Sinetron Reliji di Bulan Ramadhan? Hmm…


Bulan Ramadhan tinggal dua minggu lagi. Sudah banyak yang membahas tentang memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban sebagai persiapan ruhiyah kita ketika memasuki bulan penuh berkah nanti. Sudah banyak yang menulis tentang tips dan trik menyambut Ramadhan dengan mantap. Nah, tapi saya ingin menyorotinya dari sisi lain nih, yakni tentang wajah televisi negeri kita selama Ramadhan nanti seperti apa. Hehe, terdengar kurang penting untuk dibahas namun sebenarnya banyak juga yang gerah seperti saya. Seperti yang kita ketahui, selama ini setiap kali Ramadhan tiba, semua saluran televisi berlomba-lomba menyajikan program tayangan-tayangan khusus bulan suci untuk memanjakan pemirsa muslimnya. Salah satu di antara jenis tayangan yang ramai disuguhkan tak lain tak bukan adalah sinema elektronik atau lebih dikenal dengan sebutan sinetron (penekanan yang lebay :D). Langsung menangkap sinetron apa yang sedang saya bahas? Tentu saja sinetron reliji, mulai dari yang benar-benar reliji sampai yang dibuat seolah-olah reliji…yuk ah!

sinetron-ramadhan-indonesia
Tahun lalu, sebuah blog pernah memuat opini tentang sinetron reliji ini. Saya sependapat dengan isinya, maka karena malas menulis saya share saja artikelnya dengan Anda😛 Isi tulisan sedikit diedit agar sesuai dengan EYD dan TTKI.


Maraknya sinetron religi yang ditayangkan televisi Indonesia akhir akhir ini khususnya di bulan suci Ramadan dipertanyakan dalam Konferensi Islam yang digelar Universitas Manchester dan Universitas Surrey, Inggeris, di Gedung Samuel Alexander The University of Manchester, pekan ini.

Dalam konferensi bertemakan “Representasi Islam: Perseptif Komparatif” ini dinampilkan tokoh Muslim Inggris, antara lain Prof. Tariq Ramadan, Prof. Toriq Madood dan Prof. Kenan Malik dan wakil dari Indonesia, Muzayin Nazaruddin, dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Konferensi dihadiri ratusan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu seperti islamic studies, media studies, antropologi, dan sosiologi datang dari berbagai negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia, dan Afrika.

Konferensi menampilkan sebanyak 70 makalah yang merupakan hasil penelitian penulis dan dipresentasikan berdasarkan mekanisme “call for paper” serta dipublikasikan secara online sejak setahun sebelum konferensi (berarti sudah dua tahun lalu dipublikasikan di internet, pen.).

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu menyampaikan makalahnya “Representasi Islam dalam Sinetron Religi”. Dia menilai kurang tepat menyebut sinetron relijius sebagai “self representation of Muslim in Indonesia”.

“Bagaimanapun konteks paling kuat yang melatarbelakangi maraknya sinetron relijius adalah kekuatan pemodal di balik proses produksinya (production house, pengelola stasiun televisi, dan pengiklan) yang menjadikan Islam sebagai komoditas untuk diperdagangkan,” ujarnya.

Menurut Muzayin, yang tengah menyelesaikan S2 dalam Kajian Budaya dan Media UGM Yogyakarta, bagi pemodal tidak penting apakah isi sinetron relijius tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, yang penting adalah apakah sinetron itu laku atau tidak.

“Dalam konteks ini, otoritas tradisional Muslim, seperti para ulama atau lembaga pendidikan Islam, tidak memiliki kekuatan yang berarti,” tandasnya.

Sejak film “Ayat-ayat Cinta” sukses meraup penonton hingga empat juta lebih, produsen lain pun tidak mau tertinggal, sebut saja sinetron “Kun Fayakun” atau “Ketika Cinta Bertasbih” yang dalam proses produksi (saat itu, pen.) dan “Munajah Cinta”.

Menurut Muzayin, genre film dan sinetron relijius menjadi menarik dan penting dibahas karena memiliki rating tinggi. Beberapa judul sinetron relijius sangat populer dan menempati sepuluh acara dengan rating tertinggi selain sarat dengan simbol-simbol Islam. “Penonton sinetron relijius adalah penonton Islam di Indonesia saat ini, walaupun tidak dari semua sisi,” ujarnya.

Pemahaman Islam

“Bagaimana Islam ditampilkan dalam sinetron relijius ini menunjukkan pemahaman Islam dalam alam pikir masyarakat Indonesia dewasa ini,” ujarnya.

Dari temuan penelitian yang dilakukan Muzayin, ada tiga kategori tema sinetron relijius, yaitu pertama tentang si pendosa yang diazab Allah, kedua kisah tentang si penyabar yang sukses, dan ketiga kisah tentang si pendosa yang bertaubat.


artis-langganan-sinetron-ramadhan

Menurut Muzayin dalam makalahnya “Representasi Islam dalam Sinetron Religi” terdapat tiga model pembenaran yang dilakukan sinetron relijius untuk menjustifikasi isi tayangan memang sesuai dengan nilai-nilai (ajaran agama Islam).

Pertama adalah judul sinetron itu sendiri kebanyakan menggunakan idiom-idiom Islam, seperti “Rahasia Ilahi”, “Takdir Ilahi”, “Astaghfirullah”, “Allah Maha Besar”, dan lainnya.

Kedua, sumber cerita yang beberapa sinetron relijius mengklaim cerita mereka adalah fakta (realita), diadaptasi dari majalah relijius yang populer, seperti Hidayah, Ghoib, dan lainnya.

Masalahnya, majalah tersebut mengklaim kisah yang mereka tuturkan merupakan berita, hasil reportase, seperti halnya majalah berita lainnya, ujar Muzayin yang pernah magang di Harian Republika.

Bahkan, ada sinetron relijius yang mengklaim kisahnya diambil dari hadist nabi, yang disarikan kitab Bukhari Muslim, ujar Muzayin, yang berkecimpung dalam berbagai organisasi sosial.

Muzayin melihat beberapa sinetron relijius menampilkan ustadz/ustadzah yang populer seperti Arifin Ilham, Jefry A. Buchori, atau Luthfiah Sungkar. Para ustadz ini menyampaikan nasehat-nasehat relijius dengan pesan utama bahwa isi sinetron relijius tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

Hitam Putih

Lalu bagaimana representasi Islam yang ditampilkan? Kajian yang dilakukan Muzayin menyimpulkan beberapa temuan tentang representasi Islam dalam sinetron relijius yaitu Islam memandang sesuatu secara ekstrim, hitam dan putih.

Hal ini sering ditampilkan dengan penggambaran tokoh protagonis secara ekstrim baik, tanpa cacat sedikitpun, sebaliknya tokoh antagonis secara ekstrim buruk, tanpa kebaikan sedikitpun.

Muslim ideal adalah pribadi yang penuh kepasrahan dan berserah diri kepada Allah. Seringkali, kepasrahan ini tampil secara ekstrim tanpa perjuangan atau usaha apapun, cukup berpasrah diri, kesuksesan hidup akan datang dengan sendirinya.

Taubat bisa dilakukan secara instan, cukup dalam sekali langkah, seseorang akan langsung baik. Selain itu, perempuan sering ditampilkan sebagai sumber masalah, baik secara personal maupun sosial. Secara umum, Islam direpresentasikan sebagai agama yang irasional dan penuh kegaiban.

Di Indonesia, tayangan mistik (termasuk yang berbalut reliji) dalam segala zaman selalu mendapat pangsa pasar yang berarti.

Clifford Geertz menyatakan orang Jawa, khususnya golongan Abangan, memahami dunia makhluk halus atau gaib dihuni oleh memedi, lelembut, tuyul dan makhluk halus lainnya. Imaji khas Jawa itu tertuang dalam kisah-kisah lisan, khasanah sastra, cerita, direproduksi dalam berbagai media, termasuk dalam media audio visual (film dan televisi).
(http://al-jauhari.blogspot.com/2008/09/manfaat-sinetron-religi-dipertanyakan.html)

Judul artikel di atas adalah “Manfaat Sinetron Reliji Dipertanyakan”. Menggambarkan sekali apa yang ingin saya ungkapkan di sini. Mereka sesungguhnya tidak benar-benar membuat sinetron reliji. Islam hanya sebagai simbol yang dilekatkan sekenanya saja di dalam sinetron-sinetron itu. Ceritanya tetap sama saja seperti sinetron-sinetron pada umumnya, seputar romantisme dua insan, konflik antara mertua dan menantu, dengki-dengkian yang akhirnya menimbulkan rencana jahat dari tokoh antagonis ke tokoh protagonis, dan lain sebagainya. Agar Islamnya terasa, di dalamnya diselipkan doa-doa yang puitis, pemainnya didandani dengan busana muslim, ada tokoh ustadz/ustadzah, judulnya bernuansa Islam, dan hal-hal berbau agamis lainnya.

sinetron-reliji-bagusSangat disayangkan ketika packaging genre sinteron reliji yang sudah bagus seperti itu dinodai dengan cerita-cerita yang tidak merepresentasikan penerapan nilai-nilai Islam sesungguhnya. Bagi penonton yang paham Islam dengan baik mungkin masih bisa memfilter mana yang benar dan yang bukan, namun bagi penonton awam dikhawatirkan bisa jadi lain mengartikannya. Oleh karena itu, ingatkan dan ajaklah keluarga Anda menonton tayangan yang berkualitas selama Ramadhan nanti, tayangan yang dapat meningkatkan semangat untuk memaksimalkan investasi akhirat kita di “moment to refresh” ini. Sinetron reliji not recommended lah, kecuali yang sudah terbukti ‘asli reliji’ seperti KSD, PPT, dan sebagainya (ups…sebut merk). Jadi tetap saja sih, ujung-ujungnya adalah bagaimana kita selektif memilih tontonan di bulan Ramadhan dan mempersuasi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Leave a comment

4 Comments

  1. Saya pernah tuh, terlibat sebentar dalam sebuah judul sinetron reliji Ramadhan. Walaupun hanya sebentar, tapi jadinya pengen muntah, soalnya isinya emang ga ‘relijius’ banget. Pengalaman yang menarik yang bikin saya berjanji ga akan terlibat lagi dalam penulisan cerita sinetron semacam itu😀

    Reply
  2. yak yak.. bener jeng… setuju deh. saya termasuk orang yang anti sinetron gak masuk akal. Terlalu dibuat-buat. Mending Si Doel ajah deh😀

    Reply
  3. jadi yang bagus tu yang dibikin sama om deddy mizwar ya?

    Reply
  4. hai salam kenal artikelmu udah ada di

    http://tv.infogue.com/sinetron_reliji_di_bulan_ramadhan_

    gabung yuk n promosikan artikelmu di infoGue.com. Salam.

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: