Uang Pensiun dan Jurnal Keuangan


Hai.. saya baru sempat nulis lagi nih setelah hampir sebulan lalu “menjanjikan” sharing cerita afterwedding🙂. Selain pekerjaan rumah tangga yang cukup menyita waktu, belakangan saya lagi sibuk membetulkan web kami. Yuk, kita mulai sharing-nya dengan.. ups, duit! Bukannya apa-apa, cuma kebetulan momennya tepat ngomongin ini. Kyaaa.

ini suami yang lagi saya ceritain

Sebulan lebih menikah, semalam saya baru tahu berapa persisnya besar gaji suami. Hihi, terkesan cinta buta banget nggak sih pas mau nikah😛. Sebenarnya saya pernah tanya soal itu bulan lalu, tapi dijawabnya pakai istilah “sekitar” -_- jadinya tetap aja nggak menjawab. Usut punya usut, ternyata suami saya pun juga nggak pernah menghitung gaji kotornya selama ini! Kok bisa? Iya, soalnya di Jepang penghitungan biaya macam-macam yang dipotong langsung dari gaji bulanan itu berubah-ubah per periodik tertentu. Penerima gaji biasanya hanya tahu dari email pemberitahuan bahwa ia sudah terima gaji (dikirim ke rekeningnya) dan jumlahnya berapa. Kemarin, berhubung suami sedang mengurus tunjangan keluarga dari kantor dan diminta daftar asuransi dkk. atas nama istri, dia iseng baca-baca lagi dokumen-dokumen pemberian kantor saat awal masuk sebagai karyawan. Wow, ternyata saat ini besar biaya tetek bengek yang diambil dari gaji semula sudah mencapai 17%. Quite much, right?

Salah satu dari sekian banyak biaya tersebut, yang menarik bagi kami karena sangat mencolok di sini, adalah uang pensiun. Perlu diingat bahwa Jepang merupakan negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Demografi penduduknya kini bisa dibilang bahaya, bentuknya piramida terbalik (bisa cek di sini). Angka kelahiran per keluarga hanya 1.3, sedangkan para manula 60++.. kalo bahasa becandaan kami sih, “nggak mati-mati”😀. Hehe. Nah, karena yang harusnya udah mati tapi nggak mati-mati itu banyak, pemerintah harus putar otak mengadakan uang kas demi menjamin kesejahteraan mereka yang notabene bukan usia produktif lagi. Ya dengan memutar kas dana pensiun yang dibayarkan oleh para pekerja produktif itu tadi. Jadi kasarnya sih yang muda-muda mensubsidi yang tua-tua. Subsidi ini jumlahnya terus bertambah tiap tahun. Misalnya, sekarang, di tahun ketiganya bekerja, suami kena 24ribu/bulan, padahal tahun lalu masih 14ribu/bulan (dalam yen). Lho, bukannya tiap orang nabung uang pensiunnya sendiri-sendiri? Kelihatannya sih begitu. Namun, tentu saja tidak sesederhana itu.

Di Jepang, uang pensiun baru bisa diambil saat usia 65 tahun. Bagi warga negara asing, uang pensiunnya boleh diambil lebih cepat asalkan dia sudah keluar dulu dari Jepang. Sayangnya, kalo lebih dulu keluar sebelum usia pensiun, hanya uang pensiun selama masa kerja tiga tahun pertama saja yang akan dikembalikan. Makanya, kalo nggak mau lama-lama di Jepang, ya sebaiknya cabut cepat-cepat juga sebelum makin banyak uang pensiun yang masuk kas pemerintah Jepang. Hehe.. Kalo dia memutuskan untuk tetap di Jepang, ya tunggu sampai usia 65 tahun, itu juga kalo masih hidup😮.

Menariknya lagi, uang pensiun yang disebut 年金 (nenkin) ini wajib dibayarkan oleh seluruh warga baik Jepang maupun asing, asalkan sudah berusia 20 tahun. Suami saya sempat bingung saat petugas yang melayani pengajuan tunjangannya di kantor mensyaratkan bukti bahwa saya sudah membayar nenkin selama ini, padahal saya ini mahasiswa yang biaya kuliah dan hidupnya pun dibantu beasiswa. Rupanya, saya juga sebenarnya dikenakan kewajiban membayar nenkin, tapiii nggak pernah ada yang ngasih tahu dan nagih tuh. Haha. Sementara itu, untuk anak berusia 20 tahun ke atas dan istri yang tidak bekerja, sang ayahlah yang berkewajiban membayar nenkin. Taihen desu ne.. (Berat, ya?)

Dari fenomena besarnya uang pensiun, saya jadi belajar kalo orang Jepang itu rajin menabung untuk hari tuanya. Pernah saya ngintip diskusi suami yang isinya: orang Jepang rata-rata punya tabungan 16 juta atau 1M plus plus rupiah. Luar biasa. Sekarang masuk ke bagian jurnal keuangan…:mrgreen:

antarmuka Money Journal

Jadi, sejak masih single, saya udah membiasakan diri mencatat keuangan sekecil apa pun pakai aplikasi yang ada di iPad. Dari sekian banyak aplikasi, nggak tahu kenapa saya cocoknya dengan Money Journal. Menurut saya, aplikasi ini nggak ribet, tapi udah punya fitur yang cukup lengkap untuk catatan keuangan skala individual atau keluarga kecil. Alhamdulillah masih rutin jalan sejak November 2011 sampai hari ini. Mencatat keluar masuknya uang tampaknya memang sepele, apalagi kalau nominalnya tak berarti, tapi seperti pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Saya pun dulu-dulu juga pernah mempraktekkan kalo lagi kumat rajinnya. Setelah itu mandek lagi mandek lagi. Mulai serius dan bisa bertahan lama ya baru kali ini. Saat bulan-bulan awal di Jepang, saya merasa uang cepat sekali habisnya. Sayang aja, selain kalo dirupiahkan jadi banyak, uang itu kan dikasih yayasan juga. Akhirnya tobat deh.. saya install si Money Journal tadi, lalu tiap tanggal 30 saya jadwalkan untuk mem-backup mutasi rekening, dan saya bikin jadwal periodik (ada yang bulanan dan tahunan) untuk keperluan charity. Dalam mengkolaborasikan semuanya, saya nggak pakai program aneh-aneh. Cukup pakai spreadsheet, misalnya MS Excel. Ketika menikah, saya berdiskusi dengan suami bagaimana baiknya catatan keuangan keluarga dilakukan. Saya ceritakan cara saya selama ini. Kesimpulannya, saya boleh tetap pakai Money Journal, tapi kami memanfaatkan Google Docs untuk proses kompilasinya karena gampang dimodifikasi bareng dan bisa diakses dari gadget mana pun. Beginilah era cloud computing, sodara-sodara..🙄. Pokoknya Dropbox dan Google Docs tuh andalan kami, deh. Hehe.

Sebulan ini pencatatan keuangan kami masih sebatas cashflow, yaitu mencatat pemasukan dan pengeluaran. Di aplikasi yang saya pakai enaknya sudah tersedia jenis-jenis pemasukan dan pengeluaran seperti cash, debit card, credit card, cheque, dan bank, kemudian kategorinya seperti yang bisa dilihat di gambar. Kategori ini bisa kita definisikan sendiri sesuai kebutuhan. Misalnya, punya saya ada kategori “scholarship” di samping kategori “salary” yang memang sudah bawaan dari sananya. Sampai kalimat terakhir ini saya jadi ingat bahwa menyatukan catatan cash in dan cash out dua orang merupakan tantangan baru. Lebih tepatnya, memaksa pria untuk disiplin mencatat hal-hal macam begini itu sulit. Alhasil, ujung-ujungnya saya aja yang ngerjain. Untungnya suami saya masih inisiatif ‘membantu’ dengan menyetor bukti-bukti pembayaran tiap beli sesuatu.

Secara kebetulan, belum lama ini saya menemukan note bagus di FB tentang pengelolaan keuangan untuk keluarga (klik di sini, ada empat bagian, bagian lain cari sendiri ya :razz:). Tulisan tersebut merupakan resensi penulis terhadap buku dengan judul yang sama. Wah, gara-gara baca isinya, saya jadi tambah semangat untuk memperbaiki jurnal keuangan yang sekarang. Tsah.. Menurut buku tersebut, tiga catatan keuangan keluarga yang perlu dibuat adalah pemasukan dan pengeluaran, investasi aset keluarga, dan utang-piutang.

  • Pendapatan dan Pengeluaran Didalamnya termasuk mengatur rencana pengeluaran alias alokasi dana untuk kebutuhan pokok, sekunder, tersier, dan seterusnya. Terus terang, tips ini masih sulit buat saya jalankan karena yang besar per bulannya sudah pasti baru sewa rumah aja, sementara listrik, air, gas, dan telepon tergantung pemakaian😀.
  • ★ Inventaris aset keluarga Keluarga punya inventaris apa ya? Haha. Ternyata perabotan rumah yang ‘berkelas’, misalnya barang elektronik, dan dokumen penting, contoh: akta kelahiran, KK, KTP, surat nikah, termasuk ke dalam jenis ini. Ngomong-ngomong, saya nggak pernah kepikiran sebelumnya kalo dalam lingkup sekecil keluarga pun aset harus dicatat. Pernah bikin catatan aset untuk bisnis startup saya yang masih skala kecil, itu juga udah merasa nggak segitu worth it-nya..apalagi keluarga. Hehe. Think big aja lah ya..
  • ★ Utang piutang Suatu saat pasti ada deh, misalnya pinjam uang ke bank buat nyicil beli rumah, atau kredit motor buat anak. Dengar-dengar dari orang tua sih dulu gitu😛.

Sekian cerita afterwedding pertama saya. Banyak yang pengen dibagi sih.. semoga dikasih rezeki waktu deh buat nulis lagi. Aamiin. Salam ❤

Next Post
Leave a comment

10 Comments

  1. dulu pake aplikasi yang sama sama di skrinsut! sejak taon baru, eh, kelewatan2 nyatet, sampe skrg ga pernah nyatet lagi… abis sama2 aj.. dicatet ga dicatet dapetnya sgitu2 aj…:|

    Reply
    • hihi, berarti lo termasuk cowok langka, Vid😛
      ayo dicatet lagi, ngaruh kok..misalnya ngontrol kapan terakhir beli baju dan kapan ngabisin 5000yen buat nomikai -_- jadi bisa dikira-kira kapan sebaiknya gitu lagi

      Reply
  2. wow seru deh gaa..baca artikelnya happy nu family congratz

    Reply
  3. dzikrina

     /  April 11, 2013

    Ega, aku termotivasi untuk bikin jurnal keuangan keluarga, lagi belajar pakai aplikasi namanya Inesoft Cash Organizer. Ternyata jadi istri harus blajar banyak, termasuk jadi akuntan keluarga juga, hehe…

    Reply
  4. Jadi jalan2 di blog ega deh😀
    Klo mbak kok ya ternyata misua yang lebih canggih urusan catat mencatat dan alokasi pengeluaran ini, malah diriku yang berantakan asal-asalan, hihi..

    Ega akhirnya gimana nenkin nya? Ditagih gak nenkin taun2 sebelumnya gitu? Mbak dateng tagihan gitu euy sejak misua bayar nenkin dari kantor, jadi disuruh bayar mundur ke belakang dua taun pas masih berstatus mahasiswa dulu -_-

    Reply
    • Aih, “kepo” nih..😛
      Tentang nenkin, sebenarnya uni bisa ngurus kok ke kuyakusho biar nggak ditagih yg udah lewat dan kedepannya. Aku dulu pas abis menikah langsung ngurus itu bareng sama pendaftaran kartu keluarga biar nggak kena nenkin. Alhamdulillah selama di Jepang nggak pernah ditagih krn statusnya kan income dari beasiswa (bisa kaya gitu ga kena).

      Reply
  5. Ana

     /  December 10, 2013

    Artikel yg menarik…coba di indo ada sistem spt ini ya (bukan cuma buat pns). ikut nambahin uang tunjangan foreigner ternyata baru boleh diambil setelah at least bekerja di Jpg selama 1.5 thn. jd klo belum waktunya udah cabut..ya nasib..uang ga kembali. btw di paragraph 4, konversi 1.6 jt yen bukannya sekitar 100 jt sekian rupiah ya?

    Reply
    • Ini mbak Ana Sugiono ya? Makasih tambahannya yah.. wah, baru tahu saya. Makasih juga koreksinya, yg bener 16 juta.. kalo 1,6 juta orang Indonesia di sana banyak juga yg punya kayanya, hihi.

      Reply
  1. Keluarga 5AH | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: