Komposisi


Apa jadinya kalo empat jenis paragraf yang berbeda disatukan menjadi sebuah cerita? Kacau dan maksa. Itu kesimpulan saya. Saya mencoba menulisnya untuk tugas kuliah Komposisi yang kemudian saya salin dalam tulisan berikut…

Pilih jenis tulisan:
Kisah/narasi
menceritakan kronologis suatu kejadian, punya unsur subyek, tempat, waktu, dan proses
Perian/deskripsi
menggambarkan suatu objek dan ciri atau sifatnya sehingga pembaca mempunyai gambaran tentang objek tersebut
Bahasan/argumentasi
meyakinkan kebenaran suatu gagasan atau pendapat dengan mengungkapkan berbagai bukti dan alasan
Paparan/eksposisi
menjelaskan sesuatu yang sifatnya memberikan informasi tentang suatu objek sehingga dapat memberikan gambaran gamblang bagi pembacanya

Kisah/narasi

Sore itu Dioni memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Sudah kepalang tanggung ia berpakaian bagus dan mengepak barang-barangnya dalam ransel. Tak dihiraukannya larangan Prabo, seseorang yang seharusnya dihormatinya karena pernah memimpinnya di sebuah organisasi, untuk tidak pergi saat itu karena kondisi Jakarta malam hari tidak bersahabat. Sudah pukul 16.30. Jadwal keberangkatan travel Bandung-Depok terdekat adalah pukul 17.00 dan ia belum memesan. Berharap mendapat keberuntungan, ia pun berspekulasi untuk pergi.

“Hari ini sudah penuh semua, Mbak”, kata agen travel.
“Baiklah, memang itu yang sudah siap kau dengar kan, Dioni?”, ia mencoba berdialog dengan dirinya sendiri dan memaklumi apa yang baru saja didengarnya.
Tanpa pikir panjang, ia menghentikan angkot kedua dengan tujuan berikutnya: Leuwi Panjang. Direncanakannya bahwa di sana ia akan naik bis AC Patas merk MGI ke Depok dengan jam keberangkatan terakhir pukul 19.00. Itu berarti ia hanya memiliki waktu sekitar 1,5 jam perjalanan agar tidak tertinggal transportasi untuk yang kedua kalinya.

Di Leuwi Panjang, suasana tidak senyaman yang ia bayangkan. Sopir angkot menyarankan Dioni menunggu bis di tepi jalan, bukan di terminal. Katanya lebih cepat di sana karena bis dari terminal mungkin saja sudah bertolak dan bersiap mengangkut penumpang di zona-zona tertentu di tepi jalan. Dilihatnya orang-orang di sekitarnya dengan rasa curiga. Ia harus waspada. Sebagai seorang wanita muda yang sedang pergi sendiri malam-malam dan terlihat kagok di tepi jalan yang asing baginya itu, jelas ia merupakan sasaran empuk penjahat. Doa dan sugesti berebutan memenuhi hatinya sampai datanglah sebuah bis berwarna biru tua bertuliskan “MGI” dan “Bandung- Depok” di depannya. Alhamdulillah.

Terminal Terpadu Depok.
Dibacanya berulang-ulang tulisan itu untuk memastikan bahwa ia tidak turun di tempat yang salah. Rasa curiga tiba-tiba muncul lagi di benaknya saat memperhatikan orang-orang di terminal itu. Jam sudah menunjukkan pukul 21.56 saat saudara sepupunya datang untuk menjemputnya. Ketegangannya sejak sore hari telah melewati klimaksnya. Dioni tersenyum puas dengan keberhasilannya mencapai ibukota untuk ketiga kalinya. Ya, Depok memang masih ‘pinggiran’ Jakarta. Tapi sebuah petualangan yang lebih menantang di metropolitan sesungguhnya telah menanti keesokan harinya. Ia telah merencanakan wisata ke Kota Toea di kawasan Jakarta Barat dengan teman lamanya.
kembali ke atas

Perian/deskripsi

Rumah Dhana, saudara sepupu Dioni itu, sama seperti apa yang telah diceritakan oleh bibi dan pamannya. Ukurannya kecil, sekitar 3×8 meter. Hanya ada satu kamar tanpa pintu. Batas antara ruangan satu dengan ruangan lainnya adalah sebidang tembok yang disisakan beberapa centimeter di tepinya untuk jalan. Ruang tamunya adalah ruang keluarga sekaligus kamar tidur. Keponakan Dioni yang merupakan anak pertama Dhana ternyata lebih senang tidur di kasur tipis beralaskan lantai ketimbang dipan.

Jika diperhatikan dari struktur bangunannya, ruangan di rumah tersebut sebenarnya hanya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu ruang tamu, kamar, dan dapur yang menyatu dengan kamar mandi serta tempat mencuci. Halaman depan rumah merupakan lahan sempit dengan tanaman milik ibu penyewa rumah. Sedangkan halaman belakang juga tak kalah sempitnya dan digunakan untuk tempat menjemur pakaian. Keduanya menyatu dengan halaman rumah ibu penyewa rumah tanpa sekat.

Selain sederhana, rumah tersebut rupanya harus menghadapi tantangan berupa gangguan hewan-hewan dari luar rumah. Di bawah setiap pintunya harus diganjal potongan kardus yang menutup rapat celah kecil antara pintu dan lantai. Dengan cara ini, diharapkan tikus, kecoak, kadal, dan hewan lainnya tidak bisa menerobos masuk ke ruang-ruang yang dihuni manusia. Hampir saja Dioni tak percaya dengan pengakuan Dhana bahwa saat dilakukan pengasapan (fogging), Dhana dan keluarganya sukses mengumpulkan 60 ekor kecoak dari dalam rumahnya. Tetangga depan rumahnya bahkan sampai panen ratusan kecoak. Padahal, lingkungan di sekitar rumah itu cukup bersih, rapi, dan terawat.

Penyusunan perabot di dalam rumah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan anak Dhana yang super cerdas dan lincah. Tidak banyak rak yang tersedia karena memang sepertinya tidak terlalu dibutuhkan kecuali hanya akan menambah sempit rumah dan menyulitkan anaknya untuk menjangkau buku-buku kesayangannya. Perkakas-perkakas kecil diletakkan dalam dus-dus bekas kotak susu yang dipotong atasnya dan ditempel berjejer di dinding. Beberapa diantaranya terlihat sudah sobek di kanan kiri akibat ulah si kecil yang kreatif. Rumah itu memang biasa, namun dihuni oleh keluarga yang luar biasa.
kembali ke atas

Bahasan/argumentasi

Dhana merencanakan pendidikan homeschooling untuk anak pertamanya. Istrinya tidak yakin bisa melakukannya, tapi Dioni sependapat dengan Dhana. Raiha, anak pertama Dhana itu, memang lebih tepat disekolahkan di rumahnya sendiri. Selain kecerdasannya di atas rata-rata, psikologis dan emosionalnya unik. Tidak seperti anak kebanyakan. Raiha harus menunggu malam untuk belajar. Raiha lebih percaya pada laptopnya untuk belajar daripada ibunya sendiri. Tapi, ibunya masih lebih dipercayainya daripada orang lain. Andaikan ia masuk TK, bisa jadi ia bosan dengan gurunya. Di usia dua tahun, ia sudah mampu memainkan mouse dan keyboard laptop, membuka folder, membuka video, mengatur volume suara, mencari lokasi file, mengetikkan password, dan segudang keahlian lainnya. Surat-surat pendek Al-Qur’an yang terkenal, termasuk ayat-ayat awal Al-Baqarah, sudah dikuasainya di usia tersebut. Perbendaharaan katanya sudah jauh di atas kosakata yang seharusnya dikuasai anak-anak seusianya sampai-sampai ada pihak rumah produksi sinetron nasional mengincarnya hingga kini.

Homeschooling kini semakin berkembang sehingga dapat menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan dalam memberikan pendidikan kepada anak. Apalagi, jika kita amati kualitas sistem pendidikan di negeri kita yang masih memprihatinkan. Sumber daya manusianya bagus, tapi sistemnya kurang mendukung. Sebagian masyarakat memandang miring homeschool karena anggapan-anggapan seperti kurangnya sosialisasi anak, rendahnya kualitas pendidikan, dan jam belajar yang seenaknya. Padahal, homeschool tidak seremeh yang dibayangkan banyak orang. Sudah ada lembaga khusus yang menyusun kurikulum dan mendapat hak untuk mengeluarkan sertifikasi bagi pendidikan jenis ini. Homeschooling juga bukan ‘barang’ baru karena sejak dahulu kala sudah ada, bahkan banyak orang besar dunia yang merupakan homeschooler seperti Abraham Lincoln, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Leonardo Da Vinci, Hans Christian Andersen, dan Mozart.

Anggapan pertama tentang homeschool adalah sosialisasi anak homeschool kurang karena hanya di rumah saja. Faktanya, mereka lebih punya banyak waktu bersosialisasi karena tidak harus berurusan dengan hal-hal administratif sekolah. Mereka mungkin tidak mempunyai teman sebanyak anak lain, tapi mereka mempunyai lebih banyak teman dekat. Waktu mereka bersama keluarga juga lebih banyak sehingga mendukung terjalinnya ikatan keluarga yang erat. Keluarga homeschool tidak terikat jadwal sekolah sehingga lebih bebas menggunakan waktunya. Mereka bisa liburan kapan saja dan di mana saja. Pada tahun 1989, dari hasil penelitiannya, Linda Montgomery menyimpulkan bahwa anak homeshool masih terlibat dalam berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler seperti latihan olahraga, les dan kursus, pramuka, dan event-event anak. Lalu pada tahun 2004, Dr. Brian Ray yang telah 20 tahun meneliti homeshool juga menyimpulkan demikian dan mengatakan bahwa perkembangan mereka sama atau lebih baik daripada mereka yang sekolah.

Anggapan kedua menyatakan bahwa anak-anak homeschool tidak bisa mengikuti tes dan masuk universitas. Faktanya, dari segi materi, sama seperti pendidikan formal, kurikulum homeschool juga diatur dan memiliki metode-metode berbeda yang dapat dipilih sesuai kebutuhan anak. Kurikulum tersebut dilengkapi dengan set peralatan belajar seperti buku, CD, permainan, dan soal-soal latihan. Menurut Ella Yulaenawati, Direktur Pendidikan Keseteraan Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008 jumlah anak homeschool di Indonesia mencapai 1500 yang merupakan 20% pendidikan alternatif di Indonesia. Pemerintah telah menghargai proses belajar mandiri tersebut dengan mengatur homeschooling dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 2/1989 sampai No 20/2003. Para homeschooler yang memiliki dokumen semacam buku raport atau transkrip nilai dapat mengikuti ujian kesetaraan sebagai pengganti ujian nasional (UN). Kemudahan juga diberikan melalui kebijakan Alih Kredit Kompetensi (AKK) bagi yang tidak memiliki dokumen. Tes-tes tersebut dapat menjadi bekal mereka untuk masuk ke universitas karena telah diakui dan diatur penggunaannya oleh pemerintah.

Referensi:
http://www.sekolahrumah.com
http://www.early-years-homeschool.com
http://homeschooling-primagama.com
kembali ke atas

Paparan/eksposisi

Hari selanjutnya, sesuai rencana, Dioni bertemu dengan teman lamanya di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Kemudian, bersama teman lamanya tersebut, ia berwisata ke Kota Tua di Jakarta Barat. Di malam hari, ia pamit dari kos teman lamanya dan menuju gedung Usmar Ismail di daerah Kuningan. Di sana, ia menonton konser ITB Students Orchestra (ISO). Dari tempat konser, ia menginap di Permata Hijau, Jakarta Selatan. Keesokan paginya, ia pulang ke Depok untuk mengunjungi sahabatnya yang terletak tidak jauh dari rumah Dhana. Sebagai referensi bagi yang membutuhkan, dalam tulisan ini Dioni akan berbagi alternatif transportasi yang dipilihnya dalam petualangan keliling Jakarta tersebut.

Pertama-tama, gunakan KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek untuk keluar dari kota Depok. Karena tujuan pertama adalah Salemba, tiket yang harus dibeli adalah jurusan Depok Baru-Jakarta kelas ekonomi atau AC. Kemudian, turun di stasiun Cinere. Dari sana, naik bajaj atau ojek ke daerah Salemba. Anda juga dapat membeli tiket KRL Express dan langsung turun di stasiun Gambir. Dari halte Gambir 1, naik busway jurusan Harmoni dilanjutkan Harmoni-Kota. Jika alternatif kedua yang dipilih, maka teman Anda dari Salemba harus naik busway Pasar Senen-Pulo Gadung agar dapat bertemu di halte Gambir 1. Kembali dari Kota Tua ke Salemba juga ditempuh dengan naik busway jurusan yang sama seperti saat berangkat dengan arah sebaliknya.

Transportasi umum yang bisa Anda naiki di Jakarta. Hampir lengkap, tapi saya nggak nemu andong =D


Perjalanan selanjutnya adalah dari Salemba ke Kuningan, tempat gedung Usmar Ismail berada. Hanya dua kali naik busway, maka Anda dapat sampai tepat di depan gedung. Jurusan yang bisa ditempuh adalah Pulo Gadung-Dukuh Atas, kemudian disambung Dukuh Atas-Kuningan. Dari tempat Anda turun dan naik busway berikutnya, Anda harus menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan mengantri di pintu bertuliskan “Ragunan/Kuningan”. Di halte tersebut ada empat pintu antrian untuk jurusan busway yang berbeda. Yang perlu Anda ingat, halte di Kuningan ada banyak dan jaraknya dekat satu sama lain. Agar berhenti tepat di depan gedung Usmar Ismail, turunlah di halte Kuningan 4.

Terakhir, akan dijelaskan rute untuk kembali ke Depok dari daerah perumahan Permata Hijau di Jakarta Selatan. Penjelasan diberikan sesuai pengalaman Dioni yang berangkat pada pagi hari selepas Subuh, saat transportasi umum belum banyak beroperasi. Ojek atau taksi adalah pilihan paling mudah yang dapat Anda tempuh dari perumahan ke jalan raya, baik halte busway atau bis antarkota. Namun, sepagi itu taksi sulit ditemukan. Mengingat Depok sudah berada di luar Jakarta, maka alternatif yang dapat ditempuh adalah bis antarkota atau sering disebut kopaja. Busway hanya sebagai pengantar ke terminal atau halte bis antarkota. Daripada berkali-kali berganti transportasi, lebih baik Anda naik ojek langsung sampai terminal di dekat Blok M. Memang harus merogok koceh lebih banyak, tapi praktis. Dari terminal, naik bis nomor 19 yang menuju Depok dan turun di Terminal Terpadu Depok.
kembali ke atas

Leave a comment

9 Comments

  1. mangstab :like-this:
    tapi ga nyangka sepanjang ini😀
    ngos2an bacanya << lebay.com

    Reply
  2. wooow. muantepp ga. hihihi.😀

    Reply
  3. Panji PRABOwo🙂

    Reply
  4. panji prabowo

     /  February 27, 2010

    kyknya kenal sama tuh Prabo..
    hahaha..

    Reply
  1. bekasi selatan bekasi timur bekasi utara jati asih » PAKET C » Komposisi « .:: si /-|ebat ::.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: