa aksel, jadi mau tidak mau kami sering ngumpulnya ya sama teman sekelas aja. Banyak orang bilang, kami mengalami krisis identitas, nggak jelas angkatan berapa. Ya, memang ada benarnya juga. Nggak enak deh pokoknya jadi anak aksel itu. Kalo bukan karena tinggal jauh dari orang tua dan pengen selesai sekolah secepatnya, saya mungkin juga tidak akan memilih masuk aksel. Nah, kalo soal potensi unik yang dimiliki tiap-tiap orang, itu saya rasakan banget dari mereka. Mereka rata-rata adalah siswa terbaik di SMP-nya. Makanya, saat disatukan dalam satu kelas…wow, baru kelihatan betapa tiap orang punya spesialisasi masing-masing. Dua hal ini yang membekas begitu kuat di hati. Cailah…dan inilah kami setelah tiga tahun lamanya berpisah.

*********************************************************************************************************

2009-roadshow-007Kelar foto-foto di SMA dan setelah urusan openhouse beres, kami ngumpul di lobi sekolah buat tukar kado. Sesi ini jadi saat-saat yang membahagiakan karena selama sekolah kami belum pernah ada acara kayak gini. Hehe. Koh Win, orang tertua di kelas kami yang keturunan Cina, sampai-sampai belain izin sebentar buat beli kado lagi karena kado yang dia bawa salah spek, harusnya nggak boleh ngasih makanan tapi dia bawanya makanan. ‘Kesialan’ Koh Win rupanya belum berhenti sampai di situ. Saat tukar kado, ternyata dia dapat hadiah yang paling aneh: alat pemijat, tisu kotak, dan plate cat air. Awalnya pada bingung, tapi so sweet-nya, ada puisi di balik benda-benda tersebut yang dikarang oleh si pemberi kado. Seperti ini puisinya:

Persahabatan itu bagai sebuah tisu

Yang selalu menyeka keringat di saat kita sedang kelelahan karena bekerja keras…
Yang selalu menyeka air mata di saat kita sedang bersedih…
Yang selalu membersihkan noda dan prasangka di saat kita tengah meragukan sebuah kesetiaan…

Persahabatan itu bagai alat pemijat,
sesuatu yang akan selalu memberikan dorongan kepada kita…

Kadang muncul dengan usapan yang lembut,
yang akan memberikan kenyaman dan semangat agar kita mampu menegakkan kepala kembali untuk menghadapi masalah hidup…
Kadang muncul dengan dorongan yang kuat,
untuk menghilangkan rasa pegal di bahu saat kita sedang letih memikul amanah dan beban kehidupan yang amat berat…
Kadang muncul dengan dorongan yang amat kuat,
yang akan menyakitkan kita dan mungkin kita tidak menyukainya, namun sebenarnya dia sedang mengingatkan dan menyadarkan kita saat kita telah membuat kesalahan atau kita tengah terlena oleh kehidupan dunia yang sementara…

Persahabatan itu bagai satu set alat lukis,
sedangkan kita adalah sebuah kertas putih kosong yang siap dilukis dengan kuas kisah…

Kadang kuas tersebut membawa warna cerah yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan…
Namun tak jarang kuas tersebut membawa warna gelap yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan…
Lihatlah,
Goresan warna-warna tersebut lambat laun akan menjadi sebuah lukisan yang indah…
Lukisan yang akan menghiasi kertas putih yang hampa pada awalnya…

Terima kasih sahabatku…
Atas semangat-semangat yang telah engkau berikan…
Atas air mata yang telah engkau seka…
Atas keceriaan yang telah engkau bagi…
Dan atas kisah yang telah bergulir sampai hari ini…

Semoga persahabatan kita akan terus terjalin sampai tua nanti,
Di saat kita hidup dengan pasangan dan kesibukan kita masing-masing…

Bingkailah kisah pada hari ini,
Simpanlah,
Karena waktu tak akan terulang…
Semoga kisah pada hari ini menjadi kisah yang akan selalu kita kenang…
Kisah yang akan dengan bangga kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak…
Bahwa dulu kita mempunyai sahabat yang begitu bernilai…
Yang terlalu berharga untuk dilupakan…

Terbaca aneh? ya memang begitulah gambaran orang yang menulisnya😀 (piss, Ce^^v)

*********************************************************************************************************

reuni-quicksevenHabis tukar kado dan ngobrol sana-sini, barulah kerasa kalo kami udah pada LAPAR. Kami pun putar otak nyari tempat makan yang asik. Setelah perdebatan panjang yang menghabiskan waktu satu jam sendiri, akhirnya pilihan kami jatuh ke Food Fezt yang ada di jalan Kaliurang. Tapi kami makan dengan sangat kasihan di sini. Lihat saja penampakan makanan kami di foto. Hmmphh…

Gara-garanya kita pesan makan kolektif. Eh, taunya malah pada gontok-gontokan milih menunya😀 Akhirnya dipilihlah tiga menu yang tampaknya enak. Pas makanan datang, wii…semua pada ngerasa ketipu. Untuk ukuran harga, porsi Fodd Fezt ternyata relatif sedikit dibandingkan dengan tempat-tempat makan lain yang pernah saya satroni. Nggak pa-pa lah, yang penting tempat makan ini punya jargon unik: Food Fezt, semacam tempat makan dan saya suka idenya. Hehe.

*********************************************************************************************************
Perjumpaan kami hari itu berakhir di Food Fezt yang mahal tapi cozy. Ucapan perpisahan membuat saya berat untuk meninggalkan moment-moment itu. Entah kapan saya bisa bertemu lagi dengan mereka. Namun, petualangan saya di Jogja hari itu masih berlanjut malamnya dan esok harinya. Tentu saja saya tidak ingin melewatkannya… (bersambung)

Leave a comment

6 Comments

  1. Wow, dokumentasi perjalanannya mantap nih,.🙂

    Reply
  2. Ah, Ega ikut2an nih:D

    Reply
  3. kerlip

     /  February 13, 2009

    ga….bisa diamuk2 ian tuh..^^
    mbak, foto deket kolam tolong diupload dong..makasi..
    seneng juga ketemu lg sm kamu..halah

    Reply
  4. Jd inget masa2 SMA Ga. Kmrn aQ jg nyempetin jalan2 d sekitar SMA, ternyata banyak yg berubah. Hm…

    Reply
  5. ziezahworld

     /  February 19, 2009

    sori balik dulu,but fun kok…….hwe he he…sori juga hari berikutnya ndak bisa ketemu…flunya beneran ndak ketolong….

    soal adik,saya juga mengalami hal yang sama……
    sayangnya adikku cowok….dan hasilnya bukan kakak ngerjain adik tapi adik ngerjain kakak…ketemu lagi nyok….ke rumahku ga….di muntilan….hwe he he

    Reply
  1. Jogja-Traveler’s Tale (2) - Menikmati Malam Malioboro « cReAtiVegA’s dayEri…

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: