Cobaan Paradoks


Hari ini saya berkunjung ke rumah saudara (keluarga paman dari ibu) di Buah Batu. Sejak ada saudara dekat di Bandung, saya jadi sering menghabiskan weekend di sana. Rasanya sudah seperti rumah sendiri. Kesempatan itu biasanya saya manfaatkan untuk memperbaiki gizi sekaligus belajar memasak. Kebetulan bibi (baca: bude) jago masak. Sudah terlatih dan teruji selama puluhan tahun dengan jumlah anak yang nggak main-main: lima orang laki-laki, dan semuanya doyan makan. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang menyarankannya untuk membuka rumah makan.

Ada yang berbeda dalam kunjungan kali ini. Rumah mereka sudah seminggu ini mengalami ‘bencana kekeringan’ alias nggak dapat pasokan air. Betapa ironisnya, padahal di belahan Bandung lain sedang kebanjiran. Yang perlu dicatat, keduanya, Buah Batu dan Baleendah, sama-sama terletak di Bandung Selatan. Keluarga paman saya terpaksa harus menadah air hujan demi memenuhi kebutuhan airnya. Sesekali juga paman harus membawa wadah-wadah air untuk dibawa ke kantor dan mengambil air dari sana.

'Tong-tong' bekas kaporit pabrik tekstil yang dikumpulkan untuk menampung air


Kekeringan ini terjadi di seantero Buah Batu yang memasok air dari mata air di Pangalengan. Penyebabnya simpang siur. Ada yang mengatakan akibat kebocoran pipa, ada juga sumber (keterangan resmi dari pihak penanggungjawab) yang mengatakan bahwa aliran air tehenti karena sumbatan pada kincir air oleh gelondongan kayu sehingga air tersedot ke suatu tempat. Menurut pengakuan mereka, sejak ‘bencana’ terjadi, sudah 47 orang teknisi yang bekerja 24 jam untuk menangani hal tersebut dan menjanjikan waktu tiga hari. Kenyataannya, sampai hari ini, seminggu lamanya, air belum juga jalan.

Entahlah ini azab atau ujian, tapi saya lebih suka menyebutnya ujian.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al Ankabut: 2-3)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Al Baqarah: 155)

Walaupun melihat kondisi negeri kita yang makin nggak karu-karuan ini, mungkin lebih tepat disebut ‘hukuman’ dari Allah, saya lebih suka menganggapnya begitu. Saya jadi teringat status salah satu friend of friend saya di Facebook…

Ngga habis pikir……masalah nikah siri dihukum dan dibikin UU, poligami di demo di jauhi bahkan syaratny pun susah, ini yang jelas2 hamil dan melahirkan di luar nikah malah di daput jadi duta aborsi….aduuuuuuhh negeri ku…

Ck..ck..ck..

Leave a comment

3 Comments

  1. pertamaxxx dulu ahh🙂

    kalo di bandung aja bisa banjir, gimana di jakarta yach?hmmm😦
    kalo di jakarta, sedang dibangun proyek BKT (Banjir Kanal Timur) untuk menanggulangi masalah banjir di Jakarta. menghabiskan dana triliunan rupiah. wallahu untuk hasilnya nanti seperti apa.
    menurut saia sich, yang paling utama untuk disadarkan adalah masyarakat. knp? ya tau sendiri lah. ulah banjir itu kan emang kita sendiri yang buat. nah, tau juga kan gimana orang-orang indonesia memandang kebersihan lingkungan itu seperti apa?
    CMIIW😛

    Reply
    • Ya doakan saja proyek itu berhasil. Intinya jangan selalu memandang miring inovasi atau pengembangan teknologi dari pemerintah terlepas dari ‘bersih’ tidaknya proyek tersebut…biasanya juga karena masyarakat menentang, nggak mendukung, atau malah nggak mau ngerawat fasilitas yang dikasih itu, malah bikin proyek jadi terasa sia-sia, misalnya seperti e-KTP yang pernah saya bahas juga di blog ini (lihat bagian komentar).

      Menyadarkan masyarakat memang yang paling ideal dalam teori, tapi prakteknya susah karena mental orang INA dari zaman baheula ya udah begini ini. Sistemnya udah rusak. Harus masuk ke sistem dan ubah sistemnya, termasuk penegakan hukumnya. Kalo mau mereka peduli juga harus difasilitasi sama pemerintah, misalnya kalo nggak boleh mendirikan rumah di pinggir kali, ya sediakan dong rumah gratis yang layak dan nggak di situ. Fasilitas dari pemerintah bukan harus berupa benda, bisa juga peraturan (tapi ditegakkan, nggak cuma dibikin).

      Reply
  1. SMS Pria vs SMS Wanita « .:: si /-|ebat ::.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: