Icebreaking


Kenapa judulnya “Icebreaking”? Baca aja kapan terakhir saya rilis tulisan di blog ini😀 karena sudah the end of january, tabu rasanya jika saya tidak mengawali tulisan di tahun 2011 hari ini..hehe.

Oke, kita mulai dari cerita saya pascalulus. Saya tidak sebut “pascasarjana” sebab khawatir menimbulkan salah persepsi (walaupun berharap dipersepsikan begitu, haha). Akan banyak klise yang tidak saya tampilkan sih dengan alasan privasi, tapi semoga yang ditampilkan bisa sedikit bermakna buat yang baca😛

Status Sarjana
Sampai sekarang saya belum merasa hal satu ini penting, tapi saya selalu leganya ketika mengingat kalo saya sudah lulus. Kata orang, “satu milestone hidup telah terpenuhi”. Dengan terlewatinya tahap tersebut, kita punya berbagai peluang baru untuk hidup selanjutnya. Berbedanya dari kelulusan sekolah, lulus pendidikan S1 artinya kita nggak dianggap sebagai orang yang pantas ‘dibelaskasihani’ lagi (misalnya, tarif atau diskon khusus diberlakukan untuk ‘pelajar/mahasiswa’), orang yang masih boleh berbuat salah, orang yang nggak-dewasa, dan semacamnya.

Nggak juga sih -> ada yang bilang gitu ya? Boleh, tapi jangan protes, pendapat saya gitu😛

At least, yang termodelkan di masyarakat kita itu kaya begitu. Mau kamu kuliah S2 dan jadi mahasiswa lagi kek, tetap saja beda. Nggak pantas diberlakukan sebagai ‘anak-anak’ mahasiswa S1 yang sering “orang pada ngalah sama mereka” itu. Moreover, being graduate/postgraduate student is an optional. Begitu lulus biasanya juga dikasih ucapan “welcome to the jungle” kan? Itu pertanda bahwa kita sudah harus mulai bantu bayar utang negara alias k.e.r.j.a dan memasuki kehidupan nan keras ini. Tsah..

Mengingat itu semua, saya pun mulai memikirkan tiga hal setelah lulus (dan heiii saya menyebutnya dengan istilah yang dulu ngetren sekali saat kelas tiga SMA): KKN – Kuliah Kerja Nikah. Hihihi. Bisa juga ternyata diterapkan pasca S1. Habis apa lagi yang kita cari usai kuliah sarjana kalau bukan itu? Rezeki Allah ternyata dari yang tengah dulu: Kerja. Alhamdulillah hari kerja pertama setelah lulus saya bisa kerja proyekan dengan senior dan dosen. Saya saat itu (sampai sekarang sih) memang belum ingin melamar kerja di perusahaan. Ada pertimbangan lain aja, juga ingin punya waktu lebih untuk melakukan hal-hal yang dulu tidak sempat saya realisasikan saat sibuk kuliah.

Next, saya dapat proyek selanjutnya dari alumni. Jadi single fighter tapi bisa kerja di rumah, tinggal kirim email dan kadang pergi bertamasya eh..ketemu klien. Senangnya..kaya gitu tuh kerja impian saya. Bisa di rumah sambil ngawasin anak dan ngerjain gawean rumah tangga *lho ngelantur* -> ini maksudnya ntar kalo udah berkeluarga..

‘Kontemplasi’ Pascalulus
Entah bagaimana mulanya, secara kebetulan, berturut-turut sejak lulus sampai sekarang, saya terlibat banyak diskusi dengan kawan baru maupun lama. Kebanyakan diskusi itu seperti sharing aja tentang mereka yang sudah kerja di kantor, kuliah pascasarjana, atau berumah tangga. Tuh kan KKN lagi, padahal saya nggak sengaja juga. Diskusi tersebut banyak membuka pikiran saya.

Soal kerja di kantor, salah satunya tentang fenomena anak ‘itebe’. Memang sudah sering saya dengar bahwa meskipun lulusan itebe banyak diminati company, mereka juga ‘ditakuti’ (dan disebelin pastinya) karena suka jadi kutu loncat. Maksudnya suka pindah-pindah tempat kerja, nggak betahan di satu tempat. Banyak alasan pastinya, tapi kebanyakan karena “ingin berkembang”, bisa gaji, skill, posisi, atau lainnya. Sementara lulusan kampus lain konon jauh lebih bisa bertahan lama-lama di kantornya. Setelah saya lihat ini terjadi pada teman-teman saya sendiri dan senior yang selama ini main bareng, barulah saya percaya…dan bertanya. Why?

Menurut pengakuan mereka, bukan gaji yang semata-mata ingin membuat mereka pindah, tapi juga rekan kerja dan iklim kerja yang tidak nyaman. Lulusan itebe, dengan pamor kampusnya yang tinggi, banyak yang cenderung jadi dominan saat harus bekerja dalam tim. Mereka sulit mempercayakan pekerjaan pada orang lain yang bukan lulusan itebe, tidak ingin disetir, ingin bekerja dengan caranya, dan sebagainya. Beberapa merasa sulit berkreasi karena perusahaannya dinilai masih konvensional (jadul, nggak gaul gitu deh..).

Yang mengejutkan juga, ada yang mengaku bahwa pekerjaannya tidak sepadan dengan ilmu yang susah payah dia pelajari selama ini di kampus. Ilmunya ketinggian, nggak aplikatif di dunia kerja. Well..tentang ini, mungkin karena di kampus kami di-dogma bahwa ranah kami adalah konsep, ide, manajemen, semua yang serba “soft” lah pokoknya. Memang benar secara tidak langsung itu menjadi doa agar kami menjadi pemimpin nantinya, yang lebih banyak menguras otaknya bukan tenaganya. Wajar jika di lapangan, fresh graduate yang belum bisa memegang peran itu dan terpaksa jadi ‘pegawai’ merasa ‘tersinggung’ dengan ‘pekerjaan kasar’-nya. Tak heran banyak yang jadi “S2/S3 oriented”, karena daripada kerja tapi tidak puas mending sekolah lagi.

Bahasa saya dan teman saya, “kayanya lulusan kita tuh maunya langsung dari 10 deh kalo kerja, bukan dari 0”. Terkait dengan fenomena di atas, lulusan itebe di dunia kerja tidak hanya terkenal kutu loncat tapi juga dicap individualis. Wah..wah..tentu ini mengkhawatirkan, tapi kalo Anda sudah baca alasan di atas, harap maklum ya😀

Soal kuliah pascasarjana udah disambungin sedikit dalam cerita di atas ya..

Soal berumah tangga..wah ini.. Dalam semester pertama pascalulus ini saya ketemuuu aja deh sama ibu-ibu dan mbak-mbak yang tiba-tiba cerita aja ngalor ngidul tentang kehidupan rumah tangga mereka. Hore, saya dapat banyak wawasan dari mereka. Mulai dari kisah hamil-melahirkan-menyusui, keguguran, menjalin hubungan dengan saudara, mengambil peran di masyarakat, memasak, mengurus anak, sampai kisah malam pertama juga ada. Haha. Kalo kata Sherina mah “pokoknya kesemuanya itu tidak kalah menarik deh..dari yang kita lihat di negara topik lain..oke, teman-teman, pesan saya kita harus bangga dengan milikhidup kita sendiri..bye bye”😉

Bye bye beneran ya..

NB:
*
Buat teman-teman pascalulus, selamat berjuang! You’ll never walk alone..
*
Buat teman-teman yang akan lulus, ayooo selesaikan dengan semangat kuliahnya. Percayalah sesungguhnya tidak ada yang namanya “lebih baik lulus di saat yang tepat daripada lulus tepat waktu”😛

Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. panji prabowo

     /  January 31, 2011

    dari KKN tinggal N nya yang belom ga..gih sono..hahaha…

    Reply
  2. Inas Luthfi

     /  January 31, 2011

    Wah pilihannya kurang atuh, tambahin yang mau bikin usaha sendiri😀

    Benar-benar mulai dari nol, belajar macem-macem tentang usaha. Nanya sana, nanya sini, ngurusin legalitas sampai menjaga hubungan ke korporat, gimana caranya supaya tim tetap kompak dan semangat, dkk. Tapi ya harus tahan hidup sederhana dulu😀

    Reply
  3. selamat menikmati kisah2 hidup kita selanjutnya🙂

    Reply
  1. Icebreaking « .:: si /-|ebat ::. - Website Kumpulan Dongeng

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: