Rileks dengan Panggilan Sayang


Saya sedang merapikan file di komputer dan mem-backup beberapa file di cloud service, kecuali catatan-catatan kecil seperti ini. Penulis aslinya sudah tidak terlacak, tapi begitu ketemu, nanti saya tambahkan🙂. Di sini sana tulis ulang dengan koreksi tata bahasa dan EYD. Inspiratif lho ^_^

Suatu sore seorang kakek bersandar di atas kursi di teras rumahnya. Sambil membaca koran, ia lamunkan pikirannya tentang berbagai persoalan yang pernah melintas dalam hidupnya. Tak lama kemudian secangkir kopi dihidangkan seorang wanita seumur yang tak lain adalah sang istri tercinta. Kopi itu diseruputnya sambil menyeringai kepanasan.

Istrinya melihat lelaki itu masih belum berubah kecuali usianya yang sudah sangat tua. Tak terasa ia telah hidup bersama selama hampir lima puluh tahun, suatu masa yang tidak sedikit tentu saja. Mengawali pembicaraan sore itu, secara mengejutkan sang istri memanggil suaminya dengan kata “Mas”, suatu sebutan yang telah lama tidak terdengar lagi. Yang biasa didengar adalah panggilan eyang kakung atau kakek. Panggilan itu telah diberlakukan oleh semua keluarganya, baik oleh cucu, cicit, anak, maupun istrinya sendiri. Betapa kagetnya sang kakek pada sore itu ketika mendengar panggilan “Mas” dari istrinya.

“Andaikata kita masih muda,” kata sang istri melanjutkan. “Ya, andaikata kita masih muda tentu aku bisa lebih banyak membahagiakan hidupmu,” kata sang kakek yang hanya tersenyum masygul, kemudian menyeruput kopinya lagi.

Kesan apa yang bisa kita tangkap dari kejadian sore itu? Pertama, kita memperkirakan bahwa kedua insan tersebut sangat berbahagia dalam hidupnya. Kedua, kehidupan rumah tangga mereka dihiasi dengan romantisme yang luar biasa. Ketiga, waktu yang berlalu tak mungkin bisa diulang kembali.

Tidak banyak rumah tangga sukses seperti kakek nenek dalam kisah di atas. Mungkin saja usia perkawinan mereka telah mencapai puluhan tahun, tapi kebahagiaan berumah tangga belum juga sempurna. Jangankan berandai-andai sebagaimana roman kakek nenek di atas, menyatakan cinta saja tidak kesampaian, padahal inilah resep hidup sehat secara kejiwaan.

Dalam perkara ini, Rasulullah tidak tanggung-tanggung memberi contoh. Beliau memanggil istrinya, ‘Aisyah, dengan panggilan yang manis sekali: ‘Ya, Khumaira’ (wahai permataku). Siapakah istri yang tidak senang mendapat panggilan ini? Romantisme Rasulullah tidak sebatas pada panggilan saja, tapi juga pada tindakan nyata. Dalam suatu perjalanan panjang, Rasulullah meminta para sahabat untuk mendahuluinya. Beliau bersama istrinya ternyata mengambil kesempatan ini untuk adu kecepatan. Suatu kali istrinya dibiarkan berlari mendahuluinya, di lain kali ia mengejar dan mengambil posisi sebagai pemenang.

Romantisme Rasulullah ini tidak hanya dalam kehidupan rumah tangga, tapi juga dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat luas. Dikenal dalam sejarah sebutan-sebutan untuk para sahabat yang justru kadang lebih terkenal dari nama sebenarnya. Tentu saja laqab-laqab itu baik dan menggambarkan jasa kebaikannya. Ada Ash-Shiddiq, Al-Faruq, Saifullah, dan banyak lagi sebutan lainnya.

Soal sebutan ini, barangkali kita juga melakukannya. Kesannya asal-asalan, bahkan cenderung negatif. Kepada yang pendek, kita sebut pendekar, yang artinya pendek kekar. Kepada yang kecil mungil, kita sebut pak Unyil. Mungkin orang tersebut menerima saja panggilan itu, tapi untuk apa sebutan itu diberikan? Bukankah orang tuanya telah memberi nama yang lebih baik?

Lain halnya dengan sebutan yang diberikan rasulullah kepada para sahabatnya, selain untuk menghormati, juga bernilai motivasi. Dengan sebutan Saifullah, Khalid bin Walid terus terlibat dalam semua pertempuran, bahkan ia sempat bercita-cita mati syahid dalam medan laga, meskipun pada akhirnya takdir menentukan lain. Ia mati di atas tempat tidur.

Romantisme Rasulullah sampai juga pada hal-hal yang serius. Perang adalah sesuatu yang amat serius, tapi oleh Rasulullah digambarkan sangat romantis. Beliau katakan bahwa jihad itu tidak lain adalah sebuah tamasya, rekreasi. Dengan cara itu mereka menghadapi perang dengan tenang, tidak tegang, dan tidak terlalu emosional.

Secara material, kita sekarang lebih kaya dari nabi dan para sahabatnya. Berbagai kemudahan hidup telah kita nikmati. Namun, dalam keadaan seperti ini ternyata kita sekaligus juga sangat miskin. Kita sangat kekurangan. Kekurangan waktu rileks, kurang bergaul dengan sesama, kurang pengakuan dan penghargaan, kurang berbagi perasaan, dan kurang waktu untuk merenung dan tafakur. Kita sangat miskin karena serba kekurangan.

Banyak di antara pasangan suami-istri yang rela merogoh sakunya hingga jutaan rupiah untuk konsultasi dengan orang ahli, baik psikolog maupun psikiater, padahal obatnya tidak lain ada pada dirinya dan pada pasangannya. Sisihkan waktu untuk saling bercengkerama, berbagi pengalaman dan perasaan. Dari sini akan tumbuh subur cinta yang bijaksana.

Seorang guru besar selalu dipanggil ‘Prof’, baik oleh mahasiswa maupun rekan sesama dosen, tapi suatu kali ia dipanggil “Dik” oleh orang yang lebih tua darinya. Panggilan itu aneh, tapi menimbulkan keakraban yang luar biasa. Ia merasa rindu panggilan yang nostalgik dan romantis ini. Ia seakan-akan keluar dari belenggu formalitas yang sekian lama mengungkungnya. Ia seakan kembali hidup di masa muda.

Previous Post
Leave a comment

6 Comments

  1. Saya pikir Mbak mau menceritakan kisah percintaan Mbak sendiri….😳

    Reply
  2. asekkkk..kisah cinta ega..,ga link in blog ku d blogmu dong ehehehehe

    Reply
  3. zakkafauzan

     /  March 26, 2012

    Seinget saya Humaira artinya “pipi yang kemerah-merahan” deh… CMIIW

    Reply
  4. bagus ceritanya, ihiyy yang mau punya orang yg dipanggil mas😀

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: