Allah and The Perfect Timing


Seven days to go until the wedding.
Kemarin, sebuah pertolongan datang. Saat udah pasrah kalo the groom baru bisa pulang H-2 karena ada tugas kantor ke CN, tiba-tiba saja agenda itu batal. Tugasnya ditunda karena masalah bea cukai, jadi dia bisa pulang lebih cepat. Itu pun awalnya masih galau karena belum dapat tiket pulang, sementara tiket CN-ID yang sudah dibeli jauh-jauh hari harus direlakan. Tiba-tiba kemarin dikabari dapat tiket buat keberangkatan HARI INI. Ureshii ^^

Saya jadi teringat komentar Bhella di tulisan saya sebelumnya yang isinya begini:

Waktu itu ada bbm temen yg isinya: “Allah, has the perfect timing: never early, never late. It takes a little patience & it takes a lot of faith. But it’s worth the wait.”


Allah and his perfect timing.

Cerita dari nikah nih ya, bisa dibilang memang ada masa kami menunggu. Menunggu.. untuk bisa menikah. Yap. Jangan tanya durasi persisnya.. anggap saja privasi🙂. Kalau orang lain menunggu kesiapan menikah, kami tidak punya alasan itu. Ini menurut kalkulator kami ya, belum bahas punya Tuhan. Udah saling suka, udah lulus, udah kerja, dan kebetulan di satu wilayah yang sama. Kami juga pernah belajar bagaimana agama mengatur soal interaksi dengan lawan jenis.

Apa lagi yang kami cari?

Namun, memang menikah kadang bukan sebatas siap. Siap adalah faktor internal, sebatas kedua insan manusia dimabuk cinta. Menikah adalah berkeluarga, artinya hanya membuat simpul baru pada tali yang sudah ada, yaitu keluarga kedua belah pihak. Ada banyak faktor eksternal yang memegang peran lebih penting di sana dan kita harus bisa deal dengan semua itu, kecuali kita mau hidup sendiri sama pasangan kita di pulau tak berpenghuni dan memutus tali silaturahim dengan keluarga selamanya. Hii.. kawin lari dong!😮

Kata seseorang, sukses itu tidak boleh hanya di prestasi pribadi seperti akademik, karir, dsb. saja, tapi juga harus sukses dalam keluarga. Maksudnya, kita harus bisa sukses juga menjaga hubungan baik dengan seluruh keluarga, tanggap dengan kondisi tiap-tiap dari mereka, memberi perbaikan pada keluarga, dsb.

Atas alasan itulah kami memutuskan untuk bersabar dan yakin bahwa niat baik pasti ditolong oleh Allah. You know, each family has its own rule, termasuk dalam hal pernikahan. Ini seperti peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Ya, dengan perbedaan belalang dan ikan itu, kami memilih untuk berkoalisi, bukan menjadi partai oposisi:mrgreen:.

Berikut hikmah yang bisa saya ambil selama menunggu si “Perfect Timing” itu tadi bekerja.

Persiapan lebih matang
Sebelum sekarang, pernah sekali dua kali tercetus rencana menikah dadakan, menabrak semua tedeng aling-aling yang ada. Tahu berapa lama waktunya? kurang dari satu bulan. Seandainya itu terjadi, mungkin ada penyesalan serius tersisa karena pasti tamu yang datang seadanya, persiapan fisik dan mental seadanya, termasuk budget seadanya pastinya😛. Memang bukan tidak mungkin menggelar pernikahan secepat itu, tapi kalau bisa “normal” kenapa tidak?

Ternyata Allah mengulur waktu untuk kemudian memanjangkan waktu persiapan peristiwa sakral ini..

Ya hal-hal wajar lah, mulai booking gedung, pesan catering, jahit kostum, cetak dan sebar undangan, dan perawatan tubuh bikin kepanitiaan. Waktu 3-6 bulan menurut saya ideal untuk persiapan. Saya tidak bilang itu waktu ideal untuk jeda antara lamaran dan pernikahan karena zaman sekarang yang namanya khitbah tidak selalu dilakukan secara resmi sebagai kunjungan keluarga pria ke keluarga wanita. Bisa saja calon mempelai pria yang sudah dapat izin orang tua datang secara personal dulu ke keluarga wanita😀.

Tidak harus LDM
Mungkin masih oke ya (walaupun tetap ngenes) kalo ada orang ngejalanin LDR, tapi kalo LDM alias long distance marriage? Aduuuh, mana tahan..😛. Seandainya dulu jadi nikah pas saya masih di Indonesia sedangkan si dia di Jepang, nggak kebayang gimana tersiksanya. Saya masih harus skripsi, masih harus cari kerja biar bisa mandiri secara finansial, dan masih harus cari cara supaya bisa menyusul. Nggak mungkin saya cuma ikut dia ke sana tanpa kegiatan dan penghasilan sendiri, sedangkan dia juga masih tinggal di asrama pegawai sehingga.. harus keluar dan bayar apartemen sendiri kalau mau bawa istri😆.

Ternyata Allah menunda agar saya dapat beasiswa kuliah ke Jepang dulu..

Kondisi hati 100% terisi
Jadi istri itu nggak gampang. Jadi ibu lebih nggak gampang lagi. Jadi suami lebih lebih nggak gampang lagi. Makanya kenapa menikah itu dalam Islam sampai diberi harga senilai “menyempurnakan separuh agama”. Ya karena memang jihad sebelum berkeluarga itu belum ada apa-apanya dibandingkan saat di rumah tangga. Seandainya saya menikah 2-3 tahun lalu, di saat pergaulan saya masih sebatas mahasiswa, pasti bakal kaget banget menghadapi kehidupan berkeluarga.

Ternyata Allah kasih saya kesempatan untuk belajar masak dulu dari bibi-yang-paling-jago-masak-di-keluarga-saya karena beliau pindah ke Bandung setahun setelah saya tidak jadi menikah dan ditinggal si dia ke Jepang😛

Ternyata Allah kasih saya kesempatan untuk bergaul dengan banyaaaak sekali ibu-ibu selama setahun di Jepang. Saya banyak belajar tentang problematika keluarga dari mereka. Setiap pengajian atau acara kumpul orang Indonesia, saya lebih tertarik gaul sama mereka dibandingkan sama teman sebaya yang belum menikah. Hehe. Atmosfer seperti itu belum pernah saya dapatkan sebelumnya dalam pergaulan di Indonesia.

Ternyata Allah kasih kami kesempatan untuk berdikusi lebih banyak dengan keluarga, menghimpun lebih banyak dukungan untuk menikah, meretas ilalang dan rumput liar yang mengganggu.. (halah)

Ternyata Allah menangguhkan izin menikah untuk kami sampai kondisi hati semua pihak was set up to charge to 100%!

Lain-lain
Seandainya bukan sekarang, mungkin kami nggak dapat tanggal cantik buat nikah.
Ternyata dengan tanggal 5-5-(2+0+1+2) ini, Allah nggak cuma ngasih tanggal cakep, tapi juga hashtag cakep, yaitu #ea5512. Hashtag ini tidak disengaja cocok dengan kode HTML (note: I’m an IT person) untuk warna kesukaan saya yang juga jadi tema pesta: oranye!!!

Seandainya nikahnya dulu gegabah (meminjam istilah Nur) kurang dari sebulan, mungkin sahabat-sahabat kami.. saudara-saudara kami.. tidak sempat dikabari.
Ternyata Allah memberi waktu kepada kami untuk mengabarkan kepada mereka perihal acara kami dan alhamdulillah.. sejauh ini keluarga bisa datang lengkap dan yang mengharukan teman-teman lama dari jauh pun konfirmasi mau datang.

Seandainya menikah lebih cepat, sekarang mungkin saya sudah sibuk mengurus anak.
Ternyata Allah mau saya kuliah master dulu..

Ah, banyak sekali deh hikmahnya😉

Kita mungkin sering bertanya…
Kenapa baru dikasih sekarang?
Kenapa harus melewati masa-masa sulit sekian lama? padahal usaha dan doa nggak kalah lamanya.
Kenapa yang menurut perhitungan kita yakin itu permohonan baik dan seharusnya Allah segera mengabulkan, bisa ditunda oleh Allah sampai ketika kita sudah lupa dengan permohonan itu sendiri?
Karena kalkulator Allah memang beda sama punya kita dan nggak pernah salah, selama kita mengimani Al Baqarah 216.
Bisa jadi jawabannya simpel: ya itu ujian aja buat kita.

It takes a little patience.
It takes a lot of faith..

Kita baru tahu dan bilang.. “oooooh” setelah skenario versi Allah itu terjadi.

Satu lagi, kata ustadz, biasanya saat harapan terwujudnya hal yang kita minta itu terasa semakin jauuuh saja, justru di saat itulah kita sudah layak untuk mendapat hadiahnya. Hadiah dari kesabaran kita, yaitu keinginan kita terpenuhi🙂.

..but it’s worth the wait.

Yes, it really works. Mungkin memang ini perfect timing Allah buat kami..

-a lot of credit to temen Bhella-

Leave a comment

11 Comments

  1. ah bagusnyaaa….
    iya ga,, Allah pembuat rencana TERHEBAT,, hehehe…
    g sabar lihat kamu…🙂

    Reply
  2. “Setiap pengajian atau acara kumpul orang Indonesia, saya lebih tertarik gaul sama mereka dibandingkan sama teman sebaya yang belum menikah”

    Aih, ntar makin ga tertarik lah ya gaul dg warga2 yg blm menikah ini..

    Reply
  3. yaampun egaa ternyata dulu lebih gegabah lagi ya hahahaha
    btw merinding gue bacanya ga🙂

    Reply
    • hehe, iya Nur, sempet 2x mau gegabah soalnya dikejar deadline😀
      wah baru kali ini ada yg ngaku merinding baca tulisan gw, coba ntar gw sekali2 nulis cerita horor biar makin banyak yg bisa merinding😆

      Reply
  4. Kyaa disebut di blog Kak Ega \^o^/

    been there saying “oooh” after realizing His perfect timing had happened in my life🙂
    baca tulisan ini, jadi kepikiran soal pernikahan. antara ortu yg kepengen cepet dpt mantu, aku yg secara batin ga siap bhkan belum kepikiran buat nikah (calon jg msh dicari hahaha), hingga tante2 yg tiap kumpul keluarga lebih bawel lag bilang: cewek itu ga perlu sekolah lg, perlunya nikah -___-”
    semuanya memang butuh pertimbangan masak2 ya, Kak. dan sesuai His perfect timing.

    Kak ega, sebelumnya mau minta maaf, aku mggu ini ada acara emundus di Jkt T___________T mohon maaf gbsa dtg ke walimahan Kak Ega. Insya Allah terus didoain. smga semuanya lancar & mjdi keluarga samara🙂

    Reply
    • maaf ternyata punyamu belum kebales😀
      wah, rupanya keluarga @bhellabhello kebalikan dr kasus kami dulu.. berharap segera mantu😛
      mudah-mudahan terealisasi di saat yang tepat ya, Bhel.. jangan keenakan kuliahnya, sempetin nikah dulu, hehe. makasih doanya🙂

      Reply
  5. salam kenal, jadi kayak menyingkap rahasia skenario Allah gitu ya Ga. Kenapa kita kudu banyak sabarrrrr…..:)

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: