Tanggapan terhadap Huru-hara #KenaikanBBM


Entah bagaimana cara berpikir para warga dan/atau mahasiswa anarkis yang sering dibahas di televisi hari-hari ini. Pendemo-pendemo itu kelihatan sekali pikirannya pendek, reaktif, dan provokatif. Sudah lama kehidupan saya tenang tanpa berita demikian, tapi eh tiba-tiba terusik lagi, geregetan lagi. Astaghfirullah. Memang sebaiknya nggak punya TV saja daripada semakin terbebani tiap lihat berita. Satu, terbebani karena kasihan melihat sekelompok bangsa sendiri yang tidak bisa berpikir. Dua, terbebani karena tentu saja kita tidak bisa hanya mengecam tanpa melakukan sesuatu atau ikut rembug solusi. Okelah, kita masih bisa menemukan berita serupa di internet, tapi efeknya tidak seberapa dibandingkan melihat langsung rekamannya di TV. Ditambah respon media itu sendiri yang menggiring massa makin anti pemerintah. Noted: terutama TV spesialis berita ‘itu’. Ck.. ck.. ck..

Kenapa sih massa kok sekarang jadi suka demo tak berbobot begitu?
Hampa, tak berarti, tak menarik simpati, tak mampu menyampaikan aspirasi.

Mereka punya otak dipakai buat mikir nggak sih
Itu lho yang dirusak tidak ada esensinya.
Bakar ban, papan reklame, pos polisi, mobil plat merah, truk Coca-cola, sampai restoran McD.
Ya wajar lah kalo polisi yang gemas kebawa emosi dan malah memukuli demonstran.
Kalo mereka ngasih tahu pakai mulut, apa mempan?

Demo begitu ya mas, pak.. (atau ada mbak dan ibunya juga?)
Menurut saya nih.. hal yang disampaikan saja tidak jelas, apalagi siapa yang mau ditemui dan apa tujuan aksinya. Pikir-pikir, pejabat mana juga yang mau menunjukkan batang hidungnya dengan kondisi super rusuh seperti itu. Pejabat mana pula yang berkeinginan membuka telinganya terhadap tuntutan dari segerombolan siberat.. eh.. massa liar😛. Rakyat juga bukannya terbantu, tapi justru kesusahan. Tidak ada perasaan aman untuk keluar rumah, kalo pun keluar jalanan macet, ditutup, atau berapi (akibat bakar-bakaran maksudnya). Tujuannya ya tidak jelas, misalnya capaian apa yang diinginkan pada demo hari X di tempat Y. Mungkin orang hanya mengira-ngira berdasarkan situasi terkini. Oh, lagi mau ada kenaikan BBM, jadi demonya menolak itu. Dibayar sama parpol pun, mbok ya mikir sedikit gitu #nooffense.

Dengan demo anarkis seperti itu, boro-boro aspirasinya didengar atau mengubah kebijakan. Lha wong yang demo baik-baik dengan duduk manis, face to face dengan pejabat tinggi negara, dan pelakunya sudah tidak diragukan intelektualitasnya saja sulit untuk berhasil *garuk-garuk tanah*.

Terus ya, khusus yang mahasiswa, biasanya yang memimpin demo itu mahasiswa IP pas-pasan atau malah nyaris DO sibuk berkoar-koar, sementara kuliahnya terbengkalai. Seperti video ini:

Yah, paling nggak itu kebukti di kampus saya dulu. Orang udah tahu sama tahu tokoh mahasiswa mana yang mimpin demo tertentu dan tokoh mana yang mimpin pertemuan sama menteri.

Pesan saya kepada teman-teman mahasiswa, sebaiknya belajar yang rajin saja deh nggak usah ikut demo turun ke jalan kecuali jika memang perlu menegur kedzaliman penguasa. Terkait kebijakan kenaikan BBM ini, mending disikapi dengan hati lapang karena memang kecil kemungkinan untuk tidak jadi dirilis. Akui saja pemerintah kita kurang kreatif mencari solusi membelitnya harga minyak. Mereka tentu butuh bantuan cerdik-pandai untuk mewujudkan pengadaan energi baru. Misalnya, pak DIS menggagas konversi ke listrik. Mereka juga pasti senang kalo masyarakat pintar berhemat bahan bakar. Misalnya, kalo mau budget BBM tidak membengkak, ya kurangi penggunaan motor atau mobil lah. Alokasikan budget untuk barang kebutuhan lain yang juga ikut naik. Tinggal kita mau ambil peran yang mana saja sih. Kan katanya lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan.

tweets kemarin

Ohya, sebenarnya minyak itu bukan pilihan sebagai bahan bakar yang utama. Kita belajar sejak SD kalau minyak bumi dan gas itu sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Butuh waktu ratusan juta tahun. Itu barang tambang. Bayangin aja, kita tuh pakai barang tambang (terus langsung kepikiran emas, perak, permata, dll.) untuk bahan bakar! Kurang mewah apa lagi coba.. sama halnya kaya nasi. Kita terbiasa makan nasi 3x sehari, padahal orang zaman dulu dan juga sebagian suku di negeri kita makan umbi-umbian sebagai makanan pokok. Masalahnya, kalo makan nasi itu harus sedia lauk, sayur, dan kadang kerupuk juga. Jadi biayanya berkali-kali lipat dibandingkan makan mie, ubi, atau roti krim kaya bule😀. Sayangnya, meskipun punya kebergantungan tinggi, negara kita belum mampu mencukupi keduanya, baik minyak maupun beras. Dua-duanya masih harus impor walaupun katanya sih sebenarnya kita punya (yang pasti bakal panjang lagi kalo dibahas, hehe).

Sudahlah, mari kita kurangi sikap pesimis.

Harga BBM dinaikkan nggak terima.
Pemerintah mau bangun PLTN nggak terima.
Konversi BBM ke BBG dianggap menambah masalah baru.
Jadi gimana dong? Nggak enak kan kerja disangsikan terus.

Yuk, hadapi #KenaikanBBM dengan jiwa ksatria:mrgreen:.

Previous Post
Leave a comment

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: