Lagi-lagi Harus Mengurus Nilai


Senin, 7 Juni 2010, kemarin adalah hari terakhir pengumpulan draft tugas akhir bagi saya dan beberapa teman yang mengejar kelulusan Juli tahun ini. Pukul 9 pagi kami mengantri di depan loket TU dan saya sendiri baru selesai mengumpulkan pukul 10. Seperti rencana saya sebelumnya, saya tidur setelahnya sampai pukul 12. Entah kenapa ketika bangun tidur, saya pengen ngecek nilai. Kali aja ada yang baru…dan ternyata…noooooo, ada yang dapat E! Saya lemas seketika…bayangan sidang bulan Juni langsung gelap. Saya mencoba meyakinkan diri saya bahwa itu bukan nilai akhir dengan bertanya pada beberapa teman. Beberapa menjawab nilai mereka yang sudah keluar semacam A, AB, dan sebagainya, lalu beberapa lagi menjawab “masih T”. Kenapa saya E dooong????? *bletak* waktu itu pengennya cuma mimpi…saya pun segera berkemas ke kampus untuk memastikan apa yang salah dengan kuliah-yang-cukup-rajin-saya-ikuti-dan-selalu-saya-kerjakan-tugasnya ini?

Singkat cerita, saya tidak bertemu dosen kuliah tersebut di ruangannya saat itu. Awalnya saya sedikit lega karena kebetulan ada bapak TU yang sedang merekap nilai dan di sana saya lihat nilai saya baik-baik saja. Jadi harusnya sih nggak mungkin dapat E. Sayangnya si bapak TU itu sedang nggak ada di tempat jadi saya nggak bisa memastikan. Akhirnya saya putuskan ke sana lagi sorenya.

Sore hari, saya ketemu sama bapak TU yang disebut “Saripudin” sama pegawai TU lainnya…mungkin aslinya namanya “Syarifudin” pake f nggak pake p (apa sih nggak penting, Ga -_-). Nah, terus, saya dikasih tahu catatan nilai akhir dari ibu dosen kuliah itu…jreng, jreng!!! Saya dapat T. Menurut informasi dari dia, nilai yang direkap memang masih diganti-ganti dan itulah yang terakhir…saya dapat T. So, where did the “E” score in OL akademik come from?. Plis deh, bikin sport jantung aja…untungnya saya dapat teman yang senasib meskipun cuma satu orang. Malamnya saya tidak bisa tidur tenang dan ingin cepat berganti hari, padahal ini nggak sekalinya saya berhadapan dengan nilai yang bermasalah. Seriiing…seharusnya udah kebal, tapi tetap saja saya jadi down seharian. Mungkin emang udah takdirnya jenis cobaan buat saya yang kaya begini ini…Allah tahu banget sisi kelemahan saya di mana, makanya Dia ngasih saya latihan berkali-kali. Ohya, meskipun sering, tapi kalo dihitung yang serius banget sampai saya ngejar-ngejar dosennya sih ‘baru’ tiga kali…ada yang sampai ke kamar rawat inap RS Hasan Sadikin, ada juga yang sampai datang ke ruangannya tiap hari selama empat hari. Huaa…

Setelah menunggu hampir 4 jam, kemarin saya ketemu dosennya. Waktu saya datang, saya lihat tugas saya sudah disiapkan di atas meja, kemudian saya mendengar kata-kata nggak enak dari sang dosen, “(@*(#*@(Y&#!*@*!@%#^!”

Ya itulah pokoknya, intinya beliau ngomel-ngomel karena dikira saya belum selesai mengerjakan tugasnya (hanya) karena nggak dijilid. Beliau juga bilang, “Saya malas bacanya”. Oh my Rabb…saya nggak nyangka dosen ini melihat pekerjaan mahasiswanya dari bungkusnya dulu. Bungkus jelek, nggak dianggap! Aduuh, teganyaaa…saya memang salah sih, tapi saya beneran nggak nyangka tugas saya nggak dibaca cuma karena nggak dijilid, terlebih lagi saya saat itu berpikir “yang penting kan isinya” dan nggak pernah merasa ibunya mewajibkan jilid. Ternyata tidak, sodara-sodara…Anda harus sangat berhati-hati dalam hal seperti ini karena beberapa tipe dosen memang seperti itu. Setelah ngobrol-ngobrol sama teman, kami mikir juga kenapa beliau kalo mementingkan jilid nggak bikin komponen penilaian sendiri untuk “penampilan” misalnya…sehingga kalo ada mahasiswa yang asal-asalan (seperti saya *sigh*) tetap bisa dapat nilai maksimal dari sisi lain. Bisa saja kan isi tugas saya lebih wow daripada mereka yang dijilid pake hardcover…coba kalo persentase penampilan vs. kualitas isi itu porsi nilainya 10% vs. 90%, lebih realistis kan. Yeah, anyway, apalah awak ini…hanya kaum jelata di negeri gajah duduk, jadinya cuma bisa nurut saja…hari ini pun saya harus mengumpulkan ulang tugas tersebut dalam keadaan sudah dijilid rapi.

Leave a comment

5 Comments

  1. Huaaaaaaaaa semoga bisa lulus Juli ya….😳

    Reply
  2. Ya semoga sukses , tetap semangat

    Reply
  1. Biaya E-KTP Sedikitnya Rp 75 Juta Per Kecamatan | Desa Ciburial

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: