Ramah dari Hongkong


Pagi ini, untuk ke sekian kalinya saya harus mengelus dada karena mendapat pelayanan yang buruk sekali dari seorang staf toko. Sebagai seorang calon pelanggan yang belum pernah menggunakan jasa perusahaan terkait, saya ingin tahu prosedur pemesanan dan spesifikasi produknya. Hal-hal semacam itu, kalau di Jepang, tinggal mengetikkan nama perusahaan di jendela Google.. jreng! muncul deh semua informasi yang pelanggan butuhkan🙂. Berhubung tidak menemukan website-nya, saya telepon langsung ke nomor tokonya.

Setelah menyampaikan maksud, saya menanyakan beberapa hal yang menurut saya wajar, misalnya apa yang harus dikirim, durasi pengerjaan, dan rentang harga. Si staf yang menerima telepon menjawab dengan tidak memuaskan, semuanya serba tidak tahu dan saya disuruh datang langsung -_- padahal saya kan telepon karena belum bisa datang dan kalau pun datang harus bawa dokumen-dokumen yang perlu disiapkan sesuai format mereka. Belum sempat saya menyelesaikan kalimat untuk pertanyaan lainnya, si staf berkata dengan nada ketus bahwa orang yang tahu tentang jawaban pertanyaan saya sedang tidak ada daaan.. teleponnya ditutup gitu aja dong! Menyedihkan.. tiba-tiba saya jadi malas bertransaksi di perusahaan tersebut. Gitu ya cara melayani calon pelanggan yang bisa jadi bagian dari pemasukan dia?

Well, sepertinya kita masih harus banyak belajar etika pelayanan dari orang Jepang. Lupakan soal banding-membandingkan. Kita hanya sedang mengambil nilai positif bangsa lain. Seorang senior saya, Isti, pernah memasang status yang kira-kira isinya begini:

seribet-ribetnya birokrasi di Jepang, pasti selalu berakhir dengan senyuman dan pulang dengan hati riang

Para komentator status ini ramai mengamini dan menceritakan pengalaman mereka sendiri. Saya pribadi, walaupun tidak ikut berkomentar😀, merasakan hal yang sama. Senang rasanya berurusan dengan pelayanan publik (termasuk pelanggan, dsb.) di sini. Malah kadang iseng telepon cuma untuk latihan bahasa Jepang saja. Haha. Kadang juga, kalau mood saya sedang jelek atau capek, lalu saya jalan-jalan keluar, lihat penjaga toko yang semangat meneriakkan ucapan selamat datang atau menyapa dengan hangat gitu, saya bisa jadi bergairah lagi. Ah, beda sekali dengan telepon yang tadi.. malah bikin bad mood😥.

Kalau saya dikecewakan staf toko melalui telepon dan jadi malas bertransaksi di perusahaan terkait, maka beberapa hari yang lalu di tempat lain ada seorang Nafielah yang dikecewakan polisi dan jadi takut naik angkot. Saya bisa saja menulis paradoks lain dengan menceritakan polisi di sini, tapi ah.. nanti malah ada yang muak. Kan katanya Indonesia lebih butuh aktor daripada komentator. Ya sudahlah, mari kita jadi aktor saja. Namun, kalau tetap penasaran, senior saya, pak Totok, pernah menulis tentang polisi komunitas Jepang di sini.

Sewaktu saya kecil, di lagu anak-anak, di pelajaran IPS, di majalah Bobo, dan di mana-mana, bangsa Indonesia dicitrakan sebagai bangsa yang ramah-tamah. Berarti seharusnya sih sebagian besar masyarakat kita itu ramah, yaitu baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan menurut kamus. Ternyata semakin besar, saya semakin sangsi dan tidak percaya diri membanggakan “citra” tersebut. Pelayanan publik buruk juga sudah pada maklum, padahal pelaku-pelakunya merupakan perwakilan wajah-wajah masyarakat luas. Ramah dari Hongkong?* Mungkin benar kalau ukuran ramahnya itu dari Hongkong soalnya orang sana memang ‘ramah’. Coba saja naik pesawat yang ada “China”-nya.. awas anjing pramugari galak😆. Yang jelas, ramah itu baru benar-benar bisa saya temukan di Jepang.

Catatan:
* Istilah “dari Hongkong” kerap dipakai untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak seperti kenyataan, mirip penggunaan kata “apanya?”, misalnya A: “Kamu pulang cepat ya? wah, enak dong bisa tidur cepat” B: “Tidur dari Hongkong! (Tidur apanya!), ini masih banyak tugas yang harus aku selesaikan.”

Next Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Perlu d jitak palanya.
    Etikanya ilang d telan bumi.
    Waduh..
    Tp, hadapi dngan senyum. Smangat ya.
    Pasti bisa melewati hari kyk orang jepang. Hehe

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: