When God Pushes “Turn Off” Button


Yesterday I got two obituaries. It shocked me enough!

Memang sih, kematian itu datangnya tiba-tiba, tanpa pandang usia dan keadaan.
Memang sih, hanya Allah yang berhak menentukan dan mengetahui umur hamba-Nya.
Memang sih, tidak ada yang tahu sampai kapan dirinya sendiri bisa bernafas di dunia.
Memang sih, kita harus mencukupkan bekal untuk itu secepatnya karena sisa waktu mengumpulkan bekal tidak bisa diestimasi.
Semuanya terdengar klise, ah siapa sih yang nggak tahu.. tapi mungkin kita nggak selalu ingat kecuali ada saat-saat yang menyentil kita, lalu membuat kita merenungi kenyataan itu lagi.

Bagi diri saya sendiri, berita kematian adalah salah satu momen sentilan tadi. Hanya saja, ada rasa yang berbeda ketika yang meninggal masih muda. Deg! Miris rasanya, apalagi kalo melihat jejak-jejak terakhir mereka di dunia maya seperti Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya masih ada, makin miris😥. Ya Allah, bahkan kita nggak berhak sedikit pun bilang “saya orang penting kok, masih harus berkontribusi banyak ke masyarakat, nggak mungkin mati cepet, karena dunia masih butuh saya”, uh yeah.. hello, siape eluuu?.

Kemarin ada dua berita duka yang saya dapat. Kedua almarhumah tidak saya kenal, tapi sebagai sesama muslim saya dapat merasakan persaudaraan itu. Almarhumah pertama adalah seorang mahasiswa S2 asal Indonesia di Toyohashi University, Jepang, yang meninggal dengan kondisi setelah melahirkan anak pertamanya. Almarhumah kedua juga mahasiswa, malah masih S1, angkatan 2008 (dua tahun di bawah saya angkatannya), meninggal setelah beberapa hari terakhir berjuang keras melawan kelemahan tubuhnya yang drop akibat pendarahan otak setelah jatuh dari metromini. Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’uun.

Untuk kedua saudariku yang telah dipanggil oleh Allah, selamat jalan.. semoga Allah berkenan menyiapkan tempat yang baik untukmu di kehidupan selanjutnya. Kepergianmu menjadi peringatan bagi kami semua bahwa hidup di dunia tak ubahnya musafir yang sedang beristirahat di pagi atau sore hari. Ada sebuah pemikiran terkenal yang konon datang dari Socrates, mbahnya para filosof, tentang kematian dan kehidupan:

Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian. Namun, ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.

Masalahnya, gimana caranya supaya kita bisa bergembira dengan kematian kan?😛
Tentu kalimat “kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup” akan jadi masalah juga bagi mereka yang tidak percaya kehidupan akhirat. Zannen..* Benar salahnya statemen di atas wallahu’alam. Soalnya saya pernah dikomentari orang saat mengutip pernyataan Einstein tentang ketiadaan Tuhan yang sudah luas beredar tapi katanya hoax. Namun, nggak ada salahnya kita mengambil sisi positif darinya🙂. Selamat berjuang untuk bergembira saat mati!


*sayang sekali ya.. – 日本語

Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. Lho, Mbak… itu yang S1 jangan2… Arianni ya namanya?
    Itu anak PL, adik angkatan saya.😥

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: