Untold (Chapter 1)


Semalam saya baru saja mengikuti prosesi syukuran wisuda yang difasilitasi himpunan prodi tempat saya bernaung. Acara berlangsung cukup seru buat saya yang notabene jarang datang ke acara semacam itu ketika kakak kelas yang wisuda😀 Bukan apa-apa, sebenarnya saya memang agak kurang suka dengan pepestaan (iya, kata ini nggak baku) dan karena rata-rata ada joget-joget ‘erotis’ di atas panggung. Untungnya saya cukup bangga dengan angkatan saya yang selalu menampilkan pertunjukan yang ‘lebih ilmiah’ daripada wujud seperti itu.

Balik lagi ke acara tadi, di acara syukwis semalam itu ada botol testimonial buat semua wisudawan. Seperti yang sudah-sudah, saya sih selalu senang dapat komentar dari orang lain, apalagi yang panjang. FYI, saya pernah bagi-bagi kertas testimoni di dua ultah saya dan ternyata kebanyakan orang bisa menulis tentang diri saya sepanjang 2 x kertas B5. Sughoi…terima kasih kawan. Kali ini, meskipun tidak sebanyak itu, saya tetap saja senang, padahal baru dua minggu lalu saya dapat testimonial juga dari jalan-jalan angkatan. Sebagai rasa terima kasih saya, di sini saya akan menanggapinya secara global dan mengungkapkan beberapa hal yang mungkin belum pernah saya ungkapkan.

Pandangan sekilas tentang teman-teman kuliah saya

Masuk ke ITB, khususnya STEI, sudah barang tentu anugrah besar bagi saya. Namun, sejak saat itu pula, saya menghadapi tantangan yang belum pernah saya alami sebelumnya, yaitu saya harus berinteraksi dan bergaul dengan orang-orang ala anak gaul Bandung atau Jakarta (atau kota besar lain yang anak mudanya sejenis) dengan segala bentuk gaya hidup mereka yang asing bagi saya. Setahun di STEI, saya pun nyatanya cuma bisa dekat sama beberapa anak ‘Jawa’ (baca: tidak termasuk Jabar dan DKIJ) dan luar Jawa. Saya ingat betul, saat itu saya masih takut sama teman-teman yang saya definisikan ‘gaul’ tadi. Takut kalo saya ikut gila bareng mereka, saya paling cupu dan mereka berpikir “idih, apaan deh? udik, garing” dan sebagainya. Takut juga kalo gaya hidup saya tidak bisa berdamai dengan gaya hidup mereka. Macam-macam lah pokoknya. Akhirnya, sampai masuk prodi IF pun, saya tetap menjaga jarak dengan mereka. Masih dengan alasan yang kira-kira: oho, sepertinya kita tidak selevel.

Di tahun-tahun berikutnya, yang saya sadari adalah Tuhan menempatkan saya di IF (BTW, saya pilih Elektro di kuesionar prodi ketiga, tapi telat dimasukkan) agar saya bisa mengenal mereka secara cantik. Saya tidak bisa mengelak gempuran tugas demi tugas yang mayoritas mengharuskan kami membentuk kelompok, dengan atau tanpa kerelaan hati. Pola tugas di IF memang sangat identik dengan team work. Bikin software itu memang biasanya setim kan? mabok aja kalo sendiri-sendiri. Karena tugas-tugas inilah, saya mulai bertemu dan mengenal berbagai jenis orang, termasuk yang sebelumnya cenderung saya ‘segani’. Oke, setelah momen itu kesimpulannya mereka memang sangat berbeda dengan saya dan teman-teman sekolah saya selama ini, tapi bukankah perbedaan itu bukan hal yang boleh dijauhi dan justru harus dihadapi? Dari situ saya belajar memahami mereka.

Saya nggak ingat pastinya kapan, tapi akhirnya lambat laun saya bisa mulai nyaman dengan mereka. Sumpah, ini perubahan besar bagi saya. Kalo nggak salah, saya pernah mencatatnya di buku harian. Saya merasa mereka akhirnya menjadi ‘teman’ saya juga. Meskipun demikian, saya masih sulit untuk ikut nyemplung di acara-acara mereka. Singkat cerita, saat ini keadaan sudah berjalan normal. Saya bisa menganggap mereka sama seperti teman-teman lain. Sama-sama menyenangkan. Sama-sama baik. Sama-sama cupu juga kadang-kadang. Seandainya saya kuliah di Jawa (terutama univ-univ yang kaya pindahannya SMA saya), mungkin tidak akan semenantang ini situasinya.

Begitulah, waktu berlalu begitu cepat sampai saya dapati saya menjadi orang yang jarang muncul di acara angkatan hingga lulus. Agak aneh sebenarnya berhubung sejak TK saya ini super aktif dan eksis di acara apa pun. Ahaha. Entah mengapa saya belum bisa menemukan teman-teman dekat yang bisa curhat sejujur-jujurnya dan becanda segila-gilanya seperti saat sekolah dulu. Mungkin benar apa yang dikatakan banyak orang bahwa di bangku kuliah orang-orang akan cenderung lebih individual. Ada sedikit penyesalan bahwa saya baru bisa merasa dekat dengan mereka di akhir-akhir…yah kurang lebih 1-2 tahun terakhir. Meskipun begitu, saya tetap bersyukur dikasih teman-teman yang sepenuhwarna mereka. Membuat saya lebih tangguh menghadapi hidup. Tsah…lebai.

BTW, dalam kurun dua tahun terakhir itu pula saya sering dibilang apatis atau emte (MT=Makan Teman). Sebenarnya julukan “apatis” berawal dari sini, tapi sepertinya karena dasarnya saya memang jarang nongol tadi, julukan itu meluas, melebar, dan meninggi diberikan dalam keadaan apa pun. Yang lucu adalah ketika julukan itu ngetop, sebenarnya saya tetap orang yang sama sebelum julukan itu ada. Bahkan, saya jauh lebih ‘beredar’ daripada sebelumnya. Dengan kata lain, dulu-dulu nggak ada yang membahas ketidakadaan saya, lalu tiba-tiba saya jadi diingat sebagai orang yang apatis atau emte kalo saya nggak ada. Hahaha. Emang sih kadang di acara-acara itu ada sesuatu yang harus dibantu atau mungkin saya harus datang sekedar memberi dukungan bagi mereka, tapi toh banyak juga orang lain yang begitu tapi mereka nggak dibilang apa-apa. Emang dasar pada suka ngejek saya aja. Wekk😛

Eniwei, saya berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman kuliah saya. Kalian sudah menuliskan sejarah dalam hidup saya. Banyak kata yang masih ingin saya ungkapkan dan semoga masih ada kesempatan itu di tulisan berikutnya🙂
(bersambung)

Leave a comment

7 Comments

  1. hihiii ega soswiiiitt *peluuuukkk*

    Reply
  2. limaapril

     /  July 18, 2010

    apatis😀

    Reply
  3. selamat yah kak ega udah lulus🙂

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: