Pahlawan Bertopeng di Youtube


Sepertinya belakangan ini hampir tiap hari saya buka YouTube deh. Kebanyakan karena post dari Facebook atau ide yang datang saat membaca berita. Nah, kemarin yang jadi bintang adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang memperjuangkan “tanda jasa”-nya melalui rekaman video. Sang pahlawan bertopeng ini (memang pakai topeng, lho :razz:) ceritanya seorang guru non-PNS yang menuntut kenaikan gaji bagi orang-orang seprofesinya.

Saya cukup tertarik dengan video ini selain karena dibuat sederhana oleh sosok yang juga terlihat apa adanya, pesan dan lagu latarnya juga sanggup membuat penonton terenyuh kalau melihatnya. Menurut saya, idenya bisa jadi inspirasi buat pihak lain yang pengen demo menyuarakan aspirasinya, tapi dengan cara yang sopan dan menghibur. Bukannya malah menuhin jalan, bikin macet, apalagi sampai bakar diri #nooffense. Berhubung di beberapa komentar saya baca ada posting-an video yang menghilang, saya sampai buka blog dan menulis ini demi melestarikan si video dengan mengunggah ulang. Yah, biar semakin banyak mirror, jadi kalau ada yang dihapus lagi stok masih aman😀.

Alamat videonya:
Seorang guru, sang PAHLAWAN tanpa tanda jasa, BERTOPENG berdemo lewat lipsync lagu “Insha Allah”-nya Maher Zain
(bisa langsung streaming kalau komputer/browser sudah terinstal software yang mendukung)

Jujur, saya nggak perhatian dengan masalah ini sebelumnya. Berapa gaji mereka saya juga nggak pernah kepikiran. Ternyata setelah sedikit googling, saya jadi punya gambaran. Masyaallah.. gajinya bahkan lebih kecil daripada pembantu di rumah saya! (Catatan: gaji pembantu ini pun berdasarkan rata-rata di daerah saya yang kalau tidak segitu mereka tidak akan mau kerja :roll:) How could? What’s wrong with our budget? Saya benar-benar nggak ada ide. Oke, sebut saja gaji mereka sekitar 200 ribu rupiah. Bisa Anda bayangkan bagaimana mereka menghidupi keluarganya?

Sementara itu, dari hasil pencarian saya dapat beberapa poin berikut:

  1. Menurut HRCentro, UMR (Upah Minimum Regional) Indonesia untuk tahun 2012 paling kecil sebesar Rp 775.000,00 dan paling besar Rp 1.381.000,00
  2. Faktanya, guru non-PNS yang kata Kompas meliputi guru honorer, guru swasta, guru tidak tetap, dan guru wiyata bhakti (bedanya apa saya nggak tahu) ini hanya menerima tunjangan 200 ribu per bulan, bahkan tidak semua menerimanya, sedangkan guru PNS mendapat sesuai UMR atau rata-rata sekitar 10 kali lipat “gaji” guru non-PNS. Kabar baiknya, menurut Harian Bhirawa, tahun ini tunjangan fungsional guru non-PNS akan naik menjadi 300 ribu. Oh! Tetap saja..😥
  3. Yang membedakan keduanya cuma status yang ditentukan dari tes CPNS. Jam kerjanya sih kebanyakan sama antara keduanya. Sampai di sini, kita semua mungkin bertanya, kenapa guru non-PNS itu tidak mengambil tes saja biar setara? Yes, they do. Hanya saja, kata-kata indah “diangkat jadi PNS” itu menjadi nyata entah kapan.. tidak sedikit yang mendapatkannya setelah puluhan tahun mengajar. Di samping itu, sebenarnya masih ada jalan menuju kenaikan gaji yang namanya “sertifikasi”, tapi lagi-lagi ada penganaktirian terhadap guru non-PNS. Perbandingan kuotanya adalah PNS:non-PNS = 3:1.
  4. Jumlah guru Non-PNS saat ini mencapai 1,6 juta orang. Dari jumlah itu sekitar 1 juta guru non-PNS diperkirakan masih berpenghasilan tidak layak. (more info)
  5. Dari artikel di BBC, anggaran pemerintah untuk pendidikan sebesar Rp 225 triliun untuk tahun 2010, Rp 249 triliun untuk tahun 2011. Rencananya tahun ini dinaikkan menjadi Rp 256 triliun menurut Bisnis Indonesia. Angka segitu konon kata pak menteri sudah mencapai 20% RAPBN yang merupakan besar alokasi anggaran untuk pendidikan. Terus, apa dong yang selama ini membuat kita sebegitu susahnya mempercayai realisasi “janji” pemerintah itu? Karena dari anggaran tadi 80%-nya sudah habis untuk menggaji guru. Bagaimana dengan biaya operasional sekolah (BOS)? beasiswa anak tak mampu? dana riset? sponsor delegasi Indonesia dalam kompetisi? Hmm, coba kita pikir.. cukup nggak ya 20%-nya atau sekitar Rp 50 triliun untuk setahun? Hehe. Seandainya sisa dana 20% tadi dipakai untuk menambah gaji guru non-PNS juga, wah lebih nggak cukup lagi.. Pusing, pusing, dah jadi menterinya😮. Minta sektor privat nyumbang dana aja, Pak.. kan demi. Demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Halah.

Diskriminasi antara dua status guru, termasuk dosen, berstatus PNS dan non-PNS yang terus dijalankan tanpa mengindahkan reward by achievement ini menunjukkan bahwa sistem kita masih terbelenggu gaya politiknya Belanda pas zaman penjajahan. Hellooooo, mau sampai kapan?

Banyak media menyebutkan bahwa isu ini merupakan salah satu bagian penting dari masalah pendidikan kita. Keberadaan guru-guru non-PNS tersebut tak lain karena pemerintah sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan guru di sekolah-sekolah. Hari gini siapa sih yang mau jadi guru? Hanya segelintir orang, apalagi dengan kondisi kecilnya jaminan yang harus dihadapi. Beruntungnya, masih ada seorang Anies Baswedan yang menggagas Indonesia Mengajar dengan program “setahun mengajar”-nya. Ya, cukup setahun saja, tidak lebih, plus gaji dan fasilitas yang lebih besar daripada standar gaji fresh-graduate. Nyogok sih.. tapi nggak apa-apa lah. Paling tidak program ini bisa sedikit berkontribusi menjawab kebutuhan guru tadi. Akhirnya cuma bisa berharap semoga jeritan hati sang pahlawan bertopeng di video ini bisa terdengar dan terkabulkan.. dengan izin Allah. Insya Allah.. sesuai lagunya:mrgreen:.

Leave a comment

1 Comment

  1. nice writing, ga🙂
    “kesejahteraan guru” masih jd masalah ya ternyata :’I

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: