Ngomong-ngomong soal Ateis


Buat yang terpanggil dengan judulnya, jangan berprasangka dulu ya sebelum baca sampai selesai🙂. Saya cuma pengen berbagi tentang kata hati aja di sini. Sebagaimana bernapas yang kita lakukan terus-menerus secara spontan (tidak direncanakan sebelumnya), aktivitas berpikir, bertanya, dan merenungkan sesuatu adalah hal yang lumrah kita lewati kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja. Kadang-kadang, jika “sesuatu” itu telah mengusik kita berkali-kali, kita ingin mencurahkannya kepada yang lain, entah benda atau orang. Di situlah posisi saya dan sesuatu itu bernama ateisme.

Ateis itu.. label untuk orang-orang yang konon tidak percaya Tuhan. Bisa juga tidak mengakui Tuhan. Tuhan itu sendiri yang mana definisinya bagi mereka, saya juga kurang tahu. Mungkin pencipta alam semesta. Mungkin Tuhannya orang Islam. Mungkin matahari, roh leluhur, gunung, dll. yang dipercaya sebagai jelmaan dewa-dewa oleh penganut politeisme. Entahlah.. tapi di mata saya ateis itu tetap punya Tuhan, yakni sesuatu yang disembah, diagung-agungkan, dan menjadi sandaran mereka dalam menjalani hidup. Tiap ateis mungkin punya definisi berbeda-beda atas keyakinannya. Well, kita sebut saja misalnya science a.k.a. ilmu pengetahuan. Soalnya kan kayanya semua yang ada di jagat raya ini bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dalam kamus orang ateis. Is it true, guys-who-declare-as-atheists?

Baru-baru ini ada berita PNS yang ditangkap karena ateis. Ateisnya dianggap meresahkan masyarakat gitu karena dia ternyata seorang ‘aktivis’  yang gemar ‘berdakwah’ alias menyebarkan paham ateis melalui tulisan (tuh kan, sebenarnya mereka sama aja.. punya kepercayaan sendiri yang ingin diperjuangkan, yah cuma beda Tuhan itu tadi aja :razz: ). Teman-teman saya, yang mungkin sepaham dengannya #nooffense, ramai sekali mengomentarinya di social media. Kebanyakan membandingkannya dengan kelompok radikal agama tertentu yang kerap membuat onar, tapi nggak ditindak aparat. Aduh, soal satu ini saya juga bosan.. perkara paradoks semacam itu sering dibawa-bawa sama mereka dari dulu.

Orang ateis yang adem ayem ditangkap, sedangkan orang-orang (ingat, ini bentuk jamak) beragama yang anarkis dibiarkan.

Negara yang penduduknya mayoritas ateis aman-tenteram, sedangkan negara yang mayoritas beragama kacau-balau.

Yang paling fresh tentu saja berita berjudul provokatifnya Kompas ini. Langsung jadi sasaran empuk komentar-komentar bernada “ya gini deh hasilnya sholat dan ngaji..” atau “kebukti kan agama nggak bikin orang jadi baik..”. Saya nggak men-judge yang menulis komentar semacam itu orang ateis, tapi khusus untuk komentar yang memang secara eksplisit mengusung ateisme, saya berani menduga bahwa penulisnya ateis.

Beberapa kecenderungan yang saya lihat sekarang dari orang-orang ateis baru, artinya memutuskan untuk tidak percaya atau tidak mengakui Tuhan lagi, antara lain:

  • Mereka kecewa dengan kelakuan-kelakuan buruk orang beragama, padahal seharusnya Tuhan dan aturan Tuhan dilihat sebagai entitas yang berbeda dengan manusia. Tuhan dan aturan-Nya tidak pernah salah, sedangkan manusia tempatnya salah. Seperti saat ada error atau bug dalam programming, kode dan sintaksnya tidak pernah salah, programmer-lah yang salah.
  • Mereka bingung dengan agamanya semula, tapi memilih “kabur” ketimbang harus mempelajari lebih jauh, padahal sudah jelas ilmu manusia terbatas.
  • Mereka akrab dengan jaringan “kiri” agama tertentu dan umumnya berada di posisi yang sama dalam berpendapat mengenai suatu isu terkait polah-tingkah orang beragama.

Poin-poin di atas hanya diantaranya saja. Kalau ingat lagi, saya akan tambahkan deh.. Tolong pembaca yang ateis jangan tersinggung ya. Saya memang nggak pakai riset apa-apa. Cuma pendapat pribadi saja dari pengalaman selama ini. Sangkalan apa pun diterima dengan lapang dada. Terkait ketiganya, para ateis yang kebetulan saya tahu rata-rata memang bukan oknum taat dalam agamanya terdahulu. Wajar saja jika mudah pindah haluan😉.

Ups.. dari tadi saya kerap memakai istilah “orang beragama”, padahal kan VS-nya ateis harusnya “orang yang percaya Tuhan”. Masalahnya, orang yang percaya Tuhan atau teis belum tentu memeluk agama. Kita mengenal adanya kaum agnostik yang sebenarnya agak susah didefinisikan. Agnostik ini dulunya saya kira mereka masih percaya Tuhan itu ada, tapi tidak peduli dengan agama. Namun, belakangan saya tahu bahwa agnostik mencakup segmen yang lebih luas, yakni termasuk orang yang tidak tahu dan/atau tidak peduli apakah Tuhan itu ada. Mereka tidak mengklaim benar atau salah tentang keberadaan Tuhan. Meskipun tampak sama, tapi agnostik ini cenderung cuek daripada ateis yang masih menunjukkan pertentangan. Hmm, saya jadi berpikir, apakah mayoritas orang-orang Jepang itu bisa disebut sebagai agnostik atau bukan. Kata sensei saya, they have no idea about God. Mereka hidup mengandalkan nilai-nilai universal yang terkandung dalam tradisi lokal.

Demi Allah, saya nggak benci dengan orang-orang ateis.

Lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu untukku agamaku (Q. S. Al Kafirun:5).

Saya hanya marah dan kesal kalau mereka mulai menghina agama, terutama Islam. Sudah hal lumrah bagi mereka ‘mengkritisi’ aturan Allah dan Rasul-nya, dan juga fenomena-fenomena terkait agama yang sedang hot. Kaya nggak ada kerjaan lain aja kadang.. coba aja googling, website-nya orang ateis pasti banyak deh yang isinya bahas ayat-ayat. Dibahas buat diolok-olok ding lebih tepatnya. Kaya gitu yang bikin emosi😡. Heloo, kaya yang kalian udah bisa ngalahin ahli tafsir aja. Ntar mati juga nggak ada yang mau nerima..

Wait! wait! Ngomong apa tadi? Ohya, mati.
Orang ateis percayanya manusia itu habis mati ke mana dan gimana ya? Apakah hanya hidup untuk mati? Apakah juga percaya akan hidup lagi setelah mati? Untuk siapa mereka hidup jika pada akhirnya mati? Ini yang jadi pertanyaan saya dari dulu. Maklum, sebagai seorang muslim, memiliki model tahapan kehidupan yang jelas merupakan hal yang paling saya syukuri. Saya rasa muslim lain juga begitu. Seperti yang diakui oleh mereka sendiri, kehampaan hidup yang umum dirasakan oleh orang Jepang adalah karena mereka tidak punya tempat untuk bersandar, apalagi saat menghadapi masa-masa sulit. Tekanan itu begitu terasa. Ketenangan mahal sekali harganya dan terus dicari. Wajar saja banyak yang bunuh diri. Astaghfirullah.. padahal hidup di Jepang udah enak banget. Gimana kalau mereka di Indonesia, mungkin pas anak-anak udah pada gantung diri😆.

Jadi itu tadi pertanyaan saya. If you’re dead, what’s next? Sesalah-salahnya perkara mempercayai Tuhan bagi orang ateis, toh kita sama-sama nggak tahu sebelum apa yang disampaikan Tuhan benar-benar terjadi. Misalnya, dalam Al-Quran, Allah menjelaskan kiamat, hari perhitungan, surga dan neraka, dsb. Orang Islam percaya itu benar karena firman Tuhan walaupun nggak ada satu pun yang bisa membuktikan realisasinya. Taruhlah orang ateis menyangkal itu semua, lalu apa skenario setelah mati? Hidup lagi? Yah, itu sama saja percaya ada zat yang menghidupkan. Adakah penjelasan ilmiah dari fenomena terbentuknya kembali makhluk hidup seperti sedia kala setelah jasadnya hancur di dalam tanah? Ahey, jadi muter-muter kan.. ujung-ujungnya ke Tuhan juga. Kalau ternyata yang dikatakan Tuhan itu benar gimana dong? Coba kalo lebih sabar percaya ke Tuhan sampai saat untuk membuktikan keberadaan (atau ketemu?) Tuhan itu datang.. cari aman lah setidaknya. Susah amat sih😛. Benar salah toh nggak ada ruginya ambil jalan yang penunjuk arah ke tujuannya udah jelas, rambu lalu lintasnya jelas, dan cara melewatinya juga jelas.

Akhirnya, untuk menutup omong-omong kali ini.. saya mau ngasih screenshot obrolan saya dengan teman dulu.

obrolan tentang ateis dan agnostik sama teman di Twitter => baca dari bawah ke atas


Ya, buat saya, ateis itu.. tidak lebih dari orang-orang yang tidak mau diatur. Is there any worse life than living a life without rule? I don’t think so. Makanya, dalam kondisi normal (tidak mengganggu agama), saya lebih merasa kasihan daripada benci sama mereka. Semoga orang-orang ateis mau menanggalkan jubah kesombongan, gengsi, dan takaburnya untuk mengakui bahwa ada zat yang lebih tinggi dari mereka. Aamiin. Kalau kata Maher Zein mah we just have to open our eyes, our heart, our minds kok🙂.

Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Wah, saya kok justru sebaliknya ya…..
    Saya menjadi agnostik malah BUKAN karena kelakuan umat beragama (itu kan tergantung orangnya/tafsir/personal/bukan agama), bukan juga karena sainst, bukan karena orang tua, dan bukan juga karena lingkungan. Saya menjadi GALAU malah karena terlalu fanatik dengan agama, mempelajari Kitab Suci terlalu DALAM, dan mungkin juga mempelajari terlalu banyak Kitab Suci(semua kitab di baca,wkwkkwkw), hingga akhirnya berputar-putar pada roda kebingungan bernama Agnostik.
    Salah satu yang sedang saya dalami adalah yang ini (dari salah satu kitab agama semmit):
    sebuah-konspirasi.blogspot

    jika anda sudah menemukan Jawabannya (Jalan Yang Benar), mohon kabari saya. Sebab kalau surga itu memang ada saya juga mau masuk kesurga.
    Terima kasih.

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: