[Repost] Keajaiban-keajaiban dalam Perang di Palestina


Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Q. S. Ali Imron: 13)

Masih ingat tentang kisah keajaiban Perang Badar? saat itu pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW hanya berjumlah sekitar 300 orang, sedangkan kaum kafir ada 1000 orang, tetapi dengan kuasa-Nya, perang dimenangkan oleh kaum muslimin. Begitu pun yang terjadi di Palestina, jika Allah menghendaki, Dia hanya perlu berfirman “Jadilah” untuk menundukkan Israel. Tulisan ini saya kutip dari Notes seorang teman di FB. Teguhkan hati Anda untuk membaca dan temukan keajaiban didalamnya🙂

Notes ini cukup panjang, tapi coba baca dengan seksama sampai akhir deh, insya Allah sangat menggetarkan..
—————————————————————————————————————————

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya. Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka ”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnalis, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

kami merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti.

***

Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Suara Tak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesuatu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya

Saksi Serdadu Israel

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?

***

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihat lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Merpati dan Anjing

Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Kabut pun Ikut Membantu

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Selamat dengan al-Qur’an

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).

***

Harum Jasad Para Syuhada

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.

Sumber:

http://www.facebook.com/notes/adjie-wicaksana/keunikan-dan-keanehan-yang-terjadi-pada-saat-perang-di-palestina/398602253611

 

Leave a comment

3 Comments

  1. Kejam, membunuh wanita dan anak2….😥

    Reply
  2. salam kenal…semangat….

    thanks… di tunggu kunjungan baliknya…

    happy writing

    Reply
  3. DIANTARA PENINGGALAN BERMUTU
    DI KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM MALUKU

    Ditulis oleh:
    Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy As-Seramiy Al-Mulkiy Ayyadahulloh wa Saddadahu.

    بسم الله الرحمن الرحيم
    الحمد لله رب العالمين القائل: (فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ)، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين
    أما بعد:

    Sesungguhnya peninggalan-peninggalan dari nenek moyang umat Islam di Maluku sangatlah banyak, dan diantara peninggalan yang paling bernilai tinggi dan paling berharga adalah Mushhaf Al-Qur’an dengan tulisan tangan.

    KISAH PENULIS TERHANDAL
    DARI KERAJAAN ISLAM HUAMUAL

    Semasa kami masih kecil, kami mendapati saudara-saudara kakek kami yang masih hidup ketika itu, mereka berkemampuan menulis Arob dengan bagus dan rapi, bahkan mereka menulis bahasa Melayu dengan huruf-huruf Arob, khoth (goresan atau tulisan pena) mereka sangat rapi, indah dan bagus, dan ini terus menerus ada dari generasi ke generasi, bahkan kami dapati pula pada tulisan tangan bapak kami Abu Harmin Salim ‘Afanallohu Waiyyah sangatlah bagus dan rapi.

    Karya dan bakat seperti itu bukanlah sesuatu yang baru di dalam dunia Islam Maluku, terkhusus di Huamual (Seram Bagian Barat) namun dia sudah terwariskan dari generasi ke generasi.

    Kalau dahulu di masa kerajaan Islam Huamual pada tahun 1694 Masehi sudah dikenal ada para penulis terbaik, diantara mereka adalah seorang penulis dan penerjemah Al-Qur’an yang bernama Batu Langkai Rohmatullohi ‘Alaih, yang bergelar dengan Imam Tomalehu, beliau berasal dari Kerajaan Huamual (Seram Bagian Barat), beliau yang menulis Mushhaf Al-Qur’an 30 Juz, beliau menulisnya ketika di Pulau Manipa.

    Pulau Manipa ketika itu termasuk dari wilayah kekuasaan Kerajaan Huamual, pulau ini terlihat dari perkampungan Limboro dan sekitarnya, di Pulau Manipa inilah Imam Tomalehu Rohimahulloh menulis Mushhaf Al-Qur’an, dan pada Mushhaf Al-Qur’an yang beliau tuliskan ini tercatat pada tahun 1694 Masehi.

    Pada beberapa halaman dari Mushhaf Al-Qur’an tersebut tertuliskan terjemahannya dalam bahasa Melayu dengan berhuruf Arob dan sejumlah catatan lainnya dalam bahasa Belanda.

    Kita bisa menilai bahwa nenek moyang umat Islam yang hidup di lingkungan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang manusia, membawa mereka mampu menguasai berbagai macam bahasa, kita bisa melihat kepada Imam Tomalehu Rohimahulloh ini, beliau memahami Al-Qur’an, menulisnya hingga menuliskan terjemahannya pula pada beberapa halaman dengan bahasa Melayu dan bahasa Belanda, ini menunjukan kecerdasan beliau Rohimahulloh yang kita kagumi.

    Dengan keberadaan beliau Rohimahulloh ini mengingatkan kita dengan kisah putra paman Khodijah Rodhiyallohu ‘Anhuma yang bernama Waroqah bin Naufal bin Asad bin Abdil ‘Uzza, yang disebutkan di dalam “Shohihul Bukhoriy” dan “Shohih Muslim” dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, ia berkata tentang awal mula diangkatnya Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai seorang nabi dan beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sempat merasakan sesuatu yang mengkhawatirkan dirinya, Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha mengisahkan:

    فانطلق به خديجة حتى أتت به ورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزى، ابن عم خديجة، وكان امرأ تنصر في الجاهلية، وكان يكتب الكتاب العبراني، فيكتب من الإنجيل بالعبرانية ما شاء الله أن يكتب، وكان شيخا كبيرا قد عمي

    “Maka Khodijah pergi membawa beliau (Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam) hingga sampai kepada Waroqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza, putra pamannya Khodijah, dahulu beliau beragama Nashoro (agama yang dibawa oleh Isa ‘Alaihissalam) pada zaman Jahiliyyah, dan beliau menulis Al-Kitab Al-Ibroniy, menulis dari Injil ke bahasa Ibroniy, masya Alloh beliau menulis, keberadaannya ketika itu adalah syaikh yang sudah tua, sudah buta”.

    Dengan kisah tersebut menunjukan bahwa masalah menterjemahkan ternyata sudah ada dari zaman kenabian, dan Imam Tomalehu Rohimahulloh hanyalah penerus dan pengikut terhadap metode salaf (para pendahulu) Ridhwanullohi ‘Alaihim.

    Pihak Departemen Agama RI telah melakukan tinjauan atau penelitian tentang keberadaan Mushhaf Manipa yang ditulis oleh Imam Tomalehu Rohimahulloh tersebut, mereka menerangkan bahwa mushhaf tersebut masih dalam keadaan baik dan lengkap, bahwa setiap halaman terdiri dari 16 baris, iluminasi awal mushhaf memperlihatkan citarasa Eropa sangat kuat bergaya Rococo, namun corak tersebut berbeda dengan bagian-bagian akhir mushhaf yang lebih bergaya kerajaan Huamual.
    Dan kami sangat menyayangkan Mushhaf Manipa yang ditulis oleh Imam Tomalehu Rohimahulloh tersebut tidak didapati di negara kita Indonesia, namun dia tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden di Kerajaan Belanda.

    Sesungguhnya orang-orang kafir Belanda yang datang memerangi kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, mereka sudah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang lurus dan benar serta tidak ada perubahan padanya, namun karena mereka menginginkan kekuasaan dan kedudukan di muka bumi mereka pun enggan untuk mengikuti kebenaran, dan sombong dari menerima dan memeluk agama Islam.

    Apa yang dilakukan oleh para penjajah Belanda seperti itu memiliki kemiripan dengan Raja Hiraklius, pemimpin tertinggi di negara Romawi, ketika muncul nabi akhir zaman di Jaziroh Arobiyyah, dia sudah mengetahui, dan dia berkeinginan untuk mengikutinya, namun karena kecintaannya kepada jabatan dan kedudukan serta hiasan-hiasan dunia, dia pun memilih untuk memusuhi apa yang diserukan oleh Nabi akhir zaman Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, mengerahkan seluruh kekuataan dan kekuasaannya untuk memerangi para pengikut setia Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, bersamaan dengan itu, dia tetap memelihara dan menjaga lembaran surat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang dikirimkan kepadanya supaya dia masuk Islam, dan surat tersebut dia muliakan dan disimpan di tempat penyimpanan yang istimewa dan terus diwariskan kepada anak cucunya yang menjadi penggantinya ketika itu.

    Adapun isi surat Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang dikirimkan kepada raja Hiraklius adalah:

    بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد عبد الله ورسوله إلى هرقل عظيم الروم، سلام على من اتبع الهدى، أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تسلم، يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت، فإن عليك إثم الأريسين، و(قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ)

    “Dengan nama Alloh yang Ar-Rohman lagi Ar-Rohim, dari Muhammad utusan Alloh dan hamba-Nya kepada Hiraklius pembesar Romawi, keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk, kemudian dari pada itu, maka sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam, berislamlah maka kamu akan selamat, Alloh akan memberikan kepadamu dua pahala, jika kamu berpaling maka sesungguhnya bagimu dosa para bawahan: “Wahai Ahlul Kitab kemarilah kalian kepada suatu kalimat yang sama diantara kami dan kalian untuk kita tidak menyembah kecuali Alloh dan kita tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tandingan-tandingan dari selain Alloh, jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah kalian bahwasanya kami adalah orang-orang muslim”.
    Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abdulloh bin Abbas dari Abu Sufyan bin Harb.

    Demikian isi surat Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang disimpan oleh Raja Hiraklius dan diwariskan kepada anak cucunya yang menjadi penggantinya sebagai Raja Romawi ketika itu, peninggalan berharga ini dijaga sebagaimana kaum kafir penjajah Belanda menjaga Mushhaf Manipa.

    Kita bisa menilai bahwa kemungkinan besar Imam Tomalehu Rohimahulloh termasuk seorang mujahid semisal dengan Imam Bonjol Rohimahulloh, karena para penjajah Belanda bila mereka berhasil menguasai suatu tempat maka mereka akan menawan para pembesar atau para ulama di tempat tersebut, kita bisa melihat kepada Imam Bonjol Rohimahulloh, beliau ditawan, dibawa ke Ambon, kemudian ke Manado hingga dikembalikan ke Bonjol.

    Bila kita melihat kepada para penjajah Belanda maka kita akan mengetahui bahwa mereka pernah menawan para tawanan dan para tokoh-tokoh pribumi, yang ada di Pulau Manipa, mereka bawa ke atas kapal lalu mereka ikat dengan batu atau yang semisalnya, ketika mereka menuju ke pertahanan mereka di Ambon, sesampainya di tengah laut, antara Pulau Manipa dan Pulau Ambon mereka tenggelamkan ke lautan para tawanan tersebut.

    Dan kita tidak mengetahui dengan keberadaan Imam Tomalehu Rohimahulloh, bisa jadi beliau dibawa kemana-mana sebagaimana ketika mereka membawa Imam Bonjol Rohimahulloh, dan kemungkinan pula dengan adanya tawanan seperti ini membuat Imam Tomalehu Rohimahulloh ketika sedang ditawan mampu menguasai bahasa Belanda, sehingga beliau menuliskan pada beberapa halaman dengan bahasa Belanda.

    PENULIS MUSHHAF AL-QUR’AN
    DARI KERAJAAN LEIHITU

    Selain Mushhaf Manipa yang ditulis oleh Imam Tomalehu Rohimahulloh ada juga
    Mushhaf Kaitetu yang berasal dari pemukiman Kaitetu, pemukiman ini termasuk dari wilayah kekuasaan dari Kerajaan Islam Leihitu (Maluku Tengah).

    Mushhaf Kaitetu ditulis oleh seorang penulis muda, seorang wanita yang bernama Nur Cahaya Rohmatulloh ‘Alaiha, ia telah menyelesaikan menulis Mushhaf Al-Qur’an ini di Kaitetu pada tahun 1590 Masehi.

    Sesuai peninjauan dan penelitian pihak Depertemen Agama RI bahwa kaligrafi mushhaf ditulis sangat konsisten dari awal hingga akhir mushhaf, penulisnya Nur Cahaya Rohmatulloh ‘Alaiha terlatih dan berbakat tentang teknik penulisan, karena tulisan tersebut tidak ditemukan kekeliruan sedikit pun setelah diteliti, demikian ini menunjukan tentang keutamaan dan keistimewaan Al-Qur’an yang tidak bisa dirubah-rubah dan tidak bisa dipalsukan, Alloh Ta’ala berkata:

    (إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya”.

    Alloh Ta’la menjaga Kitab-Nya Al-Qur’an melalui para ulama dan para pengemban dan pemikul da’wah, dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi Alloh munculkan orang-orang semisal mereka untuk senantiasa menjaga Kitab-Nya dan syari’at-Nya.

    Alloh Ta’ala terkadang menjaga Kitab-Nya dan Agama-Nya melalui peran para wanita sebagaimana wanita cerdas tersebut, di zaman shohabat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang menyimpan dan menjaga Mushhaf Al-Qur’an adalah Hafshoh bintu Umar Ibnil Khoththob, dan mushhaf tersebut kemudian disalin dan telah dibaca dan disaksikan oleh kaum muslimin.

    Dan kaum muslimin di Kerajaan Leihitu yang pernah melihat Mushhaf Kaitetu, mereka menerangkan bahwa halaman depan mushhaf masih lengkap berukuran 27 x 20 Cm, tebalnya 5,5 Cm, namun sangat disayangkan pada bagian akhir Mushhaf tersebut ada yang hilang.

    Peninggalan berharga seperti ini masuk dalam amal sholih yang pahalanya terus mengalir bagi penulisnya, lebih-lebih kalau mushhaf tersebut pernah diajarkan, disalin ulang dan dijadikan rujukan maka sungguh itu sebagai keutamaan yang luar biasa, pahalanya terus mengalir kepada penulisnya, Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

    «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له»

    “Jika seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga: Sedekah yang mengalir pahalanya atau ilmu yang bermanfaat dengannya atau anak sholih yang mendoakannya”.

    Pada zaman-zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam Maluku, para wanita sangat memberi peran penting dalam pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an kepada anak-anak dan para cucu serta keluarga mereka, ini terus terwariskan dari zaman ke zaman, hingga pada masa kecil kami.

    Sangat menakjubkan ketika kami melihat kakak-kakak atau para paman membaca Al-Qur’an di ruangan depan sedangan para ibu atau para nenek memasak di dapur, sambil mendengarkan bacaan Al-Qur’an mereka, dan sambil membenarkan bila salah dalam bacaan mereka, para ibu atau para nenek sangat perhatian denga Al-Qur’an ini, terkhusus keluarga dari nenek Khodijah Al-Huamualiyyah Rohmatullohi ‘Alaihim.

    Dengan itu kami menasehatkan kepada segenap masyarakat kaum muslimin pada umumnya, dan kaum muslimin Maluku pada khususnya untuk menjaga peninggalan-peninggalan berharga seperti itu, baik itu berbentuk Mushhaf Al-Qur’an atau berbentuk tulisan-tulisan, karena suatu saat nanti para peneliti akan membutuhkan peninggalan-peninggalan seperti itu sebagai bahan penelitian mereka.

    Hendaknya pemerintah, para raja, kepala-kepala dusun membuat perpustakaan umum atau ruang khusus untuk peninggalan-peninggalan orang-orang yang sudah meninggal dunia, baik itu peninggalan berupa Mushhaf Al-Qur’an, tulisan-tulisan atau buku-buku agama mereka, semua itu Insya Alloh akan bermanfaat bagi para peniliti, dan itu semuanya akan menjadi amal sholih yang pahalanya terus mengalir, Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

    إِنّ مِمّا يَلحِقِ المُؤمِنُ مِن عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعدِ مَوتِهِ عِلماً عَلّمَهُ وَنَشَرَهُ، أَو وَلَداً صَالِحاً تَرَكَهُ، أَو مُصحَفاً وَرَثَهُ، أَو مَسجِداً بَنَاهُ، أَو بَيتاً لُابِن السّبِيلِ بَنَاهُ أَو نَهراً أَجرَاهُ، أَو صَدَقَةً أَخرَجَهَا مِن ماَلِهِ فِي صِحّتِهِ وَحَيَاتِهِ ُتُلحِقُهُ بَعدَ مَوتِهِ

    “Sesungguhnya dari apa-apa yang menyertai seorang mu’min dari amalannya dan kebaikan-kebaikannya setelah wafatnya adalah ilmu yang dia telah mengajarkannya dan menyebarkannya, atau anak sholih yang dia telah meninggalkannya (di dunia), atau mushhaf yang dia telah mewariskannya, atau masjid yang dia telah membangunnya, atau dia membangun rumah untuk orang yang melakukan perjalanan (rumah penginapan untuk tamu/ruang tamu), atau sungai yang dia telah mengalirkannya, atau sedekah yang telah dia mengeluarkannya dari hartanya pada masa sehatnya dan matinya maka ini semuanya menyertainya setelah kematiannya”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

    https://ashhabulhadits.files.wordpress.com/2015/02/sejarah-kerajaan-islam-huamual.pdf

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: