Report: Tokyo Book Fair


Happy Monday!

Spanduk "18th Tokyo International Book Fair"

Pengen nulis sedikit laporan tentang partisipasi saya di acara pameran buku (halah, partisipasi..padahal cuma pengunjung :grin:). Kebetulan ini book fair pertama saya di Jepang. Yah, mumpung ada promo tiket gratisan dan penasaran book fair di sini seperti apa, jadilah saya hajar. Tempatnya di Tokyo Big Sight yang memang merupakan sebuah exhibition hall. Kalo di Bandung, tempat ini mungkin kaya Landmark di Braga gitu deh😛. Yang menarik, si TBS ini terletak di Odaiba, salah satu dari mantan ibukota Jepang. Kini, Odaiba cukup diperhitungkan sebagai kota plesir alias sightseeing dan shopping.

TBS entrance

name tag

poster Indonesia Festival

Oke, jadi pameran buku di sini sama saja seperti di Indonesia, pakai stand bersekat-sekat papan putih dan SPG-nya berdandan seksi.. zzz.  Cuma, pengunjung disuruh pakai name tagkaya panitianya.Pameran buku kali ini rupanya internasional, jadi konon ada 30 negara buka lapak. Sayangnya, saya tidak menemukan Indonesia. Mungkin karena pada hari yang sama Indonesia sedang punya gawe “Indonesia Festival 2011 @Yoyogi Park: Changcuters, Rio Febrian, dll.”:mrgreen: meskipun itu bukan excuse sih.

Saya dari awal memang tidak terlalu berniat membeli buku karena pasti roaming dengan bahasanya. Mau beli buku apa? yang dari penerbit lokal sudah pasti saya tidak bisa baca sedangkan yang dari penerbit asing mayoritas juga dengan bahasa mereka. Buku berbahasa Inggris sih mending pesan ke Amazon😮. Saya hanya ingin menyelami bagaimana sih pameran di sini, terlebih yang internasional. Wah ternyata berkesan sekali.. Odaiba-nya (bukan pamerannya)😆. Ini dia beberapa foto pesertanya.

Mesir

foto bareng "Firaun"😀

Kerajaan Arab Saudi - stand kaligrafi (rame,bo!)

Kidz Corner di stand Arab

Italia - meja kursinya senada dengan warna bendera

イタリア (baca: Itaria -> Italia)

Thailand.. sepi😛

Finlandia - salah satu negara incaran saya

Brazil

Spanyol

Iran juga ada

Banyak, kan? Maaf tidak semua difoto.. saya sendiri nggak nemu seluruh stand ketigapuluh negara tersebut. Luas sekali arenanya. Andaikan semua stand dikunjungi, termasuk IT Educational Expo-nya, bisa-bisa sampai acaranya selesai, belum beres keliling juga😐. Yang menarik, ada percetakan yang bawa mesin cetaknya dan demo cara membuat buku ke pengunjung. Demonya bukan presentasi gitu, tapi karyawannya bekerja seperti biasa sebagaimana saat mereka di pabrik. Hebat lah mesin-mesin cetaknya udah yang canggih, bukan seperti punya Mizan yang pernah saya lihat.

Horizon dan mesin cetaknya

Yang menarik dari semua stand itu adalah satu-satunya stand berbau Islam ini…
Kelihatannya sih normal-normal saja. Tahukah Anda apa yang agak ‘mengganjal’ dari stand ini? jika Anda zoom in terus dan perhatikan dengan seksama, Anda akan mendapati seraut wajah dalam pigora yang tak lain tak bukan adalah orang ini. Ya, benar.. rupanya milik orang-orang Ahmadiyyah dari berbagai negara yang sedang bermukim di Jepang. Tidak menyangka mereka eksis juga di kegiatan-kegiatan semacam ini. Katanya, ini bukan pertama kalinya mereka buka stand. Saya sempat mengobrol dengan mereka. Mereka tahu kasus Ahmadiyyah di Indonesia beberapa waktu lalu. “It was very terrible..,” they said. Selama saya mengobrol serta sebelumnya curi-curi pandang beberapa kali ke stand ini, banyak lho pengunjungnya.

Ironis, mereka bilang bahwa stand dari negara-negara mayoritas muslim seperti Arab, Mesir, Iran, dan sebagainya justru biasanya tidak merepresentasikan Islam di pameran-pameran, tetapi lebih ke budaya mereka.. literatur mereka. Di event ini saya memang tidak lihat stand lain yang berbau Islam. Mereka tahu bagaimana pertentangan mayoritas muslim terhadap mereka dan sikap pemerintah yang juga menyingkirkan mereka di negara masing-masing😯. Saat ditanya apakah mereka punya mushaf bahasa Jepang, mereka menunjukkan sebuah mushaf terjemahan nihongo yang disertai sedikit tafsir sebagaimana kitab terbitan Departemen Agama di Indonesia. Wuidih.. lalu, menurut cerita mereka, Ahmadiyyah bisa menjadi terkenal seperti sekarang karena berhasil menerjemahkan Al Qur’an ke lebih dari 150 bahasa, terutama bahasa-bahasa yang tidak populer dari negeri antah berantah. Duh, sayang sekali ya.. tentu pertanyaan kita semua adalah kenapa bukan dari “golongan muslim yang lebih waras” ya?😦. Semoga semakin hari semakin banyak yang ikut eksis.. aamiin.

Akhirnya, saya tidak beli apa-apa kecuali mainan untuk oleh-oleh😆. Mainannya berupa rubik 2 dimensi (mana ada.. haha) bergambar Doraemon. Wah saya senang sekali bisa menemukan benda mainan favorit saya saat kecil ini, tapi zaman saya sih cuma angka 1-9 saja. Ini dia.. tadaa!

rubik 2 dimensi

Selain ini, saya juga beli teropong ajaib yang bisa menampilkan berbagai variasi motif ketika digoyang-goyang. Cerdas sekali mainannya.. dasar Jepang, Jepang..

Di depan Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan), Odaiba *sst, ini spoiler teropong yang saya ceritakan*

Oke, sekian dulu laporan dari saya. Selepas dari pameran buku, saya berkunjung ke Miraikan, yaitu sebuah museum masa depan yang didalamnya konon ada baling-baling bambu Doraemon. Sayangnya, karena sudah mau tutup saat itu, saya hanya bisa lihat-lihat yang masih dibuka, tapi secara cuma-cuma. Hehe.. semoga lain kali bisa ke sana lagi.

Sampai jumpa di laporan jalan-jalan lainnya!

Previous Post
Next Post
Leave a comment

2 Comments

  1. explore more
    dive deep
    cool

    Reply
  1. Finlandia « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: