Pesan Laporan TA Satu, Ya!


Semalam ketika saya pulang dari kampus, saya mampir sebentar ke warung bubur kacang ijo di dekat asrama saya untuk menikmati semangkuk burjo (begitu sebutan makanan ini kalo di Jogja) favorit saya. Tak lama setelah pesanan saya diantarkan, datanglah seorang bapak tua berusia kira-kira lebih dari 60 tahun. Dia duduk di depan saya persis dan saat itu hanya kami yang sedang di dalam warung.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan, tiba-tiba bapak itu bertanya, “Dek, boleh nanya sesuatu nggak?”

Saya menghentikan makan sejenak, “Ya, Pak?”

“Klik link itu maksudnya apa ya?”, tanyanya.

“Oh, bapak sedang buka internet?”, tanya saya.

“Bukan, ini sms”, katanya sambil menunjukkan layar ponselnya ke saya.

Saya baca isinya, oh cuma pemberitahuan untuk aktivasi sesuatu kok. Sepertinya dia baru saja mendaftar sesuatu, maka saya tanya apa yang habis dilakukannya. Well, cerita dari si bapak selanjutnya tidak menarik untuk saya ceritakan. Intinya, dia baru daftar layanan SMS Gratis dari operatornya yang tidak saya mengerti.

“Maklum, kalo udah tua-tua gini nggak ngerti beginian”, celetuknya lagi.

Hehe, saya cuma bisa tersenyum kemudian melanjutkan makan burjo saya dengan cepat karena ada yang seseorang yang menunggu saya sampai asrama secepatnya

Eh, tiba-tiba bapaknya membuka topik lagi…

“Kuliah di mana, Dek?”, tanyanya.

“ITB, Pak.”, jawab saya singkat.

“Jurusan apa?”, ya elah nanya jurusan dia…

“Informatika, teknik Informatika”, jawab saya.

Rupanya si bapak belum puas, “Tingkat berapa?”

“InsyaAllah semester terakhir, Pak, doain aja”, jawab saya sambil nyengir dalam hati.

Tak disangka, pertanyaan selanjutnya adalah hal paling sensitif bagi seorang mahasiswa tingkat akhir seperti saya, “Udah selesai TA-nya?”

Aaaa…kenapa dia tahu istilah “TA” yang keramat ini…nggak paham.

“Hee, sedang dikerjakan, Pak.”

“Udah maju?”, mungkin maksudnya maju seminar atau apalah.

“Udah yang tahap pertama, Pak, masih ada tahap-tahap selanjutnya.”, jawab saya mulai keheranan, ini orang kok nanya sampai segitunya.

Dia nanya lagi, “Topiknya apa?”. Saya ceritakan sedikit, hanya dengan satu kalimat judul laporan TA.

Eh bapaknya menjawab, “Oh…intelligence artificial ya?”…Jedeeer, how could he recognize it. Saya mulai curiga.

“Kenapa nggak bikin sistem buat @!$%@!$#&@& yang #&*@#&@(*#) Uni Soviet itu?”, What? saya agak kurang jelas menangkap apa yang dia katakan. Jalanan lagi rame banget waktu itu. Saya sengaja tidak bertanya lebih lanjut karena bisa-bisa malah tambah panjang ceritanya.

Saya jawab sekenanya, “Kebetulan dapat topik dari dosen di bidang itu, Pak.”

“Itu nanti buat apa fungsinya?”, oh…belum puas juga bapak ini. Saya akhirnya ‘presentasi’ bentar deh

Sejurus kemudian, “Boleh saya minta kalo udah jadi?”. Hah, apa nggak salah dengar ada orang minta TA saya.

Saya tanya dia, “Maaf, Pak, buat apa ya? Kalo boleh tahu, Bapak siapa?”

Barulah terkuak bahwa bapak itu adalah alumni Teknik Fisika ITB, menurut pengakuannya dia angkatan ’65. Wow…pantas udah segitu tua. Pantas…si bapak juga tahu istilah TA, artificial intelligence, dan sesuatu yang akan saya ceritakan pada paragraf berikutnya. Saya berkomentar, “Oh, dulu belum ada Teknik Informatika ya pas zaman Bapak.”

Saya lupa dari mana awalnya, tiba-tiba pembicaraan kami mengalir pada kisah tentang seorang dosen legendaris saya yang notabene alumni Teknik Fisika ITB juga, ibu Inggriani Liem atau biasa disebut Bu Inge. Wah, ternyata beliau (akhirnya saya menyebutnya begini) kenal dan bercerita sedikit tentang dosen saya itu. Pikiran saya jadi melayang ke masa-masa tingkat pertama dan kedua dulu, saat kami masih sering ketemu bu Inge. Ah, kangen rasanya…sejak bu Inge sibuk mengurus Politeknik Dell-nya di Medan, labtek kami jadi nggak seseru dulu karena nggak ada yang ‘berteriak’ tentang kedisplinan, moral-moral, etika, dan sebagainya. Hiks…

Bapak tersebut akhirnya bercerita bahwa dia juga masih punya anak yang jadi dosen di Elektro, tapi sayangnya saya nggak tahu dan sedang mencari tahu. Beliau bilang, dulu masih kadang-kadang pegang komputer, tapi sekarang cuma ngeliatin orang main komputer atau internet. Oh, pantes nanya arti “klik link” ke saya.

Nah, saya pikir kan beliau sudah lupa tentang TA saya, ternyata tidak

“Dek, saya minta laporannya saja, bukan programnya,” katanya lagi, lalu memberikan nomor ponselnya pada saya.

“InsyaAllah nanti saya hubungi, Pak,” kata saya sambil tersenyum kecut mengingat laporan TA saya belum ditulis lagi.

Saya pun pamit karena burjo saya sudah habis dan tidak lupa memohon doa restu ke bapak itu untuk TA saya. Beliau menjawab dengan satu pesan sakti, “Iya, semoga TA-nya bermanfaat bagi negara.”

Glek! Saya mengamini dalam hati. Di perjalanan pulang kemudian saya sadari bahwa bentuk kasih sayang Tuhan dalam mengingatkan hamba-Nya terhadap kewajiban (dan mimpinya) ternyata bisa dalam bentuk apa pun…

Leave a comment

9 Comments

  1. wah, kirain awalnya tentang perdagangan skripsi. gak taunya cerita yang inspiring. bener2 menyejukkan pagi neh, tulisannya.

    setelah baca cerita ini gw malah jadi mengingat angan-angan gw yang dulu udah lama terpendam. andaikan nanti kalau sudah punya anak, dan udah pada mandiri, gw pengen banget pensiun terus buka warung nasi goreng ^_^

    Reply
  2. hehe, kok bisa nyambung ke angan-angan itu, Pet? bagian mananya yang mengingatkan?😛

    berarti kalimat terakhir gw langsung terbukti…

    “bentuk kasih sayang Tuhan dalam mengingatkan hamba-Nya terhadap kewajiban (dan mimpinya) ternyata bisa dalam bentuk apa pun…”

    Tuhan baru saja mengingatkan Petra tentang mimpi membuka warung nasi goreng melalui tulisan Dioni…hahaha

    Reply
    • awalnya khan gara2 baca skimming jadi ngira si bapak itu yg jualan bubur. jadi tiba-tiba keinget angan-angan itu.
      dan selain itu ada beberapa kenalan yang dulunya itu bidangnya teknologi tapi pada masa tuanya memilih menekuni usaha di bidang lain sehingga jadi gak ngikutin perkembangan jaman. (mungkin mirip si bapak itu) ^_^
      jadi selama pagi tadi itu kepikiran mulu angan2 itu.

      seperti moral ceritanya, Tuhan selalu punya cara yang ajaib untuk mengingatkan kita tentang mimpi-mimpi kita.

      Reply
  3. iya niiih.. awalnya dah mikir macem2 waktu baca judulnya… hihihiii. ternyata bapaknya bikin Ega ingat lagi buat ne-a.😀

    Semangat egaa. moga TA kita (dan apapun yang kita kerjakan sesudahny) bisa bermanfaat buat orang banyak yaa🙂

    Reply
  4. wah, wah, mati dah kutu dah…

    Reply
  5. tinika Inggriani

     /  January 23, 2011

    bukannya untuk bersaing cerita,, tapi setelah baca tulisan tentang doa seorang kakek,,aku jadi teringat waktu aku lagi sama teman-teman dari perkumpulan pelajar galela…ada seorang kakek juga mendekat ke kami trus salaman sama kami semua yang ada sambil berkata semoga jeritan kami rakyat kecil di dengar oleh sang pengusa dan semga perjuangan kami sukses.benar kata kanda ” bahwa bentuk kasih sayang Tuhan dalam mengingatkan hamba-Nya terhadap kewajiban (dan mimpinya) ternyata bisa dalam bentuk apa pun… ” tks aku baru terpikirkan.

    Reply
  6. christian

     /  December 24, 2011

    salam.. saya mahasiswa tingkat akhir politeknik informatika Del.
    tp Del itu bukan di medan loh ya. masih ada 5 jam perjalanan lagi. hehe..
    tp bu inge sekarang sudah di ITB lagi ya.😀
    jadi kami yg kehilangan,🙂

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: