ASI Tanggung Jawab Ayah?


Terinspirasi dari berita larangan memberikan susu formula kepada bayi korban bencana, saya jadi ingin menulis tentang ASI😀

Beberapa minggu lalu, senior saya yang baru saja melahirkan bercerita tentang perjuangannya menjalani masa kehamilan hingga melahirkan anak. Secara kebetulan, ia mendapat wejangan dari pengajian bahwa sesungguhnya ASI (Air Susu Ibu) yang sangat dianjurkan untuk diberikan kepada bayi bukan hanya peran ibu semata, tetapi juga tanggung jawab bahkan kewajiban seorang ayah. Lha kok bisa? Ayah kan nggak punya ASI? LOL, oke mari kita telusuri kenapa begitu…

ASI merupakan sumber gizi utama bayi yang tidak dapat digantikan oleh apa pun di dunia ini, sekalipun ada yang namanya susu formula. Bisa dibilang ASI adalah salah satu bentuk kebesaran Tuhan. Dari cairan tersebut, bayi mendapatkan sari-sari makanan saat ia belum bisa mendapatkannya dari “makanan” yang sesungguhnya, untuk kebutuhan pertumbuhannya. Di dalam ASI juga terdapat zat-zat kekebalan tubuh yang langsung berfungsi melawan serangan penyakit sekaligus menyediakan lingkungan hidup bagi bakteri baik. ASI juga penting untuk perkembangan otak, maka semakin banyak ASI yang diterima bayi di masa kecilnya, semakin pintar dia nantinya. Menurut WHO, ASI ekslusif (ASIX) wajib diberikan kepada bayi sampai usia enam bulan, sedangkan Islam menganjurkan selama dua tahun berdasarkan clue yang disebutkan dalam kitabullah.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (Q. S. Al Baqarah: 233)

Rekomendasi UNICEF ternyata mendukung hal ini, yaitu selain pemberian makanan bergizi seimbang dan imunisasi, bayi usia 12-24 bulan sebaiknya disusui sesering mungkin. Manfaatnya bisa Anda baca di sini.

Begitu pentingnya ASI, maka ibu yang bijaksana pasti akan berusaha menyusui anaknya dibandingkan menggantinya dengan susu formula. Banyak juga yang rela cuti dari pekerjaannya demi bisa memberi ASIX. Di sisi lain, tidak semua wanita dikaruniai ASI yang ideal. Ada wanita yang sudah melahirkan, tapi ASI-nya belum keluar atau kalau pun keluar, keluarnya sedikit. Ada juga yang ASI-nya keluar normal, hanya saja terlalu cair, kurang putih, atau kekurangan lainnya (maaf, saya nggak terlalu paham juga :D). Tentu saja itu semua nggak ada hubungannya dengan besar (maaf) payudara atau pun bentuknya. Faktor psikologis, lingkungan, dan makanan yang dikonsumsi ibulah yang mempengaruhi hal tersebut. Satu hal yang pasti sih, dengan kuasa-Nya, saat seorang wanita hamil otomatis akan terbentuk kelenjar susu yang selanjutnya memproduksi ASI. Nah, sekarang bagaimana agar bayi mendapat jaminan ASI yang bagus? Jeng jeng jeng, di sinilah peran ayah dipertaruhkan.

Sebelumnya, mari kita mengingat bahwa Nabi Muhammad SAW saat masih bayi dulu disusukan pada Halimatus Sadiyah yang tinggal di daerah lain dari tempat tinggal orang tuanya di Mekkah. Pada zaman itu memang dalam masyarakat Arab, sudah menjadi hal yang lumrah bagi keluarga yang mampu, untuk mengusahakan ASI yang bagus bagi bayi-bayi mereka. ASI bagus belum tentu dimiliki oleh ibu sang bayi. Jika ada yang lebih baik kualitasnya daripada milik sang ibu, mereka memilih menyusukan anaknya ke ibu susu. Jadilah ASI ibarat bisnis, wanita yang merasa ASI-nya bagus, dapat menawarkannya pada keluarga yang membutuhkan.

Balik lagi ke cerita nabi… saat itu Siti Aminah, ibu nabi, tidak mampu memberikan ASI (tidak keluar atau kering), tapi beliau tidak rela memberi bayinya susu kambing yang sebenarnya ada banyak dirumahnya. Halimatus Sadiyah merupakan pilihan tepat karena selain wanita ini memang dikenal baik kualitas ASI-nya, ia juga tinggal di desa Rani Sa’ad yang tenang, damai, sejuk… yah bisa dibayangkan lah ya gimana suasana pedesaan. Konon wanita di desa berpotensi menghasilkan ASI yang berkualitas lebih baik daripada wanita yang hidup di perkotaan. Hal ini mungkin dipengaruhi suasana kota yang memicu tingkat stres lebih tinggi.


Selain itu, dari segi makanan juga di kota lebih beragam dan ‘aneh-aneh’ daripada di desa. Masuk lah itu bahan-bahan pengawet, obat-obatan (kalo sakit, biasanya ga cuma satu macem pula), penyedap buatan, dan sebagainya (doh)…

Dari contoh kisah nabi tadi, ASI pada saat itu dan lingkungan itu, sudah barang tentu nggak gratis. Hehe. Ibu susu tadi akan mendapat ‘insentif’ dari keluarga yang menyusukan anaknya. Di sinilah tugas sang ayah dalam menyediakan ASI terbaik untuk bayinya, mulai dari mencari ibu susu yang tepat sampai membayar penyusuan. ASI harus masuk ke alokasi nafkahnya. Rupanya, bisnis jasa menyusui ini masih ada lho sampai sekarang di negara-negara timur tengah sana. Harusnya di negara lain juga gitu ya, kan mulai banyak tuh wanita karier yang ogah menyusui bayinya. Boro-boro deh, yang ogah melahirkan aja banyak. Daripada dikasih susu instan, mending kan disusukan ke orang lain.

Bagaimana dengan kita yang tidak lazim dengan bisnis ASI itu? Note: Selain tidak lazim, mungkin banyak yang berpikir kurang pantas juga ya zaman sekarang. Tetap saja seorang ayah tidak lepas dari kewajiban itu (muhaha). Ayah bertanggung jawab menjamin kualitas ASI untuk bayinya sejak sang ibu hamil sampai masa menyusuinya habis. Caranya? Buat para pria: you know it so well lah (SM*SH mode). Haha. Bisa saja dengan menjamin asupan gizi sang ibu, misalnya dikasih uang belanja lebih buat beli makanan-makanan yang begizi tinggi sekaligus enak😛 atau diturutin saat ngidam. Bisa juga selalu menyediakan ‘tempat’ yang nyaman bagi sang ibu, misalnya nggak dibikin bete, dibantuin saat repot (biar nggak kecapekan, hamil kan capek :P), dan bentuk pelayanan-pelayanan ‘khusus’ lainnya. Bisa kan, bapak-bapak (termasuk calon bapak)? Harus dong…

Cerita selesai😉

Artikel terkait yang saya temukan di sini cukup menarik juga. Baca deh bagian “Ayah dan ASI”🙂

Leave a comment

7 Comments

  1. jadi sekarang ngidam apa, Ga?😀

    Reply
  2. hmm…
    paragraf terakhir dimanfaatkan secara oportunis untuk mengeksplotasi “kewajiban” pria😀

    — salam kenal —

    Reply
  3. hehe,, pertanda mau makan-makan nii, aseeekkk..

    Reply
  4. jdi kebayang kalo punya anak nanti,,
    mau di cari ibu susu yang kayak mana ya..
    soalnya sekarang susah tuk nyari seorang ibu susu..
    boro boro yang taat ibadah… yang mau menyusui aja langka..

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: