Memaknai Tahapan Ukhuwah


Sebuah tausyiah dari seorang teman asrama saya pada bulan Ramadhan lalu (yang saat itu cukup berkesan bagi saya) tiba-tiba terngiang-ngiang lagi di telinga saya ketika salah satu kelompok presentasi di kelas agama saya mengangkat topik serupa dengan apa yang disampaikan teman saya tersebut.

“Tahapan ukhuwah Islamiyah ada empat, yaitu ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awunn (tolong-menolong), dan takaful (rela berkorban)”

tahapan-ukhuwahGuess what?
Karena saya baru benar-benar percaya dengan “teori” tersebut. Saya merasakan, benar kok, bahwa kita akan rela berkorban demi seseorang yang memiliki keeratan ukhuwah dengan kita. Benar kok, bahwa kita akan mudah menolong orang lain ketika kita merasa sudah dekat dengannya. Benar kok, bahwa kita akan bisa memahami satu sama lain jika kita sudah mengenal saudara-saudara kita, lebih dari sekedar nama atau asalnya. Teori yang terlihat simpel di atas sesungguhnya benar-benar punya kekuatan luar biasa untuk bisa dibuktikan. Pengalaman saya ini setidaknya membuktikan hal tersebut…

Hari itu ada acara dauroh* besutan MSTEI untuk anggotanya (baca: angkatan 2006-2007) yang notabene baru pertama kali diadakan sepanjang sejarah *lebay*.  Malam sebelumnya, saya konfirmasi ke seorang teman akhwat, sebut saja T, bahwa saya akan datang. Tapi, entah kenapa, dengan alasan yang sebenarnya bisa ditoleransi, di pagi hari-H saya memutuskan untuk tidak ikut. Saya kirim sms ke T berisi pengumuman “saya nggak jadi ikut” dengan hati teriris, nggak enak. Siang harinya, saya bimbang dengan keputusan yang sudah saya ambil. Ada perasaan bersalah yang dalem kalo saya nggak datang. Ceritanya, angkatan 2006 berperan sebagai panitia yang harus memastikan semua acara berjalan dengan lancar. Di MSTEI yang akhwatnya tidak begitu banyak, dengan angkatan 2007 yang jumlahnya dua kali lipat angkatan 2006, bayangkan saja gimana repotnya nyiapin acara ketika panitia akhwat berkurang satu.

Kebimbangan saya akhirnya terjawab setelah seseorang meyakinkan saya untuk ikut dengan penyataan yang membuat niat lurus saya agak bias, “ya kali aja teman-teman akhwat di sana butuh bantuan…” Hiks, hanya berbekal ketigaktegaan tadi, saya lupakan ego saya dan membulatkan keputusan terakhir: ikut aja deh. Memang tidak begitu murni sih niatnya, tapi alhamdulillah masih termasuk syar’i lah ya…Hehe *pembelaan*

Rombongan kami hanya bertiga, terdiri dari saya dan dua teman akhwat yang sama-sama baru bisa berangkat siang, padahal acaranya sudah mulai dari pukul tujuh pagi. Sebelum berangkat, kami berkumpul dulu di kantin Salman menunggu makan malam peserta dibungkus. Di antara kami bertiga, hanya saya yang tidak ikut sibuk mempersiapkan acara. Saya berangkat seolah-olah sebagai peserta, padahal secara teori, saya ini panitia. Saya lihat wajah kedua teman akhwat saya, sahabat seperjuangan saya di G juga. Subhanallah, salut banget saya sama mereka. Keduanya memegang amanah yang tidak main-main di G tapi masih sangat peduli dengan MSTEI. T saat ini sedang diamanahi sebagai koordinator akhwat Manajemen Sumber Daya Anggota yang tiada hari tanpa memikirkan bagaimana caranya supaya semua kader terbina dengan baik dari segi ruhiyah maupun life skill-nya. Sedangkan teman akhwat saya satunya lagi, sebut saja F, nggak kalah keren, sekarang lagi memegang peran penting sebagai koordinator akhwat Forum Silaturahim Dakwah Kampus yang kerjaannya keliling Indonesia buat ngasih training ke-LDK-an dan konon sering syuting (baca: syuro’ via chatting😀 ) dengan ‘tokoh-tokoh’ semacam dia. Keren kan🙂

Di saat-saat itulah, saya benar-benar merasakan ikatan ukhuwah yang saya ceritakan tadi. Segitunya melihat mereka berdua rela berpeluh-peluh di tengah kesibukan amanahnya yang lain, sayanya malah hampir saja nggak ikut. Saya jadi malu sendiri, mereka saja sudah sampai tahap takaful dalam merajut ukhuwahnya dengan teman MSTEI yang lain. Mungkin juga mereka sudah tahu sejak awal bahwa mereka harus terlibat sebagai panitia untuk membantu kelancaran acara dan teman-teman ikhwan akan membutuhkan pertolongan mereka. Sementara saya, ya baru siang itu kok benar-benar belajar tentang arti ukhuwah…

memaknai-ukhuwahAllah sepertinya memang ingin menjadikan moment dauroh MSTEI itu untuk men-training saya tentang ukhuwah. Kejadian-kejadian yang saya alami selama perjalanan menuju lokasi dan pada saat acaranya sendiri berlangsung tuh fiuh…benar-benar penuh pelajaran yang nyambung banget kalo dihubungin sama ukhuwah. Kami yang sempat dibuat kesal sama panitia ikhwan karena sikap mereka yang suka seenaknya mengganti instruksi, dan bahkan sampai membuat kami berpikir “segitunya sih ikhwan MSTEI memperlakukan akhwat, dari dulu nggak pernah berubah”, akhirnya mengerti bahwa tafahum kami saja yang kurang. Kami yang hampir saja memboikot ikhwan dengan ancaman ‘sadis’ kalo saja mereka masih bersikap semaunya, akhirnya kembali diingatkan melalui materi “Interaksi Ikhwan dan Akhwat” malam itu, bahwa ada tiga poin penting yang harus kami pegang dan ternyata salah satunya termasuk pula dalam tahapan ukhuwah: saling memahami, saling menghargai, dan saling terbuka. Password-nya hanya itu saja. Ketika kita sudah bisa menerapkan ketiganya, insyaAllah bakal mudah buat lanjut ke tahapan selanjutnya: ta’awun dan takaful. Yah, kalo tafahum saja belum lulus, gimana kita bisa rela nolong orang kan. Apalagi sampai rela berkorban. Berkaitan dengan ini, malam itu, saya jadi tahu juga, ternyata di mata ikhwan, para akhwat juga suka mengecewakan mereka. Salah seorang peserta bahkan sampai curhat bahwa ia sampai menisbahkan slogan “No Akhwat, No Cry”, wih…ngeri kali kan. Saya baru ngeh, ternyata, bisa jadi hal-hal seperti itulah yang meretakkan ukhuwah di antara kita. Ada ketidakpuasan tapi cenderung ingin menghindar, padahal seharusnya diungkapkan dan dipecahkan bersama.

Dan ternyata, kadang kala kita terlalu sombong untuk meyakini sesuatu sebelum kita merasakan sendiri maknanya…

Previous Post
Leave a comment

9 Comments

  1. saling memahami, saling menghargai, dan saling terbuka

    hmmm hmmm hmmm…. ya ya ya ya….😀

    Berkaitan dengan ini, malam itu, saya jadi tahu juga, ternyata di mata ikhwan, para akhwat juga suka mengecewakan mereka. Salah seorang peserta bahkan sampai curhat bahwa ia sampai menisbahkan slogan “No Akhwat, No Cry”

    Kiw kiw… Prikitiw…!!:mrgreen:

    *Kok komen ndak jelas gini ya? -_-“

    Reply
  2. @ angga : opo le celuk2 jenengku wkwkwk.. komen koq ra jelas sih. ayo bangkitlah MSTEI! klo butuh pengisi tentang MJDK jangan sungkan2 kontak ya😛 tahapannya mungkin agak beda, jadi habis ta’aruf, tadabbur….

    Reply
  3. @Aisar
    Ge eR maneh, sopo sing celuk2..?? :p

    Sante je aku ning mburimu… melok melok aku je…

    *Kok jadi nyampah di blog orang seh…?? kaboooorrrr…

    Reply
  4. wah,,,searcihng di gooogle tentang ukhuwah,,,
    ea g nyangka nyasar ke blognya ega… lama tak jumpa…
    salam ukhuwah ^^

    Reply
  5. Konflik selalu mengutubkan dua subjek yang berbeda, satu di pihak yang benar – satu lagi di pihak musuh yang salah, dan masing-masing mengaku benar lalu saling menghakimi yang lain sebagai musuh yang salah. Semoga kita terhindar dari konflik yang merusakdengan memahami tahapan ukhuwah, Amin🙂

    Reply
  6. dirman

     /  September 8, 2011

    terimakasih tulisannya….

    Reply
  7. indah

     /  February 6, 2014

    Assalamu’alaikum,wrwb, Terimakasih atas tulisannya, ternyata ukhuwah mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan walau sama-sama paham . kami pun sedang diuji tentang ukhuwah. yaitu antara DKM dan Majlis ta’lim Ibu2 di masjid yang berujung terbentuknya 2 kepengurusan dengan satu nama majlis ta,lim. Berawal dari keinginan DKM merubah kepengurusan MT yang sudah eksis 20 tahun, dengan kepengurusan baru dan belum pernah ikut /hadir /anggota MT tsb. sehingga terjadi penolakan di anggota MT yang lama.. Atas dasar kepentingan ukhuwah kami mengupayakan islah. tapi lagi-lagi diuji dengan bentuk kepengurusan gabungan..Mohon bantuan saran ya. tks. wass

    Reply
    • Wa’alaykumussalam. Sama2, mbak Indah.. senang sekali mbak mau berbagi. Hmm, memang susah ya kalo generasi peralihan masih belum mau ngalah ke generasi penerus (hehe.. terinspirasi dari kata-kata pak Habibie semalam di Mata Najwa). Sudah seharusnya urusan seperti itu di-handle anak muda yang berpikir pembaruan dan semangatnya tinggi. Hal ini tidak dipahami semua orang ‘tua’. Namun, jika betul-betul ingin mengambil jalan tengah, gimana kalo bikin nama baru?

      Nama baru dengan program baru bisa menjadi penyegaran dan semoga win-win solution. Banyak perusahaan yang menerapkan hal semacam itu, kadang bahkan hanya dengan mengganti logonya. Ibu-ibu sebaiknya ditempatkan sebagai dewan penasehat yang juga menjadi penghubung antara anggota (baca: yang menjadi target peserta majelis ta’lim) generasi peralihan dengan pengurus, sedangkan pengurusnya tetap harus dari anak muda DKM. Itu menurut saya ya.. jadi sebaiknya berjuanglah untuk bisa dipercaya dan diterima oleh mereka, yakinkan bahwa MT butuh perubahan agar kembali eksis dan cemerlang.

      Man jadda wa jada

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: