(Re-post) Cinta dan Benci


Seperti biasa, saya nemu harta karun saat lagi bersih-bersih laptop
Mohon maaf sebelumnya karena sumber artikel dan penulis tidak tercantum didalamnya jadi siapa pun dia, berterima kasihlah padanya jika artikel ini bermanfaaat, tapi jika tidak tolong dimaafkan ya penulis aslinya (dan maafkan saya sudah posting ulang…haha). Oke, ini dia…

Mungkin Anda sudah lebih dulu tahu dari saya ternyata sebaliknya dari cinta bukanlah benci, bukan juga marah. Sebaliknya dari cinta adalah “tidak peduli”. Marah pada tingkat pertama atau benci pada tahap berikutnya, sebenarnya “juga” merupakan ungkapan cinta, hanya dibaca secara terbalik. Orang yang marah atau benci itu “masih peduli” dengan orang yang dimarahinya, masih penuh perhatian, cuma saja ketika itu cara dia membaca fakta-fakta berbeda dari biasanya. Marah adalah ungkapan peduli, cinta yang diejawantahkan dengan “kasar”, sedangkan benci adalah “kerinduan pecinta yang putus asa”. Benar kata orang bahwa “ujung cinta adalah benci, dan ujung benci adalah cinta”.

Kalau saya lagi “cinta” sama isteri, terus dianya lagi lelah, suka jadi marah euy. Tapi kalau saya abis marah sama dia, eeh suka jadi “cinta”, tuh bener kan pepatah tadi…Cinta dan benci itu selembar benang merah saja jaraknya, sama sama “sambung rasa” bedanya cuma masalah asumsi dan interpretasi.

Contoh lain ada seorang wanita didatangi laki laki, kemudian mengajaknya menikah. Awalnya dia tidak suka bahkan benci bukan main, tapi si laki-laki itu sabar. Dia datang lagi, datang lagi, dan datang lagi, tentu saja si wanita tambah benci. Tapi ketika suatu saat sang laki-laki tidak datang, dia jadi bertanya-tanya, “Kok tidak datang ya?”. Oooh ternyata kebenciannya telah bersemi menjadi kasih. Saking benci dia jadi penuh peduli. Apa-apa dari si laki-laki dia perhatikan dan dia benci, tapi lama-lama…Tuh bener kan ujung benci itu adalah cinta.

Contoh lain, orang yang bikin demo, teriak-teriak memprotes pemerintahnya, bikin rusuh memberontak, apakah mereka tidak mencintai negaranya? Justru mereka amat mencintai negaranya hingga dia tidak rela negara yang dicintainya demikian dan demikian. Cuma karena “cinta terkadang buta”, mereka tidak sadar kalau “tindakan cintanya” malah merugikan pihak yang dicintainya setengah mati itu…Maka dari itu resep mujarab untuk menetralisir tindakan cinta yang tidak proporsional tadi. Proses pendidikan dan pendekatan persuasif perlu dilakukan sehingga masing masing pihak bisa mencinta secara matang dan penuh tanggung jawab. Jadi sampai di sini saya berkesimpulan bahwa cinta dan benci adalah paralel disambung oleh peduli bisa merubah citra ungkapannya seperti yang saya jelaskan tadi.

Pantas sabda Rasulullah SAW, “Kalau mencintai sesuatu sederhana saja, boleh jadi suatu ketika yang engkau cintai itu jadi kau benci, demikian juga sebaliknya, kalau membenci sesuatu sedang-sedang saja, boleh jadi yang tadinya kau benci itu jadi kau sukai.”

Tapi “tidak peduli” benar-benar satu wujud sikap tidak mencinta. Kita tidak mau tahu lagi, tidak ada perhatian lagi, apa pun yang dilakukan oleh pihak yang tidak kita pedulikan, tidak lagi beresonansi dengan jiwa kita, tidak pula berdenting kasih, tidak pula bergetar marah. Seperti melihat “kadal”, benci enggak, takut enggak, jijik enggak,
suka enggak, ah pokoknya tak peduli aja. EGP: Emang Gue Pikirin. Karepmu, Ora Urus Blas…

Anda setuju kan dengan saya (lho kok maksa) bahwa sebaliknya dari cinta itu adalah tidak peduli?

Nah sekarang…

Ketika Anda punya adik yang sudah besar besar, apa pun yang mereka kerjakan tidak jadi perhatian Anda, cuma berkata: “Yah, masing masing sudah dewasa, sudah bisa menempuh jalannya sendiri sendiri…”, apakah ketika itu Anda masih mencintai saudara Anda?

Bila Anda seorang bapak dengan anak-anak yang telah dewasa, kemudian Anda berkata, “Saya sudah membesarkannya, kini mereka punya prinsip sendiri-sendiri, mereka adalah pemilik tindakannya sendiri, toh mereka sudah dewasa.” Bila itu menjadi alasan Anda tidak lagi pedulikan apakah mereka berlaku baik atau tidak, dengan siapa mereka berteman, bagaimana mereka bergaul, apakah Anda masih mencintai anak-anak Anda?

Ketika Anda berkata, “Yah, beginilah hidup di kota, masing-masing sibuk dengan dirinya, atau Anda berkata, sudah jangan pedulikan urusan orang, dia ya dia, kita ya kita…”, apakah ketika itu Anda masih mencintai masyarakat Anda?

Pernah Nabi Musa a.s. bertanya kepada Allah, “Ya Allah, mengapa kalau kekasih-Mu melakukan kesalahan segera engkau tegur dengan musibah, sedangkan orang kafir bila durhaka tidak engkau segerakan bala bagi mereka?”. Jawab-Nya, “Wahai Musa, sesungguhnya urusan di antara dua pihak yang saling mencintai adalah “besar”. Semakin saling mencinta, semakin peduli, semakin saling memperhatikan, sedang semakin tidak mencinta, maka jelas akan semakin tidak peduli…”

Apakah benar kita kini sedang saling mencinta?
Apa kriterianya? Karena tidak saling marah-marahan?
Karena tidak saling usil dengan urusan orang lain?
Karena tidak saling mengkritik?
Saling membiarkan dan sekedar manggut kalau ketemu?

Ah sepertinya kita sudah tidak saling mencinta…

Leave a comment

1 Comment

  1. 'abdurrahman

     /  April 8, 2010

    hmmm…menarik juga postingannya mbak..

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: