Sinusoidal Motion (Revision)


Bosan ah saya menulis yang serius-serius…hari ini pengen cerita aja deh…hehe. Dua hari lalu, saya dapat kado ultah dari seorang teman SMA yang kisahnya pernah dimuat di blog ini juga. Perjuangannya membuat buku itu sampai ke tangan saya patut diacungi jempol karena demi itu dia rela nguber teman sekampus saya yang mau pulang ke Bandung. Walaupun tidak tepat di hari-H, saya tetap senang dapat barang gratisan😀 Sebuah buku menarik yang sudah saya kenal sejak tiga tahun lalu: Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim.

Ketika membukanya, saya gemes juga, “ah…iya, dulu kan pengen baca buku ini”, mengingat saat buku itu terbit saya sedang digempur tubes (baca: TUgas BESar) bertubi-tubi sehingga hasrat membacanya pun raib seketika. Tak apa-apalah, biar agak telat bacanya, isi buku sesungguhnya tak lekang dimakan zaman. Penuh inspirasi, penuh pengetahuan tentang sejarah peradaban manusia, bercita rasa novel karena dibalut bahasa sastra yang kental, dan memperbanyak hafalan ayat Alquran. Saya akan bercerita gambaran umum isinya karena belum selesai baca juga…tapi sebenarnya yang saya ungkapkan di sini lebih pada curahan hati.


Buku ini intinya membantu mengembangkan pola pikir umat Islam (we call them “Muslim”, not “Moslem”) dalam banyak hal. Tentang memaknai sebutan Muslim yang melekat pada dirinya. Tentang seperti apa seorang Muslim harus menyikapi keislamannya. Tentang bagaimana Islam tumbuh di muka bumi ini yang seharusnya memotivasi umatnya di zaman sekarang. Tentu saja, secara umum, juga tentang misi hidup manusia di dunia seperti yang telah dibekali petunjuk.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim”. (Ali ‘Imran:64)

Memasuki bab dua yang banyak mengisahkan perjuangan Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para thabi’in di awal lahirnya Islam, saya terbawa lagi ke ‘perasaan itu’, lagi, untuk ke sekian kalinya. Perasaan itu sama persis seperti saat saya harus mengikrarkan “Janji Mujahid” di pelantikan kader muda Gamais 2006. Perasaan itu pernah muncul saat saya menjalani training motivasi, mabit di masjid, dan malam-malam Ramadhan. Perasaan itu membuncah tiap kali saya membaca buku asupan gizi rohani lain (tidak semua sih, tergantung kualitas). Perasaan itu merebut kendali hati saat menyaksikan kegigihan saudara-saudara di Palestina dalam mempertahankan tanah mulia mereka. Perasaan itu juga timbul saat saya nonton film mahakarya Moustapha Akkad tentang Rasulullah SAW: The Message. Ya, perasaan itu sukses membuat saya selalu berkaca-kaca, bahkan terisak…

Kawan, pernahkah engkau merasa di suatu titik, dengan kewarasan akal dan kejernihan nurani, tiba-tiba seperti tersentuh, tertohok, tertegur, atau apa pun lah bahasanya yang kemudian membuatmu seperti serpihan debu tak berharga yang melayang-layang di udara menunggu saat-saat terusir angin yang lebih kencang? Pernahkah engkau merasa bahwa apa yang engkau lakukan dan penderitaan (kalo bisa disebut begitu) yang engkau rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain? Pernahkah engkau merasa ingin mengutuki diri sendiri karena sulit mempertahankan motivasi berjuang jika tidak ada trigger seperti hal-hal yang menginspirasimu di suatu waktu? Yang saya tahu dari cerita teman-teman lain, perasaan-perasaan semacam itu kerap menghinggapi mereka pada waktu-waktu khusus, contoh: habis ngikutin training motivasi, seminar, workshop, dan sebagainya lah; habis nonton film lah; habis baca buku lah; dan lain-lain. Ya, seperti itulah yang saya rasakan saat membaca buku tersebut. Saya semakin sadar hakikat saya sebagai manusia, tempat bersarangnya salah dan lupa. Motivasi, semangat, perasaan, keteguhan terhadap suatu norma, emosi, dan iman begitu mudahnya (dan cepatnya) naik turun, berubah-ubah seperti gelombang sinusoidal

Maka, betapa perlunya kita men-charge jiwa, meng-upgrade pemikiran, dan merevisi hati setiap saat kita mampu…karena kehidupan di dunia ini sebentar banget, seperti seorang musafir yang sedang beristirahat di pagi atau sore hari saja…

Leave a comment

5 Comments

  1. wow, ada embel2 novel, sptnya aku jg pingin.
    makasih atas sharingnya.

    Reply
  2. ijhadu bianna muslim. kalo ga salah, itu bahasa arabnya.CMIIW

    salut dech buat tulisannya. salut juga buat Om Salim yang udah nulis buku itu

    Reply
    • wah tengkyu versi Arab-nya..hehe..Salim kakak kelas saya lho, temennya Shofwan Al Banna, sesama penulis dari SMA Teladan, sama2 hebat (worship)

      Reply
  3. huehh, dari SMA 1 Yogya toh!? kalo om Shofwan saia sering liat “berkeliaran” di UI. kalo kang Salim, saia belom pernah liat secara live pake mata kepala. baru liat wajahnya by foto

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: