Jilbab Pertamaku


Dengan dalih menghabiskan voucher GPRS saya malam ini dan nafsu menulis yang sudah sangat menggebu, saya minta maaf pada pihak yang seharusnya melakukan inisialisasi menulis topik ini terlebih dahulu (baca: sahabat saya yang ini). Harusnya saya yang di-tag… tapi apa boleh buat, kesempatan menulis itu rupanya datang lebih cepat. Hehe.

Yoi, dari judulnya saja Anda sudah bisa menebak… tulisan tentang “Jilbab Pertama” ini adalah thread baru postingan berantai yang belakangan marak di kalangan blogger semacam ini, ini dan ini. Pasti nih gara-gara demam Facebook yang andalannya memasang tag di foto teman😛. Hm, baiklah, karena kedepannya cerita “Jilbab Pertama” ini akan ‘ditularkan’ ke banyak orang dan akan menjadi milik banyak muslimah, saya sebutkan saja aturan singkatnya:

Siapa pun Anda, yang mendapat tag “Jilbab Pertama”, WAJIB menulis di blog, situs pribadi, social network, atau layanan dunia maya apa pun yang diikutinya (salah satu aja) tentang:
1. Pengalaman pertama memakai jilbab
2. Latar belakang atau sejarah berjilbab
3. Proses berjilbab (bagaimana kemudian bisa konsisten, dsb)
4. Perasaan setelah konsisten berjilbab
5. dan lain-lain deh, tentang jilbab Anda pokoknya
Semoga kisah-kisah itu nantinya bisa jadi pengingat buat diri kita sendiri dan inspirasi buat orang lain🙂

Saya mulai dengan cerita saya ya…

jilbab-pertama-ega

aslinya : foto di kartu pelajar SMA (diambil di hari pertama pake jilbab)

Sejujurnya, dulu tidak pernah terbayang di benak saya bahwa saya akan berjilbab sebelum menikah. Iya, maunya ntar aja setelah jadi ibu-ibu makenya😀. Waktu usia SMP, saya sentimen melihat saudara-saudara sepupu saya yang tadinya nggak berjilbab kemudian berjilbab ketika sudah dewasa. Rata-rata pada pake sekitar SMA gitu. Di mata saya, mereka kaya orang yang terpaksa gitu makenya karena ‘tuntutan’ keluarga. Parahnya, saya masih ingat pernyataan frontal saya kepada Mom,

“Bu, jangan paksa aku pake jilbab ya, nanti kalo aku udah gede aku nggak mau pake jilbab kaya mbak-mbak di keluarga kita pokoknya”

Begitulah, masa SMP saya bergulir cepat dan banyak dihabiskan dengan main-main, jalan-jalan, ngeceng-ngeceng, hura-hura, pesta pora (eh, nggak ding yang satu itu…). Track record saya bahkan sebagai personil grup band cewek aliran punk macam Avril Lavigne dan field commander marching band sekolah yang harus pake rok super pendek di atas lutut. Dalam pemikiran saya saat itu, jilbab hanya sekedar “anjuran” saja yang “kalo lu make, lebih baik daripada lu nggak make”, asal pakaian kita sopan aja nggak masalah. Saya nggak tahu sama sekali bagaimana hukum memakai jilbab. Keluarga saya, terutama nenek dan ibu, walaupun alhamdulillah mereka cukup kental dengan nilai reliji, malah nggak pernah tuh menjelaskan ke saya tentang jilbab dan tetek bengeknya. Sampai pada akhirnya hidayah itu (kalo boleh dibilang begitu) datang…

Saya pindah ke Jogja, kemudian terdampar di sebuah SMA negeri yang “lain daripada yang lain”. Bau-bau nuansa relijius di sekolah ini sudah tercium sejak saya menginjakkan kaki di sana untuk mencari informasi seputar SMA di Jogja. Bayangkan, baru nanya ke satpamnya aja kapan pendaftaran dimulai, saya udah mengerutkan dahi melihat hampir semua siswa putrinya berjilbab. Belum lagi pemandangan banyaknya siswa putra yang celana seragamnya cingkrang-cingkrang alias agak ‘nggantung’ gitu, di atas mata kaki. Gluk.. gluk.. segudang pertanyaan adaapaini cuma bisa saya pendam saat itu.

Singkat cerita, selepas SMP, saya balik ke sekolah itu lagi buat ngambil formulir pendaftaran di hari kedua PMB. Esoknya adalah hari terakhir pendaftaran jadi hari itu saya harus cepat memutuskan mau masuk SMA mana. Setelah survei ke beberapa SMA lain, cari tahu cerita dari senior-senior saya, pertimbangan dari keluarga saya, dan perenungan yang cukup dilematis (halah), saya pun memutuskan untuk mendaftar ke SMA ini dan diterima!

Saat pembagian seragam pun tiba. Saya digiring dari satu ruangan ke ruangan lain buat diukur-ukur mulai dari baju atasan, rok, sabuk, topi, sepatu, dan jilbab. Saya dapat potongan kain untuk tiga stel seragam-tidak-berjilbab dan memilih untuk membeli satu potong kain jilbab yang ditawarkan karena dengar-dengar ada kewajiban make jilbab pas jam pelajaran agama. Lalu, masa orientasi siswa selama tiga hari pun saya jalani. Saya segera sadar bahwa saya jadi kaum minoritas di sekolah itu. Weks, yang nggak berjilbab di angkatan saya aja cuma sekitar 10% siswa putri, padahal saya yakin nggak salah sekolah. Itu sekolah negeri lho, bukan Muhammadiyah apalagi Madrasah. Lalu (lagi), seminggu kemudian, masa orientasi yang sesungguhnya tiba. Keheranan saya makin menjadi. Tiap hari kami harus sigap mengerjakan tugas dan baris-berbaris. Nah, tiap kali pulang dan pergi dari latihan baris berbaris itu, dari dan menuju kelas, kami harus menaati aturan jalur putra dan jalur putri. Tangga untuk siswa putra dan putri dibedakan. Begitu pula alur yang yang harus kami tempuh. Semuanya dipisah. Belum habis keheranan saya, seminggu kemudian… ada acara yang namanya Salam Awal Al-Uswah (SAA).

SAA merupakan bentuk penyambutan siswa baru yang beragama Islam dari Rohis sekolah saya. Sementara teman-teman yang beragama lain pun mendapat penyambutan sendiri dari unit kerohanian masing-masing. Di SAA, saya mengenal mentoring. Itu lho, duduk melingkar sambil mendengarkan sang mentor menebarkan ilmu-ilmu kebaikan, dengan cita rasa Islam tentunya. Haha. Metode mentoring cukup menarik buat saya. Saya lebih leluasa bertanya dan berpendapat, soalnya toh yang lihat kan teman-teman sendiri aja, bukan sama pak Ustadz atau bu Ustadzah😀. Ditambah kecupuan saya akan ilmu agama, jadilah saya cukup aktif di kelompok. Cerita sana-sini, ngedebat begini-begitu, tanya ini-itu, tapi seingat saya nggak ada satu pun yang menyangkut tentang jilbab. Selepas SAA yang cuma seminggu, saya pun masih lempeng-lempeng saja. Nggak paham dengan jilbab.

Hari-hari belajar di sekolah baru yang ‘aneh’ saya jalani dengan penuh tantangan. Saya suka takjub sendiri menyaksikan hebatnya nilai-nilai Islam ditegakkan di sana. Interaksi antar siswa putra dan putri terjalin dengan manis serta terjaga. Sampai pada suatu hari, memasuki bulan ketiga masa SMA saya, guru agama saya merilis sebuah pekerjaan rumah dengan spesifikasi sebagai berikut:

Pelajari ayat 31 surat An Nuur dan ayat 59 surat Al Ahzab, kemudian buat analisisnya!

Saya catat spek-nya tanpa rasa ‘curiga’ sama sekali. Sampai di kos, mana lah saya ingat dengan tugas itu. Biasanya kan ngerjain PR di malam H-1 deadline. Hehe, rupanya udah ada sifat deadliners dari dulu. Akhir minggu itu, saya pulang kampung. Di sanalah baru saya buka Al-Qur’an saya. Saya langsung to the point saja mencari ayat sesuai perintah sang guru agama.

An Nuur: 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Al Ahzab: 59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Deg! Entah apa yang terjadi, saya bergetar membaca ayat tersebut. Saya diliputi perasaan yang… wah, susah deh diungkapkan dengan kata-kata. Kaget, baru tahu ada perintah seperti itu di Alquran. Heran, kenapa saya baru tahu setelah sebesar itu. Macam-macam lah. Yang jelas, saya nggak punya alasan lagi untuk mengelak dari panggilan hati untuk berjilbab. Well, itu perintah dari Tuhan saya, ada di Al-Qur’an, jadi alasan apa lagi? Alhamdulillah, Allah memudahkan niat saya. Saya tanya ke Mom apakah ada kain sisa buat bikin seragam panjang. Ternyata ada, kainnya masih cukup buat dua stel seragam baru. Berhubung ibu saya penjahit profesional (ehem), saat itu juga beliau langsung menyanggupi untuk menjahitkannya. Dalam waktu sehari, satu rok abu-abu panjang sudah siap dipakai. Kebetulan atasannya tidak perlu jahit lagi karena sudah berlengan panjang. Esoknya, saya kembali ke Jogja dan memakai kostum sekolah baru saya.

Saya masih ingat, waktu itu teman-teman sekos saya ikutan repot datang ke kamar saya masangin peniti dan pin. Seorang dari mereka memasangkannya di jilbab saya, lima atau lebih lainnya cuma nonton sambil ketawa-ketiwi nggak jelas. Saya sudah siap malu hari itu. Ketika melangkahkan kaki ke kelas, teman-teman sekelas nggak kalah heboh sama teman sekos saya. Ada yang nyeletuk bilang, “Wooi, udah dapet hidayah ya, Ga! Haha”, ada yang cuma geleng-geleng nggak percaya. FYI, beberapa waktu sebelum itu saya sempat membuat kelas heboh juga gara-gara guru Sosiologi saya mergokin saya lagi beli pistol-pistolan bambu di Malioboro dan kejadian itu diceritain di kelas sama beliau (-_-“). Nggak mujurnya lagi, di hari pertama saya memakai jilbab itu, ada pemotretan untuk kartu pelajar. Mati gaya banget jadinya karena belum pede dengan muka berjilbab. Hihihi.

Berubah kadang tidak bisa seketika. Butuh proses untuk bisa bertahan dalam perubahan tersebut. Saya sendiri nggak langsung konsisten berjilbab. Selama satu bulan pertama berjilbab, saya masih suka keluar rumah, mengerjakan tugas di sekolah, dan reunian sama teman SMP tanpa jilbab. Lama-lama, keyakinan untuk konsisten memakai jilbab itu menguat juga. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa jilbab membuat saya nyaman. Gaya berjilbab saya yang dulu masih seenaknya pun lambat laun semakin jelas karakternya. Jilbab bukan sekedar kewajiban lagi bagi saya, tapi memilihnya karena memang saya mau dan menikmatinya.

Pelajaran dari pengalaman saya adalah jangan pernah menyia-nyiakan hidayah karena sekali dia pergi, kita akan sulit memperolehnya lagi. Jangan banyak pertimbangan intinya. Kalo ada orang yang bilang lebih baik menjilbabi hati dulu baru menjilbabi tubuh, siapa bisa jamin kapan bisa terealisasi? Islam adalah agama da’wah yang tidak menyulitkan penganutnya. Berproses ke arah yang lebih baik tentu sepanjang hidup. Bukan berarti pula mereka yang belum bisa melaksanakan kewajiban tertentu kemudian kewajiban lain yang sudah dilaksanakannya menjadi sia-sia. Tapi, sekali lagi, ketika hidayah itu datang, jangan sampai kita menutup pintunya.

*fiuh, panjang juga ya…begini deh saya kalo disuruh cerita, suka kemana-mana*

Oke, nggak adil rasanya kalo cuma saya yang nulis…here the next ‘stars’😉
Restya Winda Astari, soulmate di kampus
Rosyidah Khairun Nafisah, wanita dengan gelar ‘terimut’ di angkatan saya -)
Kerlip Melati, superstar di kelas SMA saya

Tiga aja deh, biar yang lain kebagian ‘korban’ juga😉

Previous Post
Leave a comment

17 Comments

  1. tes..tes..

    *entah kenapa sebelumnya nggak bisa di-comment*

    Reply
  2. hore..udah bisa ya? ^,^

    Reply
  3. Haha… Cuma mau komen: pas SMA gendutan toh, huehe…

    Reply
  4. wew… harusny aq yg minta maaf
    males2an nulisnya..haha

    Reply
  5. Aku udah pernah denger dari orang lain kalo kau dulunya vokalis, tapi baru kali ini aku denger dari orangnya langsung😀

    Reply
  6. ega..

    foto nya lucuu..
    dulu gendut ya gaa??

    Reply
  7. wedeew.. so suit ceritanya.. lebih kerasa ruhnya daripada yg di buku 20th😛

    klo cowo nyeritain apa ya.. mungkin kapan pertama kali pake celana panjang hehehe.. dulu kan masi kecil kemana2 pake celana pendek gitcu..

    Reply
  8. kepada para lelaki jangan ikutan berjilbab sehabis membaca postingan ini…

    Reply
  9. Hmm,.
    Lebih cepat lebih baik, tapi jauh lebih baik daripada tidak,.🙂

    Reply
  10. Ega…
    aQ masih inget bener hari itu. Wkt itu kn aQ mau ngembaliin bukumu. SEbenernya pgn entar aja sih ngembaliinnya. Tp g tw knp Rina bilang ke aQ,”Win, Ega skrg udah pake jilbab lho. Mulai hari ini.”
    Haa?? aQ kaget beneran deh dengernya. Jd pgn liat gmn perubahanmu. Hehe…Trus akhirnya Q samperin kelasmu. Sambil celingak-celinguk eh ktm juga m km. Wkt itu kn aQ mpe ketawa liat km. Huahahaha….Msh ngrasa aneh aja sih. Tp kamunya mlh dongkol kyknya. Hehe…Tp wkt itu dlm hati aQ bilang,”Alhamdulillah Ega udah dpt hidayah.”

    Reply
  11. Gusur

     /  April 21, 2009

    ho ho ho, ceritamu menarik ga. gitulah cara guru agama kita kalo ngajarin. pinter banget caranya……

    Reply
  12. Syafiq

     /  May 5, 2009

    cerita yang menarik..:)

    Reply
  13. subhanallah Ga…🙂
    emg gk boleh menyia2kan hidayah ya, skali dateng “sikat” aja
    karna kita gk tau masih adakah detik selanjutnya..

    btw, aku nulisnya d fesbuk aja yah, biar bisa nge-tag bny orang. hoho..

    Reply
  14. wahaha.. brarti aku gak bisa nulis no klo gitu…

    Reply
  15. nia_mutzz

     /  July 2, 2009

    alhamdulillah.. ternyata smakin byk muslimah yang berjilbab.
    tetep semangat ya…!! aq jg baru aj pake jilbab kok.
    salam kenal dari nia

    Reply
  16. Im Not Farrah

     /  December 19, 2010

    alhamdulillah.semoga menjadi inspirasi yang lain

    Reply
  17. jadi pengen nulis tentang ini juga😀

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: