Duit Riset


Halo! Di Jepang sudah hari Jumat sekarang. Udah lama saya nggak cerita kehidupan mahasiswa nih.. biar kelihatan kalo emang serius kuliah di sini (hayoo :grin:) eh.. nggak ding, biar gaya aja kaya pak DIS gitu. Kerja ada laporannya. Haha.. Anyway, here I am, in the middle of first and second grade.

Seminggu ini saya agak repot melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu membelanjakan anggaran riset dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebagai warga negara dunia ketiga, lebih spesifiknya Indonesia, yang punya alokasi dana untuk riset paling irit sedunia, tentu menghabiskan dana riset bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Belum pengalaman sih. Halah, padahal yo nggak pernah riset kecuali pas skripsi:mrgreen:. Terlebih lagi, mayor saya kan serba virtual gitu (baca: informatika atau gampangnya sebut saja mawar IT) jadi nggak perlu banyak benda fisik. Lain halnya kalo saya ini anak biologi atau tata boga.. waduh, dengan uang segitu saya bisa beli rumah kaca setanaman-tanamannya atau gudang penyimpanan bahan masak. Kyaaa. Karena sementara butuhnya cuma komputer (yang udah ada) dan beberapa software (yang bisa cari gratisan, tapi nggak bajakan), jadinya saya perlu mikir juga biar realistis dan benar-benar kepakai.

Beneran lho kelihatan bedanya mahasiswa yang negaranya udah biasa peduli sama riset dan yang enggak (ya iyalah..). Suatu hari, di hari terakhir pertemuan lab, saya baru dikasih tahu kalo teman satu lab saya yang merupakan ‘pribumi’ dan bareng saya masuknya, ternyata udah membabat habis uang risetnya di awal-awal semester. Jujur aja saya kaget soalnya saya tahu progress dia sama galaunya kaya saya, malah lebih banyak dia ganti judulnya😮. Ketika saya tanya buat apa uangnya, dia bilang buat beli tablet, hackable robot, laptop sama buku. Busyet.. jadi yang dia bawa selama ini.. dari duit itu?, batin saya. Emang dia ngasih saran ke saya sebaiknya beli gadget aja daripada buku karena harga buku tidak begitu mahal sehingga sulit menghabiskan anggaran dengan buku.

Berhubung saya ini orangnya nggak suka macam-macam (prett..), dengan polosnya (atau bodohnya?) saat itu saya tanya, “Apa boleh kalo kita beli-beli baru? *padahal udah punya maksud saya* Mereka bakal ngecek nggak pemakaiannya gimana? *kali aja ternyata buat main-main doang*”. Gubrakk.. #tepokjidat #katro. Jawabannya ya jelas aja nggak apa-apa dan nggak akan dipantau. “The reason is always ‘I need it for research'”, tambahnya lagi. Oh iya ya.. hehe. Alhamdulillah nggak bakat korup berarti😛. Hari demi hari berlalu. Saya cuma sibuk googling, keluar masuk CO-OP (semacam koperasi kampus), window shopping di toko elektronik, dan sebagainya sampai tibalah minggu lalu. Mulai panik karena anggaran bisa dipakai maksimal akhir Februari. Dengan serta-merta, saya kerahkan bala bantuan dari bangsa jin teman yang jago nihongo untuk mencari barang-barang yang saya inginkan. Satu per satu terbeli juga dan siap dilaporkan ke pihak berwajib minggu depan.

Ohya, sebenarnya dana riset ini nggak cuma buat belanja, tapi juga bisa membiayai perjalanan kalo mahasiswa harus presentasi di konferensi atau urusan lainnya terkait riset. Penting tidaknya perjalanan tersebut disponsori akan diputuskan oleh kantor yang bertugas mencairkan dana. Lebih detilnya, kalo di kampus saya jenis-jenis pembiayaan riset ini sebagai berikut:

research expenses yang bisa ditebus

Malas copy paste jadi print screen aja🙂. Banyak kan? Makanya, saya harus baca deskripsi masing-masing biar tahu bedanya “supplies” dan “materials” itu apa.

Tadinya saya pikir uangnya diberikan dulu ke mahasiswa, lalu baru deh belanja-belanja. Ternyata prosedurnya di kampus saya itu reimbursement alias uangnya bakal diganti setelah kita beli dan bayar. Ngokk.. untungnya dikasih tahu dulu jadi saya bisa atur-atur dompet. FYI, saya pernah kelabakan cari pinjaman duit buat bayar SPP semester kedua yang besarnya.. allahuakbar! gede banget.. ceritanya karena saat itu saya nggak tahu prosedurnya begitu. Saat semester pertama, saya cuma tahu beres aja. Kayanya kampus langsung yang nagih ke yayasan beasiswa saya, sedangkan semester-semester selanjutnya, kata si mas pengurus beasiswa, sistemnya reimbursement😯.

Singkatnya, urutan yang harus saya jalani dalam menggunakan research budget ini yaitu:

  1. memilih barang
  2. lapor ke sensei (dosen di lab), dapat persetujuan
  3. membeli barang
  4. merekap nota
  5. mengisi formulir aplikasi
  6. meminta tanda tangan sensei
  7. membawa barang-barang dan bukti pembayaran ke kantor kenshuu senta-
  8. menyerahkan formulir ke general affairs office
  9. menunggu uang ditransfer ke rekening (hore..)

Capek juga ya.. dapat dana bingung, tapi nggak dapat dana jauh lebih bingung. Emang kadang latihan ngabisin duit itu penting😆.

Berikut sebagian barang yang berhasil dibeli. Sebagian lagi masih di toko dan ditaruh di lab😀

This slideshow requires JavaScript.

Leave a comment

2 Comments

  1. Ooooh, tetap aja dong, gak bisa suka2 beli, ‘kan harus persetujuan dosen.😀

    Tapi begini ini enak banget ya, bisa merasakan kaya sejenak.😆

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: