Cerita Mudikku Tahun 2011


Haihai! Ketemu lagi di kategori “Jalan-jalan, rek!”🙂. Menyambung tulisan sebelumnya, From Flight to Flight, kali ini saya mencoba mengabadikan pengalaman mudik yang penuh perjuangan. Kenapa penuh perjuangan? karena saya pakai acara aneh-aneh mampir ke dua negara tetangga dulu, sendirian, sambil bawa isi bagasi. Jadi kalo dihitung, dalam kurun waktu kurang dari 36 jam saya berada di empat negara yang berbeda, yaitu Jepang, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Capek parah, tapi untungnya pas lagi “libur” puasanya. Hehe. Dari perjalanan tersebut saya akhirnya tahu kalau wajah Malaysia, Singapura, dan Indonesia sebenarnya mirip. Saya kira Singapura itu udah kelihatan ‘megah’ kaya Jepang atau Eropa gitu, ternyata tidak juga. Hanya saja, sebagaimana pernah saya tulis di Facebook, ada perbedaan yang terasa sekali saat keluar Jepang. Saya baru sadar bahwa stereotip yang ditanamkan ke kita dari kecil bahwa bangsa Indonesia itu ramah-tamah menjadi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ramahnya masyarakat Jepang. Penduduk dua negara tetangga pun demikian halnya seperti Indonesia. Nanti deh saya ceritakan lebih lengkapnya😉. Di sini saya akan bercerita dengan style narasi.

rute penerbangan saya


Pagi itu saya diajari soal menghargai waktu lagi. Rencana berangkat dari apartemen pukul 05.00 molor sepuluh menit sehingga saya sampai stasiun pas kereta datang. Saya naik kereta dari stasiun dekat apartemen ke stasiun Fujisawa untuk selanjutnya naik bis bandara dari sana. Waktu itu saya ingatnya bis ke bandara setelah kloter keberangkatan pukul 05.45 baru akan ada lagi 10.45, sedangkan pesawat saya pukul 10.30. Kalo saya telat kereta, kereta berikutnya baru sampai Fujisawa pukul 05.47. Bayangan ditinggal bis, harus cari alternatif kereta, dan ditinggal terbang pesawat memotivasi saya untuk rela berlari-lari kecil sambil nyeret koper ke stasiun. Ternyata pas ngecek jadwal lagi, seharusnya ada jam keberangkatan pukul 06.15 juga. Aaa.. ya sudahlah, memang ada untungnya sampai bandara lebih cepat. Sampai bandara masih sempat lihat-lihat sekitar, ke toilet (sst..di sini bahkan sempat foto-foto :eek:), dan belanja oleh-oleh. Saya datang sebelum loket check-in dibuka, tapi ngantrinya udah panjang, bo! Terima kasih untuk kak Liza dan mas Bondan yang sempat dadah-dadahmelepas kepergian saya ke tanah air😛.

foto-foto dulu sebelum berangkat:mrgreen:

Untuk penerbangan kali ini, saya memilih kode MH dan VF. Alasannya ya karena pengen mampir-mampir tadi. Hehe. Saya sudah pesan tiket bulan Mei sehingga dapatnya harga promo. PP dengan dua maskapai yang berbeda habis sekitar delapan juta. Sama seperti harga normal PP naik Garuda Indonesia.

MH (Malaysia) dan VF (Australia)

Setelah check-in, termasuk cek passport di bagian imigrasi, dan tukar uang ke RM dan SGD (klik info), saya mendekat ke pintu keberangkatan sembari mencari toko oleh-oleh. Kata senpai-senpai, kalo mau gampang cari oleh-oleh di bandara saja karena harganya tidak berbeda dengan toko di luar bandara. Tidak seperti di Indonesia di mana barang-barang dagangan di stasiun, terminal, bandara, tempat wisata, dan sebagainya dihargai berkali-kali lipat dari harga normal. Grrr! Akhirnya saya masuk ke toko di dekat eskalator turun ke monorail bandara dan membeli sedikit oleh-oleh tambahan. Sebelumnya saya memang sudah mengisi penuh koper dengan oleh-oleh. Baju ganti saja cuma bawa satu😀.

grab the "omiyage" here!

Bandara Narita, Chiba, Tokyo

Pesawat pertama, si MH, berangkat tepat waktu. Kami sudah dipanggil masuk pesawat 30 menit sebelum berangkat. Asyiknya naik pesawat negara tetangga satu ini adalah bisa refreshing sepanjang perjalanan karena selalu ingin tertawa menyimak bahasa melayu yang terdengar lucu (baca: jika dimaknai dalam bahasa Indonesia). Secara keseluruhan, saya nilai maskapai ini oke, baik dari segi servis, fasilitas, dan kenyamanan yang diciptakan dari cara pilot mengemudikan pesawatnya. Makanannya banyak sekali.. lebih dari 3x dikasih konsumsi mulai dari kacang, makan besar, es krim, makan kecil, sampai beberapa kali minumannya.

konsumsi pesawat

54th Malaysia

Dari majalah di pesawat saya jadi tahu bahwa tema kemerdekaan Malaysia tahun ini Merdeka Raya karena bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Satu hal yang saya sayangkan dari perjalanan Jepang-Malaysia adalah saya belum selesai nonton Kung Fu Panda 2 dari TV pesawat gara-gara sempat tertidur dan diselingi macam-macam😦.

Sampai di bandara Kuala Lumpur, saya langsung naik KLIA Ekspres ke KL Sentral. Dari KL Sentral barulah kita bisa naik kereta-kereta berjarak pendek ke berbagai titik ibukota Malaysia itu. Sistem pembelian tiket di Malaysia sudah pakai vending machine jadi cepat dan praktis meskipun yaaah dari sekian banyak mesin cuma beberapa yang berfungsi, lainnya rusak😮. Saya tiba di KL Sentral sudah pukul 18.15, artinya hanya ada waktu kurang dari empat jam untuk berkeliling. Alhamdulillah saya banyak terbantu catatan yang sudah saya cetak dan tempel di buku tulis sebelum berangkat. Isinya run down acara (halah), peta, jalur dan jadwal kereta, serta tiket bis. Terima kasih untuk Aisar yang sudah membantu bikin itinerary🙂.

Tujuan utama saya di Malaysia adalah Menara Kembar Petronas. Lainnya sih plan B karena sudah tahu nggak bakal punya banyak waktu. Kan yang penting dari kunjungan ke suatu negara itu melihat icon-nya😛. Nah, ada kejadian bego yang saya alami saat mau ke menara. Ceritanya dari KL Sentral kan saya naik Kelana Jaya line (kereta RapidKL) ke KLCC. Menurut peta, tak jauh dari stasiun itu menara kembar berada. Keluar dari stasiun, saya tanya ke petugas ke mana harus pergi kalo ingin melihat menara. Katanya, “naik tangga ini saja, keluar”. Saya pun naik tangga dan menyisir jalan, lalu seketika itu juga melihat Suria KLCC dan gedung tinggi mengapitnya. Saya cuma mikir, “wah tinggi ya gedungnya”, kemudian jeprat-jepret dikit.

Suria KLCC, sisi lain dari Menara Kembar Petronas yang "mengelabui" saya😀

Sama sekali nggak sadar bahwa itu sudah menara kembarnya!!! Sumpah nggak mirip kaya di foto-foto yang saya lihat selama ini dan nggak ada petunjuk bahwa itu menara kembar Petronas. Saya lihat peta, harusnya saya menyeberangi jalan Ampang dulu baru ketemu. Saya jalan ada sekitar 200 meter cari jembatan penyebrangan tapi belum ada tanda-tanda menara juga. Akhirnya karena lelah dan takut waktu habis, saya naik taksi. Sopir berkata dalam bahasa Melayu yang tidak saya pahami. Saya oke-oke saja. Rupanya sopir membawaku ke tempat semula! Ya Tuhan, yang tadi itu udah menaranya tapi dari sisi lain jadi saya nggak ngeh. Setelah jalan sedikit ke arah berlawanan dari arah saya jalan tadi, barulah terlihat si menara kembar yang seperti di foto-foto. Ealah..😯

Menara Kembar Petronas

Mulailah saya beraksi dengan tripod mini 17 cm ini dan mengabadikan foto diri di bawah menara. Sayangnya hasilnya nggak terlalu bagus yang ada saya-nya. Muka saya kucel bin kumus-kumus karena seharian keringetan nggak sempat update bedak atau cuci muka😆. Jadi maaf nggak saya pajang di sini *sok dibutuhin*. Puas foto-foto dan observasi sekitar, saya berniat beli makan malam sekaligus cari converter colokan biar bisa nge-charge iPhone yang sudah mampus. Pesan moral: Jangan lupa bawa converter colokan yang sesuai negara tujuan. Mungkin Anda bisa beli kalo sudah sampai, tapi tidak mudah menemukan toko elektronik di tempat baru. Jadwal saya jadi molor hampir 30 menit dari itinerary karena harus muter cari toko elektronik di dalam mall-nya menara kembar dulu. Dengan sisa tenaga yang ada, saya pun segera kembali ke stasiun KLCC, naik kereta sampai Masjid Jamek, ganti ke Ampang line, lalu menuju Terminal Bersepadu Selatan untuk naik bis ke Singapura. Fiuh.. seru dah kaya main pencarian harta karun yang kita megang peta dan petunjuk, terus kita jalan sesuai itu➡💡😀.

self-timer shot di depan menara

Saking katronya saya lihat bahasa mereka, jujur aja, stok foto terbanyak dari kunjungan ke Malaysia adalah foto-foto tulisan berbahasa Melayu😆.

😀

Namun, seperti yang saya singgung di depan, saya agak sedih karena di Malaysia mulai merasa kehilangan keramahan orang-orang Jepang yang selalu membuat saya bersemangat setiap bertransaksi. Kejutekan demi kejutekan staf saya alami sejak di bandara, loket KLIA Ekspres, stasiun, convenience store, hingga operator agen bis! Ck, ck, ck.. padahal udah mati-matian saya ngontrol muka dan selalu bilang “terima kasih” seusai transaksi, tapi tahu bagaimana reaksi mereka? diam saja😐. Bandingkan dengan Jepang yang selalu bilang “selamat datang (irasshaimase)” kepada SETIAP pelanggan yang datang, melayani dengan penuh keramahan, menjawab pertanyaan pelanggan dengan semangat, dan mengucap berkali-kali “terima kasih (arigatou gozaimasu)” sampai pelanggan keluar toko! Sebenarnya bukan cuma pas transaksi di toko, tapi layanan jasa juga begitu, bahkan saat kita hanya sekedar bertanya. Ampun-ampun deh dibandingkan dengan orang sana atau negara kita.. jauhhh.

Pukul 21.20 saya telah tiba di terminal dan menebus e-ticketdengan tiket fisik. Bis berangkat tepat waktu. Sopirnya orang Asia Selatan. Malaysia sepertinya kecipratan lumayan banyak orang-orang India (dan sekitarnya) dari Singapura jadi saya sering menemui mereka di sini. Masih ingat pelajaran sejarah soal pak Raffles dan penjajahan Inggris, kan? Nah, di situ deh pokoknya hubungannya, go to Google for detail😛.

Bis ke Singapura "Sri Maju"

Selama perjalanan, bis berhenti tiga kali. Pertama, untuk istirahat sejenak di sebuah rumah makan. Di sana saya ke toilet, beli oleh-oleh, dan burger untuk ganjal perut. Kedua, berhenti di kantor imigrasi Malaysia untuk mengurus keluarnya kita dari negara tersebut. Staf-staf yang melayani kami tampak sudah lelah dan malas melayani sehingga ada beberapa tahap yang di-skip. Mereka hanya ngecap passport saya. Tidak sampai sepuluh menit prosesnya, dari keluar bis sampai kembali lagi ke bis. Ketiga, berhenti di kantor imigrasi Singapura untuk dicap masuk ke Singapura. Di sini prosesnya agak lama, ngantri lumayan banyak, dan ditambah saya belum berpengalaman banyak soal prosedur imigrasi jadi masih kagok urutannya gimana aja. Setelah mengisi formulir embarkasi dan diwawancarai singkat, saya diperiksa pakai detektor, kemudian selesai. Soal pemeriksaan, tetap Jepang yang paling detil dari ketiga negara tersebut😆.

kantor imigrasi Malaysia

Ohya, saya sama sekali nggak sadar sebelumnya saat kami sudah menyeberangi jembatan Malaysia-Singapura, padahal saya terjaga. Tahu-tahu sudah sampai ujung jembatan dan ketika saya lihat kanan kiri, eh ternyata cuma kaya sungai gitu yang dilewati, nggak sampai laut. Tidak berapa lama setelah masuk Singapura, bis telah sampai di tempat pemberhentian: Golden Mile Complex. Welcome to Singapore! Hawa Barat langsung terasa. Namun, trotoar yang agak rusak dan pemandangan sekitar udah Indonesia banget. Lebih terasa Indonesia lagi ketika menemukan nama-nama seperti Java, Bali, Bugis, dan lain-lain.

taste of Indonesia in Singapore

Tujuan pertama saya di Singapura adalah Masjid Sultan, sedangkan tujuan utamanya sama seperti Malaysia: lihat icon negaranya a.k.a. patung Merlion. Kebetulan masjid yang konon terbesar di Singapura itu terletak tak jauh dari Golden Mile. Saya ke sana jalan kaki tidak sampai 20 menit. Saya sempat mampir ke convenience store 7 Eleven yang juga akrab saya temui di Jepang untuk membeli tisu basah dan minuman. Sekalian pengen tahu kisaran harga S$ 1 itu bisa buat beli apa. Asal tahu saja, saya baru tahu 1 ringgit dan 1 dolar Singapura itu berapa rupiah ketika di dalam pesawat pulang ke Indonesia. Saat menukar uang yen ke keduanya, saya cuma nurut saran senior tanpa ngecek kurs😮. Ohya, selain 7 Eleven saya juga ketemu Uniqlo dan Isetan (di Malaysia sih..) yang semuanya saya lihat di Jepang. BTW, kenapa toko-toko itu nggak ada di Indonesia ya? (thinking)

toko-toko itu

Untuk menuju masjid, saya harus berjalan melewati gang demi gang di kawasan jadul dalam kegelapan sepertiga malam. Sesampainya di masjid, saya takjub dengan arsitektur luarnya yang keren. Walaupun ketika sudah masuk kedalamnya, err.. banyak sisi yang tidak terawat. Sangat disayangkan. Untuk ukuran “masjid terbesar” pun, masih jauh dari ‘luar biasa’. Anyway, tetap alhamdulillah masih ada masjid di sana. Saya yang tadinya berniat mandi pagi di sini jadi mengurungkan niat karena adanya cuma WC. Untung sudah beli tisu basah yang bisa dimanfaatkan buat sibin.

Masjid Sultan, Singapura

Petunjuk jalan ke Masjid Sultan

Masjid Sultan terletak di sebuah kawasan bangunan tua berbalut Arab dan Melayu yang kental. Ada restoran Indonesia, toko-toko permadani, dan pusat barang-barang impor dari Arab di kawasan tersebut. Saat saya datang, para jama’ah masih i’tikaf. Saya ditawari ikut bergabung makan sahur, tapi saya menolak karena masih ribet merapikan barang bawaan. Kaget juga di sana baru mulai puasa pukul 05.40. Saya menunggu hari terang untuk jalan lagi. Waw, berasa jadi backpacker deh pokoknya. Namun, sehari semalam tidak bisa menggunakan ponsel, saya pun merasa tersiksa. Iseng-iseng saya tanya takmir masjid tentang beli converter, eh malah dipinjami punya masjid. Alhamdulillah, akhirnya siuman juga si aifon🙂.

tiket untuk naik MRT di Singapura

Kira-kira pukul 08.00, saya mulai melanjutkan perjalanan sebagai pengembara. Tsah.. menyusuri perkampungan tua itu, saya jadi ingat Jogja. Sampai di jalan raya, baru saya tahu wajah Singapura yang sesungguhnya. Jalanan tampak lengang, tapi kotanya eksotis menampilkan old meets new. Tidak ada kesulitan berarti untuk mencapai tujuan karena orang-orang di sana bisa berbahasa Melayu maupun Inggris. Saya berjalan kaki dari masjid ke stasiun terdekat, yaitu Bugis station. Dari sana, mulailah terasa rush hour-nya Singapura. Maklum, saat itu masih hari kerja. Jam delapanan kan ramai-ramainya orang berangkat kerja atau sekolah tuh. Wah, sama aja lah kaya Tokyo atau Jakarta. Saya naik kereta juga nggak bisa gerak🙄.

rush hour of Singapore

Patung Merlion terletak di kawasan Esplanade Dr. yang tak jauh dari stasiun Raffles Place. Saya pun turun di stasiun tersebut, kemudian naik eskalator ke arah Marina Bay. Sampai di luar, saya agak bingung ke mana harus melangkah karena peta dari Google untuk wilayah sini kan tidak sedetil wilayah Jepang. Jadi tempat-tempat sekitar tidak tertulis di peta. Mau nggak mau, nanya ke orang lagi deh😛. Cuaca sangat panas saat itu. Belum apa-apa udah keringetan. Oh, ternyata lumayan dekat lokasi patungnya. Saya tinggal naik jembatan penyeberangan terdekat dari stasiun. Wuih, masyaAllah.. di sana terasa lebih panas lagi. Maklum, namanya juga teluk alias pinggir laut. Makanya, saya ngeluarin sun glasses😎. Patung Merlion di sini ternyata lebih mirip kaya dekorasi taman depan hotel😆, tapi karena menyemburkan air, terlihat lebih keren daripada patung Merlion satunya.

suasana di sekitar patung Merlion, Marina Bay

The Merlion

Di seberang tempat patung berdiri, ada opera house yang terkenal juga. Di area yang tidak terlalu luas, wisatawan lokal dan manca ramai berfoto-foto di sana. Lucunya, ada patung Merlion kecil yang juga ramai diserbu wisatawan kecil untuk foto. Hihi.

patung Merlion versi mini

Lagi-lagi saya mengalami hal lucu di sini. Awalnya, saya foto-foto sendiri pakai bantuan tripod dan mode self-timer kamera. Nah, saat tengah berpose, di jepretan ke sekian tiba-tiba ada orang dari Cina lewat di belakang saya. Saya sadar, dia juga sadar, kemudian minta maaf. Eh, si bapak dari negeri panda ini cukup kocak orangnya. Dia ngajak ngobrol saya dan ingin lihat hasilnya. Ternyata benar dia masuk ke foto saya😆. Akhirnya, untuk menebus kesalahan itu, dia dengan senang hati menawarkan untuk memotret saya. Saya pikir dia pasti jadi repot sebenarnya, lha wong baru datang sudah dikasih kerjaan moto orang.. eh tahunya malah ketagihan! Dia berlagak sok pengarah gaya gitu nyuruh saya ke sana kemari, jeprat-jepret sesukanya. Kyaa.. malu abis. Teman-teman rombongannya juga senyam-senyum melihat saya😕. Dasar bapak-bapak genit.. Haha. Eniwei, makasih, pak, fotonya bagusss.

@Merlion's shot 1 (gagal, patungnya ketutupan -_-")

@Merlion's shot 2 (gagal, ada bapak2 nebeng eksis -_-")

@Merlion's shot 3 (berhasil!)

Setelah cukup foto-fotonya, saya melanjutkan perjalanan ke arah berlawanan dari saat datang. Kali ini mengarah ke museum seni dan nasional Singapura. Namun, karena keterbatasan waktu, saya nggak mampir ke sana. Jam sudah menunjukkan sepuluh lewat, sedangkan pesawat saya berangkat jam satu. Karena jalan memutar cukup jauh, saya pilih manggil taksi buat balik ke stasiun😀. Yah, kalo bukan kita-kita para turis ini, siapa lagi yang ngelarisin taksi-taksi itu? *ngeles* Waduuuh, tak tahunya saya ketemu sopir taksi tipe yang banyak ngomong. Orang Malaysia, tapi sepertinya sering bolak-balik Indonesia karena tahu bahasa sunda dan jawa. Lewat pertanyaan-pertanyaannya, topik pembicaraan pun bergulir antara kami, tentang negara kami masing-masing, tentang Islam, dan pekerjaan kami. Satu kalimat yang saya ingat dari dia: “Namanya rezeki itu dari Allah ya, kelihatannya saja awak dibiayain Jepang atau siapa lah itu”. Betol betol betol, tuan!

Dari stasiun Lavender, saya bergegas naik MRT (Mass Rapid Transit) lagi ke Changi Airport. Parah, sempat kena stop di stasiun oleh petugas gara-gara bawa koper. Saya disuruh buka koper. Mampus gue, berantakan dong ntar, pikirku waktu itu. Dengan bakat ngeyel saya, saya bilang, “Why do you not use detector?”, masa dia jawab, “I don’t have. It’s not because I don’t wanna use it, but I don’t have.” Yee, that’s your problem, Madam! kenapa gue yang harus repot bongkar koper.. (kebetulan polisinya cewek) –> tapi cuma dalam hati sih ngomongnya😛.

Changi Aiport.

Changi Airport

Aroma kemewahan sudah tercium sejak turun dari MRT. Oh, ini toh bandara yang disebut-sebut terbaik, ternyaman, dan ter ter lainnya itu (klik info). Sofanya banyak banget, gilak! Pantes teman saya pernah ketinggalan pesawat gara-gara nginep di bandara ini. Keenakan kali, ya:mrgreen:. Di sini saya baru bisa makan. Saya pikir, di Marina Bay banyak restoran gitu, ternyata nggak juga. Jauh-jauh ke Singapura, makannya ayam penyet juga. Eh, tapi kan emang udah lama nggak makan selama di Jepang. Pesawat delay hampir sejam, tapi karena bandaranya bagus tadi, saya sih nyaman-nyaman saja berada di bandara lebih lama😀. Pukul 13.50, saya masuk pesawat dan terbang ke Indonesia bersama buanyaaak TKI (ups..). Benar-benar petualangan yang berkesan. Setelah dihitung-hitung, uang saya sisa RM 133.5 dari RM 170 dan S$ 40 dari S$ 70 yang ada. Artinya, sisanya lebih banyak😉. Nah, buat Anda yang tertarik mengikuti jejak saya, mudik sambil mampir-mampir ke negara lain, jangan sendirian deh kalo bisa😛.

"sora aoi" dari dalam pesawat pulang

Tadaima!!!

Tibalah saya di bandara terbersih se-Indonesia, Juanda, Surabaya, pada pukul 15.53 WIB. Di sini suasana lebaran juga mulai terasa. Yang bikin saya shock, begitu keluar dari pintu, ratusan orang berjejal maju menempel ke pagar pembatas area keluarnya penumpang. Mirip kaya penonton konser, beneran! Ya ampun.. mereka ternyata rombongan penjemput para TKI. Oh, pantes..😆. Syukurlah saya masih bisa menemukan keluarga saya nyelip di antara mereka. Already felt at home!

Bandara Juanda

Next Post
Leave a comment

8 Comments

  1. wah, rame bgt tuh kayanya😀 btw, itu semua dilakuin cuman 3 hari? yang bener tuh? tapi bagus nih pengalamannya, bisa jadi inspirasi lagi🙂

    Reply
    • sepi sih sebenernya, habis sendiri.. tapi seru😛
      ga sampe tiga hari, mas.. kan aku bilang < 36 jam, jadi tgl 24 pagi jam 10.30 berangkat dr Jepang, tgl 25 jam 16.30 sampe Indonesia. asik deh, kaya backpacker yg bertualang gitu. moga2 someday bisa ngerasain juga ya🙂

      Reply
  2. Wah, itu saya mau dong, makanan di pesawatnya….:mrgreen:

    Saya baru tahu ada bis dengan satu kursi aja di sisinya. Pasti nyaman bangeeeeet….😳

    Dan saya pun juga rindu ama bandara Juanda….😳

    Reply
    • haduh, yg dipengenin makanan di pesawat -_- ya udah sono, naik MH aja.. tapi harus dr Jepang kalo pengen makanannya macem begitu (onigiri, soba, teriyaki, ocha, eskrim meiji.. :P). bis antarnegara di sana emg rata2 gitu semua, trus modelnya tinggi seolah2 ada 2 tingkat gitu padahal nggak.

      Reply
  3. Kang Wed

     /  September 17, 2011

    boleh tau pake camera apa mbak?
    nice blog btw🙂

    Reply
  4. Menarik nih kayanya. Boleh tau ga gambaran umum itinerary-nya? Soalnya sy juga ada rencana ky gini nih. Kalau dari Jpn ke Malaysia apa perlu mengurus kedatangan di imigrasi? Saya rencana ke Malaysia transit di Singapura, nah apa dalam masa transit itu kita bisa keluar bandara Changi (apa perlu mengurus di imigrasi lagi?).

    arigatou.

    Reply
    • soal itinerary, saya jawab lewat email aja ya.. jawaban pertanyaannya: dua-duanya ngurus imigrasi di bandara aja krn kan itungannya kaya kita naik pesawat ke negara2 itu, jadi abis lolos pengecekan di kedatangan, terserah kita mau ngapain😛

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: