Jepang dan Traktiran


Sabtu lalu saya memenuhi undangan nonton hanabi (sebutan untuk “kembang api” atau fireworks di Jepang, biasanya saat musim panas) dari yayasan beasiswa yang membiayai kuliah saya. Undangan tersebut sudah dikirim jauh-jauh hari sebelumnya dan saya pun sudah menunggu-nunggu karena tahun lalu nggak bisa ikut berhubung udah pulang kampung. Waktu dapat undangan, saya langsung ngeh itu acara apa dan langsung forward gitu aja ke suami, ngajak dia datang, sekaligus sudah membayangkan kalo di lokasi bakal disambut, duduk di kursi jejer-jejer sama tamu undangan lain, dan disuguhi makan malam!

Akhirnya, tibalah hari-H. Kok ya secara kebetulan paginya saya bangun kesiangan, jam 4, jadi suami nggak sahur😥.. sebenarnya saya lagi nggak puasa, tapi karena nggak tega makan dan minum di depan suami, saya seperti ikut puasa. Kami pun menghibur diri, ah.. nanti malam kan bisa makan besar di tempat hanabi. Siangnya, saya sibuk bikin kue untuk buka bersama muslim Indonesia di dekat kedubes besoknya dan dengan pedenya sengaja nggak masak untuk malamnya. Jam 5 sore kami berangkat, sedangkan hanabi-nya mulai pukul 19.00. Kereta-kereta di jalur-jalur menuju lokasi padat sekali. Sepertinya banyak juga yang mau ke Sumidagawa, lokasi hanabi, buktinya kami ketemu banyak cewek atau cowok pakai yukata (nonton hanabi memang identik dengan pakai kimono musim panas ini). 

Setibanya di lokasi, kami langsung diantar ke rooftop gedung, dikasih tempat duduk, lalu ramah-tamah sama penerima beasiswa lainnya yang saya lihat sebagian udah pada jajan. Ada juga pegawai-pegawai yang diundang dan datang bersama keluarganya. Sampai situ, kami masih mikir bakal dikasih makan karena pas masuk kami dikasih tiket 3 lembar/orang. Buat ditukar makan, kali’.. Tak tahunya, olala, sang pemandu menawarkan kami untuk belanja makanan. Eh, belanja? Iya! Hahaha, saya langsung dibuli-buli sama suami. Nasib, berharap dapat makan gratis, ternyata disuruh beli sendiri😐. Suami saya, yang harusnya lebih bisa memprediksikan hal ini saat baca undangan karena berpengalaman #apahubungannya, bilang kalo dia juga baru ingat bahwa orang Jepang kan biasanya emang gitu, jarang-jarang ngasih makan cuma-cuma. Aaaaa.. ini sih judulnya geer dot com! Tiket yang dikasih ternyata cuma bisa ditukar dengan kakigori (es serut dikasih sirup ala Jepang), watagashi (arum manis), dan game >.< Tidak banyak pilihan makanan yang bisa dibeli dan itu pun semuanya bukan makanan berat. Praktis, kami laper berattt karena seharian belum makan..🙄

Setelah dipikir-pikir abis acara, sebenarnya salah kami sih terlalu berbaik sangka bakal dikasih makan. Kalo lebih cermat baca undangannya, mungkin akan lain ceritanya. Iya lah, wong nggak sekali-kalinya ini kok diajak datang ke acara sama orang Jepang yang harus beli makanan sendiri. Hahaha. Di undangan disebutkan seperti ini:

Summer season has come and it is the season of fireworks!

The Sumida River Fireworks Festival, which is the most well-known in Japan, will be held on July 28, 2012.
The roof of our office,<nama kantor>, is open to the neighborhoods and <nama kantor> employees, and specially you scholars.

You are invited to get a good view of the spectacular fireworks. Hope to see you here in Ryogoku.
<Schedule> …
<Place>…
<Food and drink>
Fried noodles, snacks, beer, and soft drinks are available.
< Application>…

Yeah, indeed, they didn’t mention about serving the dinner at all😆

Lewat pengalaman di atas, saya kembali diingatkan dengan ‘budaya’ Jepang yang satu ini: diundang pesta atau makan-makan bukan berarti bakal ditraktir 😀. Saya ingat dulu pertama kali tahu tentang itu saat kursus bahasa Jepang di Bandung. Waktu itu kami belajar kata betsu-betsu dan sensei memberi contoh bahwa biasanya kalo makan bareng bayarnya betsu-betsu alias sendiri-sendiri. Sensei berpesan,

 “Jangan berharap banyak bahwa kita akan ditraktir kalo diajak makan bareng”

dan ternyata terbukti setelah saya tinggal di Jepang. Pernah waktu itu saya upload foto pesta bareng teman satu lab, lalu teman saya komentar, “Makan yang banyak, ditraktir kan”. Huehe, ditraktir? kata siapa dan sejak kapan? Sampai hari ini, apa pun yang judulnya “lab party”, selalu bayar sendiri kok, begitu pun kalo saya tanya teman lab lain😛.

Ohya, cerita lain lagi nih.. budaya “traktiran” yang nggak lazim di Jepang ini bisa juga kita temukan di acara-acara seperti konferensi, seminar, atau workshop. Di sini default-nya nggak ada tuh suguhan makan besar kaya di Indonesia. Jangankan makanan besar, snack di sesi semacam coffe break aja nggak selalu ada. Kecuali kalo memang peserta disuruh bayar dan ada budget untuk makan ya.. Ah, tapi pernah juga tuh saya datang konferensi yang cukup akbar dan biaya partisipasinya lumayan, nggak dapat makanan juga tuh!😮

Nah, buat teman-teman newcomer di Jepang atau newbie soal party bersama orang Jepang, sebaiknya jangan meniru GR-nya saya tadi, sebagus apa pun Anda menilai reputasi pengundang. Yah, siapkan anggaran secukupnya saja lah untuk jaga-jaga kalo dapat undangan. Harap maklum karena orang Jepang suka makan dan hobi nomikai😉.

(tanda tangan baru, terinspirasi dari blog ini, tapi bikin sendiri, bukan dari mylivesignature, dibuat selain penanda juga supaya ada gambar thumbnail untuk artikel yang tidak dilengkapi oleh gambar)
Previous Post
Leave a comment

5 Comments

  1. hoo..berguna banget ga!
    gw pernah tuh ditraktir sama orang jepang pas doski lagi ke indo..tapi meuni dicatet gitu..(curiga pake uang kantor, wkwkwk)
    trus memang ada aura2 yang membuat gw berpikir “ini ditraktir, ditraktir minum doang apa ditraktir sama makannya ya?” akhirnya memilih opsi kedua ^^;
    next time kalo ketemu lagi, doski mau ngajakin makan…hmm sebaiknya gw menyiapkan anggaran yah..sebelum baca postingan ini gw udah ge-er dotcom nih >.<

    Reply
    • ciee, Pike.. udah nge-date aja sama nihonjin😛
      yoi, sebaiknya jangan GR dulu dan jangan becanda buat minta dia nraktir, siapin duit aja >.<

      Reply
  2. Hmm…. Nice share ^_^

    Reply
  1. Ongaeshi (Lanjutan Cerita “Jepang dan Traktiran”) « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: