Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Kejahatan


Lagi-lagi saya terlibat diskusi seru dengan sesama teman PPT (baca: Para Pencari Tuhan). Hehe, ngasal. Topik kali ini bermula dari sebuah quote di buku berjudul provokatif “Iblis Menggugat Tuhan”. Ditulis di belakang buku tersebut, quote itu bunyinya seperti ini:

Jika Tuhan Mahakuasa dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk disalahkan karena dosa-dosanya?

Pertanyaan yang menggelitik…dan kalo Anda cari, Anda pasti akan menemukan banyak pertanyaan serupa, bahkan gerundelan orang-orang atheis di berbagai forum. Beberapa pihak malah dengan improvisasi tak berdasar mereka, membawa ayat-ayat Al Qur’an sebagai senjata. Contoh ayat-ayat yang laris digunakan antara lain:

Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: ‘Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?'” (Q.S. Asy-Syura: 44)

Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu’jizat) dari Tuhannya?”. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”. (Q.S. Ar Ra’d:27)

Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa (Q.S. Ibrahim: 4)


Sekilas, ayat-ayat di atas seperti membenarkan pemikiran mereka. Sementara bagi mereka yang mengimani firman-Nya tanpa terkecuali, seharusnya dengan kritis bertanya, “ah masa sih Tuhan menakdirkan orang sesat?”, kemudian berusaha mencari tahu apa sebenarnya makna ayat-ayat tersebut. Dalam memahami suatu ayat Al Qur’an, kita nggak bisa nyomot sepotong-sepotong, tanpa melihat ayat lain, asbabun nuzulnya, dan tafsirnya. Sudah begitu pun, mungkin ada yang tetap tidak bisa dipahami logika manusia. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Bahkan Dia takkan pernah mampu engkau jangkau meski di ujung menara logikamu dan sering kali orang yang mencarinya tersesat…”

Sebelum masuk ke jawaban dari pertanyaan sekaligus pernyataan Iblis tadi, mari kita simak sebuah percakapan yang cukup populer antara seorang murid dan profesornya.

Seorang profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernahsakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.

“Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


*wew panjang juga, bikin tulisan saya melar*

Ya, menurut Einstein, kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Jadi, fitrahnya manusia itu baik karena Tuhan itu serba baik. Makanya ada istilah “tanyakan pada hati nuranimu”, berarti hati dasarnya murni kan. Meskipun kalo kita telaah lagi, keistimewaan manusia yang sesungguhnya terletak pada nafsu yang dimilikinya. Dengan nafsu, manusia punya keinginan dan bisa membangun peradaban, karenanya dipilih sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi. Nafsu itu dikasih Tuhan ada dua jenis: nafsu buruk dan nafsu baik, menurut ayat ini:

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Q.S. Asy Syams: 8)

Nafsu membuat kedudukan manusia sebagai makhluk paling mulia karena sesungguhnya tantangan dia paling besar di antara makhluk Tuhan lainnya. Manusia bisa memilih mau mengikuti nafsu buruk atau baiknya dan kemenangan terbesarnya adalah ketika dia mampu menaklukkan si nafsu buruk. Kalo malaikat kan sudah jelas memang ditakdirkan selalu nurut sama Tuhannya, sedangkan iblis sebaliknya. Nggak ada tantangannya kan? Hehe.

Dari sekelumit penuturan di atas saja sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa “kejahatan” asalnya tetap dari manusianya sendiri. Ketika nafsu buruk itu tidak bisa dikendalikan, ketika ia gegabah dan bodoh dalam menentukan pilihan, ketika bisikan jahat mengalahkan bisikan baiknya, saat itulah kejahatan berpotensi terjadi. Lalu kita kembalikan lagi ke pertanyaan iblis tadi:

Jika Tuhan Mahakuasa dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk disalahkan karena dosa-dosanya?

Kejahatan tidak termasuk “kehendak Tuhan”, seperti yang dijelaskan Einstein. Karakter atau kepribadian seseorang juga bukan takdir sebagaimana kelahiran, kematian, dan rezeki manusia (jodoh gimana? katanya harus diusahakan dan nggak saklek alias ada banyak kemungkinan). Bisikan jahat itu tadi asalnya dari iblis atau anak cucunya (baca: bangsa syaithon atau jin kafir). Pertanyaan tersebut sebenarnya seperti pernyataan Iblis yang berusaha membolak-balikkan fakta. Iblis bermaksud ‘mengkambinghitamkan’ kuasa Tuhan untuk permintaannya kepada Tuhan yang tertulis dalam ayat berikut:

“Iblis menjawab : ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S. Al-A’raf: 16-17)

Itu juga setelah dia diusir dari surga karena kebebalannya tidak mau tunduk kepada Adam seperti firman Tuhan berikut:

“…’Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.'” (Q.S. Al Kahfi: 50 )

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud kepada Adam ketika Aku menyuruhmu?’. Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Enggkau ciptakan dari tanah.'”(Q.S. Al A’raf: 12)

“Allah berfirman, ‘Maka turunlah engkau darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri didalamnya. Keluarlah! …” (Q.S. Al A’raf: 13)

“Iblis menjawab, ‘Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan’.” (Q.S. Al A’raf: 14)

“Allah menjawab, ‘Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu'” (Q.S. Al A’raf: 15)

Barulah setelah itu, Iblis mengajukan ‘ancaman’ yang disebutkan tadi. Ancaman iblis tersebut rupanya bukan hanya gertak sambal, tapi benar-benar dijalankannya. Manusia pertama pun langsung jadi korban dengan pelanggaran terhadap larangan memetik buah, sampai diusir Tuhan ke dunia. Jadi jelas kan sumber kejahatan itu siapa? bukan Tuhan pastinya. Tuhan hanya menyediakan fasilitas agar manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, selanjutnya manusia yang mengelolanya. Tuhan hanya mengabulkan permintaan Iblis untuk menangguhkan hukumannya sampai hari kiamat. Iblis saja yang nggak tahu terima kasih, malah maunya mencari sebanyak-banyaknya dari anak Adam buat menemaninya ke neraka.

Untuk yang satu ini Tuhan menjawab:

“Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.” (Q.S. Al A’raf: 18)

Leave a comment

6 Comments

  1. hmm… saya ga dukung klaim mana2 sih, tapi kayaknya cerita albert einstein dan profesornya itu hoax http://urbanlegends.about.com/od/religion/a/einstein_god.htm

    Reply
    • terlepas itu hoax atau tidak, tapi teori yang ada didalamnya benar kan? sama seperti puisi Habibie buat istrinya yang katanya bukan buatan dia, tetep aja puisinya bagus =P

      Reply
      • saya komen bukan untuk bilang bahwa saya setuju ato ga terhadap teorinya sih, cuma kurang sreg aja karena nama besar einstein ini dipakai oleh pihak tertentu agar seolah2 teorinya didukung ilmuwan besar. yah sama kayak puisi buat istri habibie, seandainya bagus pun, ga selayaknya puisi itu mencatut nama habibie.

        Reply
        • oh gitu ya…kalo gitu Anda bisa memilih untuk menjadi pihak yang ikut berusaha mencari tahu kebenarannya dan mempublikasikannya kepada khalayak umum, jadi biar semakin banyak yang tahu kalo itu hoax (kalo emang hoax)…hoho

          Reply
          • udah kok, makanya linknya udah saya tulis di komen di atas untuk jadi bahan pertimbangan orang kalo baca🙂

            Reply
  2. panji prabowo

     /  June 25, 2010

    udah pernah baca nih, bukunya..menambah wawasan sih, tapi klo lagi lemah iman bisa terjerumus..hehehe..

    baru tahu klo itu cerita mahasiswa-profesor, mahasiswanya adalah einstein..

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: