Berkunjung ke Mizan Bersama “Keluarga”


Berawal dari ego pribadi, hari ini akhirnya saya sampai juga ke Mizan bersama “keluarga” kedua saya, Keluarga Mahasiswa Islam ITB (kalo saya sudah menikah mungkin akan jadi keluarga ketiga saya :D). Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit (baca: termasuk waktu untuk nyasar -.-), tibalah saya ke Jalan Cinambo yang dari perempatan Cinambo-Panghegar tampak tidak meyakinkan sebagai sebuah jalan dengan kantor penerbit se-wow Mizan. Jalannya kecil, pinggirnya sawah yang sedang digenangi air macam lumpur Lapindo, suasana mirip pula dengan pedesaan karena udaranya begitu segar. Rupanya benar. Di sanalah terletak kantor Mizan Publishing House dan Mizan Distribusi, serta MGS (maaf lupa singkatannya), yakni gedung percetakannya.

Sempat nyasar (lagi) ke Mizan Distribusi sebelum akhirnya saya diarahkan satpam ke bagian penerbitan, persis di seberangnya. Gedungnya lebih mirip kaya rumah ketimbang kantor. Ruang tamunya pun, lah kok kaya lagi maen ke rumah siapa gitu…, hehe. Beberapa menit pembukaan singkat dari seorang pemuda *halah*, acara dilanjutkan presentasi dari pak Hernowo. Mungkin lebih tepat disebut sharing dan bedah buku ya daripada presentasi (ampuuun, Pak :P). Tapi justru sukses membuat suasana jadi rileks dan akrab. Inspirasi pun mengalir deras. Luar biasa, rupanya pengalaman pak Hernowo bercengkrama dengan buku-buku di Mizan selama puluhan tahun (sejak 1984) telah menempanya menjadi orang yang bijak dan “kaya”.

Pak Hernowo yang sering menyebut tentang “mengikat makna” ini ternyata alumni Teknik Industri ITB angkatan 1973. Mengawali karir di Mizan dari ajakan temannya tepat setaun setelah Mizan berdiri dan mulai menulis di usia ke-44, sampai sekarang beliau sudah meluncurkan 35 roket buku. Pengalaman beliau cukup menggambarkan seberapa besar pengaruh bekerja di lingkungan perbukuan bagi pemikiran dan motivasi menulisnya. Sambil bekerja, beliau membaca dan menulis. Kemudahan akses terhadap si gudang ilmu tampak tidak disia-siakannya.

Dulu, saya pernah dikirimi quote bagus dari teman saya: ikatlah ilmu dengan menulis. Bertahun-tahun setelahnya, barulah hari ini saya mendengar quote semacam itu lagi dari pak Hernowo: mengikat makna adalah dengan menulis dan membaca. Menurutnya, apa yang ada di pikiran kita perlu di-folder-kan seperti kita menyimpan file-file di komputer kita. Salah satu caranya ya dengan menulis. Dengan menulis, kita akan dipaksa untuk menyeleksi hal-hal yang (seharusnya) penting saja dari pikiran kita. Memang ada prinsip keluarin aja dulu apa yang ada di kepala namun tetap saja ada proses ‘memilah’ dalam menulis. Jangan pedulikan sistematika dulu, yang penting ide kita mengalir dulu. Baru setelah itu, proses pembacaan ulang dilakukan sambil memperbaiki kata, sistematika, struktur kalimat, dan sebagainya. Yeah…dan lagi-lagi ditekankannya bahwa bahasa tulis lebih kaya daripada bahasa lisan. Maka, membacakan dongeng anak kecil dari buku cerita akan berbeda hasilnya dengan jika kita bercerita tanpa teks. Konon, hal ini dibuktikan oleh penelitian (silakan googling tentang ini :P).

Foto-foto selama di Mizan. Mulai dari penyambutan oleh tim Mizan, kunjungan ke ruang redaksi, kunjungan ke pabrik, kunjungan ke gudang produk siap jual, sampai sholat Dhuhur bersama. Alhamdulillah!

Setelah sesi diskusi dengan pak Hernowo, kami mulai menjelajahi redaksi dan percetakan Mizan. Kami dibagi dua tim. Pos pertama tim saya di redaksi buku umum dewasa, anak, dan remaja, sedangkan tim lain di Mizaniah, yakni redaksi buku-buku keislaman. Di tengah ngobrol ngalor ngidul…tiba-tiba saya takjub melihat mereka menggunakan openoffice dalam penyuntingan naskah. Kata ibu Diah yang menjadi pembicara di redaksi, mereka telah dibiasakan menggunakan opensource. Waa..waa..waa..patut diteladani.

Foto-foto lainnya😀


Dari redaksi, kami dibawa ke percetakannya. Kami melihat bangunan putih yang indaaah sekali, namanya Taj Mahal *mulai ngaco*. Maksudnya kami melihat proses buku dicetak dari awal sampai akhir, kecuali bagian membuat ‘klise’ halaman buku karena terletak di ruangan tersendiri. Gara-gara menyaksikan prosesi tersebut, saya jadi lebih menghargai sebuah buku sekarang…

Petualangan kami belum selesai. Perjalanan dilanjutkan ke Mizan Distribusi, kantor urusan jual-menjual buku dan gudang bukunya. Di sini kami melihat-lihat buku di showroom-nya, yakni tempat memajang buku-buku sampel yang pernah diterbitkan Mizan. Pengunjung dapat membeli buku langsung ke sini dengan memilih sampelnya. Kalo Anda berniat mencari buku yang sudah tidak ada di pasaran lagi bisa dicoba datang ke sini, mungkin saja masih ada. Sewaktu kami ke sana, ada dua orang ibu yang sedang melihat-lihat buku, katanya mau membelikan buku untuk anaknya. Roman-romannya ibu ini langganan beli langsung karena menurut pengakuannya, rumah beliau dekat sama Mizan.

Dari showroom, kami dibawa ke gudang buku yang besarnya hampir seukuran gedung percetakan. Tapi kami hanya boleh masuk sampai batas tertentu dan tidak berhasil mendapatkan satu pun buku gratis T_T. Wah sayang kami tidak bisa menemui ibu Tutuk, CEO Distribusi, padahal beliau alumni ITB juga..berharapnya sih beliau mau berbaik hati lah ngasih para juniornya ini buku cuma-cuma😛 Mungkin karena kami juga nggak bawa suvenir buat mereka jadi nggak dapat buku gratisan juga kecuali hadiah bagi partisipan diskusi. Haha.

Nah, bagi Anda yang ingin berkunjung ke Mizan juga, jangan ragu atau bimbang, dicoba saja. Caranya masukkan surat permohonan kunjungan ke promosi@mizan.com atas nama Bapak Fanfan Darmawan. Isinya waktu kunjungan, jumlah peserta, dan materi apa saja yang ingin didapat. Lebih baik lagi jika Anda datang langsung ke sana. Dijamin seru dan memberi inspirasi baru🙂

Leave a comment

18 Comments

  1. bukannya itu percetakan punya keluarga muhammad arif a.k.a bombom?

    Reply
  2. hidayatus

     /  January 15, 2010

    Wah….pulang-pulang jadi langsung pinter menulis (jadi sebelumnya belum pinter nulis? peace….)

    Reply
  3. panji prabowo

     /  January 15, 2010

    langsung praktek ya ga..
    hebat hebat..plok..plok..plok..

    Reply
  4. Ide kunjungannya boleh juga tuh, thanks for share alamat emailna ya,
    …Wedding last post: prewedding photo

    Reply
  5. Ide kunjungannya boleh juga tuh, thanks for share alamat emailna ya,

    Reply
  6. sesuai permintaan ega, saya copas komennya kesini:

    hiks nggak bisa ikut T.T
    tapi alhamdulillah dengan baca ceritanya ega, sedikit banyak kebayang asyiknya disana , syukron ega…🙂

    +an: opensourcenya itu… hebat2.

    Reply
  7. Agung Pandi Nugroho

     /  January 20, 2010

    wah keren….langsung kongkrit.
    jadi kapan ni gamais press bisa lebih bagus dari mizan.

    Reply
  8. wah, jadi kangen mizan, T_T… dulu saya juga tour seperti itu, dalam rangka “pendalaman” perusahaan waktu saya part time jadi stand guide di pameran buku Braga. MGS kalo gak salah, Mizan Grafika Semesta. Btw, pendiri mizan jg alumni ITB, pak haidar bagir, alumni teknik industri🙂

    Reply
  9. Mantap…mantap…nice info…thx

    Reply
  10. furinchan

     /  January 15, 2012

    Ka, pengen minta alamat lengkap mizan publishing yang ada di bandung dong😀 makasih ^^

    Reply
    • Alamat Mizan yang di Bandung:
      Mizan Distribusi – Mizan Media UTama
      Jl. Cinambo no. 146 Cisaranten Wetan – Ujung Berung, Bandung
      Telp. 022-7815500 Fax. 022-7834244

      Reply
  11. Aslkm.. Mb, bs mnta alamat lgkap mizan? Atau contact yg bersedia bantu data. Saya mw buat tugas akhir ttg bgunan kantor publishing.

    Reply
  12. Mbak, saya mau nanya-nanya soal kunjungan Mbak ke Mizan. Kalo boleh, bisa saya hubungi kemana, ya? Terima kasih.🙂

    Reply
  1. Report: Tokyo Book Fair « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: