Tentang LAMP Stack


Ada hal menarik di salah satu lowongan pekerjaan yang mampir ke mata saya. Perusahaan memasang syarat “excellent implementation skill in the LAMP stack” untuk calon SDM-nya. Sebagai pecinta OS pinguin, saya jadi merasa punya ‘teman’…hehe. Selain senang sama perusahaan yang memberi perhatian khusus untuk hal satu ini, saya dari dulu juga suka berandai-andai kalo berkesempatan merekrut karyawan akan mencantumkan syarat itu juga. Cerita tugas akhir saya juga begitu. Sejak awal pengerjaan saya pengen bisa menghasilkan aplikasi yang tidak ribet dan tidak tergantung platform tertentu dalam menjalankannya. Alhamdulillah bisa terwujud karena implementasi di LAMP stack mampu menjawabnya.

Jadi apa sih sebenarnya LAMP stack itu? Stack itu kan tumpukan ya, sedangkan LAMP itu singkatan dari Linux, Apache, MySQL, dan PHP/Python/Perl/PgSQL. Silakan diinterpretasi sendiri deh arti keseluruhannya😛 Intinya sih teknologi yang berbasis itu semua. Biar lebih ilmiah menjelaskannya, berikut saya kutip beberapa hal dari salah satu slide presentasi yang saya temukan.

Situs apa yang jadi langganan Anda selama berselancar di dunia maya?
Facebook?
Google?
YouTube?
Flickr?
Wikipedia?
dan masih banyak lagi tentunya.

Apa pun situsnya, yang jelas mungkin kita jarang kepikiran di atas apa mereka semua berjalan. Tsah, bahasanya. Iya, mereka…para situs yang setiap hari Anda buka itu sebenarnya berjalan di atas si LAMP ini. Anda bisa mengeceknya di sini atau situs lain yang sejenis. Misalnya di contoh berikut saya mengecek situs Diolabs:

Dengan kondisi saat ini, LAMP sudah barang tentu akan menjadi teknologi aplikasi web masa depan (seperti halnya software atau OS open source yang akan menjadi masa depan kita..haha). Kenapa bukan .Net, Java, atau lainnya? bukankah mereka terkenal juga? wah ya coba tanyakan pada rumput yang bergoyang😀 Yang jelas sih, LAMP sendiri punya kelebihan yang telah teruji selama ini, contohnya:

  • Lebih aman
  • Tingkat skalabilitas tinggi
  • Open source
  • Biaya rendah (jelas karena semua serba gratis)
  • Performansi bagus

Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa masih ada perusahaan yang takut untuk beralih ke sana? apalagi kalo kita lihat kondisi di lapangan bahwa sisi keamanan informasi dalam hal serangan kode perusak tingkatnya sangat tinggi dan menghabiskan waktu, tenaga, biaya yang tidak sedikit untuk memulihkannya…kenapa tidak sekalian pada ganti ke open source saja? Jawabannya sudah menjadi rahasia umum: kebiasaan sulit diubah. Karena sejak dahulu kala kita sudah dicekoki Microsoft, misalnya, jadilah yang kita kenal dekat dia. Sulit bagi perusahaan untuk mencari orang yang capable dengan LAMP. Dari perusahaan yang pekerjaannya cuma pakai office suite saja sampai pengembang software, sama saja sulitnya cari orang yang akrab dengan Linux dan kawan-kawannya.

Jangankan jauh-jauh memikirkan perusahaan, di kalangan mahasiswa sendiri pun, berapa orang sih yang pakai Linux? mereka bilang itu makanannya teknisi atau administrator saja. Memang tidak heran karena kenyataannya begitu. Karena kebiasaan, banyak orang yang malas keluar dari zona amannya. Bagaimana kalo terjadi kesulitan? mereka akan susah mencari orang yang bisa ditanya. Dari pengalaman, ujung-ujungnya sih memang pengguna Linux akan sangat mengandalkan mesin pencari di internet untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri, tapi justru di situlah letak tantangannya. Kita bisa mengusut sendiri kesalahan yang terjadi di komputer kita, bukan hanya disuguhi kotak dialog dengan pilihan “Send Report” atau “Don’t Send” saja😆

Oke, sumbernya ada di sini nih…

Previous Post
Leave a comment

11 Comments

  1. jadi, ngelamar ke perusahaan yg bersangkutan neh ceritanya?😛

    Reply
  2. (ninja)

     /  July 20, 2010

    setahu saya MySQL sekarang atau ke depannya jika dipergunakan untuk keperluan selain non-profit akan dikenakan biaya lisensi… CMIIW

    Reply
    • iya saya juga pernah dengar mySQL akan nggak gratis lagi karena dibeli Oracle (biar Oracle ga ada saingan) tapi beritanya belum saya cari lebih lanjut

      Reply
  3. facebook cuma pake 2 server Apache 1.3 dari 10. google sama sekali nggak pake Apache melainkan pakai gws. flickr juga tidak pakai Apache. nah loh?

    Reply
  4. Flicker pakai Apache koq. Barusan aku cek pake telnet, dari responnya masih bilang kalau servernya Apache. Di NetCraft memang ditulis server YTS (Yahoo Traffic Server). Itu caching server yang dibeli Yahoo dari Inktomi. Web Servernya masih diyakini pakai Apache.

    Facebook memang unknown server, tapi itu juga bisa jadi Apache yang dimatikan ServerTokennya.

    GWS yang di pakai Google juga diduga banyak orang sebagai modified version dari Apache. Google sering melakukan modifikasi pada banyak proyek Open Source untuk menyesuaikan proyek-proyek itu terhadap lingkungan internal Google.

    Ada beberapa proyek Open Source alternatif untuk Apache sebetulnya. Di antaranya Nginx, Ligthttpd dan Cherokee. Tapi dari segi fitur masih kalah dibanding Apache. Jadi, Apache masih megang lah…🙂

    Reply
  5. Lingga

     /  August 25, 2010

    saya bukan orang IT, ngerti komputer cuma kulitnya doang, tp sbg orang awam, nyaman sekali rasanya pake linux.😀
    syaratnya utk org2 kayak saya sih cuma satu, koneksi internet yg berkecukupan. ya seperti tertulis di akhir tulisan. (baca: mengandalkan mesin pencari utk segala jenis permasalahan)😀

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: