Dies Emas Papa


Surat untuk papa di hari ulang tahun kelimapuluhnya…

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Papa. Aku lupa kapan tepatnya panggilan ini bermula, sepertinya sejak SMA. Yang jelas aku merasa lebih dekat dengan sapaan ini daripada “Bapak”. Izinkan aku memanggilmu dengan kata ini seterusnya. Tak terasa hari ini usiamu telah memasuki kepala kelima. Usia kematangan seorang ayah, usia ketika ujian hidup yang cukup serius dan belum pernah kau temui sebelumnya mulai datang silih berganti, dan mungkin usia yang tepat untuk memiliki cucu. Untuk hal yang terakhir disebutkan, I’m sorry I haven’t able to give you😀

Dibandingkan dengan Papa yang dulu kutemui sebelum merantau, Papa yang sekarang sudah banyak berubah. Tidak jauh berubah, tapi banyak berubah di sana-sini, sedikit demi sedikit. Aku senang dan bersyukur karena perubahan itu ke arah positif. Dengan karakter dasarmu yang punya pengaruh kuat ke keluarga, tentu hal tersebut menjadi berkah kebaikan juga pada kami, keluargamu. Ketika sesekali aku pulang ke rumah dan menemuimu, aku selalu bahagia melihat wajah lelahmu yang awet muda. Wajah itu masih konsisten dengan wajah di foto masa kuliahmu yang dimuat di koran itu, di sebuah artikel kisah anak kos yang harus berjuang menghidupi dirinya. Keren. Kisah yang menginspirasi banyak orang, termasuk aku, dan selalu kau banggakan sampai kini. Wajah itu juga masih konsisten dengan wajah di foto wisudamu bersama aku dan ibu. Saat itu aku memang masih berusia enam bulan, tapi lihatlah ekspresiku di foto itu, Pa. Seolah berkata “aku bangga punya ayah yang mampu menyelesaikan kuliahnya di tengah kesibukannya mencari uang untuk keluarga”. Gentle sekali.


Papa, kalo Sherina bilang “apa yang kan kukatakan untukmu idolaku tersayang, ayah”, maka aku pun memikirkan hal yang sama. Papa dan Mama adalah idolaku tersayang. Keduanya sama, sulit untuk menentukan mana yang lebih aku idolakan karena ada keteladanan di posisi masing-masing. Di posisi Papa, betapa inginnya kelak aku punya suami yang serba bisa seperti Papa. Saat genteng rumahku bocor, dialah yang akan membetulkannya sendiri. Saat lampu rumahku mati, dialah yang akan naik dan memperbaikinya. Saat anakku butuh mengumpulkan tugas kerajinan dan kesenian, dialah yang mengajarinya menggambar, membuatkan alat musik sederhana, mengajarinya menyanyi, dan mengarahkan bagaimana caranya tampil di depan umum. Saat aku sakit dan tak berdaya melakukan tugas rumah tanggaku, dialah yang memasak, mencuci, dan menyeduhkan teh untuk anak-anakku. Saat lahan rumah kami olah dan aku tanami berbagai tanaman hias, dialah yang melengkapinya dengan membangun kolam ikan, menyusun kandang burung, dan menanam pohon buah-buahan untuk menambah semarak rumah kami. Saat aku butuh alat untuk pekerjaannku, dialah yang membuatkannya untukku. Saat mainan anakku rusak, dialah yang mereparasinya. Saat ini dan itu, masih banyak lagi. Semua yang selama ini kau lakukan untuk keluarga kita. Aku pun ingin merasakannya di keluargaku nanti.

Papa, kalo Gita Gutawa bilang “kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu”, mungkin begitu juga apa yang kau pikirkan, tapi entah kenapa ya aku tidak pernah mendengarnya secara eksplisit. Dari kecil, aku tidak pernah merasa dituntut untuk jadi juara, untuk dapat rangking satu, untuk masuk sekolah favorit, untuk masuk kampus favorit, untuk ikutan organisasi tertentu, dan sebagainya. Kenapa ya? padahal kadang aku merasa membutuhkannya demi melecut semangat dan kerja kerasku. Namun, aku menyadari, kebebasan yang kau jaminkan untukku dipadukan dengan kasih sayang yang teramat sangat itu secara tidak langsung membuat motivasi berprestasiku tumbuh, meski mungkin hanya karena malu, nggak enak, atau gengsi kalo aku tidak bisa mempersembahkan apa-apa untukmu. Papa, percayalah, jika engkau ‘sedikit’ menuntutku untuk menjadi yang terbaik bagimu, dengan izin Allah, aku pasti akan mampu mempersembahkan sesuatu yang lebih hebat untukmu. Mohonkanlah kepadaku, aku akan menerimanya dengan senang hati. Sungguh, aku bukan tipe orang yang kuat hanya dengan dorongan internal dari diri sendiri.

Papa, kalo Gita Gutawa (lagi) bernyanyi bahwa “patuhi perintahmu, jauhkan godaan, yang mungkin kulakukan dalam waktu ku beranjak dewasa, jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh, dan terinjak”, maka itulah sebenar-benarnya dirimu. Dalam hal mengingatkan, Papalah juara satunya. Aku, adik, dan ibu kadang tersenyum ketika nasihatmu diulang berkali-kali. Menggelikan, seolah aku anak kecil yang harus selalu diingatkan, tapi toh ternyata memang aku masih seorang “anak kecil” yang seringkali lupa dan lupa lagi. Maaf ya, Papa, kalo engkau bosan dengan kecerobohanku meletakkan barang-barang. Terima kasih banyak engkau tidak pernah bosan mengingatkanku untuk teliti, rapi, disiplin, tidak sembarangan, dan sebagainya. Aku mohon, jangan berhenti untuk melakukannnya. Maaf ya, Papa, kalo aku suka bandel nggak merhatiin kesehatanku. Terima kasih banyak engkau dan ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, terutama makan teratur (satu hal yang sampai sekarang masih sulit kutepati). Ah, aku ini mengurus diri sendiri saja belum becus bagaimana bisa mengurus anak suamiku nanti. Papa, jangan bosan ya mengingatkanku.

Papa, aku berharap di usia ke depan Papa lebih sabar. Aku tahu sifat meletup-letup dalam dirimu itu sedikit banyak bawaan daerah. Aku juga mewarisi sifat itu. Meskipun begitu, aku tetap bangga dibesarkan di kultur jawatimuran yang unik. Nah, tetap saja, bagi sebagian orang, sifat itu sangat mengganggu. Papa beruntung punya wajah baby face (kembali ke paragraf pertama), jadi walaupun suka keras dan meledak-ledak, tetap saja tidak cepat tua. Hanya saja, alangkah baiknya kalo Papa lebih sabar, kan toko kita juga toko namanya “Sabar”. Hihihi. Sekarang sudah jauh lebih sabar daripada dulu lho. Hore. Semoga di masa mendatang lebih sabar lagi ya, Pa. Amiiin.

Papa, semoga Allah senantiasa melancarkan dan menambah rezekimu sehingga Papa bisa segera pergi ke tanah suci seperti yang Papa impikan. Dulu aku bercita-cita memberangkatkanmu haji, bahkan sampai kini. Maafkan aku, cita-cita itu tampaknya masih jauh melihat kapasitasku yang sekarang. Tanggung jawab akademis yang sempat terbengkalai beberapa tahun lalu ini lebih mendesak untuk aku selesaikan. Di sisi lain, aku melihat rencana indah Allah sebelum memanggilmu ke tanah suci. Allah hendak mendekatkanmu terlebih dahulu dengan-Nya, mengajarimu dengan ilmu-ilmu keislaman baru yang menarik dan mungkin sempat terlupakan olehmu sebelumnya, menuntunmu untuk menebalkan celupan Ilahi di dalam dirimu, dan menunjukkan kepadamu sahabat-sahabat baru yang siap menemanimu menjadi pejuang-Nya. Aku yakin, Papa, begitu Allah melihat kesiapan ruhiyah dan jasmaniahmu untuk mengunjungi rumahnya, Dia pasti akan memudahkan langkahmu bersimpuh di hadapan Ka’bah nan agung.

Papa, apa lagi ya? aku hampir kehabisan kata. Bukan karena tidak ada lagi yang bisa ditulis, justru karena masih banyak yang ingin ditulis.

Ohya, Papa, maafkan aku meninggalkanmu terlalu cepat. Aku masih ingat kata-katamu saat akan mengizinkanku sekolah di Jogja, “Itu berarti kamu harus siap berpisah dengan bapak dan ibu, mungkin untuk seterusnya, kecuali kamu kembali ke sini lagi untuk kuliah atau bekerja”. Hiks, hiks, sampai sekarang masih sedih rasanya mengingat pesan itu. Kalo bukan demi masa depan yang lebih baik, aku pasti ingin selalu serumah denganmu dan ibu.

Papa, sebenarnya masih banyak harapanku untuk usia Papa ke depan, tapi nggak mungkin ditulis semua di sini. Aku hanya menuliskan yang penting-penting, selebihnya aku mohonkan kepada Allah kebaikan demi kebaikan dunia dan akhirat untukmu. Umur yang lebih berkah lebih berarti dari segalanya, bukan? Kesehatan, keimanan, dan keluarga yang merupakan harta-harta ‘paling’ berharga di dunia juga semoga selalu dilimpahkan dan dijaga Allah untukmu.

Papa, hampir lupa aku mengucapkan, tolong sayangi ibu selalu ya sampai maut memisahkan kalian berdua. Tidak ada hal yang lebih membahagiakanku dari melihat keharmonisan Papa dan Mom. Dengan anak-anakmu juga tentunya. Hehe. Papa, terima kasih selama ini sudah menjadi pemimpin keluarga yang baik. Tidak otoriter, perhatian, demokratif, terbuka, ringan tangan, dan selalu tampil ganteng serta gaul. Hahaha. Terima kasih sudah bersedia meninggalkan hal-hal yang kau sadari salah, salah satunya dengan berhenti merokok.

Papa, betapa saat-saat perpisahan denganmu, tiap kali engkau dan ibu melambaikan tangan di dekat bis yang mengantarkanku kembali ke Bandung itu, menjadi menit-menit yang mengharu biru bagiku. Aku selalu berharap akan melihat lagi wajahmu yang teduh itu, wajah yang menyiratkan keletihan memikirkan kehidupan anak-anaknya…hiks, hiks. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Amiiin.

Atas kata yang tidak berkenan, sepurane sing akeh yo, Pa. Hehe. Lain kali disambung lagi…

Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Bandung, 10 Maret 2010

Leave a comment

3 Comments

  1. meongijo

     /  March 10, 2010

    pasti papamu senang ya baca suratnya🙂 met milad

    Reply
  2. odingaminuddin

     /  March 10, 2010

    like this

    Reply
  3. SEFT

     /  May 14, 2010

    salam kenal dari kami SEFT kunjungi blog kami bukuseft.wordpress.com buat bantu untuk berhenti merokok

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: