Daigakuin no Seikatsu


Wah, tulisan ini sudah tersimpan di draft sejak awal Juni. Sekalian review deh..

1 Juni

Yeah, time is running so fast. Hari ini sudah bulan Juni.

6 Juni

Tak terasa satu bulan sudah saya kuliah di babak kedua (S2 maksudnya :grin:) dan dua minggu lalu adalah presentasi pertama saya tentang research plan yang sekaligus akan menjadi bagian dari tesis.

7 Juni

Saya mulai kegerahan, sepertinya udah resmi musim panas deh.

Selanjutnya…

nama gedung kembar empatnya SFC

Suka duka kehidupan pascasarjana mulai terasa mewarnai hidup saya karena 4 hari dalam weekdays harus ke kampus, sesekali kuliah juga di weekend. Kenapa? FYI, beberapa kampus di Jepang mengundur permulaan semester musim gugurnya yang seharusnya di awal bulan April menjadi bulan Mei karena keadaan listrik, korban, jadwal transportasi, dsb. yang belum pulih pascabencana 3/11. Salah satunya kampus saya. Jadi untuk mengganti satu bulan class closure tersebut, sebagian pertemuan kuliah diadakan setiap Sabtu atau Minggu. Kampus saya emang ‘nggak mau rugi banget’, bahkan orientasi mahasiswa baru diadakan di hari libur Golden Week😐. Di tulisan ini saya membeberkan suka duka tersebut. Pikiran saya terlalu random ketika harus menulis summary dari pengalaman berhari-hari, jadi saya pisahkan per ‘tema’ ya..

Sebagai ‘alien’ di kampus

Eh, saya nggak melebaikan diksi, tapi sebutan ‘alien’ ini nyata bagi imigran Jepang. Tentang ini saya pernah menulis di sini. Saya masuk SFC sebagai mahasiswa biasa seperti yang lain. Bukan program internasional atau kuliah khusus. Selama berkorespondensi dengan profesor dan staf TU yang membantu saya sebelum mulai kuliah sih nggak ada kendala bahasa karena mereka pakai english. ‘Tantangan’ mulai kelihatan saat saya harus baca informasi tentang aturan, sistem akademik, fasilitas, dsb. dalam bahasa Jepang. O o, mereka telat bikin english version-nya. Gemes deh nggak bisa baca majalah lucu-lucu gratisan buatan anak-anak S1. Gemes deh nggak bisa memanfaatkan semua fasilitas karena yang disertai english jumlahnya terbatas dan gemes-gemes lainnya, sampai hari ini. Alhamdulillah masih ada internet dan aplikasi iPhone (hp sejuta umat bagi orang Indonesia di Jepang) semacam Maps, Yahoo! Japan, Kotoba, yang jadi modal dalam berjihad (tsah..).

Seorang senior bercerita, dulu ketika dia datang ke Jepang pada tahun 1995 untuk kuliah S1, keadaan belum seenak sekarang. Tulisan di tempat-tempat umum belum ada alfabetnya (kanji aja), internet dan HP belum ada, senior Indonesia masih sedikit.. kebayang kan gimana berjuang untuk survive?

Sebenarnya Jepang lagi ngejar setoran mahasiswa asing setelah dicanangkannya Global 30, tapi sepertinya warganya belum siap, ehehe.

Kuliah dan kompetisi

Ada satu quote dari seorang dosen saya, pak BR, yang masih nempel di benak saya hingga saat ini:

Kuliah di LN itu sama aja kok suasananya kaya begini juga, mahasiswanya juga kaya kalian gini, bukan berarti mereka lebih wow dari kita.

Ternyata benar. Setelah merasakan sendiri, saya jadi semakin yakin bahwa bangsa kita itu layak diperhitungkan kok. Materi yang kita pelajari juga nggak ketinggalan sama negara maju, malah yang buat anak-anak sekolahan kelebihan😛. Sistem pendidikan kita aja yang masih trial and error jadinya banyak potensi generasi muda tidak terarahkan. #auahgelap

Salah satu hal yang saya suka dari kuliah adalah pemanfaatan fasilitas secara maksimal, misalnya sistem untuk komunikasi antara dosen dan mahasiswa, pengumpulan tugas, repositori bahan kuliah, percetakan/pengkopian, dsb. sudah jadi keseharian kami. Jadi, kantan (praktis, gampang) banget lah nggak perlu lari-lari ke fotokopian atau ngantri panjang demi tugas😮. Kita bukannya nggak bisa bikin begituan juga, banyak yang punya kok, tapi cuma buat pajangan. Biasa lah wong Indo.. kalo nggak gitu kan nggak ada guyonan ‘CPU mahal’ macam ini. LOL.

Dengan modal percaya diri tadi, saya sih keep fighting aja kuliahnya, nggak mikirin ntar hasilnya gimana. Bisa enjoy dengan prosesnya aja udah syukur. Eh beneran beda banget sama zaman S1 dulu yang masih cenderung transcipt-oriented. Entah karena S2 atau karena di Jepang yang notabene kuliahnya nggak semenekan di kampus saya dulu. Tugasnya pun lebih banyak mengeksplorasi ide dan kreativitas mahasiswa, nggak specification-oriented, bahkan template laporan tesis aja nggak ada >_<. Awalnya sempat serem kalo teman saya dewa-dewa, tapi ternyata nggak juga kok, sama deh kaya teman-teman saya zaman S1 dulu modelnya. Ini nggak tahu dibohongin atau nggak ya, malah dosen saya sendiri pernah bilang, “Even the Japanese students also didn’t understand, don’t worry” saat saya mengaku nggak ngerti suatu materi karena dia menjelaskan dengan Nihongo. Untungnya sensei saya english-nya oke semua, cuma malesnya itu lho.. kalo nggak kita yang request, mereka nggak ngajar pake english. Zzz…

Campus life

Konon, mahasiswa pascasarjana identik dengan kesibukan riset dan publikasi. Pergaulan pun tidak ‘seheboh’ zaman sarjana. Ahaha, saya sih belum begitu. Sampai sekarang masih merasa seperti S1. Saling bertanya tentang tugas, pergi bareng atau makan bareng ke mana, kegiatan di luar akademik, dan sebagainya. Nah, belakangan ini saya lagi cari peluang organisasi atau grup minat yang bisa diikuti gitu biar nggak kering sisi sosialnya.. tsah.

"keluarga" di lab dan proyek

Kampus saya termasuk unik. Di tingkat sarjana, mahasiswa tidak terikat ke satu program studi tertentu. Mereka hanya menjadi bagian dari fakultas, tapi bisa masuk ke lab yang diminati. Di pascasarjana tentu saja ada prodinya, tapi itu pun kuliah kami bisa milih dari program keahlian lain. Keunikan lain adalah pembedaan kuliah berdasarkan jenisnya, misalnya untuk mendukung riset ada kuliah “Research Concept”, untuk kuliah keseharian ada “Program Course”, begitu seterusnya.

Keunikan lain adalah adanya serpihan peradaban Islam di kampus ini. Jadi, sebelum saya masuk, sepertinya sebagian warga SFC sudah pernah dengar, lihat, atau bahkan tahu tentang Islam. Saat terbersit ingin minta space buat sholat ke sensei, ternyata di kampus sudah ada mushola, kebetulan di gedung yang sama dengan ruangan lab dan sensei. Lebih kaget lagi pas itu di depan sebuah lab bahasa Arab dengan risetnya tentang Islamic Studies. Saya memang pernah membaca di web SFC nama riset tersebut, tapi tidak tahu bahwa topik ini sudah lama dilakukan secara berkelanjutan. Mereka mempelajari dakwah kampus, zakat, pemerintahan Islam, dll.
Pernah juga saat pertama kali melihat koleksi buku di perpus, tak lama kemudian nemu sederetan buku tentang Islam, with kanji and katakana too. Amazing!

Friends

Secara umum, yang saya nilai dari teman-teman asli Jepang adalah mereka cenderung tertutup, dingin dengan orang lain, bahkan ke sesama orang Jepang, bukan karena saya orang asing. Ketika saya tanya, banyak teman saya yang tidak kenal satu sama lain meskipun sudah sebulan kuliah. Biasanya harus saya yang membuka diri duluan, heartshaking, baru deh mereka mau berbicara banyak. Intinya sih tahu diri aja sebagai orang asing, harus kita dulu yang bikin mereka ngeh sama kita🙂.

Sampai sekarang, saya tidak tahu berapa jumlah pastinya teman seprodi yang masuknya bareng saya. Nggak ada kuliah yang memungkinkan kami berkumpul full version sih😦. Dari lima kuliah dan satu proyek yang saya ikuti, nggak pernah melihat lebih dari 15 orang, bahkan ada kelas yang  mahasiswanya saya sendiri. Di Jepang, ada kampus yang enrollment-nya dua kali dalam setahun, September dan April, termasuk kampus saya. Konon mahasiswa asing banyak berdatangan di bulan September karena cocok sama periode kuliah mereka sebelumnya (I have no💡 about it). Bagaimana dengan teman sesama alien? oh, kebanyakan sih orang Indonesia juga😆. Saya baru tahu juga kalo mahasiswa Indonesia lumayan eksis di SFC, bahkan ada yang jadi dosen bahasa Indonesia dan seorang lagi sudah jadi associate professor segala. Mahasiswa asing paling banyak tetap saja dari negara-negara tetangga Jepang sendiri: Cina dan Korea. Mereka sih nggak kaya saya yang harus pake english, lha wong JLPT level 2 udah lewat😀.

foto bareng teman M1 dan M2 (tahun pertama dan kedua program master diistilahkan seperti ini, red.) usai gathering

Balik lagi ke suka duka..
Kalo dipikir-pikir, keduanya terbentuk dari perbedaan bahasa dan budaya. Iya, roaming bahasa itu bisa jadi humor sekaligus ngebetein. Teman-teman Jepang saya ketika berusaha berbicara dengan english mereka, terdengar lucu dan unik… bahwa logat seperti video ini benar-benar nyata!:mrgreen:. Di sisi lain, saya suka bete kalo mereka udah diskusi sendiri sama sensei dalam nihongo. Saya kan jadi nggak dapat ilmunya (halah.. sok rajin :cool:). Untuk menyiasati ‘miss’ materi kuliah di kelas, saya biasanya nanya langsung ke dosen. Tak tahunya ada teman-teman yang dengan baik hati mau nerjemahin juga. Kalo sudah dapat bahannya sih enak, tinggal disalin satu per satu kata artinya dengan bantuan translator, sekalian kan belajar kanji dan memperkaya kosakata😉. Cuma tetap saja makan waktu. Pernah tuh saya pinjam catatan teman saat saya nggak masuk kuliah. Wah, bahasa Jepangnya udah yang slang ala dia banget gitu. Kerja bakti lah nerjemahinnya😆.

Hal-hal seperti itu memang menarik sekaligus melelahkan. Namun, saya yakin bahwa semua kesulitan ini pasti akan berguna nantinya.. Tuhan tahu seberapa besar kita berusaha dan kalkulator Dia nggak pernah salah.

Next Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Woow…😯
    Saya manggut-manggut aja.😀
    Hebat. Saya takjub. Pengen sih kuliah ke luar negeri.😳

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: