Ikkagetsu no Ato


Menyambung tulisan sebelumnya kali ini cerita beralih ke belahan dunia baru nggak jauh dari Indonesia..
Highly recommended to read Bagaimana ke sini? dulu biar suhunya sama🙂

*Behind the scene*
Setelah beasiswa diputuskan, saya ngebut beresin kerjaan proyek yang masih tersisa, booking tiket pesawat, packing benda-bendi di kosan, dan obral ‘harta’ seperti BB, CPU, handphone, TV tunner, serta printer multifungsi. Lumayan kalo kejual bisa buat nambah uang saku😀. Kebetulan, bulan Maret itu, sebelum ada kepastian beasiswa, memang saya dan beberapa teman ITB nekat akan berangkat ke Jepang untuk konferensi. Konferensi digelar tanggal 19-20 Maret jadi kami pesan tiket untuk departure tanggal 17 Maret malam. Ketika beasiswa dinyatakan lulus, saya memantapkan diri untuk sekalian menetap di Jepang setelah konferensi itu. Praktis, sejak pesan tiket, saya hanya punya waktu sepuluh hari untuk persiapan dua tahun tinggal di Jepang dan belum pulang ke “Jawa”. Betapa pusingnya waktu itu karena visa belum dibuat, keperluan kaya koper raksasa-jaket tebel-sepatu-dsb. belum beli, barang di kosan masih rapi di tempatnya, tempat tinggal di Jepang belum pasti, dan seterusnya. Saya memutuskan pulang ke “Jawa” dulu sebentar barang 2-3 hari demi pamit ke keluarga. Syukurlah paspor sudah ada karena saya urus bersamaan dengan saat mempersiapkan aplikasi pendaftaran S2. Butuh waktu seminggu untuk mengurus paspor dan visa, tapi meminta waktu kita seharian.

Namun, Allah memang Maha Tahu. Di tengah mepetnya persiapan, tiba-tiba ada alasan bagi saya untuk mengundur keberangkatan dengan adanya bencana gempa dan tsunami. Faktor yang paling memberatkan saya untuk berangkat pada jadwal semula adalah krisis nuklir pascagempa. Hanya H-2 sebelum berangkat, kondisi PLTN di Fukushima semakin tidak menentu. Sensei di Jepang juga mengabarkan ada kemungkinan kuliah diundur karena kampus masih kena blackout bergilir. Waktu yang tersisa saya manfaatkan untuk pulang kampung lebih lama.


Bagaimana di sini?

Saya sampai di Jepang tepat dua minggu setelah gempa. Di bandara disambut petugas yang bawa papan berisi himbauan untuk tidak mengkonsumsi makanan/minuman tertentu terkait krisis nuklir si Fukushima. Kemampuan nihongo saya (baru belajar sampai bab 14 buku Minna no Nihongo) langsung diuji saat ketemu orang-orang di bandara. Beruntung di pesawat sudah exercise karena sebelah saya kakek asli Jepang yang ngajak ngobrol banyak meskipun saya sering bilang “Sumimasen, wakarimasen” (maaf, tidak mengerti)😀
Resiko tinggal di sini adalah default-nya orang-orang nggak peduli bahwa kita orang asing yang mungkin sama sekali nggak ngerti bahasa mereka. Mereka teteeep aja ngajak ngomong macam-macam, kadang cepat, dengan nihongo-nya. Ya, walaupun kita bilang “wakarimasen”, mereka akan mengulang-ulang terus sampai kita paham.

shot of lecture: "you PC" or "your PC"?

shot of lecture: open w/ english, but teach w/ nihongo🙂

Ngomong-ngomong soal bahasa, selama di sini saya berbicara english hanya dengan orang-orang di kampus. Itu pun sama petugas yang memang biasa menangani mahasiswa asing. Mahasiswa juga nggak semua bisa (dan mau) diajak ngobrol pakai english. Bagaimana dengan dosen? ada tiga tipe dosen yang saya temui dari sit in kuliah selama seminggu ini:

  • dosen yang memahami adanya mahasiswa asing dan bersedia menggunakan english
  • dosen yang memilih tetap mengajar dengan nihongo dan menyuruh saya ambil kuliah di semester lain ketika dosennya bukan dia atau dengan kata lain mengabaikan agreement yang mengharuskan setiap dosen mengajar dalam english meskipun hanya seorang mahasiswa asing di kelasnya
  • dosen yang mengajar dengan dua bahasa bergantian (nihongo dulu baru english), tentunya dengan terjemahan yang lebih singkat daripada penjelasan aslinya😀

Friends of ARC Academy - Yokohama

Begitulah, roaming bahasa menjadi konsekuensi bagi kita yang menuntut ilmu di negara-negara dengan english sebagai bahasa kesekiannya. Di Jepang, bahasanya memang hanya satu, tapi konon logatnya berbeda-beda antara wilayah utara dan selatan. Kalo kita memilih tinggal di Eropa, Australia, atau Amerika, mungkin bekal english saja sudah cukup. Lucunya, saat saya masih kursus intensif di sebuah lembaga bahasa dengan teman semua orang asing, kami selalu berbicara menggunakan nihongo baik di dalam maupun luar kelas😎. Sering kami ketawa karena cara-cara aneh dalam mengucapkan kotoba (kosakata). Namun, begitu saya kuliah, tiap ketemu orang asing pada males pakai nihongo.. Haha.

Target pertama sesampainya di Jepang adalah daftar alien card. Ini saya realisasikan di sore hari setelah paginya sampai Jepang. Alien card adalah semacam KTP bagi orang asing yang tinggal menetap dalam jangka waktu lama *jahat ya kita dianggap alien T_T* Kartu ini penting sekali tentunya karena dibutuhkan untuk daftar macam-macam, juga buat jaga-jaga kalo diperiksa. Ya, sebagai alien, pihak kepolisian Jepang berhak memeriksa kita kapan pun dan di mana pun. Beberapa senior sudah mengalaminya. Kata mereka, saya tinggal menunggu waktu. Hihi. Ohya, orang Jepang sendiri nggak punya KTP. Entah bagaimana cara mereka melacak identitas warganya. Kurang paham saya. Mungkin karena semuanya berbudi luhur (halaaah) jadi pemerintahnya nggak khawatir dipermainkan😉.

Selanjutnya, saya segera membuat rekening bank. Kenapa? tentu saja biar beasiswa saya bisa segera ditransfer, hehe.. dan juga karena di sini kartu kredit umum digunakan. Saat bikin account bank, pertama kalinya saya harus berhadapan sendiri secara langsung dengan orang Jepang asli untuk sesuatu yang serius. Mereka bingung, saya juga bingung. Maklum, vocab dan grammar yang saya tahu terbatas. Akhirnya, setelah 1,5 jam saling bingung, jadi juga rekening saya. Motivasi saya untuk berinteraksi lagi dengan pribumi Jepang langsung meningkat sejak saat itu. Rasanya seperti real dan guna banget dah teori-teori yang saya pelajari saat kursus nihongo di Indonesia. Alhamdulillah, masa kursus nihongo intensif yang tiba tak lama setelah itu membuat saya berkesempatan melatih lidah setiap hari. Memang tujuan terbesar kursus kilat tersebut agar saya terbiasa ngomong karena toh pasti beda antara diajar orang Indonesia dalam bahasa Indonesianya dan orang Jepang dengan full nihongo.

Sedikit flashback tentang kondisi Jepang pascabencana. Sampai saat ini saya belum lihat kerusakan bangunan/jalan akibat gempa. FYI, area gaul saya adalah Fujisawa, Yokohama, dan Tokyo. Saat tiba di bandara Narita, Chiba, saya perhatikan juga nggak nemu retak-retak gitu. Mungkin mata saya yang nggak waras tapi hello.. itu mengagumkan bagi saya. Gempa kencang sempat saya rasakan 4x dengan tetap berada di dalam rumah. Ya, masih dengan kekhawatiran, tapi tidak sepanik saat di Indonesia yang dulu rasanya selalu ingin secepatnya menghambur keluar. Trust. Orang Jepang punya modal itu terhadap pemerintah dan teknologinya. Orang asing mau tak mau ikut juga. Itulah mengapa meski krisis nuklir yang menghalangi saya berangkat ke sini, eh sesampainya di sini kehidupan saya normal saja dari segi makan, minum, dan keluar rumah. Seolah tidak terjadi apa-apa, padahal isu radiasi begitu hangat.. terutama di media-media Indonesia, bukan?😆

Seperti yang banyak ditulis orang asing, bangsa Jepang memiliki semangat juang yang tinggi. Negara ini bisa dibilang tidak punya apa-apa, cuma kegigihannya itu lho luar biasa.. ini yang bikin mereka maju kaya sekarang. Makanya kenapa ada ucapan-ucapan semacam ganbarou, ganbarimashou, dan ganbatte yang kurang lebih artinya “apa pun yang terjadi, berjuang sampai titik darah penghabisan”. Tiap kenalan dengan orang Jepang baru, hampir pasti di akhir saat mau berpisah, saya dapat oleh-oleh kata ganbatte! itu. Hebat. Di sini orang-orang sepuh di atas 70-80 tahun sudah biasa bepergian sendiri. Sering saya temui di jalan mereka yang sudah bungkuk-bungkuk, bawa tongkat, jalannya pelan (aduh pokoknya kasian ngeliatnya) masih aja belanja sendiri, desak-desakan naik bis atau kereta sendiri, naik sepeda sendiri, bahkan masih pada ngantor😯. Pas awal ngeliat fenomena kaya gitu saya tuh sampai mikir: eh dulu di Indonesia gitu juga nggak sih? kok nggak pernah merhatiin.. entah apa karena di sini udah pada terlalu tua jadi keliatan mencolok atau saya dulu nggak peka😕. Hal ‘dramatis’ lainnya nih, promosi atau orasi di tempat publik di sini kayanya perjuangan banget deh, banyak yang nyuekkin. Barang-barang promo yang dibagikan gratis pun sedikit orang mau ambil. Kadang di tengah hujan mereka tetap semangat teriak-teriak dan bagi-bagi. Kadang juga, satu tim promo yang nyegat-nyegat massa buat berhenti itu isinya para nenek yang sudah sulit jalan. Ck, ck.. semangat sekali😥.

Melihat betapa gigihnya orang-orang di sekitar saya menjalani kehidupannya, saya juga termotivasi untuk demikian, meskipun kadang motivasi itu hilang. Berkali-kali saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa saya harus bisa lebih kuat karena punya agama, punya Allah yang membimbing. Dulu saya pikir orang Jepang sebagian besar menganut agama Shinto dengan menyembah Dewa Matahari. Begitu yang saya baca di buku pintar zaman SD. Ternyata itu data jadul. Kini mereka rata-rata tidak beragama, tidak punya konsep jelas tentang Tuhan, juga tentang prinsip hidupnya (misalnya dari mana dan mau ke mana). Menurut yang pernah saya tanya ke orang Jepang dan ditambahkan oleh teman muslim lain, mereka mencampurkan tiga agama: Shinto, Buddha, dan Nasrani. Ketika lahir mereka diupacarakan secara Shinto, saat menikah di gereja, dan untuk berdoa sehari-hari plus saat mati mereka pakai cara Buddha.

Bagaimana mereka bisa teguh memegang nilai-nilai kebaikan universal seperti disiplin, mudah membantu, ramah, sabar, dan sebagainya tanpa bekal kepercayaan itu? Wallahu’alam. Saya rasa budaya dan alam telah membentuk mereka. Jangan dibalik ya, agar bisa seperti itu tidak butuh agama dan Tuhan😛. Lebih baik berpikir coba kalo mereka punya agama, pasti lebih hebat lagi! ditambah nggak ada tuh berita intens tentang bunuh diri:mrgreen:. Tentu saja, kondisi mereka yang seperti itu membuat mayoritas tidak tahu tentang Islam, termasuk orang Islam itu seperti apa.. jadilah resiko saya tiap jalan dilirik orang. Kalo sholat di tempat umum mungkin lebih-lebih lagi, anehnya saya belum pernah tuh, hihi. Selalu ada kesempatan sholat di apato, kelas, mushola kampus, atau acara/rumah orang Indonesia.

Wah, sudah panjang sekali ceritanya, hampir 1500 kata. Kalo saya ceritakan semua dalam satu tulisan muntah deh yang baca. Insyaallah bagian lain akan saya tulis di artikel lain ya.. blog ini memang jadi terbengkalai sejak hadirnya microblogging. Hihi. Yang jelas, alhamdulillah dikasih kesempatan sama Allah tinggal di Jepang. Saya kurang tahu ini karena di negara maju atau Jepang yang memang unggul, tapi saya merasa bahwa kehidupan di sini efisien sekali. Segala sarana dan prasarana didesain untuk memudahkan kita. Jidou hambaiki (vending machine) ada di mana-mana, dari mulai jual minuman, makanan, cetak foto, foto pasfoto, pesan menu, sampai beras puluhan kilo tersedia. Transportasi massal dapat diandalkan lama perjalanannya. Ramalan cuaca sangat terpercaya sehingga bikin kita bisa memperkirakan harus pakai baju apa hari ini dan butuh bawa payung nggak. Bank dan asuransi kendati tidak ada syariah, alhamdulillah sudah syar’i secara tidak langsung😆. Akhirnya, ini yang selalu menjadi beban saya dan kita semua: bagaimana bisa mengambil pelajaran dari semua ini untuk dibawa ketika membangun Indonesia nantinya💡

Previous Post
Leave a comment

9 Comments

  1. Eka Purwitasari

     /  May 18, 2011

    Ceritanya natural bnget. Saya suka.. Oia mbak,tau kmpus d jepang yg ada program mgister ilmu komunikasi? pngen nerusin S2 d sana mbak ^^. Cari yg magister ilmu komunikasi Krn mmg S1jurusan komunikasi jurnalistik. Klw mbak ada info, minta share-nya yaa…

    Reply
  2. eh ini kok pada komen di bagian Reply-nya komen Eka ya :))

    Reply
  3. tetsukoeika

     /  May 18, 2011

    siiip.. arigatou mbak atas infonya… lagi searching2 programnya ni mbak, tapi stidaknya yg nyambung dgn program skrg. hehehe… ^___^

    Reply
  4. 064

     /  May 18, 2011

    hebat

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: