Galaunya Menulis Gelar


Di Indonesia ini memang sering terjadi kebiasaan yang sebenarnya salah, tapi sudah jadi hal lazim. Kadang saking sudah mendarah dagingnya, kita jadi sungkan untuk mengikuti yang benar karena ah, ntar malah dianggap salah sama orang-orang. Salah satu contoh fenomena ini adalah tentang penulisan gelar. Heu.. saya baru merasakan bingungnya selama masa persiapan nikah, mulai dari membuat suvenir, mendesain undangan, mendaftar administrasi, sampai menulis identitas penerima undangan. Alhasil, telah terjadi inconsitency dalam keempat hal tersebut karena selalu saja kegalauan melanda saat menuliskannya >.<

Pas bikin desain suvenir sekitar dua bulan lalu, saya masih menulis gelar “Ir.” dan “dr.” di depan nama orang tua. Sebenarnya saya tahu sih kalau “Ir.” itu gelar ‘kuno’-nya S. + akronim bidang keahlian, jadi seharusnya ditulis di belakang. Namun, berhubung tidak siap dianggap tidak lazim, saya tetap tulis di depan seperti kebiasaan umum :roll:. Begitu pun dengan gelar dokter. Ohya, untuk gelar kedua calon mempelai sendiri, kami sepakat untuk tidak menulisnya karena S. T. (Sarjana Teknik) itu hanya gelar akademik, bukan profesi, sedangkan insinyur dan dokter adalah gelar profesi menurut asumsi saat itu. Ya sudahlah, pokoknya kami setuju hanya menulis gelar profesi saja. Setelah suvenir masuk cetak, entah kenapa saya iseng cari referensi lagi, ternyata Ir. itu juga sebenarnya tidak termasuk gelar profesi, jadi seharusnya tidak perlu ditulis. Eh kok ya ndilalah kata Mama, Papa pesan nggak mau ditulis gelarnya. Maaf, Pa.. udah terlanjur :grin:.

Gelar profesi adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan profesi pada bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi.

Di Indonesia, gelar profesi diatur oleh senat perguruan tinggi dan organisasi profesi berdasarkan standar profesi yang terkait sebagai dan ditulis di belakang nama yang berhak. Gelar profesi yang ada di Indonesia antara lain:
Dokter (dr.)
Dokter gigi (drg.)
Dokter spesialis (Sp.)
Akuntan (Ak.)
Apoteker (Apt.)
Psikolog (Psi.)

Gelar profesi yang dituliskan di belakang nama akan terlihat seperti berikut ini:
Bagus Budiono, Apt.
Bagus Budiono, dr.
Bagus Budiono, drg.
Sumber: Wikipedia

Gelar akademik atau gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel (dari bahasa Latin titulus). Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor).
Sumber: Wikipedia

Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi akan mendapatkan gelar profesi.
Sumber: Wikipedia

Akhirnya, di undangan yang baru dibuat kemudian, saya tidak menulis Ir. untuk nama Papa dan meletakkan gelar dokter di belakang nama ayah calon mempelai pria. Lain lagi ceritanya di persyaratan nikah. Karena surat pengantar dari daerah pria mencantumkan gelar kami berdua dan kedua orang tua, surat dari daerah saya pun disesuaikan dengan itu. Nah, sekarang saat tiba waktunya menyebar undangan, kembali kebingungan melanda: mau pakai penulisan sesuai kaidah atau mengikuti ‘lazimnya’ masyarakat. Setelah cari sana-sini, saya dapat referensi bagus yang cukup menjawab kegalauan tersebut. Tulisan yang sudah tidak bisa ditemukan di halaman aslinya ini mengacu pada kaidah keluaran Mendiknas pada masa terkait. Silakan disimak..

Penulisan Gelar Untuk Dokter (2012/01/12)

Bapak Ibu Yth.
Suatu gelar tentu membawa kebanggaan tersendiri bagi penyandangnya, tak terkecuali untuk dokter. Ada kondisi psikologis terkait cara penulisannya. Gelar yang didahului huruf besar tentu lebih menyenangkan dibandingkan huruf kecil. Gelar yang ditaruh di depan nama tentu lebih membahagiakan dari pada ditaruh di belakang. Karena itu pada undangan pernikahan selalu disebutkan “Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar”.

Bapak Ibu Yth.
Kalau kita tengok gelar pada ijazah dokter yang kita peroleh dari Fak. Kedokteran tempat kita belajar, di situ akan selalu tertera tulisan “dr”, d kecil dan r kecil. Memang itulah gelar resmi yang harus dipakai oleh seorang dokter. Pada saat bersamaan, sarjana lainnya memakai “Ir” untuk insinyur dan “Drs” untuk doktorandus. Semuanya didahului oleh huruf besar. Terinsprasi oleh gelar itu, PB IDI menganjurkan anggotanya untuk mengubah gelar dari “dr” menjadi “Dr”. Itu terjadi sebelum tahun 2001. Karena nyaman secara psikologis maka jadilah gelar Dr dipakai sampai kini, sekalipun tidak sesuai ijazah.

Bapak Ibu Yth.
Untuk menata gelar tersebut, pada tahun 2001, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 178/U/2001 tentang Gelar Lulusan Perguruan Tinggi. Mendiknas waktu itu adalah Prof. A. Malik Fajar. Pasal 7 menyebutkan “Penggunaan gelar akademik Sarjana dan Magister ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan dengan mencantumkan huruf S. untuk Sarjana dan huruf M. untuk Magister disertai singkatan nama kelompok bidang Keahlian”. Pasal 17 menyebutkan “Gelar Doktor kehormatan, disingkat Dr (H.C) ditempatkan di depan nama penerima hak atas gelar tersebut dan hanya digunakan atau dicantumkan pada dokumen resmi yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan pekerjaan”.
Dengan demikian disimpulkan bahwa menurut Keputusan Mendiknas di atas:
1. Penulisan gelar dokter ditulis dengan “dr” dan ditempatkan di belakang nama
2. Penulisan gelar Prof (Professor), Dr (Doktor) dan Dr (H.C) ditempatkan di depan nama

Bapak Ibu Yth.
Di kalangan kita, Perdossi, dulu-dulunya masalah ini tidak perlu diperdebatkan. Sebagai akibatnya, banyak kerancuan terjadi dalam penulisan gelar dokter ini. Sebagai ilustrasi, di bawah ini dilampirkan suatu announcement dimana kerancuan itu terjadi. Dua orang yang sama-sama dokter, satunya ditulis gelarnya dengan Dr, lainnya dengan dr. Kondisi demikian kerap berulang. Sebagaimana selalu diingatkan sebelumnya, bahwa berorganisasi berarti mengikuti aturan yang ada. Dalam hal penulisan gelar dokter, PP Perdossi saat ini berusaha mengembalikan pada fitrahnya. Baik fitrah sesuai dengan gelar ijazah, maupun sesuai dengan ketentuan yang ada.

Bapak Ibu Yth.
Untuk penulisan semua gelar, PP Perdossi mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 178/U/2001. Ketentuan ini telah diputuskan oleh Rapat Kerja Nasional PP Perdossi di Jakarta tgl 10 September 2011. Memang tidak sepenuhnya mengacu, tapi ada sedikit penyimpangan. Kalau Keputusan Mendiknas mensyaratkan gelar dokter di belakang nama, PP Perdossi membolehkan memasang gelar di depan nama. Ini sekedar memberi kenyamanan psikologis pada pemakainya. Sebagai suatu keputusan, tentu ketentuan ini hanya berlaku dalam hal-hal yang terkait dengan urusan resmi organisasi. Misalnya dalam hal surat keputusan, surat menyurat, announcement resmi Perdossi dan lain-lain. Untuk penulisan Spesialis Saraf, hendaknya ditulis “Sp.S”. Untuk konsultan ditulis “Sp.S(K)”. Ada titik antara singkatan Spesialis dan Saraf. Di luar itu, silahkan lakukan sesuai yang sejawat inginkan. Mau pakai gelar dokter dengan DR monggo, mau pakai Dr, ya silahkan. Mohon maaf sekiranya ada pihak-pihak yang tidak berkenan.
Matur Nuwun.
Sumber: Indoneuro

Keterangan:
Perdossi adalah Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia click to know more

  • Contoh announcement yang disebutkan dalam artikel di atas tidak saya sertakan
  • Aturan yang disebut di atas bisa Anda unduh di sini: Download Kepmendiknas 178/U/2001

Yes! Karena acuannya sudah jelas, maka tidak seharusnya kita ragu lagi menuliskan gelar akademik maupun profesi di belakang nama. Tentunya, selain gelar yang dikecualikan dalam Kepmendiknas 178/U/2001 tadi.

Jangan takut karena benar.
Yang lebih banyak belum tentu benar :razz:.

Akan tetapi oh akan tetapi, kita bisa saja menggunakan alasan seperti pendapat artikel di atas bahwa penulisan gelar di depan hanya untuk memberikan efek psikologis berbeda dibandingkan gelar di belakang nama. IMHO, dalam konteks tidak resmi seperti undangan pun, seandainya kita tulis sesuai kaidah, tapi sang penerima kurang berkenan, toh kita sudah tulis di bawah label: Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama dan/atau gelar :mrgreen:.

About these ads
Leave a comment

12 Comments

  1. congratz. cool couple gonnabe. amin.

    Reply
  2. Pandujiwo Noormanadi

     /  July 20, 2012

    Wah pas banget, lagi galau juga mau bikin undangan..
    Eh ketemu yang beginian.. XD

    Reply
  3. mylongjourney

     /  July 27, 2012

    Tulisan yg menarik, di tiap negara aturannya beda-beda. Saya juga kadang suka sebel liat di kartu nama yg ditulis lebih panjang gelarnya daripada namanya sendiri.

    Pendapat saya simpel saja, tergantung penggunaan. kalau konteksnya di tulisan/publikasi, harusnya sih ditulis, supaya pembaca tahu yg menulis itu punya kualifikasi apa.

    Kalau konteksnya pernikahan, kan menyampaikan berita bahagia. sah-sah saja ditulis maupun tidak ditulis, saya sendiri pilih tidak usah ditulis daripada ribet yang bacanya.

    Intinya, jangan sampai gelar seseorang menjadi pembatas komunikasi dirinya dengan orang lain. itu saja. Congrats atas pernikahan nya ya

    Reply
    • setuju sama mas mylongjourney.. lebih enak lihat penggunaannya, tapi dalam konteks undangan, saya kemarin disarankan orang-orang untuk menulis sebab sebagian orang (kebanyakan orang tua yang masih konservatif) masih sensitif jika gelarnya tidak dicantumkan :grin:

      Reply
  4. sori ikutan komentar
    contoh penulisan gelar dokter yang benar adalah

    dr. Bagus Budiono

    Ini mengacu pada : PP 17 2010 >> http://www.dikti.go.id/files/atur/PP17-2010Lengkap.pdf
    Penjelasan pasal 98 ayat 4.
    ======
    Contoh gelar lulusan pendidikan profesi antara lain Ak.
    untuk akuntansi, Apt. untuk apoteker yang ditulis di
    belakang nama yang berhak, dan dr. untuk dokter yang
    ditulis di depan nama yang berhak.
    ======

    Kepmendiknas 178/U/2001 kalah baru dan kalah tingkatan dengan PP 17 2010

    semoga membantu.

    Reply
    • terima kasih mas Eko infonya ^_^
      ya.. ya.. ya… di Indonesia ini memang selain biasa terjadi hal sebagaimana bunyi kalimat pertama, juga kerap terjadi “ganti menteri ganti aturan” (cape deh)

      Reply
  5. entah kenapa saya dan keluarga saya tidak suka menuliskan gelar kami berdua. kami hanya takut klo itu akan membuat kami sombong dan berlebih-lebihan…wallahu a’lam..

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 88 other followers

%d bloggers like this: