Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 1)


Seperti biasa, akhir bulan berasa dikejar setoran buat nge-blog.. haha😛. ‘Sesuatu’ terbaru yang belum sempat ditulis ulasannya adalah mudik, so.. here we go!

Tanggal 11-21 Agustus lalu saya dan suami alhamdulillah masih berkesempatan pulang ke Indonesia untuk mudik. Meskipun hanya sebentar, mudik kali ini bersejarah sekali bagi saya karena untuk pertama kalinya saya tidak berlebaran dengan keluarga saya, tapi dengan keluarga suami yang kebanyakan baru saya kenal saat itu juga. Selain itu, saya juga benar-benar merasakan suka-duka orang mudik yang menempuh perjalanan jauh demi berkumpul dengan keluarga. Maklum, selama ini rumah saya malah yang selalu didatangi saudara karena ada kakek-nenek di rumah. Kalo pun pergi, biasanya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa Timur yang cuma 2-3 jam perjalanan.

Sedikit kilas balik, sebenarnya saya sudah berencana tidak mudik tahun ini karena (1) Jauh, butuh dana dan tenaga ekstra (2) Tahun lalu sudah pulang lebaran (3) Belum lama ini baru saja pulang untuk menikah (4) Saya sudah mau semester terakhir jadi harus fokus ke akademik. Namun, rencana berubah setelah menikah, ternyata suami punya pertimbangan lain sehingga kami harus mudik. Akhirnya dengan pemilihan maskapai yang agak maksa karena suami harus memanfaatkan tiket lama yang gagal dipakai, kami pulang seminggu sebelum lebaran, bertepatan dengan weekend pertama liburan obon di Jepang. Meskipun lebih enak kalo bisa lama di kampung setelah lebaran, gimana pun udah bersyukur lah dapat liburan pas moment lebaran. Jadi, suami cuma perlu cuti tiga hari setelah hari-H lebaran. Saya sendiri nggak perlu bolos karena liburan summer masih panjang sampai minggu ketiga September😀.

Persiapan mudik udah pasti beda sama pulang kampung biasa karena inilah saatnya kita memaksimalkan agenda silaturahmi (tahukah Anda kata yang resmi dalam KBBI adalah ini, bukan silaturahim?) dengan handai taulan. Itinerary kami siapkan seminggu sebelum berangkat, termasuk pesan tiket-tiket transportasi selama di tanah air. Hari-H itu kami cukup santai karena pesawat berangkat pukul 00.45 dini hari. Satu-satunya yang bikin hectic adalah ngatur barang biar muat di tas kami yang hanya koper kecil dan tas jinjing. Kalo nggak inget bakal naik bus, kereta, dll. transportasi umum lainnya di Indonesia plus keamanan yang nggak terjamin, pengeeen deh bawa koper besar biar baliknya bisa nyetok sembako!! Heu.. singkatnya, sampai di bandara langsung check in dan betapa terkejutnya ketika mbak penjaga counter-nya bilang bahwa penerbangan kali itu penuh jadi kami nggak bisa dapat kursi deketan. AAAAARGH.. dasar orang Jepang, dirayu-rayu juga nggak bisa, padahal suami yakin banget tuh kalo dia masih bisa ngatur tempat duduk gimana pun caranya.

Apa boleh buat, kami pun berspekulasi demi mendapat dua kursi yang berdekatan. Kami masuk pesawat di akhir-akhir mendekati jam take off, mencari sisa kursi kosong, tidak peduli dengan nomor kursi kami, tapi kami diusir pramugari. Akhirnya saya duduk di kursi sesuai nomor di boarding pass dan suami duduk di kursi sebelah saya yang masih kosong. Selama 30 menit kami tersiksa, sport jantung setiap melihat orang mendekat ke kursi kami, berdoa agar ‘penumpang asli’ di kursi sebelah saya tidak datang, sampai akhirnya.. pesawat pun terbang! Balada nggak dapat kursi dekatan ini sukses bikin saya kapok naik pesawat murah. Okelah murah, tapi kalo dihitung-hitung, pesan hot seat juga jatuhnya hampir sama kaya pesawat normal.

Nah, saya sempat mengalami dilema dan debat kecil dengan suami apakah kita mau puasa nggak hari itu. Kesimpulannya nggak puasa karena naik pesawat itu (konon) efek ke badannya beda sama kendaraan lain, misalnya bikin perut mual. Kok ya ndilalah baru kali itu saya sempat merasakan sejam susah napas gara-gara cuaca lagi nggak bersahabat dan pesawatnya lagi di tempat yang tinggiii banget. Huaaaa kaya mau mati pokoknya😦. Di MY, kami transit selama dua jam. Di sini kami disapa orang Indonesia–yang di pesawat udah lihat saya berkali-kali dengan gerakan mencurigakan–dan ngobrol ngalor-ngidul. Ternyata si bapak ini merupakan dosen UI yang sering bolak-balik ke Jepang buat ngasih pelatihan dan ngakunya emang udah merhatiin sejak di pesawat sambil menebak kami orang ID atau MY -__-“.

Lanjuuut.. (waduh, baru berangkat kok udah panjang aja nih -_-)

Day #1 (2012/08/12): Jakarta (JKT) and shopping

Kami keluar dari terminal 3 Bandara Soetta tepat saat Dhuhur. Di luar, seorang teman yang sedang nitip barang ‘made in Japan’ buat ibunya, bung @Dedy_kidybob, sudah menunggu. Sejenak kami saling bertukar kabar, tentang pekerjaannya, tentang rencana kami ke depan, dan tentang teman-teman kami (kami bertiga dulu satu klub di ARC).

“Udah ke mana aja, bro, di JKT?” | “Belum ke mana-mana, paling rapat-rapat aja” | “Oh, kalo rapat ke luar kantor naik apa?” | “Taksi lah, kan dibayarin” | “Wee..enak dong!” | “Cuma ngasih buktinya pakai foto. Argonya difoto. Kan (kebanyakan taksi) nggak bisa nyetak bon” | “Wah, percaya gitu mereka (pihak perusahaan)?” | “Ya percaya aja”🙂

Memanfaatkan setengah hari yang tersisa, kami berburu tempat belanja yang sejalan dengan rumah kakak (tempat kami nginap malam itu). Belanja kali ini targetnya adalah baju, kerudung, dan kawan-kawannya. Aje gile.. harganya udah selangit aja hampir sama kaya baju di Jepang, padahal kami ke dept.store yang lagi diskon (baca: M*tah*ri), udah gitu modelnya banyak yang aneh-aneh (bagian cewek), you know.. tren zaman sekarang yang ala Syahrini dan hijabers itu. Bukan tipe gue banget dah.. ujung-ujungnya saya ke bagian Youth girl, sodara-sodara! Setelah muter-muter selama dua jam, kami hanya menghasilkan masing-masing dua potong baju.

(Bersambung ke Part II)

signatureblog

Leave a comment

6 Comments

  1. Rika

     /  September 3, 2012

    bukannya utk seat bs pesen via internet juga? ga perlu yg hot seat…:d. jd udah aman pas check in. hehehehe…(nebak2 sih maskapai murahnya…:p:p)

    Reply
    • Rika

       /  September 3, 2012

      btw, hiihii…kocak lgs belanja. Di INA harga sandang udah mahal euy…Kmrn dl juga akhirnya ga jd beli sendal secara ditimbang2 harganya mendingan yg di jepang aja…:p:p. Kl makanan…baru deh, hajar bleehhhhh…:d:d. Ditunggu sambungannya…:d:d

      Reply
      • Wah, ngerasa juga ya? asik ada temennya.. hehe. Ya nih, kaget juga harga2 baju udah segitu tingginya.. mama penjahit sih jadi jarang beli baju. Kalo pinter nyari di Rakuten/Amazon malah bisa dapat baju yang murah meriah ya😛.

        Reply
    • Halo emaknya Akbar.. iya, jeng.. kemarin pas pergi lagi pake maskapai yg sama kami milih kursi di web, eh ternyata kami sama-sama baru sadar kalo algoritma sheat assignment-nya AA emang aneh.. jadi orang yg pesannya bareng meskipun ada kursi kosong berjajar sebanyak jumlah orangnya, dia nggak milihin itu!!! pantas kursi kami kepisah jauh banget, beda 10 baris! Tapi pas mudik ini benar-benar missed, nggak kepikiran harus antisipasi kursi kepisah karena full booked kaya gitu..😀

      Reply
  1. Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 2 – Tamat) « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: