Keluarga 5AH


Tulisan ini masih bertema cinta, saudara-saudara.. meskipun tidak sepenuhnya berisi lanjutan seri postwedding sharing seperti tulisan pertama, mudah-mudahan ada yang bisa dipetik dari celotehan ini🙂.

Adalah biasa kalau kita mengucapkan “semoga sakinah, mawaddah, warahmah” kepada pasangan yang baru menikah. Doa yang diambil dari kandungan Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ini sekarang sudah bukan ucapan milik aktivis dakwah aja *jiah*, tapi juga seluruh kalangan, bahkan kadang nonmuslim pun ikut mengucapkannya. Bisa jadi ucapan “selamat menempuh hidup baru” justru sudah kalah populer dari doa yang sering disingkat jadi “SAMAWA” atau “SAMARA” ini.

bukan narsis, hanya memberi contoh kasus:mrgreen:



Alhamdulillah, itu artinya masyarakat mulai paham tentang cara mendoakan yang benar😉. Pak ustadz yang memberi wejangan saat ngunduh mantu di kampung suami saya dulu mendefinisikan ketiganya secara simpel: sakinah itu tenang, kemudian melahirkan mawaddah yaitu cinta kasih, lalu lama-kelamaan jadilah rahmah atau kasih sayang.

Masih belum bisa bedain cinta dan sayang? Saya cuma bisa bilang, ‘hare geneee?’😛. Khusus istilah terakhir, kasih dan sayang itu sakti banget. Tiap hari kita baca berulang-ulang sebagai asma Allah dalam basmalah, bismillaahirrahmaanirrahiim. Rahman dan rahim, dua-duanya dari kata yang sama dan jika digabung menghasilkan kata sifat yang kuat. Begitu menurut yang pernah saya dengar di understandquran. Sayang itu membuat kita rela berkorban apa saja untuk sesuatu yang kita sayangi dan bersifat abadi, baik saat cinta maupun saat benci. Masih kata pak ustadz Linggapura😀, pada tahap rahmah ini, sepasang suami istri sudah bagaikan pakaian satu sama lain seperti yang disebut Al Baqarah ayat 187.

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”

Dalam menjelaskan konteks pakaian ini pun, si ustadz super kreatif deh. Beliau mengasosiasikannya dengan profesi, misalnya jika profesi istri sebagai bidan, maka suami harus mengukur istrinya dengan baju bidan sehingga harus rela kalau malam-malam istrinya “diculik” buat bantuin ibu melahirkan. Contoh lain, kalau suami kita pegawai kantoran dan harus lembur karena pekerjaan yang harus diselesaikannya, ya kita sebagai istri harus memahami profesinya itu, kan kita pakaiannya.. bukannya ngomel-ngomel terus maksa pulang cepet *jleb! note: tidak berlaku pada pengantin baru, hahaha*

Ngomong-ngomong, kembali ke judul, inti ceritanya sebenarnya bukan pada SAMARA tadi, tapi pada 5AH. Ditulis begitu bukan karena saya alay terus nulis huruf S jadi angka 5 yee😆.

Oke, dulu saya hanya tahu soal SAMARA. Hanya sekedar berpikir bahwa, “oh begitu ya keluarga yang ideal”. Menariknya, sebelum menikah secara kebetulan saya mendengarkan kajian Islam oleh mamah Dedeh yang membahas tentang pernikahan. Kata mamah Dedeh, pondasi orang berumah tangga itu ada empat. Sebelum SAMARA, ada satu faktor lain, yaitu amanah. Wah.. apa tuh, kenapa “amanah”? Eh, ternyata setelah menikah saya dapat jawabannya dari buku Ensiklopedi Muhammad yang saya pilih sebagai salah satu mahar🙂. Saya merangkumnya sebagai berikut:

Dalam buku Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat karangan Quraish Shihab, diterangkan bahwa jika SAMARA (disebut dengan istilah berbeda, yaitu cinta, mawaddah, dan rahmah) tidak tersisa, maka sebenarnya masih ada amanah dari Allah yang menjadi alasan untuk tetap mempertahankan pernikahan. Amanah tersebut melekat terus sepanjang pasangan masih muslim karena tertulis jelas dalam perintah Allah pada An Nisaa’:19, yaitu
“Pergaulillah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan) karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak”

Hal ini didukung oleh hadits Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Kalian menerima istri berdasakan amanah Allah”. *ini saya cari sumber riwayatnya belum ketemu, tolong ya pembaca yang tahu silakan menambahkan di kolom komentar*

(pendapat pribadi) Hmm, kalau dipikir-pikir, memang proses ijab qabul itu kan penyerahan amanah dari bapak mempelai wanita ke mempelai pria.
(lanjutan rangkuman) Dalam hal ini, sang bapak pasti percaya kalo putrinya bakal baik-baik saja alias aman sentosa sama lelakinya. Restu dari kedua orang tua juga merupakan pengejawantahan dari rasa percaya dan aman tersebut.

Got it? Yoi, jadi ternyata 3AH (sakinAH, mawaddAH, warahmAH) saja nggak cukup! Harus ditambah amanAH. Berat loooh memikul amanah itu. Paling berat semuka bumi kalo kata Imam Ghozali mah.

Sudah empat ya AH-nya.. yang kelima nih sebenarnya saya agak segan ngomongnya karena harusnya rahasia *apa sih*. Nggak, ding! Haha. Istilah ini saya dapat dari dua senior sepengajian.

“Ega, selamat ya.. semoga jadi keluarga yang SAMARADA”

Oh, setelah dikonfirmasi, DA mengacu pada kata DAkwah😀. Maksudnya, semoga setelah membentuk keluarga, sepasang suami istri dan anak-anaknya bisa saling bersinergi menyiarkan agama Allah, Islam rahmatan lil ‘alamiin. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari), dakwah menjadi kewajiban setiap muslim, minimal bagi dirinya sendiri. Selain itu, dakwah merupakan salah satu cara untuk memaksa seseorang itu keep on the track. Siapa sih yang nggak senang kalau sekeluarga sholeh semua dan bisa mengajak orang lain ikutan sholeh juga? Keluarga kan awal pembentukan generasi🙂.

Finally, tentu saya menautkan harapan besar untuk keluarga kecil saya pada kelima “doa” tersebut. Mudah-mudahan Allah membimbing kami menjadi keluarga 5 AH, keluarga yang amanAH, sakinAH, mawaddAH, warahmAH, dan dakwAH. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

on the way to be Keluarga 5AH

Leave a comment

12 Comments

  1. hahah..tetep..narsis mode on

    Reply
  2. aamiin… semoga cepet punya momongan…😀 aamiin…😀

    Reply
  3. Comments from Facebook:
    Khairun Nisa: uhuuuyy, tante egaa mantap dah😀

    Reply
  4. Comments from Facebook:
    Indah Kusumawati: Semoga tetap istiqomah ya, Neng Ega. Aamiin ya Rabb…arigatou jg pencerahannya^_^

    Reply
  5. Comments from Facebook:
    Surani Ningsih: Seorang ustadz pernah menggali makna mawaddah yang lebih dalam. Kalau cinta (pada umumnya) dalam bahasa arab disebut al-hub. Tapi ini cinta yang temporal.

    Tetapi kata mawaddah artinya everlasting love🙂

    Helmy Hasniawati: gimana kalo 6AH ga *nawar :p, yg ke 6 yang sampai bikin rasulullah beruban ketika turun ayat ini, istiqomAH🙂,aamiin,,

    Surani Ningsih: ‎7AH: akhirnya menjadi ahlul jannAH

    Reply
    • Ega Dioni Putri: mbak Helmy dan Surani: makasih udah nambahin.. hmm, kalo istiqomAH beda lagi, levelnya ga sama kaya kata lainnya karena kan ga mungkin berdiri sendiri, artinya harus jelas defnisinya “istiqomah dalam hal apa”, begitu pun ahlul jannah, beda kategori😛 nambahin lagi, kalo maksudnya istiqomah untuk si 5AH boleh lah..🙂

      Reply
  6. Comments from Facebook:
    Teddy Rachmayadi ‎”samara” udah mainstream yah :p

    Reply
  7. alhamdulillah,, turut seneng juga,, hehe

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: