Jogja-Traveler’s Tale (2) – Menikmati Malam Malioboro


Warning: Cerita berikut adalah lanjutan dari cerita ini.

Pulang dari Food Fezt, saya sebenarnya capek banget. Tapi Mom yang nyusul ke Jogja bareng sodara ternyata sampai di Jogja nggak lama kemudian dan langsung mengabarkan rencana jalan-jalan di Malioboro malamnya. Hah, yang benar saja, ke Malioboro malam-malam sama dengan melewatkan kesempatan bertemu dengan banyak pedagang kaki lima di sana.

Akhirnya, malam itu saya dan adik saya diboyong ke hotel. Hotel yang kami tempati ternyata lokasinya tidak jauh dari SMA saya. Konon, waktu itu susah banget nyari hotel karena hotel-hotel di Jogja udah pada penuh. Jogja sepertinya memang masih jadi tujuan wisata favorit turis lokal dan mancanegara. Enam kamar yang kami dapat di hotel itu aja adalah kamar-kamar terakhir yang masih kosong.

Saat kami bersiap-siap akan berangkat ke Malioboro, sekonyong-konyong kami kaget melihat sebuah bis pariwisata yang ukurannya super gede nangkring di parkiran hotel. Dengan suksesnya dia menutup celah kendaraan apa pun yang diparkir sebelumnya untuk keluar dari area parkir, termasuk dua mobil rombongan keluarga saya. Sebagai informasi, lebar area parkir adalah selebar body bis dan dengan adanya bis tersebut, area tersebut langsung penuh dengan posisi bokong bis menyentuh pagar hotel sehingga seandainya ada tamu hotel berikutnya yang mau parkir, maaf saja…tidak ada space lagi untuknya. Huah…cape de. Akhirnya beberapa perwakilan dari keluarga saya pun bernegosiasi ke pihak hotel memperjuangkan keadilan. Tak disangka, entah bagaimana kronologisnya, yang jelas pihak hotel tidak bersedia mengupayakan bagaimana agar dua mobil kami dan mobil tamu lainnya bisa keluar. Saya heran. Tidak bisakah mereka memanggil sopir bis kemudian menyuruhnya mengeluarkan bisnya sebentar? Apakah setiap hari keadaannya memang seperti itu? Kenapa mereka nggak perkiraan luas lahan parkir mereka sehingga membuat kebijakan yang adil bagi seluruh tamunya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjejali pikiran saya tanpa ada jawabannya.

becak-jogjaAkhirnya (lagi) diputuskanlah bahwa kami naik becak ke Malioboro. Ibu saya menyebut sikap ‘mengalah’ kami itu sebagai sebuah bentuk “berbagi rezeki dengan tukang becak”. Oke, ide bagus. Itu pertama kalinya saya naik becak malam-malam di Jogja. Asyik juga. Apalagi saat itu, rute yang harus kami lewati adalah kompleks keraton, alun-alun kota, dan sekitarnya.

asyik terpukau lalu lalang orang di jalan
ramai sepeda beriringan
senyum menawan wajah ramah memberi salam
hati terhanyut damai tentram

-Jogja Tanpa Akhir, Katon Bagaskara-

Kami turun di ujung jalan Malioboro bagian selatan. Saya baru tahu, Jogja rupanya sedang dalam masa perayaan Sekaten, yaitu semacam event untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bisa Anda baca detilnya di sini. Huhu, sebenarnya pengen ke sana saja, tapi ketua rombongan kami (baca: sesepuh-sesepuh keluarga yang ikut saat itu) tidak ingin mengubah rencananya jalan-jalan di Malioboro. Ya sudah. Walaupun, saya pernah dua tahun di Jogja dan ditambah beberapa kali main ke sana dalam rangka liburan, saya sebenarnya belum pernah datang ke Sekaten.
malioboro

taman-malioboroSepanjang perjalanan, mas Udin, sepupu ipar saya (ada nggak sih istilah ini?) yang bekerja sebagai wartawan di Radar Mojokerto, nggak berhenti jeprat-jepret. Tips jika Anda sedang berjalan dengan seorang fotografer dan keluarganya: deket-deket aja sama anaknya biar sering kefoto. Haha. Saya sudah membuktikan tuh😛 Kami sempat foto-foto juga di depan “gedung putih”-nya Jogja. Sayang, gara-gara semua pada ikutan foto, akhirnya gedung putihnya sendiri malah nggak kelihatan T_T

Saya pikir jalan-jalan di Malioboro sama Mom dan bude akan menghasilkan banyak barang belanjaan. Tapi ternyata kami pulang tanpa membawa apapun selain sandal jepit batik dan sate ayam. Malam itu, kami benar-benar pure “jalan-jalan” menikmati keindahan Malioboro di malam hari. Hm, rupanya para pedagang-pedagang kaki lima yang berjualan suvenir masih ramai di sana. Saya pikir (lagi) jalan-jalan ke mana pun kalo pergi sama anak-anak sekecil ponakan-ponakan saya, nggak ada ceritanya bakal kelaparan. Tapi ternyata asumsi ini pun salah. Entah waktu itu sodara-sodara saya pada lupa ngasih makan anak-anaknya karena apa, yang jelas pukul 9 lebih lah kami baru cari makan, setelah puas jalan-jalan. Sialnya, resto-resto di sekitar sana udah pada tutup dan warung lesehan yang ada pun tidak menggairahkan karena dari segi harga yang hampir sama dengan di resto, tempatnya relatif kurang higienis. Sudah capek berkeliling cari makan, ujung-ujungnya beli sate ayam gerobak juga. Hehe. Sambil menunggu sate pesanan kami dibakar, kami duduk-duduk di tikar mengamati orang lalu lalang di jalan. Belum lama duduk, rasa lapar membuat kami tergoda untuk beli ronde yang sedang dijual di dekat situ. Awalnya saya yang pesan, lalu sepupu ipar saya ikutan pesan, terus sepupu-sepupu saya yang lain juga. Jadilah kami malah pesta ronde di lesehan pinggir jalan. Wow…kaya gini yang seru…serasa benar-benar turis saya😀

depan-gedung-putih-jogja1

Di depan "Gedung Putih"-nya Jogja

ramai kaki lima
menjajakan sajian khas berselera
orang duduk bersila

-Yogyakarta, Kla Project-

andongJam sudah menunjukkan pukul 10 lebih ketika sate pesanan kami selesai dibakar. Dengan berat hati, kami memutuskan dibungkus saja satenya. Semua sudah cukup lelah untuk berjalan lagi. Sementara becak kami masih menunggu di ujung jalan Malioboro tempat kami turun. Setelah diskusi singkat, diputuskanlah bahwa kami akan naik kereta kuda ke tempat becak-becak carteran kami mangkal. Yuhuu…pengalaman ala turis pun kembali saya rasakan. Di lampu merah ujung jalan Malioboro, kami menyaksikan kerumunan orang-orang yang rupanya sedang menonton penari-penari Papua beraksi.

Masyaallah, sebagian dari para penari prianya ada yang benar-benar cuma pake koteka, nggak pake c*l*n* d*l*m dulu. Yaiks! Penampilan yang selama ini cuma saya lihat di film-film dokumenter kini ada di depan mata. Mereka sedang mencari dana untuk membantu korban gempa bumi di Manokwari. Ooh…

musisi jalanan mulai beraksi
seiring laraku kehilanganmu
merintih sendiri ditelan deru kotamu

-Yogyakarta, Kla Project-

tamansari

Di Tamansari, sayang saya nggak ikut T_T

Hmm, petualangan saya di Jogja hari itu pun selesai sudah. Keesokan harinya, saya masih melanjutkan agenda reuni dengan teman-teman SMA saya di Taman Pintar, sebuah pusat bermain anak dan peragaan IPTEK gitu. Sementara, keluarga saya ikut sodara-sodara saya piknik ke Tamansari. Saya sendiri udah beberapa kali ke sana jadi nggak tertarik buat ikut. Walaupun setelah lihat-lihat foto mereka, ngiri juga sih. Huuhuu. Balik lagi ke Taman Pintar, tempat ini mirip gedung IPTEK di Taman Mini Indonesia Indah atau Jatim Park, namun kelebihannya adalah alat peraga sainsnya yang sebagian dikemas dalam bentuk permainan anak di outdoor. Recommended to visit lah pokoknya. Menarik buat dikunjungi, siapa tahu nanti butuh referensi tempat rekreasi bersama keluarga kecil dengan anak yang lagi lucu-lucunya😛 Di sini kami nyaris saja nonton film 4D, tiketnya murah, cuma 15 ribu. Tapi karena keterbatasan waktu, kami menundanya untuk diagendakan pada reuni berikutnya. Puas bercengkrama di Jogja dengan teman-teman dan keluarga saya, sore itu saya harus berpisah dulu dengan mereka karena amanah di Bandung sudah menunggu.

Selamat tinggal, Jogja…cinta tanpa akhir untukmu😉

janganlah dulu waktu berlalu
biar kureguk pesonamu
lalu melepas beban di dada
kala susuri kota

setiap waktu kini berpadu
pada kenangan tak berlalu
segenap rasa dariku trus mengalir
cinta tanpa akhir untuk Jogja

kutitip rindu
di penghujung tua
romansa jawa membuai tak tertahan
betapa lugunya budaya menyapa

-Jogja Tanpa Akhir, Katon Bagaskara-

Sampai jumpa di petualangan saya berikutnya! (tamat)

Leave a comment

12 Comments

  1. huhuhu
    udah lama gak ke Jogja…..

    Reply
  2. Wow, udah lama ga ke Malioboro ketika ke Yogya,.😛

    Reply
  3. Bener ga, Jogja emang enak banget:D

    Reply
  4. chie135

     /  February 6, 2009

    hoho, thx ya, ga, oleh2nya! btw, foto2 ini lebih mendeskripsikan gimananya yogya lebih dari verbal🙂

    tapi panas banget…
    (pernah ke yogya pas study tour kelas 2 SMA)

    Reply
  5. Masyaallah, sebagian dari para penari prianya ada yang benar-benar cuma pake koteka, nggak pake c*l*n* d*l*m dulu. Yaiks!

    lho?? kok ngerti.. ketok po😛
    thx juga, ni dibawa pergi kok buat makan disana

    Reply
  6. guskar

     /  February 7, 2009

    hhmmmm..cerita tentang Djokja selalu membuat rindu ingin ke sana. Baca postingan ini jadi tahu kabar Djokja ter-up date. Di sekaten masih ada dangdutan-e nggak mbak? Wah… ndangdut seronok itu merusak makna sekaten aja deh.😀😀

    Reply
  7. Jogja emang ngangenin…

    Reply
  8. Assalamu’alaikum….

    Met pagi cah ayu. Piye kabare?
    Tetep sibuk ma laptop? Laptop emang bisa jadi kekasih sejati yang paling sejati. Kalo aku kekasih sejatiku yang paling sejati ya…rokok. :-))

    Wassalamu’alaikum….

    Reply
  9. kerlip

     /  February 18, 2009

    kayanya…lebih cinta jogja daripada kota kelahiran sendiri..huhu
    ga, aku belum liat hasilnya lho..yg tak ceritain gk ada yang salah kan?? ampun kk..

    Reply
  10. ziezahworld

     /  February 19, 2009

    emmmmmm………jogja never ending asia……
    gi…..moga tambah tinggi……tapi dirimu tetap manis kok(cieh….alasan aja biar egi gak marah bo!!)

    Reply
  11. akhirnya ke jogja juga😀

    Reply
  12. et

     /  June 2, 2009

    Jogjaaaaaa……..i’m comiiiiiiiing!!!!

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: