Behind the Scene of 30 Hari Mencari Cinta


Halo! Sekarang sudah tanggal 5 April. Status saya masih single meskipun sudah bisa dibilang engaged, tapi ya.. selama janur kuning belum melengkung, we’ll never know how tomorrow will be kan ya. Halah. Bagi yang sudah baca tulisan saya, 24 Maret, mungkin bisa menebak ‘sesuatu’-nya. Ya, sesuatu yang teman satu lab saya menyebutnya sebagai the private life, there is nothing more important than it.

Kehidupan pribadi. Saya merenung.. ternyata saya baru menyadari kehidupan pribadi hanya berputar-putar di wilayah diri kita dan keluarga. Begitu pribadinya sampai saya baru ngeh kalau jarang menulis tentang itu (atau bahkan belum pernah) di sini sebelum tulisan 24 Maret itu. Begitu pribadinya sampai saya baru terasa ‘terusik’ ketika hari-hari ini banyak orang yang menaruh perhatiaannya pada kehidupan pribadi saya, termasuk orang-orang yang sudah lamaaa sekali putus kontak, yang saya tidak tahu ke mana rimbanya. Saya memang tidak menampilkan tanggal ulang tahun di FB walaupun kata sahabat saya itu bisa menjadi ajang silaturahim dengan sanak kerabat yang jarang bertegur sapa. Hehe.

Anyway, semua itu sangat saya syukuri, lagipula kapan sih orang lain peduli dengan kehidupan pribadi kita? dua kali saja belum tentu. Saya pun berharap bisa lebih banyak lagi memberi perhatian pada kehidupan teman-teman saya, saudara-saudara, apalagi keluarga, karena kata Mario Teguh, sebaiknya jangan menunda memperhatikan orang lain sebab kita tidak tahu apa kita masih punya waktu cukup untuk melakukannya. Maka, selagi ada moment, izinkan saya bercerita kisah di balik layar drama kehidupan pribadi yang satu ini.. mumpung masih punya waktu untuk menulis😀.

*story mode ON*

Kalau kita cek di sini, berarti waktu saya untuk mencari cinta (atau kata Ivone, harusnya menunggu si cinta) tinggal 30 hari lagi. Bisa ‘masih lama’, bisa juga ‘tinggal sebentar’. Kan kata pak Dahlan waktu itu relatif.. Buat saya yang masih super ribet dengan urusan teknis, pilihan kedua itu lebih tepat😐. Sebenarnya, tahun lalu, saya dapat referensi dari senior yang isinya panduan mendaftar berbagai kebutuhan pernikahan, yang mana ada timeline sejak Y-1 alias satu tahun sebelum hari-H. Hahaha. Prakteknya sih baru M-2 (kurang dua bulan) persiapannya. Ohya, silakan diunduh bagi yang mau segera menyusul. Lebih cepat dipelajari lebih baik😮.

Wedding Checklist
Editan saya: Wedding Checklist [Modified]

Kembali ke laptop..
Jadi, sekitar bulan Januari saya dapat kabar positif, yaitu aba-aba untuk maju mengeksekusi rencana yang baru dicetuskan dua bulan sebelumnya (baca: November). Rencana itu adalah.. eng-ing-eng.. menikah di saat libur Golden Week!:mrgreen: Buat yang belum tahu, di Jepang itu ada liburan selama seminggu yang sangat spesial antara akhir April sampai awal Mei. Semua orang libur, nggak peduli siswa atau pegawai kantoran. Biasanya, orang Jepang memanfaatkannya untuk pulang ke daerah asal atau mengunjungi keluarga di luar kota. Alasannya simpel, saya dan si calon bojo sama-sama libur. Berhubung lagi sama-sama di Jepang, tentu bukan hal mudah untuk bisa punya jadwal libur berbarengan dan bisa pulang ke Indonesia, which costs about 8 juta PP dan paling tidak seminggu di tanah air agak tidak rugi😛. Kebetulan, ada dua teman kantor kangmas (dih.. hueks) dari Indonesia yang juga akan menikah pada timing yang sama (sekarang malah nambah seorang lagi!). Sekalian saja meramaikan *lho*. Nggak sih, becanda..

Bulan itu, saya dan dia berunding bagaimana strategi persiapannya. Jarak posisi kami dan orang tua yang punya hajat tentu saja menjadi kendala. Keputusannya, saya harus pulang duluan karena punya libur pergantian semester yang cukup panjang. Semester dua saya berakhir di minggu ketiga Januari dan baru akan masuk lagi ke semester selanjutnya pada bulan April. Bisa saja saya pulang Februari dan balik April, lalu pulang lagi saat Mei, dekat-dekat hari-H, tapi itu sangat tidak praktis dan berat di ongkos. Selain itu, kalau niatnya mau bantu persiapan, betapa tidak bergunanya pulang semacam itu. Maka, dengan tekad baja bahwa saya bisa membereskan segala urusan sebelum pulang, saya berani untuk pulang pada pertengahan Maret tanpa kembali ke Jepang dulu sampai hari-H. Akhirnya, di pertemuan terakhir lab semester kemarin.. saya minta izin.

Saya: “Sensei, deadline pertama tesis itu bulan April kan? Bisa dilakukan online nggak seandainya saya tidak ada di sini?” *basa-basi dulu, biar nggak kaget*
Sensei: “Oh, kalau soal itu saya nggak tahu, coba kamu tanya ke TU prosedurnya.”
Saya: “Oo.. oke. Saya minta maaf nih sebelumnya, sebenarnya saya mau pulang kampung lama, sekitar dua bulan. Kan kalau nilai saya semester ini baik-baik saja, saya nggak punya kuliah di kelas lagi, cuma kuliah ini aja (baca: lab meeting). Maaf kalau mengagetkan, rencananya saya mau nikah.”
Sensei: *menampakkan ekspresi yang belum pernah saya lihat sebelumnya, antara kaget dan bingung mau bilang apa.. huaa kaget kali dia ya ada mahasiswanya yang sempat-sempatnya bolos buat nikah di saat harus mulai tesis (doh)*
Saya: “Err.. seharusnya sih rencana itu dilakukan sebelum saya ke sini, hanya saja tidak jadi. Boleh nggak, Sensei?” *sumpah saya ngomong gitu demi mengatasi suasana aneh -> baik dua sensei maupun teman mahasiswa pada bengong (tapi saya nggak bohong kok dengan penjelasan itu, haha)*
Sensei: “Kamu mau nikah??? Selamat!” *disusul teman-teman memberi selamat juga*
Fiuhhh. Kirain..
Setelah itu..
Sensei: “It’s okay kalau risetmu tetap jalan. Kalau begitu nanti jatah presentasimu bisa dipindah semua setelah kamu kembali atau kamu bisa kirim progress-mu.”
Saya: “Saya mengerti. Terima kasih banyak.”

Februari. Di bulan ini, orang tua sudah mulai survei dan booking-booking, tapi belum ada yang dikonfirmasi. Justru saya dan dia yang di Jepang sudah “deal” dengan perusahaan tertentu untuk membuatkan suvenir. Saya mulai fokus ke urusan administrasi semester baru dan akademik di kampus, antara lain laporan belanja riset (maks. akhir Feb), pengambilan formulir pendaftaran tesis (untuk April), penundaan SPP (seharusnya bayar akhir April), pemindahan alamat ke rumah baru, dan formulir penggantian biaya dokter semester itu.

Satu hal yang juga paling bikin sibuk itu pindah rumah. Kontrak apartemen saya berakhir di bulan April tahun depan, tapi saya inginnya tidak mau bayar selama pulang kampung. Jadi, mau tidak mau harus diputus lebih dulu. Oleh karena itu, saya putuskan untuk putus kontrak di hari-H keberangkatan ke Indonesia. Alhamdulillah, rumah untuk tinggal bersama suami nantinya sudah ada saat itu. Barang-barang pun dicicil sedikit demi sedikit dikirim ke alamat baru. Mulai dari yang besar-besar jarang dipakai sampai barang kebutuhan pokok yang masih saya butuhkan di hari-hari terakhir seperti baju, alat mandi, dan isi lemari dapur. Udah nggak aturan lah itu masuk-masukin barang ke kardusnya ngawur, malah pernah sampai si kurirnya datang belum siap angkut gitu jadi dia harus balik lagi😀.

Memasuki bulan Maret, saya masih punya satu agenda penting, yaitu bertemu dengan profesor baru (belum kenalan maksudnya) yang akan menentukan nasib riset saya. Alkisah orangnya luar biasa sibuk sehingga baru bisa bertemu di H-3 sebelum hari keberangkatan dan itu pun di warung kopi saat beliau makan siang. Ya bapak.. makasih banyak loh😮. Dia bilang lagi terlibat 20 proyek saat itu, tapi kata stafnya jumlah itu belum seberapa karena sebelumnya bisa sampai 60 proyek dalam satu waktu. What??? Jangan dibayangkan hidupnya.

Kembali ke laptop..
Akhirnya mudiklah saya untuk kedua kalinya selama tinggal di Jepang, baru juga setahun.. udah mudik dua kali. Lalu selama bulan kemarin sampai hari ini saya sibuk deh menyiapkan berbagai hal. Ingin rasanya saya culik si dia ke sini karena kadang merasa yah.. long-distance discussion lewat dunia maya harus kami lewati hari demi hari. Sungguh saya baru merasakan betapa ribetnya jadi orang Indonesia kalau mau kawin. Jadi ingat sensei pernah nyindir pas lagi pesta perpisahan anak lab yang wisuda, “Nikah itu kan cuma ceremonial..” sambil ketawa. Err.. ceremonial sih, tapi.. yah, nggak bisa dibilang “cuma” juga sih, Pak😛.

Nah, selain persiapan, bulan lalu juga baru ada acara 24 Maret itu. Emang kata orang-orang sih tren zaman sekarang itu acara begituan diadakan dekat-dekat hari-H, padahal persiapan sudah dilakukan sebelumnya. Jadinya yah semacam formalitas gitu lah, pura-puranya mah belum diterima pihak lelakinya, jadi dideklarasikan lebih jelas lagi melalui pertemuan keluarga kedua belah pihak. Hihi. Zaman anak saya ntar gimana yak?

Pada akhirnya, saya bilang bahwa perjalanan kami yang sampai tahap ini adalah kuasa Allah. Benar-benar penuh keajaiban. Tidak semua orang bisa mendapatkan jalan yang mulus menuju pelaminan, termasuk kami. Namun, kata orang juga, justru batu ujian itulah yang akan menjadikannya berkesan. Jika sesuatu itu kita dapatkan dengan perjuangan yang tidak biasa, maka keinginan untuk menjaga sesuatu itu akan besar. Setiap pribadi punya cerita. Semakin jauh perjalanan hidup yang harus kita lewati sebagai suatu keniscayaan akan punya tantangan yang makin besar. Semoga saya bisa menjalani semuanya dengan baik. Aamiin.

Dari pengalaman saya, pesan saya cuma satu:

Jangan biarkan perasaan suka itu terungkap sebelum Anda siap untuk membawanya ke hubungan serius

Kalau orang yang Anda suka itu juga suka sama Anda, sedangkan keduanya belum bisa menikah segera, bisa berabe deh.. Percaya sama saya. Banyak kok yang mengalami dilema berkepanjangan. Hehe. Ingatlah kisah Ali bin Abi Thalib yang rapat-rapat menyimpan rasa sukanya pada Fatimah binti Muhammad hingga keduanya bisa menikah. Kisah cinta yang jadi teladan sepanjang masa, baik sebelum maupun sesudah pernikahannya.

Sekian cerita dari saya.

pasfoto buat syarat😀

Mohon doanya untuk keberkahan Allah dalam 30 hari ini, ketika hari-H, dan kehidupan setelahnya🙂.

Buat teman-teman yang sudah mendoakan dan memberi ucapan selamat, terima kasih banyak juga. Saya nggak bisa balas satu per satu. Doa saya juga untuk kalian semua, di tahap apa pun kalian menjalani kehidupan pribadi pada ranah ini (baca; asmara #eaa), semoga dimudahkan bersatu dalam ikatan perjanjian yang diridhoi oleh-Nya. Aamiin.

Cepu, 5 April 2012
20.00 WIB

Leave a comment

15 Comments

  1. Puja Pramudya

     /  April 6, 2012

    cie,egaaa
    selamat yaa

    Reply
  2. oke ga hasil editan file-nya… 😀
    semoga lancar ya persiapannya sampai hari-H

    Reply
    • thanks jempolnya.

      hehe, tapi itu udah berubah lagi sih pada prakteknya.. memang harus disesuaikan lagi dengan kebutuhan kita. udah diunduh kan, Fa, buat persiapan?😛

      aamiin, makasih doanya.

      Reply
      • iya penasaran sih isinya apaan aja,, kakaku yo nikah mencoba ikutan ngecek hehehe…
        do’akan segera ketemu jodoh saya ya ga biar bisa siap2 beneran… #eh

        Reply
  3. semoga pernikahan ega di rahmati oleh Allah swt. Amin

    Reply
  4. narinawati

     /  April 10, 2012

    egaaaaaaaaaaa,, apiiikk hehhe.

    Barakallah yaaa🙂

    Reply
    • rinaaaaaaa, opone sing apik? tulisanne opo wedding checklist’e?😛

      tampaknya Rina udah download juga nih kaya Ifa.. ditunggu ya prakteknya. he he. aamiin, makasih doanya.

      Reply
  5. makasih banyak teh buat infonya..😀

    semoga nanti berjalan lancar y..

    Reply
  6. Sekali lagi, SELAMAAAAT, Kak Ega! aku suka deh sama pesannya: Jangan biarkan perasaan suka itu terungkap sebelum Anda siap untuk membawanya ke hubungan serius

    Reply
    • arigatou🙂 hee, bener loh itu. ngerasain banget soalnya ‘menderitanya’ selama sekian lama *lebay* krn yaa gitu deh, ternyata baru diizinkan Allah nikah tahun ini. enakan jg yg cepet, begitu jatuh cinta, langsung nikah😛 tapiii, biar gimana pun pada akhirnya aku jg merasa skenario Allah lebih indah dr yg aku duga.

      Reply
      • Wktu itu ada bbm temen, yg isinya: “Allah, has the perfect timing: never early, never late. It takes a little patience & it takes a lot of faith. But it’s worth the wait.”

        Setuju banget Kak😉 Semoga lancar ya smua2nya Kak Ega
        & doakan aku menyusul on its perfect timing, hihi

        Reply
  1. Allah and The Perfect Timing « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: