They’re Special


Habis Magrib tadi saya terpikir satu ide untuk ditulis di blog. Secara kebetulan, malamnya JDorama yang saya tonton, School!, ternyata ceritanya nyambung dengan ide saya itu. Sebelum hilang bersama angin, saya tuliskan seadanya.

Saya mengamati bahwa banyak kasus di mana sebuah keluarga mempunyai anak yang not on the right way. Bentuknya bermacam-macam, bisa berupa nakal nggak ketulungan, malas parah, cuek banget, dan berbagai anomali lain yang dipandang kebanyakan orang dengan ‘kernyitan dahi’. Ngerti kan ya maksud saya.

Oke, kita ambil beberapa contoh dari lingkungan sekitar saya.

Satu
Adik saya misalnya, seorang cowok ABG yang sebenarnya cerdas, berhasil membuat ibu saya nangis karena nilai try out-nya jelek, sementara ujian nasional SMP tinggal sebulan lagi. Lidah orang tua saya kayanya udah tipis buat ngingetin dia belajar, tapi dia cuma janji bakal ngasih nilai baik saat kelulusan. Adik saya itu freak dengan game online setelah sebelumnya nggak terpisahkan dari playstation-nya. Gara-gara itu, English-nya superjago, bahkan sejak kelas 1 SD selalu mengantongi nilai tertinggi ujian bahasa Inggris di kelasnya. Saat kelulusan SD, dia juga mencengangkan karena jadi peraih nilai ujian tertinggi kedua di sekolahnya.

Seiring dengan internet unlimited yang dilanggan ayah saya, ‘bakat’ gamer itu dia kembangkan. Menawarkan jasa sebagai pemain, menjadi moderator milis-forum game, berkorespondensi dengan sesama gamer dari berbagai negara, sampai akhirnya dia minta dibeliin alat (saya kurang paham) yang katanya buat semacam server game. Beberapa kali dia dapat saweran dari hasil memainkan game untuk temannya*. Melihat kesehariannya, saya kira dia sudah kehilangan sense buat melahap pelajaran-pelajaran di sekolah yang seabrek itu. Ditambah gurunya yang masih konservatif, kurang bisa melihat kondisi psikologis dan bakat anak.

Dua
Seorang adik teman saya punya ‘kasus’ sejenis. Dia cinta mati sama yang namanya musik, khususnya marching band. Ditekuninya alat musik brass segala jenis (trumpet, tuba, dsb.) bertahun-tahun sampai dia dipercaya melatih tim marching band di berbagai tempat. Kompetisi dan manggung udah nggak terhitung lagi. Namun, kehidupan akademiknya tak seindah musiknya. Dia jatuh bangun mengikuti pendidikan formal di bidang kesehatan yang rumit sekali baginya. Ketika warning jumlah SKS-tidak-lulus disampaikan, dia ambil langkah untuk undur diri dan mencari kampus lain.

Meski usianya sudah harus lulus kuliah, dia tetap semangat belajar. Kali ini, dicarinya bidang yang sejalan dengan jiwanya: musik. Perguruan tinggi negeri sudah tidak bisa terima karena jarak antara lulus SMA dan masuk kuliah maksimal sudah lewat. Diikutinya seleksi di beberapa perguruan tinggi swasta, tapi rupanya dia pun kurang beruntung. Konon, karena alat musik yang dikuasainya termasuk langka dan kurang cocok dengan fokus materi kuliah (kebanyakan menjurus ke orkestra, band, atau musisi). Singkatnya, entah bagaimana alasannya, dia memilih kuliah bisnis. Mulai dari nol lagi, dengan materi dan kurikulum ‘konvensional’. Bisakah dia bertahan sampai wisuda? Wallahu’alam.

Tiga
Kasus ketiga adalah tentang sepupu saya. Sama dengan dua orang di atas yang notabene saudara-saudara kandungnya ‘normal-normal’ saja bahkan berprestasi, sepupu yang ini juga paling nyeleneh di antara empat kakaknya. Masa kecilnya bertabur pujian karena pintar menggambar. Dia pun sering ditunjuk untuk mewakili sekolah di lomba-lomba melukis tingkat kabupaten atau provinsi. Bakat itu sayangnya tidak diasah dan berhenti begitu saja saat SD.

Sepupu saya yang satu ini santai luar biasa. Dia seperti tidak punya beban dan tanggung jawab dalam hidupnya. Setiap hari sampai sekarang, ibunya harus selalu membangunkan kalo udah pagi, juga seringkali menanyakan tugas sekolah, PR, dan les. Beberapa kali dapat peringatan karena telat. Sama seperti adik saya, dia tampaknya kurang tertarik dengan pelajaran-pelajaran standar SMP yang tiap hari dijejalkan ke otaknya.

Saya yakin banyak di luar sana yang mengalami kasus serupa. Saya sendiri menilai anak-anak kaya mereka itu sebenarnya spesial seandainya didukung untuk memilih jalan yang sesuai dengan jiwanya, meskipun tidak lazim. Sementara masyarakat kita masih banyak yang memandang dalam frame ‘kalo nggak ikut mainstream, gimanaa gitu’, apalagi kalo gagal didalamnya.. udah dianggap kaya nggak punya masa depan aja. Sedihnya.. bukannya difasilitasi, malah disudutkan.

To be honest, terkait dengan itu saya khawatir sama cara pendidikan konvensional sekarang yang lebih mengejar kurikulum dibandingkan digging deeply potensi anak. Padahal kalo anak diarahkan dari kecil sesuai kesukaannya, dia pasti dengan senang hati belajar. Misalnya, anak yang senang musik, diarahkan ke sekolah musik. Kaya Justin Bieber yang katanya emang udah dibentuk jadi artis dari kecil, bakatnya pun makin bersinar.

Sudah saatnya lah kita sebagai calon orang tua modern keluar dari pemikiran konvensional bahwa sekolah harus belajar trigonometri, tahu tanggal perang, hapal mampus rumus ekonomi, dan sebagainya yang sebenarnya tidak semua terpakai nantinya dan tidak semua anak membutuhkannya. Saudara saya ada yang ngefans sekali dengan homeschooling dan berencana menerapkannya untuk anak-anaknya, tetapi buat saya tidak harus juga seperti itu. Kalo ada sekolah bagus yang bisa mewadahi dan mengarahkan anak-anak spesial kaya contoh tadi, bisa jadi pilihan. Mungkin memang harganya jauh lebih mahal dari sekolah reguler, tapi akan terbayar ketika melihat anak tumbuh bersama keahliannya dengan pasti.

Kadang heran ya, di tingkat perguruan tinggi pun kita masih dituntut mengikuti kuliah demi “memenuhi kurikulum”. Ayah saya cerita dulu di kampusnya banyak mahasiswa abadi yang terjegal di kuliah “Filsafat Pancasila” terdiri dari 4 jilid padahal jurusannya teknik sipil! Nggak kepake juga kan. Saya sendiri menghabiskan waktu setahun sendiri untuk berkutat dengan kalkulus, fisika, dan kimia (plus kuliah-kuliah lain tentunya) yang notabene tidak terpakai saat di teknik informatika. Heuuu..capek kali pun.

Leave a comment

2 Comments

  1. yups,, sependapat sama kamu Ga.. adikku juga gitu, kayaknya dia gak bakat di akademik,, tapi ama ortu masih aja di”jejeli” keakademikan dan gak dikasih peluang ngeksplor sisi lainnya,,,

    di jepang belajar yang banyak yaa,, serap ilmu dan nilai positif mereka,, ntar mpe indonesia diimplementasikan,, hehe buat indonesia lebih baik =)

    Reply
  2. kenakalan anak-2 ini sering dipicu oleh apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar..
    Kebanyakan acara telefisi saat ini memberikan tayangan yang negatif,…\
    dan kebanyakan ini yang ditirukan oleh anak-2 saat ini..
    ..
    ini harus di antisipasi dengan menemani anak saat menonton telefisi dan memberkan penjelasan seputar tingkah lku yang dilihatnya di telavisi..

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: